
Kini pagi sudah mulai menjelang. Ikhsan bangun terlebih dahulu, ia melihat sang istri masih terlelap dengan nyaman. Pria itu memberi kecupan di wajah ayunya.
"Sayang, bangun yuk. Kita mandi dan sholat subuh dulu!" ujarnya sembari mengusap rambut Nia dengan lembut
"Hmm... Masih ngantuk Mas," rengek wanita itu sembari tangannya bergelayut manja di leher sang suami
"Muuach... Ayo bangun dulu, Sayang. Hari ini kita harus balik cepat, karena banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan, kita juga mau kemakam ibu dulu 'kan?" Jelas Pria itu dengan lembut bibirnya masih leluasa memberi sentuhan-sentuhan hangat di wajah Nia
Nia segera membuka matanya dengan sempurna saat mendengar ingin ke makam ibu. Ia sudah sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Aku mandi duluan ya, Mas," ucapnya bergerak sembari melilitkan handuk ketubuh polosnya.
"Kelamaan Sayang, kita mandi bareng aja biar cepat."
"Hah? Tapi malu jika dilihat Bu Asih,Mas. lagian kamar mandinya sempit."
"Ngapain malu, kita suami istri kok. Nggak papa sempit. Biar tambah mesra 'kan kita bisa dempet terus," sanggah ikhsan dengan senyum nakal
"Ihh... Kamu apaan sih,Mas. Mesum banget! Nggak puas juga apa buat aku susah berdiri begini!" Rungut wanita itu
"Hahaha.... Jadi kamu susah berdiri? Ayo sini Mas gendong ke kamar mandi!" Tanpa persetujuan Rania, Ikhsan segera membopong tubuhnya.
"Mas, turunin aku! Malu jika dilihat Bu Asih!" Ujar wanita itu sedikit memberontak
"Jangan bising dong,Sayang! Katanya kamu malu dilihat Bu Asih, kalau kamu bising begini bisa membangunkan Bu Asih!" Akhirnya Nia hanya pasrah dalam gendongan sang suami.
Hanya butuh 15 menit mereka sudah selesai mandi wajib dan sudah berwudhu. Mereka melaksanakan sholat berjamaah.
Nia sudah duduk bersimpuh di sisi makam sang Ibu. "Assalamualaikum... Ibu apa kabar? Aku sangat merindukan Ibu. Semoga Allah menempatkan Ibu di antara orang-orang beriman. Maaf ya Bu, jika aku sudah jarang datang kesini, tapi percayalah, Ibu selalu ada di setiap untaian Do'aku. Semoga ibu tenang di alam sana. Oya, Bu. Aku juga ingin menyampaikan Terimakasih banyak Ibu sudah memilihkan aku jodoh begitu baik dan sangat menyayangi aku."
Nia mengecup batu nisan sang Ibu sangat lama dengan deraian air mata, dihatinya begitu merindukan sosok wanita itu.
Ikhsan merangkul pundak Rania dan ikut mengusap batu nisan ibu mertuanya. "Bu, tenanglah dialam sana, jangan cemaskan Rania. Aku akan selalu menjaganya sepenuh hati. Do'akan kami segera mendapatkan momongan ya? Agar kebahagiaan kami lengkap Bu!"
Setelah selesai ziarah dari makam ibu, ikhsan dan Nia segera berpamitan pada Bu Asih untuk kembali ke Sumatra. Walaupun tidak berhasil membawa wanita paruh baya itu ikut bersama mereka, namun Nia dan ikhsan berjanji akan berkunjung bila ada waktu luang.
***
Kini sudah tiga bulan pasca Rania keguguran dan Nia juga sudah bisa menulis dan membaca walaupun masih mengeja tapi dia sudah sangat bahagia, itu semua berkat kesabaran guru kesayangannya itu dalam memberinya pendidikan, ya walaupun selalu mendapat hukuman tapi tidak masalah dengan wanita itu, asalkan hukumannya sama-sama menikmati, dan bahkan hukuman itu tak jarang berakhir di ranjang. hah dasar guru mesum!
Sore ini Nia merasa tubuhnya menggigil tiba-tiba, sehingga wanita itu harus berselimut penuh dan mematikan AC yang ada dikamarnya.
"Nia..."
Panggil Mami Sarah dari luar, namun wanita itu tidak menanggapi ia masih meringkuk dalam kain tebal itu mencari kehangatan. Karena tidak mendapat jawaban dari menantunya maka Mami masuk untuk melihat, apakah Nia tidur? bukankah ini sudah mau magrib.
Benar saja saat Mami masuk ia menyaksikan menantunya itu dalam gulungan kain hangat itu. Mami mendekatinya namun ada yang aneh ia melihat tubuh itu seperti sedang menggigil.
"Nia, kamu kenapa Nak?" tanya Mami cemas yang sembari menyingkap kain hangat itu.
"Di-dingin Mami..." ujarnya dengan bibir bergetar
"Dingin? Tapi kamar kamu ini terasa panas,Nak. Kamu juga sudah mematikan AC. Mami merasa sangat gerah!"
"Tapi aku dingin Mi, aku tidak tahu tiba-tiba saja begitu," jelas Nia
"Apakah kamu sering merasakan hal seperti ini secara tiba-tiba?" tanya Mami penasaran
"Tidak,Mi. Baru kali ini."
__ADS_1
"Jangan-jangan kamu..." Kata-kata Mami menggantung
"Apa,Mi?"
"Apakah kamu sudah haid bulan ini?" tanya Mami memastikan karena dulu waktu dia hamil ikhsan sama persis seperti itu, di tengah cuaca panas ia tiba-tiba menggigil kedinginan.
Nia mencoba mengingat, ternyata bukan hanya bulan ini saja, semenjak dia bersih dari pasca kuret itu, sampai saat ini belum menerima tamu bulanannya, dan selama itu pula sang suami menggempurnya habis-habisan
"Mi, aku sudah hampir tiga bulan tidak haid, apakah aku sedang hamil Mi?" tanyanya begitu penasaran.
"Hmm, Mami juga mikirnya begitu! Semoga saja ini memang benar adanya. Mami sangat bahagia jika ini benar, Nak. Yasudah kalau begitu Mami telpon suamimu untuk membelikan tespeck agar kita tidak penasaran lagi."
Mami Sarah menelpon ikhsan untuk membeli tes kehamilan itu beberapa macam agar mereka bisa membuktikannya segera.
Tidak perlu lama yang dinantikan sudah tiba dengan membawa beberapa tes kehamilan sesuai pesanan Mami dan Rania.
"Sayang, kamu benaran sudah tidak datang haid semenjak bersih dan pasca kuret itu sampai saat ini?" tanya Pria itu penuh harap.
"Iya, Mas. Masa kamu nggak menyadari emang selama ini kamu pernah libur dalam satu Minggu saja tidak meminta hak kamu padaku!" tutur wanita itu yang tiba-tiba sewot
"Hehe... Biasa aja dong Sayang ngomongnya. Lagian kamu memang aneh deh, kamu sensian dan nggak ada malunya ngomong itu depan Mami. Apakah itu memang bawaan calon bayi kita?" Ikhsan mengecup kening istrinya itu
"Udah ayo,Sayang, kamu tes dulu ya, agar Mami memastikan kebenarannya
"Tapi bagaimana jika hasilnya negatif Mi?" cemas Nia
"Tidak apa-apa,Nak. berarti belum rezeki kita."
Nia segera beranjak dan mengambil beberapa tespeck yang dibawakan oleh ikhsan itu segera masuk kedalam kamar mandi.
Dengan harap-harap cemas Rania mencelupkan benda pipih itu kedalam urine yang telah ia tampung.
Sementara Mami dan ikhsan mondar mandir, ibu dan anak itu sudah seperti setrikaan. Mami menatap putranya dengan senyum tertahan.
"Tidak, Mami hanya bahagia jika memang benar istrimu hamil. Mami pengen punya cucu yang banyak biar rumah kita tidak sepi lagi," tutur Mami
"Tuh 'kan, kemaren aja bela in Rania saat Papi pengen punya cucu yang banyak," ejek ikhsan pada sang Mami
"Ish... Kamu tuh ya, nggak peka banget, ya nggak mungkinlah Mami harus mendukung keinginan Papi didepan istrimu yang saat itu sedang bersedih. Tapi berapapun cucu yang kalian berikan, Mami sudah sangat bersyukur. Yang penting keluarga kalian selalu sehat dan bahagia," jelas Mami Sarah tulus
"Terimakasih ya, Mi. Aku selalu berdo'a semoga Mami dan Papi diberi umur panjang agar bisa melihat dan merasakan kebahagiaan bersama cucu-cucu Mami kelak." Ikhsan memeluk Mami yang begitu menyayanginya.
"Aamiin... Itulah harapan Mami dan Papimu,Nak. Kami hanya ingin menghabiskan hari tua bersama cucu-cucu kami, semoga segala keinginan kita di dengar oleh Allah SWT."
"Aamiin...." Ikhsan mengaminkan
Cklekk!
Pintu kamar mandi terbuka Ikhsan dan Mami serentak menoleh, mereka segera mendekati Rania
"Sayang, bagaimana hasilnya?" tanya ikhsan tak sabar
"Garis satu, Mas," jawab Nia lemas
"Ah, tidak apa-apa Sayang, benar 'kan, Mi?" Ujar ikhsan meminta pendapat Mami untuk membesarkan hati Rania.
"Iya, Nak. tidak apa-apa. Berarti harus usaha lagi," Mami membenarkan
"Usaha mulu, aku ingin tidur nyaman Mi, bilang sama anak Mami jangan gangguin aku untuk beberapa minggu ini!" Ujar Nia yang membuat mami dan ikhsan saling pandang
__ADS_1
"Apa maksud kamu Nak?" tanya Mami penasaran
Nia mendekati Mami lalu mengambil telapak tangan wanita paruh baya itu, dan menaruh benda pipih itu disana. Seketika mata Mami membelalak.
"Alhamdulillah ya Allah.... Haa.... MasyaAllah kamu benaran hamil, Nak. Mami sangat bahagia. Terimakasih Sayang Mami," Wanita itu begitu bahagia dan mengucap syukur sembari memeluk Rania dan menghadiahi ciuman di pipi menantunya itu.
Ikhsan tak kalah bahagia, sehingga tanpa terasa air matanya jatuh. Akhirnya apa yang dia harapkan akan segera terwujudkan.
"Terimakasih, Sayang. Mas sangat bahagia!" Pria itu memeluk sang istri dengan tangis tertahan.
"Aku juga sangat bahagia Mas," Nia juga tak kuasa menahan air matanya.
"Mulai sekarang kamu harus menjaganya dengan baik, kamu tidak boleh mengerjakan apapun, karena kehamilan kamu itu lemah. Aku tidak mau jika terjadi hal buruk lagi," ujar ikhsan memberi peringatan.
"Baiklah, tapi ingat suamiku Sayang, kamu harus puasa beberapa Minggu ini. Karena dokter bilang jika kehamilan seseorang lemah maka hindari untuk berhubungan suami istri dulu."
Harus begitu banget ya,Sayang?" tanya ikhsan masih tidak rela soal yang satu itu
"Benar apa yang dikatakan istrimu itu San, sepertinya Mami kurang percaya dengan suamimu ini Nia, lebih baik kamu tidur bareng Mami, nanti Papi biar tidur bersama ikhsan untuk sementara waktu!" Ujar Mami memberi saran tentu saja di tolak mentah oleh ikhsan
"Ih, Mami apaan sih! pakai acara misahin aku dengan istri dan calon anakku. Nggak, nggak. Aku tidak setuju. Rania tetap tidur bersamaku!"
"Kamu bisa jamin tidak akan mengganggunya?" tanya Mami curiga.
"Yakin Mi, aku janji nggak akan mengganggunya, tapi please jangan pisahkan aku dengan istriku Mami, rasanya aku pengen mati saja..." Rengek ikhsan pada sang Mami.
"Baiklah, tapi awas jika kamu ingkar janji! Mami akan mengurung istrimu!" gertak Mami penuh penekanan
"Iya, iya. Aku janji nggak akan ingkar janji!"
"Bagus kalau begitu Mami akan memberi kabar bahagia ini dengan Papi kamu. Apakah kamu pengen makan sesuatu,Nak? Jika kamu menginginkan sesuatu kamu jangan sungkan mengatakannya. Mami tidak ingin cucu Mami ini nanti ileran," tanya Mami sembari mengusap perut Rania
"Untuk sekarang nggak ada Mi, aku hanya ingin tidur, karena akhir-akhir ini aku hanya sering mengantuk saja," jelas Nia
"Baiklah, ayo istirahat lah. Mami keluar dulu ya."
Ikhsan masih selalu menggengam tangan Rania yang sudah rebahan. Rasa bahagia benar-benar menyelimuti hatinya.
"Mas?" Panggil Nia menengadah menatap suaminya yang duduk di bibir ranjang.
"Ya, Sayang?" ikhsan membelai rambut Nia dengan lembut
"Peluk Aku,Mas," rengeknya begitu manja
"Tapi Mas belum mandi, Sayang, mandi berntar ya!"
"Nggak mau, aku suka keringat kamu. Aku tidak suka bau wangi-wangian. Mulai sekarang Mas nggak boleh menggunakan parfum apapun, mandi jangan pake sabun, kalo pake sabun tidur nggak usah dekat aku!"
Ikhsan mengerutkan keningnya, ini adalah benar-benar pilihan yang sulit. Tapi demi membuat kenyamanan, maka dia akan mengikuti semua keinginan sang istri. Walaupun dia akan mengulang mandi saat dikantor.
"Baiklah, Sayang. Aku akan mengikuti semua keinginan kamu." Ikhsan segera berbaring dan memeluk tubuh ramping Rania dan mengecup kening sang istri dengan lembut.
"Terimakasih Sayang, kamu sudah hadir dalam hidupku. Kamu adalah belahan jiwa pelengkap segala kekuranganku. Semoga kita akan selalu bahagia selamanya." Ikhsan mendekap tubuh Nia dengan penuh kasih sayang.
"Aku juga sangat berterima kasih,Mas. Kamu adalah lelaki yang begitu baik, Allah benar-benar maha penyayang. Kamu tahu Mas? Sedari kecil hingga dewasa aku tidak merasakan kebahagiaan, Namun setelah aku menjadi istrimu maka segala kebahagiaanku yang pernah hilang, Allah gantikan melalui dirimu. Sekali lagi terimakasih suamiku. Maaf jika kedepannya nanti aku akan banyak menyusahkan kamu, aku berharap jangan pernah berubah apalagi meninggalkan aku," ucap Nia sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami dengan Isak tertahan.
Ikhsan mengecup puncak kepala Rania berulang kali. "Aku tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah meninggalkan kamu,Sayang. Aku hanya ingin bahagia bersamamu dan anak-anak kita kelak."
END
__ADS_1
**Hai para raeder yang Budiman. Terimakasih sudah selalu mengikuti kisah mereka 🙏 Semoga masih berkenan mampir di karyaku yang lainnya. sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya 🙏🤗
Kisah Ikhsan dan Rania author cukupkan sampai disini karena sekarang author lagi rilis novel baru. yang berjudul, Balas Dendam Istri Kontrak. Semoga berkenan mampir nanti ya 🙏🤗**