
Setelah mendapatkan penjelasan dari Rudi. aku segera menelpon seseorang untuk memesan tiket pesawat hari ini juga. "Dengar! kamu jangan katakan kepada kedua orangtuaku jika aku berangkat hari ini juga. paham?!!" tegasku kepada lelaki itu.
"Baiklah Pak."
Aku segera keluar dari ruangan itu dan menuju bandara. aku tidak mengambil pakaianku yang ada di apartemen, karena aku tidak ingin bertemu lagi dengan Sofi. aku sudah malas berurusan dengan wanita itu. sebisa mungkin aku harus menghindarinya.
Tidak berapa lama aku sudah tiba di bandara. hanya menunggu waktu tiga puluh menit. pesawat yang aku tumpangi sudah take off. rasanya aku tidak sabar untuk bertemu dengan Rania. aku sangat merindukan istri polos ku itu. aku juga akan membawa Rania keluar dari rumah orangtuaku. yaitu rumah yang kini tak lagi nyaman bagiku setelah seisi rumah itu tak menghargai istriku.
***
Aku menggunakan taksi untuk pulang. aku sengaja tidak mengabari mereka. aku ingin mencari tahu yang sebenarnya. apakah memang benar Rania sudah berada di rumah itu kembali.
Setelah sampai di kediaman orangtuaku. aku segera masuk dengan diam. tapi sayup-sayup aku mendengarkan percakapan antar papa dan mama. aku melangkahkan kaki menuju ruang tamu, sekarang posisiku tepat di belakang mereka.
"Tapi kemana anak itu pa? tadi Sofi bilang bahwa ikhsan pergi meninggalkan Sofi di apartemen. Sofi juga telah mencarinya ke kantor tapi kata Rudi, ikhsan belum datang."
"Mungkin saja dia mencari tempat lain untuk istirahat ma, karena dia tidak ingin tinggal bersama Sofi."
"Jadi kita bagaimana pa? apakah kita harus menyuruh supir untuk menjemput wanita kampung itu? Mama takut jika ikhsan kembali menanyakan wanita itu."
"Sudah tidak usah ma. jangan biarkan wanita itu kembali lagi ke rumah ini. bukankah mama sudah berhasil membuat wanita itu pergi meninggalkan ikhsan jadi untuk apa lagi kita harus membawanya kembali ke rumah ini. sudahlah. papa akan membuat ikhsan tinggal di Kalimantan untuk waktu yang lebih lama lagi. agar dia dan Sofi kembali menjalin hubungan. dan setelah itu baru kita nikahkan mereka."
Prokk! Prokk! Prokk!
Aku memberikan tepukan tangan untuk mengapresiasi atas kerja keras mereka karena telah berhasil memisahkan aku dan Rania.
"Hebat ya! aku benar-benar salut dengan kerja keras mama dan papa. jika aku mempunyai piala dunia maka akan aku berikan untuk kalian berdua. kerja yang bagus!"
__ADS_1
Mereka terkesiap melihat kehadiranku, "Ikhsan? sejak kapan kamu berada disana?" tanya Papa yang segera berdiri dengan wajah tegang
"Sejak kapan ya? sejak Papa dan Mama bicara tentang keberhasilan kalian menyingkirkan Rania. tapi aku ingin menambahkan sedikit kata2 itu. ya, mungkin kalian berhasil menyingkirkan Rania di rumah ini. tapi kalian tidak akan pernah bisa menyingkirkan dia dari hatiku. dan Yang patut kalian ketahui lagi, yaitu aku sangat mencintai wanita desa yang polos dan bodoh menurut kalian itu."
"Tutup mulutmu ikhsan!! kamu tidak sadar dengan siapa kamu bicara saat ini?!" papa mendekati aku. dia sudah tersulut emosi.
"Aku sangat menyadari dengan siapa aku bicara saat ini. yaitu aku sedang bicara dengan seorang pengusaha batu bara yang terkenal mendunia. aku juga Sadar jika tuan Amarzoni itu adalah yang memegang kekuasaan di rumah ini. tapi aku tidak akan membiarkan dengan kekuasaannya itu. tuan Amarzoni merusak kebahagiaanku!"
Plaakk!!
Sebuah tamparan sangat keras mengenai wajahku. aku hanya tersenyum menatap lelaki tua yang telah menghadiahi aku sebuah tamparan itu.
"Sudah? apakah mau menambahkan lagi?" tanyaku kepadanya. andai saja dia bukan ayahku. maka aku tidak akan diam saja. tetapi aku sangat menyadari bahwa dia adalah ayah yang telah membesarkan aku dengan kasih sayangnya. tapi aku juga tidak ingin selalu mengikuti keinginannya, karena aku berhak untuk hidup bahagia bersama orang yang aku cintai.
Aku segera melangkah meninggalkan mereka yang masih berdiri disana.
"Aku ingin menemui Rania." jawabku singkat kembali melangkah
"Dengar ikhsan. jika kamu masih ingin menemui wanita itu. maka jangan harap kamu bisa menggunakan semua fasilitas yang telah Papa berikan kepadamu! jika kamu ingin menemui wanita itu maka tinggalkan semua apa yang telah kamu miliki dan juga termasuk jabatanmu sebagai seorang direktur utama!"
Kembali aku tersenyum hambar menanggapi kata2 itu. aku segera mengeluarkan dompetku dan membuangnya ke arah mereka. dan aku juga melihat jika kedua kakak perempuanku sudah berdiri disana menyaksikan semuanya
"Di Dompet itu semua kartu kredit dan fasilitas yang lainnya. dan aku tidak akan membawa baju sehelaipun kecuali yang aku kenakan sekarang. Oya. ini jam tangan pemberian papa, dan ini ponsel yang aku beli dengan uang perusahaan. tapi jika cincin kawin ini aku minta maaf. aku tidak bisa melepaskannya. anggap saja ini adalah upah kerjaku selama ini yang telah membangun perusahaan itu menjadi berkembang pesat.
Terimakasih untuk segala kebaikan dan kasih sayang mama dan papa yang telah membesarkan aku selama ini. sekarang aku berhak untuk menentukan kebahagiaanku. aku tahu jika wanita yang aku cintai itu, bukanlah pilihan mama dan papa. dan aku juga tahu jika dia banyak kekurangan. tetapi aku yakin dengan pilihanku. dia seorang wanita yang baik dan penuh kelembutan, juga sholeha.aku sudah memutuskan untuk menjadikan dia ibu dari anak-anakku kelak, aku sangat yakin bahwa dia bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku dan menjadi madrasah pertama untuk mendidik anak-anaknya, agar tak mementingkan dunia daripada akhirat.
Aku juga berterima kasih atas semua yang papa ambil dariku. jadi aku bisa belajar menjadi orang biasa yang hidup sederhana bersama keluarga kecilku.maaf jika keputusan aku sudah mengecewakan kalian semuanya. anggap saja kalian tidak pernah mempunyai anak ataupun saudara tak berguna seperti diriku. Permisi!"
__ADS_1
"Ikhsan. tunggu Nak! jangan pergi tinggalkan Mama!" teriak mama dengan tangisnya
"Biarkan saja dia pergi Ma. sampai dimana dia mampu hidup tanpa uang sepeserpun. dia tidak akan sanggup. pasti dia akan kembali lagi!" cegah Papa kepada Mama
Aku aku tersenyum dan segera meninggalkan mereka yang masih berdiri diam di tempat. setelah keluar dari rumah itu. aku segera menyetop taksi. didalam taksi itu aku berpikir, bagaimana caranya aku membayar ongkos taksi ini. sementara aku tidak mempunyai uang sepeser pun dikantonku.
"Pak, kita kejalan xx ya."
"Baik, pak." taksi itu segera menuju alamat yang aku katakan. aku terpaksa menemui Andre sahabatku yaitu sekaligus wakilku di kantor. aku ingin meminta bantuannya.
Setelah sampai, aku segera meminta uang untuk membayar ongkos taksi itu. walaupun Andre menatapku dengan heran. mungkin dia berpikir Kenapa aku seorang direktur utama, tidak mempunyai uang untuk membayar ongkos taksi saja.
"Udah nggak usah menatapku begitu. nanti aku ceritakan semuanya didalam." ujarku kepadanya
Kini aku mencurahkan semua masalahku kepada Andre. dan dia sangat tidak percaya apa yang sedang terjadi pada diriku
"Sabar ya San. aku sangat prihatin. semoga Om dan Tante bisa berubah pikiran."
"Tenanglah aku tidak apa-apa ndre. aku akan buktikan kepada mereka bahwa aku bisa hidup tanpa uang dari mereka. sekarang aku minta bantuan kamu dulu. tolong berikan aku pinjaman sedikit saja untuk ongkos aku ke kampung istriku. aku janji setelah aku berhasil, aku akan mengembalikan uangmu." ucapku meminta bantuan kepada sahabatku itu
Andre segera mengambil uang kedalam kamarnya. "Ini San. kamu pakailah untuk modal menjelang kamu mendapatkan pekerjaan Disana. jika kamu masih butuh, kamu segera kabari aku. Andre memberikan aku uang dua juta rupiah. sebenarnya aku tahu dia sangat tidak enak memberikan aku pinjaman segitu. tetapi ini semua memang pintaku. aku tidak mau bergantung dengannya. aku ingin membuktikan bahwa aku bisa memulainya dari nol bersama istriku.
Bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya agar Author semangat Update, terimakasih 🙏
happy reading 🥰
__ADS_1