
Nia masih memeluk ikhsan dengan rasa rindu yang begitu dalam. karena begitu bahagianya tangannya terangkat keatas. sehingga membuat infus tidak berjalan dan mengeluarkan darah di selang.
"Ah, maaf. bisa diturunkan tangannya. itu infusnya tidak berjalan," Dr Yandra membuyarkan kebahagiaan dua sejoli itu.
Ikhsan segera melerai pelukannya dan menatap Dr Yandra dengan tatapan tidak suka. "Anda siapa?"
"Saya dokter yang merawat Rania. dan saya yang menemaninya," ucapnya kalem
"Menemani? apa maksud kamu?!" suara ikhsan sedikit meninggi karena diaduk dengan rasa cemburu
"Hei, tenanglah. jangan terlalu posesif. dia pesienku, ayo baringkan kembali wanita cengeng ini," balas Yandra masih ingin menyiram sekam dalam api.
Ikhsan menatap Dr Yandra dengan jengah. "Jangan mengatai istriku cengeng. apakah anda sudah menikah?" tanyanya
"Hah? belum,"
"Segeralah menikah Dokter. agar anda tahu bagaimana cemasnya seorang istri bila suaminya hilang tanpa kabar,"
"Ehem.. benarkah? baiklah Do'akan saja aku segera menikah. jika nanti aku menikah maka kamulah orang pertama yang akan menyaksikan kebahagiaanku. aku juga bisa lebih mesra dari kalian," balas dr Yandra dengan senyum mengembang
Ikhsan yang melihat ekspresi wajah Dr itu. ia menggelengkan kepala. "Aneh sekali seorang dokter Tampan dan mapan tapi belum laku. apakah anda punya kelainan?" tuding ikhsan tanpa perasaan
"Iya, aku punya kelainan. salah satunya mengagumi istrimu." Yandra tersenyum dengan menaikkan alisnya
"Heh! apa maksud kamu Dokter?" ikhsan menarik kerah baju Dr Yandra
"Mas. apa-apaan sih?! kenapa kamu jahat banget. dia Dokter yang merawat aku. di adalah Dokter Yandra pemilik RS ini,dia sangat baik. jangan bersikap arogan begitu kenapa sih,Mas!" sergah Rania dengan kesal melihat sikap sang suami
"Sayang, kenapa kamu membelanya? apakah kamu tidak merindukan aku? atau jangan-jangan kamu senang dirawat olehnya dan melupakan aku. 'iya?" ujar ikhsan tak terima
"Ya Allah,Mas. kenapa kamu mikirnya begitu sih? aku sangat merindukan kamu. tapi kamu jangan bersikap begitu!"
"Bagaimana aku tidak bersikap begitu. kamu dengar sendiri 'kan. dia yang selalu memancing amarahku!" ikhsan tak ingin di salahkan.
Nia menatap Dr Yandra dengan tatapan mengadili.
"Ah, baiklah. aku yang salah. kamu benar-benar bersyukur mempunyai suami se posesif dia,Rania. Maaf Bro atas ketidak nyamananmu dengan kehadiranku disini. tenanglah aku tidak akan menyukainya. karena aku tidak suka dengan wanita yang cengeng,"
"Hei, berapa kali aku katakan jangan menyebut istriku cengeng!" kembali ikhsan mendekati Dr Yandra.
"Mas..." panggil Rania menghentikan langkah ikhsan
"Hahahaha...."
__ADS_1
Yandra yang sedari tadi selalu menggoda pasangan itu,tak bisa menahan tawanya.
"Selamat Bro. aku sangat salut dengan cinta kalian yang begitu besar. semoga selalu bahagia. tenanglah. aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Rania. aku hanya kagum melihat cintanya yang begitu besar pada suaminya sehingga dia mogok makan karena merindukanmu. sekali lagi aku Do'akan semoga selalu bahagia."
Akhirnya Dr Tampan itu bicara dengan sungguh sembari mengulurkan tangannya.
Ikhsan menatap wajah Dr Yandra. dia mencari keseriusan di dalam mata itu. akhirnya menerima uluran tangan sang Dokter.
"Senang bertemu denganmu. semoga saja Pak Bowo tidak mengutus kamu untuk menjadi rekan bisnisku," Kembali kata-kata Dokter itu memancing huru hara.
"Aku juga tidak Sudi harus berhadapan denganmu!" balas ikhsan dengan senyum sinis
"Baiklah, sekarang aku tinggal dulu. silahkan Kembali memulai adegan mesra. tapi ingat! jangan kebablasan karena janin masih sangat lemah. jadi, selamat berpuasa 'kawan." Yandra menepuk pundak ikhsan tersenyum senang sembari berjalan keluar.
"Dasar Dokter stress!" umpat ikhsan mengiringi kepergian sang dokter yang masih terkekeh keluar dari ruangan itu.
***
Setelah Dr Yandra keluar. ikhsan menatap Rania dengan penuh tanda tanya. sejak kapan istri polosnya itu dekat dengan Dr menyebalkan itu.
"Kamu kenapa menatap aku begitu,Mas? kamu pengen? maaf ya,Mas. dokter bilang kita belum bisa melakukannya karena bayi kamu sangat lemah,"
"Ya ampun, Sayang. kenapa pikiran kamu sampai kesana. apakah wajahku terlihat sangat mesum?"
"Aku ingin tahu, sejak kapan kamu dekat dengan dokter itu?" tanya ikhsan penuh selidik
"Sehari setelah aku berada di RS ini," jawab Nia begitu polos
"Apa? jadi apa yang dia lakukan dengan kamu? Mami kemana, apakah Mami tidak menunggumu?" pertanyaan pria itu beruntun
"Apa yang dia lakukan padaku? dia hanya memeriksa kandunganku. dan itupun ada Mami. dia itu baik lho,Mas. dia pernah menghiburku saat aku tak ingin makan. dia mengatakan akan ikut membantu mencari keberadaanmu." jelas Nia panjang lebar
"Tapi kamu tidak menyukai dia 'kan?" kembali ikhsan memastikan
"Kalau suka apa salahnya,Mas," ucap Nia yang membuat ikhsan mendelik
"Apa maksud kamu,Sayang? kamu ingin menduakan aku?" tuding ikhsan tak terima
"Ya ampun,Mas. kenapa kamu mikirnya begitu. suka itu boleh asalkan jangan cinta," elak Nia
"Emang suka dan cinta itu beda? setahuku Suka beriringan dengan cinta."
"Hmm.. beda dong,Mas. suka itu lumrah, tapi sifatnya tergesa-gesa dan sesaat. kalau cinta sifatnya lebih tenang dan membutuhkan waktu yang lama lebih ke arah untuk memiliki.
__ADS_1
Ikhsan tercengang saat mentelaah semua ucapan sang istri. padahal dia tahu bahwa Nia tidaklah sekolah. tapi dia mempunyai kecerdasan yang luar biasa.
"Contohnya?" tanya ikhsan
"Ya contohnya, sekarang aku menyukai Dr Yandra. tapi rasa sukaku hanya tertuju kepada sikapnya yang baik dan peduli. hanya itu!"
Ikhsan mendekat lalu memberi kecupan di bibir Nia. "Kamu tidak akan bisa mencintai orang lain selain diriku," ikhsan mengusap lembut bibir sang istri.
Nia tersenyum sembari mengelus pipi ikhsan. "Cintaku hanya untuk kamu,Mas. kuharap kamu juga begitu," lirihnya
"Percayalah, hanya kamu wanita yang aku cintai. sampai kapanpun." ikhsan menggenggam tangan Rania dan mengecupnya.
Kini kecupan itu berpindah ke dahi dan terus ke mata, pipi, dan berhenti di bibir. kecupan itu semakin dalam bermain di rongga mulut masing-masing.
Cklekk!
Saat mereka masih melepaskan rindu. terdengar suara pintu terbuka. mereka segera melepaskan pagutannya.
"Mi, Pi." ikhsan menjarakkan tubuhnya dari sang istri.
"Kamu lagi ngapain,Nak? kamu jangan bertingkah yang aneh-aneh. ingat! kandungan istrimu lemah," ucap Mami Sarah dengan curiga
"En-nggak. aku nggak lagi ngapa-ngapain kok,Mi," elak ikhsan
"Ya syukur deh kalo begitu," mami Sarah menghampiri Rania.
"Bagaimana keadaan kamu,Nak. apakah perut kamu masih sakit?"
"Alhamdulillah udah nggak,Mi," jawab Nia jujur
"Syukurlah, semoga kamu cepat pulih,Nak. agar kita bisa kumpul dirumah." ujar Papi Bowo.
"Terimakasih, Pi."
"Apakah kalian sudah makan? ini Mami bawain makanan. ayo makan dulu,Nak, Nia biar Mami yang suapin," ujar Mami
"Tidak usah,Mi. Nia biar aku saja yang suapin," tolak ikhsan.
"Ya baiklah. terserah kamu saja. Mami paham kok. orang yang belum puas kangen-kangenannya." goda Mami Sarah.
Bersambung....
Maaf jika tulisan author malam ini acakadul 🤭 soalnya lagi blank🤧
__ADS_1
Happy reading 🥰