Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Memaafkan


__ADS_3

"Mi, aku mohon biarkan aku menemui Mama. Aku pastikan mereka tidak akan berlaku yang aneh-aneh lagi," ikhsan meyakinkan sang Mami.


"Apa yang dikatakan Mas ikhsan, benar,Mi. kasihan Mama Lena. Sepertinya sudah cukup hukuman untuk mereka. Aku berniat untuk mencabut laporannya,Mi." Rania ikut mengemukakan keinginannya


"Tapi,Nia. Kamu tahu sendiri bagaimana kelakuan mereka. Nyawa kamu itu hampir melayang, dan mereka sudah membunuh calon cucu Mami!" Sentak Mami tidak setuju


"Tapi,Mi. Mama sekarang sedang sakit!" Jelas Nia kembali.


"Terserah dengan kalian saja!" Mami Sarah berlalu meninggalkan mereka


"Pergilah temui Mama kamu. Biar Papi yang bicara pada Mami!" Papi Bowo memberi izin pada mereka


***


Setelah mendapat izin dari Papi Bowo. Ikhsan dan Rania ikut bersama Dewi ke tahanan untuk menjenguk Mama Lena.


Mereka dibawa oleh petugas ke ruang perawatan khusus untuk pasien depresi yang ada ditahanan.


Di dalam ruangan itu ikhsan melihat Mama Lena bersedih hati sembari tidur memeluk sebuah boneka usang Tedy bear. Terkadang dia meracau menyebut nama ikhsan.


"Ikhsan, jangan pergi tinggalkan Mama,Nak. Kamu kenapa tega sekali sama Mama. Tidak, tidak. Kamu tidak tega, kamu hanya pergi sebentar saja 'kan,Nak? Kamu tidak akan mungkin bisa melupakan Mama! Hiks... Ikhsan kemarilah Nak..." jerit wanita itu dengan tangis pilu sembari memeluk boneka itu dengan erat


Ikhsan tak kuasa menahan emosinya. Air mata yang sengaja ia tahan namun kini luruh juga saat mendengar kata-kata sang Mama.


"Mama..." Ikhsan berjalan mendekati sang Mama yang duduk di pojok ruangan masih memeluk boneka itu. Saat melihat ikhsan datang maka dia bangun dan membuang boneka itu dan segera memeluk ikhsan penuh dengan rindu.


Ya, Mama Lena hanya depresi bukan gila, dokter mengatakan depresi yang dialami Mama Lena disebabkan oleh suatu hal yang membuat dia berpikir terlalu berat. Depresi bisa sembuh oleh suatu hal yang ia pikirkan itu pula.


"Ikhsan... Anak Mama! kamu datang,Nak? kamu kemana saja, kenapa kamu tega sekali membiarkan Mama disini. Mama sudah ikhlas menerima hukuman ini San, tapi kenapa kamu seakan membenci Mama. Kamu sudah tidak pernah datang menjenguk Mama!" tangis wanita paruh baya itu pecah dalam pelukan sang Putra.


"Mama, maafkan aku. Aku sama sekali tidak membenci Mama, aku sangat menyayangi Mama. Aku hanya sedang sibuk akhir-akhir ini Ma." balas Pria itu dengan lembut


"Apakah kamu baik-baik saja,Nak? apakah kamu sakit?" tanya Mama Lena yang masih mencemaskan keadaan putranya padahal dialah yang patut di cemaskan

__ADS_1


"Alhamdulillah aku baik-baik saja Ma." Ikhsan menatap mata sayu itu dan mengusap air mata yang masih menetes.


"San, boleh Mama bertemu dengan Rania? Mama ingin minta maaf atas kejahatan yang selama ini Mama lakukan padanya, bahkan kami sudah tega membunuh calon cucu kami sendiri. Hiks..." tangis pilu penyesalan Mama Lena


"Mama duduklah, aku akan memanggilkan istriku,"


"Apakah dia juga ada di sini?"


"Iya Ma. Tadi dia ingin masuk tapi takut Mama tidak mau menerimanya." jawab ikhsan


Ikhsan segera keluar untuk menemui Rania yang sedang ngobrol dengan Dewi. Sepertinya mereka sudah mulai akrab Dewi sudah bisa menerima Rania sebagai adik iparnya.


Dengan langkah ragu Rania masuk di gandeng oleh ikhsan dan di ikuti oleh Dewi. Nia menatap mata sayu, kulit wajahnya yang mulai tampak garis keriput semakin jelas tanpa polesan yang dulu tak pernah terlewatkab diwajah itu.


Nia menelan salivanya dengan kasar, rasa gugup masih tercipta di dirinya. Dia yang begitu paham dengan ketidak sukaan Mama Lena padanya.


"Mama, apa kabar?" Nia menyalami tangan wanita itu, saat Nia ingin melepaskan tangannya kembali namun Mama Lena menariknya dan segera memeluk tubuh Nia dengan erat.


"Ma, aku tidak pernah membenci Mama sedikitpun. Aku seorang yatim piatu, aku sangat merindukan kasih sayang seorang ibu, Mama sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. Maafkan aku ini Ma, yang banyak kekurangan dalam mencintai putra Mama yang begitu sempurna, tapi aku memang tidak sanggup meninggalkannya. Jadi aku mohon Ma, tolong restui kami!" mohon Nia dalam dekapan Mama mertuanya.


Mama Lena melerai pelukannya ia merangkum kedua pipi Rania dengan lembut. "Nak, mulai saat ini Mama sudah merestui hubungan kalian. Kamulah menantu perempuan kami satu-satunya. Bagaimana apakah kamu senang mempunyai dua ibu mertua?"


Nia tersenyum. "Aku senang sekali. Terimakasih Ma, Terimakasih!" Nia mengecup tangan Mama Lena dengan sayang


"Mama sabar ya, aku dan Mas ikhsan akan mencabut laporan untuk kebebasan Mama dan Papa," jelas Nia mengutarakan niatnya dan ikhsan


"Tidak perlu,Nak, biarkan kami menerima hukuman ini agar kami sadar dan bisa menjadi orang yang lebih berguna lagi dengan sesama. Selama ini kami terlalu sombong dengan segala kuasa yang kami milik. Pulanglah! Mama tidak akan banyak fikiran lagi. Berkunjunglah jika kalian punya waktu!" jelas wanita itu lagi yang membuat Rania dan ikhsan menjadi bingung


"Ma, kenapa bicara begitu? aku tahu kita sudah banyak melakukan kesalahan, tapi dengan Mama dan papa berada di penjara seperti ini, bagaimana Mama akan menebus kesalahan Mama itu? Seharusnya Mama bersyukur bisa keluar dari jeruji besi ini, agar kita bisa merubah sikap dan memperbaiki diri!" jelas Dewi tidak terima dengan keputusan sang Mama yang ingin tetap mendekam di penjara.


Akhirnya dengan segala bujukan, Mama Lena menerima untuk di bebaskan dengan cara ikhsan dan Rania mencabut laporannya.


***

__ADS_1


Kini ikhsan dan Rania sudah merasa lega, kedua orangtua angkat dan orangtua kandung ikhsan sudah berdamai. Papa Zoni juga sudah menyesali segala perbuatannya karena sudah menghilangkan calon cucunya sendiri.


Setelah berdamai, keluarga angkat ikhsan sudah kembali lagi ke Jakarta. ikhsan dan Rania memutuskan untuk menetap di kota Medan Sumatra Utara.


Malam ini seperti biasanya ikhsan sedang mengajari murid kesayangannya itu belajar, karena tangan Rania sudah mulai pulih dia juga sudah mulai bisa menulis dengan perlahan.


Ikhsan menggeram tangan Nia yang sedang memegang pensil, lalu mulai menggerakkan tangannya yang kaku itu untuk membuat sebuah tulisan "I love you my husband"


Dengan bersusah payah Nia mempelajarinya. Entah berapa kertas yang gagal dia buang karena tidak sesuai dengan contoh yang di buat oleh sang guru, dan sebanyak itu pula Rania mendapatkan hukuman.


"Mas, ini sudah benar, belum sih?" tanyanya hampir frustasi


"Belum, Sayang. Ini kamu buatnya keluar dari garis kotak ini. Nulis itu harus rapi makanya aku suruh kamu ikutin garis kotak ini agar tidak jelek tulisan kamu!" kritik dari sang guru yang membuat otak wanita itu berpikir semakin keras lagi.


"Terus gimana dong?" tanya Nia pasrah


"Ya dihukumlah sesuai perjanjian!" jawab ikhsan senang


"Eh, udah dong Mas, udah kebas nih bibir! belajarnya besok lagi ya. Aku ngantuk..." rengek wanita itu


"Hahaha... sini dulu aku obati, mana yang kebas?" ikhsan meraih wajah Nia dan mengecup bibir itu dengan lembut tapi sangat lama, ini berbeda dengan hukuman tadi, ikhsan begitu ber naf su melu mat bibir Rania.


"Sekarang kita tidur ya. Ini jadi PR. Besok malam harus bisa. Jika nanti kamu berhasil menulis kalimat itu, mas janji akan memberimu hadiah spesial!" ujarnya menjanjikan sebuah hadiah


"Mas serius?" tanya Nia berbinar


"Ya serius banget."


"Baiklah besok malam aku pasti sudah bisa. Soal ini mah kecil!" sombongnya yang membuat ikhsan gemas dan tertawa sembari menggusal kepala istrinya itu dengan sayang


Bersambung...


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2