
Kini kecupan itu semakin dalam. sehingga membuat adrenalin mereka terpacu. ikhsan semakin membuai Nia ke alam yang sangat dia rindukan. Nia benar2 merasakan kenikmatan yang luar biasa, padahal ikhsan baru menjamah area sensitifnya tetapi Rania sudah mengejang berkali kali. nafsu se k sual nya semakin meningkat, mungkin karena pengaruh hormon karena dia sedang hamil muda.
Karena merasa sudah sama2 mode on. Rania segera membawa ikhsan kedalam kamarnya. dia takut jika Bu Asih bangun dan melihat adegan panas itu.
"Mas, kita ke kamar ya! takutnya nanti Bu Asih bangun." ujar Lyra
"Baiklah sayang." ikhsan segera membopong tubuh kurus sang istri. walaupun dia belum tahu apa penyebab istrinya itu bisa kurus begitu.
Setelah sampai di kamar. mereka kembali bergumul dengan hasrat yang sudah menggebu-gebu. ikhsan merasa sudah tidak bisa menahan hasratnya. dia segera menuntaskan, hingga akhirnya mereka terkulai lemas dia atas ranjang yang sederhana itu. ikhsan mengecup seluruh wajah Rania. dan membawanya masuk kedalam pelukannya.
"Sayang, apakah kamu lapar? kita beli nasi goreng yang ada di perempatan jalan itu, Mau nggak?" tanya ikhsan kepada Nia yang masih betah dalam pelukan sang suami.
"Aku tidak mau nasi goreng mas. tapi aku maunya martabak telor. rasanya itu sangat enak. aku dari tadi kepengen banget mas." ujar Nia dengan manja sembari menatap wajah tampan yang kini rasanya bagaikan mimpi baginya karena ternyata ikhsan juga mencintai dirinya.
"Hmm,, Cari dimana ya sayang Martabak telornya? soalnya mas belum begitu hafal daerah sini."
"Kita pergi berdua yuk mas. aku tahu dimana tempatnya."
"Begitu ya? emang kamu tidak mau menu yang lainnya?" tanya ikhsan kembali
"Tidak mas. karena ini permintaan anak kamu!" ucap Rania.
Ikhsan terkesiap saat mendengar Rania mengatakan permintaan anaknya "Apa maksud kamu sayang?" ikhsan melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Nia untuk meminta jawaban
"Maaf ya mas. aku sampai lupa memberi tahu kamu. aku hamil mas. baru berjalan enam Minggu. dan itulah yang membuat aku kurus begini. aku mabuk berat dan tidak bisa makan apapun sehingga berat badan aku menurun." jelas Rania kepada sang suami.
Ikhsan kembali membawa Rania kedalam pelukannya. "Maaf ya sayang. maaf jika aku tidak berada di saat kamu sedang menghadapi susahnya proses untuk menjadi seorang ibu. tapi Mas janji mulai sekarang akan selalu ada untuk kamu. kita akan melewati semuanya bersama. aku akan berusaha untuk menjaga kamu dan juga calon anak kita."
"Terimakasih mas. terimakasih atas segala cinta dan kasih sayang kamu yang begitu tulus."
__ADS_1
"Muuuaachh.. sama2 sayang. aku juga berterima kasih karena kamu sudah melengkapi kebahagiaanku, yaitu sebentar lagi aku akan menjadi seorang Papa. Hai, anak Papa. kamu mau makan martabak telor ya, baiklah Nak, Papa akan mencarikan buat kamu dan mama. tapi papa mandi dulu ya sayang."
"Mas, aku ikut!" rengek Rania.
"Jangan sayang. kamu kan sedang Hamil. jadi tidak boleh keluar malam2. apalagi mas carinya pakai motor. nanti perut kamu sakit." larang ikhsan
"Tapi aku pengen ikut mas. aku tidak mau ditinggalkan kamu lagi. aku tidak apa-apa kok mas. lagipula aku sudah biasa naik motor." Nia masih ngotot dan merengut
ikhsan menatap wajah sedih istrinya. dia tidak ingin membuat Rania kembali menangis karena dia tahu bahwa perasaan wanita yang sedang hamil sangatlah sensitif.
"Baiklah. ayo kita mandi terlebih dahulu." ikhsan mengecup kepala Rania dan merangkul tubuh istrinya itu untuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi. Rania mengambilkan kaos ganti untuk suaminya. karena dia tahu bahwa ikhsan tidak membawa sehelai pakaianpun kecuali yang dibadannya.
"Sayang, ini kan baju aku. kok ada disini?" tanya ikhsan
Ikhsan menatap sedih dengan apa yang selama ini Rania rasakan. "Sayang, andai dari awal aku tahu bahwa kamu juga mencintai aku. mungkin kita tidak perlu seperti ini. jika dipikir2 lucu juga cinta kita ini." ikhsan tersenyum mengingat alur cerita cintanya dan Rania.
"Habisnya mas ikhsan sih, nggak mau jujur dengan perasaan kamu."
"Ya, mana mas tahu Nia, kan pernikahan kita secara mendadak jadi mas berpikir untuk memberikan kamu waktu untuk jatuh cinta padaku. eh rupanya malam itu malahan minta disentuh dan minta-"
"Haaa! jangan diterusin mas, aku malu!" Rengek Rania sembari menutup mulut ikhsan dengan tangannya.
"Hahaha... kenapa malu Sayang. itu adalah kenangan terindah dan termanis dalam perjalanan cinta kita. sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan itu."
"Udah mas, aku malu. jangan diterusin!" Rania memeluk tubuh ikhsan yang masih menggunakan handuk, wajah Nia yang sudah memerah
"Hehehe.. Baiklah, baiklah Sayang. tapi jika boleh jujur, mas sangat bahagia malam itu sayang. ya sudah jika kamu malu. ayo kita bersiap. tapi motornya pinjem punya siapa Sayang?"
__ADS_1
"Pinjem motor Bude Tarmi, Mas. nanti biar aku yang ngomong, yaudah nih mas pake dulu bajunya." Nia menyerahkan kaos oblong itu kepada ikhsan
Setelah mengenakan pakaiannya. ikhsan mengambil sisa uang yang dia pinjam dengan Andre temannya itu.
"Nia, mas cuma punya uang segini. kamu simpan ya. besok mas akan coba cari pekerjaan.agar bisa memenuhi kebutuhan kita." ikhsan menyerahkan uang itu kepada Nia.
"Kenapa mas berikan semuanya sama aku mas? kan kamu juga butuh untuk keperluan kamu yang lainnya. lagipula aku masih punya sedikit simpan yang waktu itu kamu berikan sama aku."
"Sudah, kamu simpan saja semuanya. nanti kalau mas butuh, kan bisa minta sama kamu. soalnya kamu itu butuh biaya yang banyak. apalagi nanti saat melahirkan. kamu Do'akan suamimu ini bisa segera mendapatkan pekerjaan ya. biar kita bisa nabung untuk kelahiran bayi kita nanti." jelas ikhsan
***
Kini Rania dan ikhsan sudah berada di tempat orang yang jual martabak telor itu. tetapi Nia tidak suka dengan aroma minyak untuk menggorengnya. dia kembali mengeluarkan cairan dalam perutnya melalui muntah
"Sayang, kamu tidak apa-apa? tadi kan mas sudah bilang. kamu jangan ikut, tapi kamunya ngotot." ikhsan mengusap punggung dan tengkuk Rania dengan lembut
Setelah merasa sedikit lega karena cairan muntah itu sudah keluar. Nia Kembali duduk di kursi kayu panjang itu. tetapi dia menutup hidungnya dengan menyembunyikan wajahnya di punggung ikhsan.
Setelah pesanan mereka selesai. ikhsan segera membawa Rania untuk pulang. "Udah hanya ini saja yang kamu mau Sayang? apakah kamu tidak mau beli buah2an atau yang lainnya?"
"Udah ini saja. nanti kita mampir beli nasi goreng buat mas dan Bu Asih. kan tadi mas bilang pengen makan nasi goreng."
"Baiklah, ayo sekarang kita jalan." ikhsan segera menjalankan motor bebek itu. Rania memeluk pinggang suaminya dengan erat. rasanya malam ini sungguh malam yang sangat membahagiakan untuk kedua pasangan yang baru dua bulan menikah itu.
Bersambung
NB: kasih dukungan ya.biar lelah author terobati π karena selalu bergadang malam π₯Ίπ
Happy reading π₯°
__ADS_1