Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Permintaan Mama Lena


__ADS_3

Kini sudah satu bulan lamanya aku berada di keluarga Amarzoni ini. namun hubunganku dan Mama Lena masih tidak ada kemajuan. mereka hanya menggapku sebagai seorang pembantu. namun aku melihat hanya sikap mbak Sinta yang sudah mulai membaik kepadaku.


Tapi aku tetap bersyukur. setidaknya ada kemajuan, tidak semua orang membenciku dirumah ini. selain dari mas ikhsan, kini ada mbak Sinta yang sudah mulai baik kepadaku. ya, mbak Sinta adalah kakak kedua mas ikhsan.


Sore ini seperti biasanya. aku sedang menyiram tanaman yang ada di taman belakang. tiba-tiba mama Lena datang,


"Nia, aku ingin bicara padamu!"


Ujarnya dengan ketus, dan berjalan menuju bangku taman itu. aku segera mengikuti langkahnya


"Duduk!" perintahnya dengan nada dingin


Aku segera duduk di kursi depan mama.sehingga wajah kami saling berhadapan


"Nia, kamu tahu bahwa ikhsan tidak mencintai kamu. dan kamu juga tahu hingga sekarang ikhsan belum bisa melupakan Sofi. maka aku meminta kamu untuk mengizinkan ikhsan menikahi Sofi dan hidup dimadu! karena kebahagiaan ikhsan itu hanya bersama Sofi!"


Duarr!


Bagaikan disambar petir disiang hari, saat mendengarkan kata-kata Mama Lena. hatiku kembali bagaikan ditusuk belati. sakitnya begitu nyata, tapi luka itu tak aku temui secara kasat mata. karena rasa sakitnya tertanam dalam batinku.


"Maaf Ma, aku tidak bisa mengizinkan mas ikhsan untuk menikah lagi. mungkin sekarang mas ikhsan memang belum mencintai aku. tapi aku yakin suatu saat dia pasti bisa mencintai aku ma!" jawabku dengan tegas aku menolak mentah-mentah keinginan mama mertuaku itu


"Kenapa kamu yakin sekali bahwa ikhsan suatu saat akan mencintai kamu? dan bagaimana jika dia tidak bisa mencintai kamu untuk selamanya? apakah kamu tega untuk membuat ikhsan itu menderita hidup bersamamu?"


Pertanyaan itu membuat aku bimbang. apakah yang dikatakan Mama Lena itu benar? bagaimana jika selamanya mas ikhsan tidak bisa mencintai aku. dan aku juga tidak tega membiarkan suamiku menderita untuk selamanya.


Seandainya mas ikhsan ingin menikah lagi. maka lebih baik aku melepaskannya dari pada hidup dimadu. aku tidak sanggup Benar2 tidak sanggup menjalani hidup dimadu.


Aku menghapus air mataku yang sudah jatuh. aku mencoba untuk tetap tegar. "Ma, jika memang mas ikhsan masih mencintai Sofi. maka aku akan menanyakannya sendiri. karena aku merasa sekarang mas ikhsan sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan Sofi." ujarku meminta waktu kepada mama mertuaku itu


"Baiklah, kamu bisa buktikan sendiri jika ikhsan itu masih sangat mencintai Sofi. dia hanya menjaga perasaanmu saja. jika dia bisa menjaga perasaanmu. tapi kenapa kamu tidak bisa memberikan dia kebahagiaan?"

__ADS_1


"Baiklah,Ma. jika memang mas ikhsan masih mencintai Sofi dan tidak bahagia hidup bersamaku. maka mama tidak perlu khawatir, aku akan melepaskan mas ikhsan. dan aku akan segera pergi dari kehidupannya!" itulah akhir dari jawabanku dan juga keputusanku


"Bagus. aku setuju dengan keputusanmu itu. ingat janjimu padaku. jika benar anakku tidak bahagia bersamamu maka segeralah lepaskan dia!" ujar mama Lena dengan penuh penekanan.dia segera pergi dari hadapanku


Aku masih duduk di kursi ini. kembali air mataku mengalir. kembali kata2 Mama Lena terngiang di telingaku. bahwa aku harus merelakan mas ikhsan untuk menikah lagi. aku memang mencintai suamiku. tapi aku tidak bisa jika dimadu.


Aku harus menanyakan hal ini kepada mas ikhsan. apakah dia selama ini memang tak bisa melupakan Sofi? atau selama ini dia masih menjalin hubungan dengan wanita itu? ah entahlah aku tidak tahu. yang jelas aku akan mencari jawabannya nanti setelah mas ikhsan pulang.


***


Kini Waktu yang aku tunggu sudah datang. aku yang sedang duduk gelisah dikamar ini terkesiap saat Pria yang sedang aku pikirkan itu sudah berada dihadapanku.


"Nia, kamu kenapa?" tanyanya kepadaku


Aku segera menyalami tangannya. kembali jantungku berdebar. rasanya aku ingin menghambur kedalam pelukannya,dan menumpahkan segala kegundahan hatiku yang sedari tadi. namun apalah daya aku tidak mempunyai keberanian itu.


"Mas, A-aku."


"Ya, Halo. Apa?! Baiklah aku akan segera kesana. tetap tenangkan Sofi Tante. aku jalan sekarang."


"Nia, aku pergi dulu ya. ada hal yang penting!" mas ikhsan segera meninggalkan aku yang masih berdiri dengan tatapan tidak percaya.


Ya Allah. ternyata apa yang dikatakan Mama lena itu memang benar. ternyata mas ikhsan masih sangat mencintai Sofi. sepertinya aku memang harus melepaskan dia.


Aku terduduk di sofa itu. kembali tangisku pecah. ternyata selama ini aku salah. aku salah karena terlalu menyimpan harapan besar. yaitu aku berharap mas ikhsan akan mencintai aku dan melupakan Sofi sebagai masa lalunya.


Pantas saja sampai saat ini dia tak pernah menyentuhku. mungkin aku ini hanya sebagai istri pajangan olehnya. aku tak pernah ada dihatinya. ah, ya Allah. rasanya sakit sekali.


Baiklah, aku akan memenuhi keinginan mama Lena. aku akan melepaskan mas ikhsan, yaitu Pria yang sangat aku cintai. untuk apa aku mempertahankan rumah tangga ini jika suamiku sendiri tidak bahagia.


Setelah puas menangis, aku segera tidur. mungkin karena aku sudah terlalu banyak menangis, membuat mataku perih dan mudah lelah tidak perlu lama aku sudah berada di alam mimpi.

__ADS_1


***


Aku terbangun jam satu dini hari. rasanya aku memang sudah lama sekali tidur dari jam delapan malam. aku segera mencari keberadaan mas ikhsan, namun tak aku temui sosok itu.


Kembali pikiranku mengingat bahwa tadi dia akan pergi menemui Sofi. ya, mungkin saja dia sekarang sedang berada di kediaman kekasihnya itu. sudah! aku tidak perlu memikirkan dia lagi.


Cklekk!


Pintu kamar itu terbuka. ternyata orang yang sedang aku pikirkan sudah pulang. aku segera duduk dari tidurku. aku menatap wajah lelah mas ikhsan.


Apa yang harus aku lakukan? apa aku harus menunda pertanyaanku ini. rasanya sangat tidak baik menanyakan hal itu disaat dia sedang lelah. atau aku tunggu dia istirahat sejenak atau setelah mandi.


"Belum tidur kamu Nia?" tanyanya dengan nada datar. aku merasakan aura dingin diwajahnya


"Iya, mas. apakah mas ikhsan ingin mandi sekarang? biar aku sediakan air hangat ya mas." tawarku kepadanya


"Tidak usah Nia, aku ingin segera tidur saja." tolaknya yang segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjang


Apa ini? tak ada penjelasan darinya. dia tidak mau jujur denganku bahwa dia sudah menemui Sofi. ah sepertinya dia memang tidak pernah menganggap aku sebagai istrinya.


Aku duduk di sampingnya. entah kenapa akal sehatku hilang. aku ingin memberikan tubuhku kepadanya sebelum aku pergi dari kehidupannya. mungkin karena aku sangat mencintai dia.


"Mas, apakah aku ini wanita yang sangat menjijikkan? sehingga kamu tidak pernah mau menyentuhku?" spontan kata2 itu keluar dari bibirku sehingga membuat dia terkesiap


"Apa yang kamu katakan Nia? aku tidak pernah menganggapmu seperti itu!" ujarnya sembari duduk dan menatap diriku


Kembali tatapan itu membuat jantungku tak tenang. "Mas, sentuh aku. aku ingin menjadi istrimu seutuhnya, walaupun tidak selamanya. apakah aku salah meminta hak batinku kepadamu? atau kamu tidak bisa melakukannya karena kamu tidak men-"


"Ssssttt... jangan katakan itu Nia." dia meletakkan telunjuknya di bibirku, tanda aku tidak boleh meneruskan kata-kata itu.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya sahabat Readers. terimakasih 🙏🙏🤗🥰


__ADS_2