Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Kedatangan Dewi


__ADS_3

Malam ini ikhsan sudah mulai mengajari Rania untuk mengenal huruf. karena Nia belum bisa menulis maka pelajarannya cukup mengenal huruf saja.


Ikhsan berharap ada kesalahan agar dia bisa memberi hukuman. namun sepertinya otak wanita itu sangat mudah menyimpan jadi dia mudah mengingat setiap huruf yang ia pelajari.


Sudah cukup lama mereka belajar hingga Rania sudah beberapa kali menguap karena matanya sudah terasa berat. maka ikhsan menyudahi pelajaran untuk malam ini.


"Kamu sudah ngantuk, Sayang?"


"Hmm, iya,Mas. besok lagi dilanjut belajarnya ya,Mas."


"Tapi, kamu kok nggak ada salah sih! seharusnya kamu lupa kek, kan aku bisa menghukum kamu!" jujur Pria itu kepada istrinya


"Hahaha... ada ya, guru seperti kamu,Mas. bisa-bisa murid kamu mentok di kelas satu dasar. biasanya guru akan senang dan bangga melihat kecerdasan sang murid. ini malah menginginkan muridnya bo doh! aneh banget kamu, Pak guru!" ujar Rania lucu melihat wajah sang suami tidak senang melihat istrinya ada kemajuan


"Ya, kalau kamu tidak pernah salah, jadi kapan aku dapat menghukum kamu dong?" melas Pria itu.


"Nggak usah dihukum tapi biar aku yang kasih hadiah buat kamu. karena suami aku ini sudah sangat pandai mengajariku sehingga aku sangat mudah memahami setiap pelajaran yang ia beri. maka aku sebagai murid berinisiatif untuk memberimu hadiah!" ujar Rania tersenyum menggoda


Ikhsan yang melihat gelagat Rania ia tersenyum bahagia menerima hadiah apa yang akan diberikan oleh sang murid.


"Kamu benaran mau kasih aku hadiah, Sayang?"


"Ya, kesini dong!" Nia meraih wajah suaminya dengan tangan sebelah kirinya. lalu melabuhkan sebuah kecupan di bibir hangat itu. dan segera dibalas oleh ikhsan tak kalah mesranya. semakin lama tubuh mereka semakin merapat.


Kini kecupan itu sudah menjadi pagutan panas. sehingga Saliva mereka sudah saling bertukar. namun sepertinya ikhsan sudah tidak mampu menahan hasratnya ia segera melepaskan pagutannya.


Ikhsan menyadari dirinya harus puasa selama empat puluh hari setelah pasca kuret yang dijalani Rania.


"Maaf ya, Mas." Nia mengusap pipi suaminya dengan lembut. ikhsan menyatukan tangannya dan tangan Rania. lalu mengecup tangan mulus sang istri dengan dalam.

__ADS_1


"Its Oke, Sayang. tidak apa-apa. yang penting kamu cepat pulih. aku akan selalu sabar menunggu," ujarnya dengan lembut "Ayo sekarang kita tidur." ikhsan membantu Rania untuk berbaring Nia tidur masih harus miring karena lukanya belum kering sempurna.


***


Pagi ini mereka sedang menikmati sarapan bersama. Mami Sarah terlihat sibuk melayani Papi Bowo. sementara Nia juga berusaha untuk melayani ikhsan namun tangannya yang sakit membuat sang Mami melarangnya.


"Nia, duduklah. biar Mami yang mengambilkan sarapan kalian," ujar Mami sembari mengambilkan sarapan untuk mereka.


"Maaf ya, Mi. aku jadi ngerepotin Mami!" ucap Nia merasa sungkan.


"Mami tidak merasa direpotkan sama sekali,Nak. ayo makanlah!"


Saat mereka sedang sarapan dengan kusyuk. Art datang memberitahu bahwa ada tamu diluar ingin bertemu dengan Ikhsan.


"Maaf,Den ikhsan. diluar ada tamu ingin bertemu dengan Aden," ujar bibik


"Siapa namanya,Bik?" tanya ikhsan.


Ikhsan segera menyudahi sarapannya. ia ingin segera menemui kakak angkatnya itu. walau bagaimanapun ikhsan juga sangat merindukan mereka karena mereka dibesarkan dalam kasih sayang yang tak pernah dibedakan. bahkan kakak-kakaknya sangat menyayangi ikhsan seperti adik kandung sendiri.


"Mas, aku ikut ya," ujar Nia segera berdiri untuk ikut menemui Mbak Dewi. walaupun mereka tidak pernah menyukainya tapi Nia sudah memaafkan kesalahan mereka.


"Ikhsan..." mbak Dewi memeluk ikhsan dengan erat terlihat dari raut wajahnya yang menyimpan kerinduan pada sang adik.


"Ayo masuklah,Mbak!" ajak ikhsan


"Tidak usah,Dek. kita bicara disini saja." Dewi mengalihkan tatapannya pada Rania


"Mbak, apa kabar?" Nia menyalami wanita itu dengan senyum ramah

__ADS_1


"Nia... Nia maafkan,Mbak!" Dewi segera memeluk Rania dengan tangis penuh penyesalan


"Mbak, sudahlah. aku sudah memaafkan Mbak Dewi jauh sebelumnya." ujar Rania tanpa benci sedikitpun atas segala sikap mereka dulu


"Ayo duduklah,Mbak!" ikhsan membawa Dewi duduk di sofa yang ada di teras rumah. Dewi tidak ingin masuk karena dia merasa malu dan takut dengan orangtua kandung sang adik.


"San, Nia. Mbak mohon maafkan kesalahan Mama dan Papa. aku tahu apa yang dilakukan mereka sudah sangat keterlaluan. tapi Mbak kasihan melihat keadaan Mama. sekarang kejiwaan Mama Kembali terguncang, dia selalu memanggil kamu,San. Mama sangat merindukan kamu." Mbak Dewi memberitahu keadaan Mama Lena.


Nia menatap ikhsan untuk meminta pendapatnya. namun Mami Sarah dan Papi datang.


"Jangan percaya dengan kata-katanya ikhsan, Nia. itu hanya alibinya saja agar kalian merasa kasihan. Mami juga tidak yakin jika dia sudah menyesali kesalahannya!" sanggah Mami agar Rania dan ikhsan tidak mudah memaafkan mereka.


Dewi segera berdiri dan menghadap kepada Mami Sarah. "Tante, aku mohon tolong maafkan kesalahan kami. tapi apa yang saya katakan adalah yang sebenarnya. Mama saya kembali mengalami gangguan kejiwaannya." ujar Dewi bersungguh


"Biarkan saja, itulah hukumannya buat kalian yang telah mengambil kebahagiaanku yaitu dengan cara mengambil ikhsan dari kami. apakah kalian tahu bagaimana keadaan saya dulu. bahkan saya lebih parah terkena gangguan jiwa karena kehilangan anak semata wayang, yang sangat susah payah kami perjuangkan!" Mami Sarah bicara dengan sorot mata menyala mengingat puluhan tahun yang lalu tentang kejadian itu.


"Tante, saya tahu bahwa kami memang sudah sangat jahat telah mengambil kebahagiaan keluarga Tante. tapi semua yang dilakukan Papa saat itu juga dalam keadaan terpaksa. karena Papa tidak mempunyai pilihan lain." ujar Dewi menjelaskan


"Apa maksud kamu?" kini Papi Bowo yang bertanya.


"Waktu itu Mama mengandung anak ketiga, memang sudah diketahui oleh dokter anaknya berjenis kelamin laki-laki. namun saat kehamilan Mama memasuki tujuh bulan, Mama mengalami kecelakaan sehingga membuat bayi dikandungnya tidak bisa diselamatkan. dan yang lebih menyakitkan lagi Mama harus kehilangan bayi dan juga rahimnya. karena akibat kecelakaan itu dokter harus melakukan pengangkatan rahim agar Mama selamat."


"Pada saat itu kejiwaan Mama terganggu. kondisi Mama semakin memburuk. sehingga Papa berbuat nekad menculik ikhsan untuk memulihkan kejiwaan Mama. dengan hadirnya ikhsan, kondisi Mama mulai membaik. akhirnya Papa membawa kami pindah ke Jakarta."


"Om, Tante. saya tahu perbuatan orangtua saya memang salah. tapi saya mohon tolong maafkan orangtua saya. tolong biarkan ikhsan untuk menemui Mama. karena Mama sangat merindukan ikhsan." ujar wanita itu memohon kepada mereka


Papi Bowo menatap sang istri. ia memberi isyarat agar mengizinkan ikhsan untuk menemui kedua orangtua angkatnya itu. ya, setelah terakhir ikhsan bertemu di tahanan waktu itu. Mami Sarah sudah tidak mengizinkan sang anak untuk menemui mereka lagi karena dia muak mendengar keangkuhan Amarzoni.


Bersambung....

__ADS_1


Kayaknya author mau tamatin aja nih novel ya😌 habisnya udah mulai mentok di ide🤭


__ADS_2