Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Cemburu


__ADS_3

"Mari makan Mas Alfin," tawar Nia dengan sopan


"Lanjut Dek, tadi aku sudah makan," balas Pria itu matanya menatap Rania dengan lekat


"Sayang, cobain punya Mas deh, kok nggak berasa garam ya?" Ikhsan kembali menyuapi Rania baksonya, ia sengaja membuat Pria itu segera beranjak.


Ternyata Pria itu merasa gerah juga melihat kelakuan pasangan pasutri itu yang terlewat mesra sehingga jiwa jomblonya meronta.


"Dek Nia, aku duluan ya, udah malam besok pagi-pagi mau berangkat keluar kota," ujarnya permisi hanya pada Rania saja.


"Ah iya, Mas. Hati-hati ya." balas Nia dengan ramah namun, mendapat tatapan tajam dari ikhsan.


"Kenapa natapnya gitu Mas? cemburu ya?" tanya wanita itu begitu polos


"Kamu benar-benar nakal ya. Bisa-bisanya sok ramah dan perhatian dengan orang itu," ujar ikhsan memulai huru hara


"Nakal apanya,Mas? lah bicaranya di depan kamu, dan itu bukan perhatian hanya sekedar basa-basi saja," jelas wanita itu acuh


"Nggak perhatian gimana? udah jelas kamu bilang, "hati-hati ya mas" itu namanya nggak perhatian?" Pria itu masih dengan pembenarannya


"Terus aku harus bersikap seperti apa sih Mas?"


"Yaudah deh terserah kamu!" Ikhsan segera beranjak menuju kasir dan memesan tiga bungkus lagi untuk Bu Asih dan pemilik motor.


Nia bingung melihat suaminya yang mode ngambek. Ternyata suaminya itu suka cemburuan juga, senang juga berasa sangat di cintai.


"Ayok pulang." ujarnya masih nada dingin


Nia hanya ngikut tanpa bicara apapun lagi. Dia tahu suaminya masih cemburuan.


Setelah naik diatas motor Nia masih diam, ingin mulai percakapan takut nggak ditanggapi karena Pria itu masih ngambekan.


"Pegangan Dek Nia, nanti kamu jatuh," ujar ikhsan menirukan gaya bicara Pria yang bernama Alfin itu


Nia yang mendengarnya sangat geli dan gemas. Maka dia memeluk ikhsan sangat erat.


"Eh, nggak gini juga meluknya Dek Nia! susah nafas nih."


"Biarin! pengen lebih kuat dari ini meluk kamu,Mas!"


"Iya nanti dirumah ya!"


"Nggak mau!"


Ikhsan menurunkan standar motornya. Ia membalikkan tubuh menghadap sang istri yang ikutan ngambek, ia mengecup kening Rania dengan sayang.

__ADS_1


"Nanti lanjutin lagi ngambeknya ya! Sekarang kita pulang dulu, ayo pegang dengan penuh cinta dan kasih sayang!" titahnya dengan senyum menawan


Akhirnya wanita itu tersenyum memeluk dengan penuh cinta dan kasih sayang, seperti yang di request oleh sang suaminya.


Sesampainya dirumah, ikhsan segera mengembalikan motor tetangga, dan memberikan beberapa tanda terima kasih dan dua bungkus bakso.


"Sudah pulang, Nak? Kok cepat sekali pulangnya?" tanya Bu Asih.


"Iya, Bu, lagi nggak mood. Ada pengganggu!" Jawab ikhsan yang masih belum mereda. Pria itu segera ngoyor masuk kedalam kamar.


"Pengganggu? Apa maksud suami kamu,Nia?" tanya Bu Asih tidak mengerti


"Nggak tahu Bu, dia ngambek karena tadi kami ketemu mas Alfin anaknya Pak lurah," jelas Nia


"Loh, bukannya Alfin itu bertugas di luar kota?"


"Iya, dia baru datang semalam dan besok katanya udah mau balik lagi."


"Terus kenapa ikhsan marah? Apakah kalian masih membahas masalalu, dan apakah ikhsan tahu jika dulu kamu dan Alfin pernah ada hubungan?"


"Nggak, kami nggak ada bahas itu Bu, kami hanya ngobrol biasa saja. Dia juga menanyakan kabar ibuku, dan aku beri tahu yang sebenarnya jika ibu sudah meninggal."


"Yasudah, sana dibujuk suamimu!" perintah Bu Asih


"Bujuk pake apa, Bu? aku tidak tahu caranya," ucap Nia, jujur baru kali ini ikhsan bersikap seperti itu.


"Apa ya? Ah yaudah nanti aku pikirkan, aku masuk dulu ya Bu. Ini bakso buat Ibu." Nia memberikan bungkusan bakso itu segera berlalu menyusul ikhsan masuk kamar.


Sesampainya di kamar, ia melihat ikhsan tiduran sembari memainkan ponsel pintarnya. Nia segera ikut berbaring disampingnya dan memeluk Pria itu dengan manja.


"Mas?"


"Hmm?" jawab ikhsan acuh


"Jangan ngambek dong! nggak enak dicuekin sama kamu," ujarnya sembari menyembunyikan wajah di di leher sang suami.


Ikhsan masih cuek dan fokus dengan ponselnya. Nia masih berpikir keras mengingat ucapan Bu Asih. bujuk dengan hal yang paling dia suka. Apa sih di sukai oleh Pria ini?


Akhirnya Nia beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Sebenarnya tadi sore ia ingin keramas karena sudah satu bulan lebih dan darah nifasnya sudah bersih, tapi Nia sengaja mengulur satu hari agar dia bisa tidur dengan nyenyak. Tapi sepertinya kali ini ia harus berkorban untuk membujuk sang suami agar tidak ngambek lagi.


Nia terpaksa mandi malam, agar bersih untuk menyenangkan suaminya itu yang sedang bad mood.


Selesai mandi Nia masuk kedalam kamarnya, ia terkesiap karena melihat ikhsan sudah berada di depan pintu. Pria itu menatap heran pada sang istri yang tiba-tiba mandi malam


"Kenapa mandi malam,Sayang?" tanyanya heran

__ADS_1


"Iya, aku gerah dicuekin!" jawab Nia berlalu masuk mencari pakaian ganti di dalam koper bawaannya.


Ikhsan mendekap tubuh Nia dari belakang ia menghirup aroma wangi sabun di tubuhnya yang menenangkan pikiran.


"Mas, awas dulu, aku mau pakai baju," ujarnya ingin melepaskan diri


"Sayang, kenapa lama sekali? aku udah kangen," lirih ikhsan, sembari menggesekkan sesuatu yang sudah mengeras di bokong Rania.


Wanita itu membalikkan tubuhnya dan merangkum kedua pipi sang suami. Nia mengecup bibir ikhsan dengan lembut.


Semula kecupan itu sangat lembut dan ringan namun ikhsan membalasnya dengan kecupan menuntut.


"Kita mulai sekarang?" bisik Nia dengan mesra, ikhsan merespon dengan tatapan tidak percaya, ia takut bila istrinya itu sedang mengerjainya.


"Kamu serius, Sayang?"


"Hmm, aku serius Mas. Aku sengaja mandi malam untuk menyenangkan kamu."


"Tapi..."


"Aku sudah bersih Mas, kamu sudah boleh melakukannya sekarang."


"Yess, muuuaachh... Terimakasih Sayangku." Ikhsan segera membopong Rania yang tubuhnya masih berbalut handuk.


Akhirnya mereka kembali berbagi peluh di tengah dinginnya malam. Rania benar2 tepar di bawah kungkungan sang suami, entah berapa kali mereka mengulanginya.


Ikhsan mengecup seluruh wajah cantik istrinya, dan memeluk dengan penuh kasih sayang. "Terimakasih Sayangku, maaf ya, udah bikin kamu capek," ujarnya


Nia hanya bisa mengangguk sembari mengeratkan pelukannya. "Mas?" panggilnya


"Ya, Sayang?"


"Kamu udah nggak marah lagi 'kan?"


"Hmm, gimana ya? Aku tidak akan marah tapi kamu harus cerita siapa Pria yang bernama Alfin itu?"


Nia merenggangkan pelukannya. "Aku akan cerita tapi setelah ini nggak boleh ngambek lagi ya?"


"Baiklah!"


"Dia itu anaknya Pak lurah, dulu kami pernah pacaran sebentar sebelum dia tahu diriku yang sebenarnya, yaitu seorang gadis buta huruf dan tidak sekolah. Jadi kamu tidak perlu takut Mas, tidak ada Pria yang mau menerima kekuranganku selain dirimu. Hanya kamulah Pria yang tulus mencintai aku," jelas Nia dengan sendu


Ikhsan kembali mendekap tubuh istrinya. "Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu, Sayang? Kamu tidak lihat dari tatapannya, dia masih mempunyai perasaan padamu!"


"Walaupun ada, tapi tidak akan pernah terbandingkan oleh perasaan kamu Mas. Aku hanya milik kamu, aku tidak akan pernah bisa mencintai pria maupun lagi selain suamiku yang begitu sempurna dimataku ini!"

__ADS_1


"Terimakasih ya Sayang, aku sangat mencintai kamu istriku." Mereka saling berpelukan dan tidur dengan nyaman.


Happy reading 🥰


__ADS_2