
Setelah puas bercerita dengan batu nisan ibu. aku segera pulang menuju kediaman Bu Asih. hanya itulah tempat tujuanku, aku tidak mempunyai sanak keluarga di desa ini karena ibuku adalah perantauan.
"Nia, ada apa sebenarnya nak? kenapa kamu pulang. apakah ikhsan tidak memperlakukanmu dengan baik?" tanya Bu Asih dengan nada cemas
"Tidak, Bu. mas ikhsan sangat memperlakukan aku dengan baik. tetapi mas ikhsan tidak bahagia hidup bersamaku, karena dia tidak mencintai aku. dia hanya melakukan tanggung jawabnya yang sudah dia janjikan kepada Ibu sebelum beliau meninggal. aku tidak mau egois Bu. aku tidak ingin melihat mas ikhsan menderita, aku ingin dia juga bahagia." aku menjelaskan semuanya kepada Bu Asih agar beliau tidak salah paham kepada suamiku.
"Tapi. bagaimana dengan perasaan kamu nak? itu pasti sakit sekali. kamu yang sabar ya?"
"Tidak Bu, aku tidak merasa tersakiti oleh mas Ikhsan. dan ibu harus tahu, bahwa aku tidak pernah menyesal menikah dengannya. dia adalah lelaki yang sangat aku cintai. ibu jangan khawatir ya, tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja." jelasku kepada Bu Asih.
Bu Asih memeluk diriku. "Kenapa nasib kamu seperti ini nak. seharusnya kamu sudah bahagia." Isak Bu Asih
Aku menghapus air mataku. aku tidak boleh cengeng, aku harus bisa menjalani hari-hariku yang akan datang tanpa suamiku lagi.aku harus merelakan mas ikhsan untuk wanita yang dia cintai.
***
Kini sudah satu bulan semenjak aku pergi dari rumah itu. aku selalu menjalani hari-hariku bersama ibu asih yang sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. entah kenapa pagi ini aku sangat merindukan mas ikhsan. aku sangat merindukan dia. aku berharap dia akan datang menemui aku walau sebentar saja.
"Ya Allah, Ampuni aku. seharusnya aku tidak perlu berharap lagi. karena mungkin sekarang mas ikhsan sudah bahagia bersama wanita yang dia cintai. karena semenjak aku pergi dia tidak pernah datang menemui aku maupun menanyakan apa alasan aku pergi darinya, ya tentu saja dia sudah tahu alasanku." gumamku sendiri sembari menyandarkan kepalaku di daun jendela kamar. dan menatap lurus kedepan.
Sudahlah aku tidak boleh berharap lagi. jika aku bisa merelakan dia bersama orang lain, maka aku pasti juga bisa melupakannya. dengan arti tidak menghapus rasa cintaku untuknya.
Seperti biasanya. aku dan Bu Asih, kembali ke pekerjaan semula. yaitu memetik teh. "Nia, kamu sudah siap nak? ayo kita sarapan dulu biar nanti kerjanya nggak lemes." ujar Bu Asih mengajak ku untuk sarapan. namun entah kenapa aku pagi ini tidak selera makan. bahkan aku rasanya ingin tidur kembali. dan aku merasa tubuhku meriang.
"Tidak Bu, pagi ini aku tidak berselara untuk makan. aku makannya nanti siang saja." jawabku sembari bersiap untuk berangkat ke kebun.
__ADS_1
"Kamu sakit Nak? ibu lihat wajah kamu pucat sekali. jika kamu tidak enak badan, istirahat saja dirumah, biar ibu sendiri saja ke kebun."
"Tidak apa-apa,Bu. aku baik2 saja. ibu tidak perlu cemas." jawabku berusaha tetap semangat.
***
Aku dan Bu Asih sedang memetik Teh, semabari bercerita tentang perjalanan hidup beliau maupun aku. kami sama2 saling menguatkan, dan aku berjanji tidak akan meninggalkan beliau yang sangat menyayangi aku seperti anaknya sendiri. namun di sela2 pembicaraan aku merasakan kepalaku pusing dan berputar.
"Nia, kamu kenapa? apakah kamu sakit kepala? mungkin tadi karena kamu tidak sarapan. ayo sekarang duduklah. kamu harus istirahat." Bu Asih menuntun aku untuk duduk
"Kepalaku terasa pusing Bu." jawabku singkat masih memejamkan mataku, karena jika mataku dibuka rasa pusing itu semakin terasa.
Bu Asih, memegang pipiku dan juga dahi. "Ya ampun Nia, kamu demam. kan ibu sudah bilang, kamu tidak usah kerja hari ini biar ibu saja. yasudah sekarang ayo ibu antar kamu pulang dulu, setelah itu baru ibu kembali lagi kesini."
"Bu, aku pengen Tebu itu.rasanya menggiurkan sekali Bu. apakah kita boleh meminta atau membelinya?" tanyaku kepada Bu Asih.
"Kamu tunggulah disini, ibu akan temui pemilik kebunnya." Bu Asih segera masuk kedalam kebun Tebu itu untuk menemui pemiliknya. aku masih menunggu di pinggir jalan
Tidak berapa lama Bu Asih sudah datang dengan sebatang Tebu di tangannya. aku sangat bahagia sekali melihat Bu Asih membawa keinginan aku itu. rasanya aku sudah tidak sabar untuk memakannya.
"Alhamdulillah.. aku sudah tidak sabar Bu, pengen makan tebu ini. pasti sangat segar sekali." ujarku dengan senyum yang selalu aku ukirkan
"Ayo kita pulang dulu. nanti akan ibu kupas untuk kamu." aku dan Bu Asih kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang
Setelah sampai di rumah. Bu Asih segera mengupas Tebu itu. dan dia memotongnya kecil kecil. aku segera memakan tebu itu, mengisap airnya dan membuang ampasnya seperti anak kecil.
__ADS_1
Bu Asih menatapku dengan heran. biasanya aku yang tidak suka dengan tebu. tapi sekarang aku menyukai bahan dasar gula itu. "Nia, apakah kamu sedang hamil?" tiba-tiba pertanyaan Bu Asih membuat jantungku ingin lompat saat itu juga
"Kok ibu bicara begitu? emang ciri2 orang hamil seperti aku ini ya Bu?" tanyaku kepada Bu Asih. entah kenapa aku sangat berharap dugaan Bu Asih memang benar kenyataan.
"Ya, ibu melihat tingkah kamu hari ini aneh sekali. biasanya kamu itu kan tidak suka Tebu. sekarang kenapa kamu sangat menyukainya? bukankah itu aneh, biasanya itu ciri2 orang sedang hamil muda, itu yang dikatakan Ngidam." jelas Bu Asih.
Aku tersenyum menatap wanita paruh baya itu. "Bu, bagaimana aku bisa mengetahui bahwa aku sedang hamil atau tidaknya?" tanyaku penasaran ingin memastikan dan berharap dugaan Bu Asih itu benar.
"Lebih baik nanti Sore kita pergi ke Bidan saja Nia. biar lebih jelas dan akurat."
"Kenapa harus menunggu nanti Sore Bu? kenapa tidak sekarang saja? aku sudah tidak sabar ingin memastikannya!"
"Sekarang ibu harus ke kebun lagi Nia. makanya ibu minta nanti saja kita ke Bidan."
"Sekarang aja ya Bu. aku mohon Bu! aku ingin memastikan jika aku memang sedang hamil." aku memohon sambil bergelayut Manja ditangan Bu Asih.
Wanita tua itu menatapku dengan tatapan yang berbeda. "Nia, jika memang benar kamu hamil. apakah kamu tidak takut?" tanya Bu Asih yang membuat aku tersenyum
"Bu, kenapa aku harus takut? bahkan aku sangat bahagia, aku sangat menginginkan anak dari suamiku. aku akan merawat dan menjaganya dengan baik. ibu jangan khawatir ini anakku bersama suamiku Bu. aku menginginkannya.aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya.tak apa Bu, Jika aku tak bisa memiliki mas ikhsan, tetapi aku bisa mempunyai anak darinya, itu sudah sangat cukup kebahagiaan aku. aku tidak akan meminta apapun lagi."
Bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya 🙏
happy reading 🥰
__ADS_1