
Kini waktu sudah menunjukkan 16.45.ikhsan segera membereskan meja kerjanya. entah kenapa dari siang tadi ia selalu memikirkan Rania.
Ikhsan segera keluar, namun ia berpapasan dengan Pak Bowo.
"Mau pulang San?" tanya pak Bowo
"Ah, iya Pak. apakah ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya ikhsan menawarkan diri
"Tidak. pulanglah,dan ini ada titipan dari istri saya untuk kamu dan istri. hanya sekedar buat beli bensin dan buat beli buah untuk istri kamu. kamu bilang istrimu sedang hamil muda kan?" Pak Bowo menyerahkan sebuah amplop kecil
"Ya Allah Pak. saya benar-benar merasa segan sekali. bapak dan ibu sudah begitu baik," ikhsan tidak berani menerima pemberian Pak Bowo
"Ambilah. ini bukan dari saya, tapi dari Istri saya. mulai sekarang kamu anggaplah istri saya sebagai ibumu. dan saya saat dikantor tetap menjadi atasanmu." pak Bowo mengambil tangan ikhsan dan meletakkan amplop itu ditangannya
"Terimakasih banyak Pak. sampaikan rasa terimakasih saya pada ibu."
"Ya, sama-sama. pulanglah dengan hati-hati berkendara." pak Bowo
"Bai,Pak. saya permisi." ikhsan segera meninggalkan kantor itu. dia ingin segera menemui Rania
Ikhsan tidak membuka berapa isi amplop itu.dia akan memberikan kepada sang istri, dan nanti malam ia akan keluar membawa Nia jalan-jalan.
***
Setelah memarkirkan motornya. ikhsan bergegas mengetuk pintu. dia sedikit heran, biasanya saat mendengar dia pulang Nia sudah menunggunya dan membukakan pintu.
"Assalamualaikum... Sayang, Nia.." panggil ikhsan bersamaan dengan ketukannya
"Wa'alaikumsalam... sebentar Mas." dengan suara lirih Nia berjalan dengan pelan. darah memang tidak keluar, tapi dia merasakan nyeri di perut bagian bawahnya
Nia segera membukakan pintu sembari menahan rasa sakit. sehingga keringat dingin keluar di dahinya.
"Sayang, kamu kenapa? kenapa wajah kamu pucat sekali, apa yang terjadi? apakah kamu mual hari ini?" tanya ikhsan memberondong sembari memegang kedua pipi Rania
"Mas, ayo duduk dulu." ucap Nia dengan lirih
__ADS_1
"Kamu katakan sekarang. ayo kita ke RS. sepertinya kondisi kamu tidak membaik." ikhsan menolak ajakan sang istri untuk duduk
"Ta-tadi ada darah keluar Mas, tapi aku tidak tahu kenapa. perutku sakit sekali," jelas Nia sembari menggenggam tangan ikhsan dengan erat karena menahan sakit di perutnya
"Astaghfirullah... ayo sekarang kita ke RS ya. mas bantu kamu ganti pakaian." ikhsan memapah Nia untuk masuk kedalam kamar
"Duduklah jangan bergerak." ikhsan mengambil baju ganti untuk Rania. setelah itu dia memakaikan dengan pelan."
Setelah menukar pakaian Rania. ikhsan segera membopong tubuh Rania dengan pelan. ia menduduki Nia di atas jok motornya. "Kamu pegang Mas dengan kuat ya. kalau sakitnya tidak mampu kamu tahan, kamu bilang ya Sayang." ucap ikhsan mengelus kepala Nia dengan sayang dan mengecupnya.
Kini motor yang di kendarai ikhsan sudah melaju dengan cepat. tangan sebelah kanan memutar gas motor. sementara tangan sebelah kirinya memegang tangan Rania, ikhsan takut jika Nia tidak sanggup menahan sakit di perutnya
"Sayang, apakah kamu masih kuat?" tanya ikhsan mengelus tangan Nia. dia merasakan tubuh Nia begitu lemas.
"Masih Mas. kamu fokus saja jangan terlalu cemas. aku masih sanggup bertahan kok Mas." Nia menyandarkan kepalanya dipunggung ikhsan dan menguatkan pelukannya
***
Tidak membutuhkan waktu lama. kini motor matic itu sudah terparkir di perkarangan RS. ikhsan segera membopong tubuh Rania dengan langkah tegap ia masuk kedalam RS itu.segera menuju ke ruang UGD.
"Dok, tolong periksa istri saya, dia sedang hamil jalan tiga bulan. tadi ada darah keluar. dan sekarang dia merasakan sakit pada perutnya," jelas ikhsan
"Sebentar saya periksa dulu ya Pak. ayo tekuk kakinya Bu." ucap Dokter itu. segera memeriksa Rania
"Apakah sekarang ibu merasakan sakit perutnya semakin bertambah? atau berkurang Bu?" tanya Dokter
"Makin bertambah Dok." jawab Nia
"Baik, kami akan menghubungi Dokter obgyn. sembari menunggu dokter datang kita pasang infus dan cek darah dulu ya Bu." ucap Dokter umum itu, dan Rania hanya mengangguk
Dokter itu segera berlalu dari mereka. dia menelepon dokter obgyn dan menyediakan alat medis yang lainnya.
Ikhsan mengelus rambut dan menggenggam tangan Rania. "jangan cemas ya Sayang. semua pasti akan baik2 saja." ikhsan menenangkan Rania dan mengecup keningnya.
"Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita Mas. maafkan aku tidak bisa menjaganya dengan baik Mas. Hiks.." sesal Nia sembari terisak
__ADS_1
"Ssstt... jangan bicara begitu. tenanglah, mas percaya anak kita akan baik-baik saja." ikhsan menghapus air mata Nia. "Sayang Papa harus kuat ya, Nak. kamu anak hebat, sama seperti Mama kamu." ikhsan mengecup perut Nia dengan lembut.
Kini dokter umum itu sedang memasang infus pada tangan Rania. "Ibu ada melakukan pekerjaan yang berat?" tanya dokter itu di sela-sela mencari urat nadi Nia. mungkin dia sengaja membawa bicara agar Nia tidak merasa takut saat jarum infus masuk kedalam nadinya.
"Saya hanya membersihkan pekarangan rumah Dok. tapi hanya mencabut rumput dengan tangan," jawab Nia
"Itu sama dengan pekerjaan berat Bu. mencabut rumput itu perut tertekan. apalagi ibu sambil jongkok. benar begitu Bu?"
"Benar Dok." jawab Nia menatap ikhsan dengan rasa bersalah
Ikhsan menggelengkan kepalanya dan tersenyum,dia tahu Rania pasti merasa bersalah dan ingin minta maaf.
"Baiklah. selesai pasang infusnya. sebentar lagi bagian Labor datang untuk mengambil sampel darahnya ya Bu. silahkan di isi dulu data istrinya di bagian pendaftaran yang ada di ujung sana ya Pak. jelas dokter itu
Ikhsan segera menemui bagian pendaftaran. dan pegawai itu menanyakan jaminan kesehatan yang digunakan oleh Rania. Rania tidak mempunyai jaminan kesehatan apapun, karena mereka juga belum mempunyai KK. maka ikhsan terpaksa melalui umum, yaitu bayar pribadi.
Setelah selesai pendaftaran. ikhsan kembali menemui Rania yang sedang diambil darahnya oleh petugas labor.
"Sudah selesai ya Bu. hasilnya tiga puluh menit lagi di ambil ke ruang laboratorium ya Pak." ucap petugas itu pada ikhsan
"Baik Sus. ruang Labor dimana ya?" tanya ikhsan
"Bapak keluar dari ruang IGD ini, belok kanan paling ujung ya Pak."
"Baik Terimakasih Sus." balas ikhsan
Setelah petugas labor pergi. ikhsan Kembali duduk di bangku samping tempat tidur Nia. "Apakah masih terasa sakit Sayang?" tanya ikhsan mengecup tangan istrinya itu
"Sudah berkurang Mas. tadi udah disuntikan obat didalam infus." jawab Nia sembari miring ke arah ikhsan.
"Alhamdulillah... semoga baik-baik saja ya Sayang, kamu jangan banyak pikiran dan stress ,nanti bayi kita ikut sedih." ucap ikhsan lembut dan membelai rambut Nia.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1