
Setelah selesai menata semua sarapan di atas meja. aku segera memanggil mas ikhsan. aku melihat suamiku sedang ngobrol di ruang tamu bersama Mama Lena dan Papa Zoni.
Kami makan dalam keheningan. tak ada suara yang terdengar, suasana Terasa Dingin. aku tidak berani menatap wajah mereka. aku seperti anak tiri yang begitu Takut oleh ibu tirinya. aku akan merasa terlindungi jika mas ikhsan berada bersamaku. rasanya aku ingin ikut kemanapun suamiku pergi. karena aku merasa hanya dia yang peduli denganku dirumah ini.
Setelah selesai sarapan. aku mengikuti mas ikhsan untuk kembali ke kamar. dan mas ikhsan segera mengambil tas kantornya, dia sudah bersiap untuk berangkat.
"Nia, aku berangkat dulu ya. kamu baik2 dirumah. jika ada sikap mama atau keluargaku yang menyinggung perasaanmu. maka aku berharap kamu untuk bersabar ya! semoga seiring berjalannya waktu mereka bisa menerima kamu." pesan mas ikhsan kepadaku. sepertinya dia sudah tahu bagaimana sikap keluarganya jika tak ada dia dirumah ini.
"Baiklah mas. aku akan berusaha untuk tetap bersabar. mas ikhsan hati2 ya kerjanya." aku segera mengulurkan tangan untuk menyalaminya. dan dia seperti gugup. segera aku mencium tangan Imamku itu.
Dia segera pergi meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu kamar. berharap dia akan kembali dan mengecup keningku. Ah, Nia. jangan berhayal.aku memukul kepalaku dengan pelan agar otakku tidak berhayal lagi.
"Nia."
Aku terlonjak saat mendengar suara itu. dan wajahku memerah saat mengetahui bahwa mas ikhsan kembali berdiri dihadapanku. jantungku Kembali berdebar.aku benar-benar telah jatuh cinta pada suamiku sendiri, sehingga setiap berhadapan dengannya jantungku selalu berdebar tak karuan
"Ya, mas. apakah ada sesuatu yang ketinggalan?" jawabku dengan perasaan yang tak menentu.
"Boleh aku mengecup keningmu?"
Deg!
"Rasanya jantungku berdetak hanya sekali. jika tidak karena malu, maka aku akan pingsan saat itu juga di dalam dekapan mas ikhsan. seperti sinetron yang pernah aku saksikan. tapi mana mungkin aku berani melakukan hal yang memalukan itu. kalau sinetron sudah jelas si aktor mendapatkan uang. lah, aku? sudah pasti mendapatkan malu. hah.. tidak. itu sangat memalukan!
Mas ikhsan masih menatapku untuk meminta jawaban. entah kenapa untuk menjawab iya. atau anggukkan saja, rasanya sangatlah sulit. ini pertanyaan yang sangat membuatku bahagia. rasanya aku ingin sekali lagi mendengar pertanyaan itu. Ah ya Allah. kenapa kamu seperti ini Nia. ayo segera beri jawabanmu. apakah kamu tidak tahu bahwa suamimu itu sudah lama menunggu.
__ADS_1
Aku menatap wajah tampan mas ikhsan. dan perlahan menganggukkan kepalaku. sebagai tanda bahwa aku sangat menginginkannya. bahkan jika dia meminta lebih dari itupun aku sangat ikhlas.
Perlahan dia mendekati aku. dia mengecup keningku dengan dalam. jangan tanyakan bagaimana reaksi tubuhku saat itu. aku sangat bahagia.
"Aku pergi dulu ya. kamu baik2 dirumah. jangan terlalu lelah." ujarnya, mungkin dia tahu bahwa aku memang suka mengerjakan sesuatu. karena aku sudah terbiasa bekerja.
Setelah mas ikhsan pergi. aku kembali masuk kedalam kamar. dan aku duduk di hadapan cermin yang cukup besar di meja rias itu. aku menatap wajahku yang masih bersemu merah. aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku pagi ini. semoga ini awal yang indah bagiku.
***
Kini aku kembali membantu mbak Siti untuk mengerjakan tugas dirumah ini. sayup-sayup aku mendengarkan mama Lena sedang menelepon di dekat kolam renang yang ada di halaman belakang.
"Sayang, kamu percaya deh, sama Tante. untuk saat ini biarkan wanita itu menikmati kenyamanan di rumah ini. tenanglah! ikhsan tidak akan mungkin jatuh cinta kepadanya. karena Tante tahu bahwa kamu adalah wanita satu-satunya yang dia cintai!"
Aku harus sabar ya Allah. jangan biarkan aku lemah dihadapan mereka. aku harus bisa terlihat lebih tegar. aku tahu rencana mereka yang akan membuat mentalku lemah sehingga aku menyerah dan pergi dari rumah ini. tidak. aku tidak akan pernah menyerah aku ini istrinya mas ikhsan. jadi aku akan pergi dari rumah ini jika suamiku sendiri yang menginginkannya
***
Siang ini aku dan Mbak Siti sudah menyelesaikan urusan di dapur. aku segera menata masakan yang aku masak tadi di meja makan.
Saat aku sedang menata hidangan. aku mendengar suara canda tawa mama Lena dan Sofi. ternyata wanita itu benar datang. dan tidak berapa lama mbak Dewi juga keluar dari kamarnya. dan disusul oleh mbak Sinta dengan kedua anaknya.
Kini mereka sudah duduk di kursi meja makan itu. terkecuali mas ikhsan dan Papa Zoni juga kedua iparnya. karena mereka sedang melakukan aktivitas masing-masing. maka yang ada di meja makan ini hanya para wanita Saja.
Setelah selesai, aku mempersilahkan kepada mereka untuk makan. setelah itu aku segera beranjak dari hadapan mereka. "Nia, kamu tidak makan sekalian?" tanya mbak Sinta yang menghentikan langkahku
__ADS_1
"Tidak Mbak. aku belum lapar." jawabku.
"Sudah biarkan saja dia pergi. lagian jika dia duduk bersama kita. selera makan Mama jadi hilang." ujar mama Lena
"Segitunya Tante. mantu loh itu Tante." ujar Sofi menimpali ucapan mama Lena dengan senyum mengejeknya
"Tante tidak pernah menganggap dia sebagai menantu. Tante itu maunya, hanya kamu yang jadi mantu Tante."
Nyess...
Hatiku Begitu sakit. ini benar-benar nyesek banget. aku mencoba untuk bersikap biasa saja. aku akan memasukkan kata2 itu dari telinga kananku dan akan aku keluarkan dari telinga kiri.
Ayo Nia, kamu tidak boleh cengeng. kamu harus tegar. harus kuat. aku segera pergi dari hadapan mereka, aku segera menuju kamar. rasanya tempat ini paling aman dari segala omongan yang menyakitkan hatiku
Setelah sampai di kamar aku. tak kuasa menahan air mataku untuk tidak jatuh. aku kembali mengingat kata-kata mama Lena. begitu bencikah dia denganku? mengapa dia tidak bisa menerima aku sebagai menantunya.
Ya Allah, kuatkan akun. aku tidak boleh cengeng ya Rabb. aku menghapus air mataku dan segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. aku melaksanakan sholat Zuhur. tak ada tempat aku mengadu, kecuali kepada Rabbku. Ya, aku tidak boleh lemah, karena aku tidak sendiri. Allah akan selalu menemani dan menjagaku.
setelah selesai sholat aku segera merebahkan tubuhku di atas ranjang. aku ingin tidur untuk menghilangkan segala rasa yang berkecamuk dalam hatiku.
Semoga Allah segera membukakan pintu hati mama Lena dan para iparku. semoga mereka bisa menerima aku bagian dari keluarga ini.
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya 🙏🥰🤗
__ADS_1