
Setelah mas ikhsan keluar, aku segera membaringkan tubuhku di atas ranjang yang berukuran king size itu. aku merasakan jika tempat tidur ini begitu nyaman dan empuk. beginilah tempat tidur suamiku. pasti waktu dirumahku dia tidur sangat tidak nyaman.
Karena merasa sangat nyaman, akhirnya tidak perlu lama aku sudah berada di alam mimpi. tanpa aku sadari aku tidur sudah lumayan lama. mungkin aku terlalu menikmati kenyamanan ranjang ini, sehingga tidurku lelap.
Aku segera bangun. dan kulayangkan pandanganku sekeliling kamar itu. aku melihat televisi dikamar sudah menyala. dan aku juga menemukan sosok Pria yang sangat aku cintai itu sedang fokus dengan benda pipih dihadapannya. dia tampak begitu fokus dengan benda itu dan berkas2 yang ada di meja depan sofa itu.
Kulihat mas Ikhsan sudah menggunakan celana pendek jeans. dan kaos oblong, rambutnya yang sudah tersisir rapi. sehingga ketampanannya Begitu jelas dimataku.
"Kamu sudah bangun? ayo mandilah terlebih dahulu. setelah itu kita akan makan malam." ujarnya membuyarkan lamunanku.
"Makan malam?" tanyaku sedikit linglung
"Iya, ini sudah jam tujuh. tadi aku ingin membangunkan kamu. tapi sepertinya kamu sangat lelah. jadi aku membiarkan untuk tidak menggangu tidurmu."
"Maaf ya Mas." ucapku dengan rasa bersalah dan Segera bangkit dari tempat dudukku
"Kenapa harus minta maaf? kamu tidak melakukan kesalahan."
"Tapi aku tidak enak dengan keluarga yang lainnya mas. seharusnya aku bantu mereka untuk menyediakan makan malam dirumah ini."
"Kamu tidak perlu pikirkan itu. karena dirumah ini sudah ada beberapa ART yang telah mengerjakan tugas dirumah ini."
"Apa itu art mas?" tanyaku tidak mengerti. dan dia menatapku dengan sedikit mengerutkan keningnya dan setelah itu dia merubah ekspresi wajahnya yang tadi tampak heran kini kembali seperti semula. "Art itu. asisten rumah tangga. jadi merekalah yang mengerjakan seluruh pekerjaan dirumah ini. jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak jika tidak mengerjakan pekerjaan dirumah ini." jelasnya kepadaku
__ADS_1
Aku hanya bisa ber oh ria saja. menanggapi penjelasan mas ikhsan. aku segera menuju kamar mandi. "Itu handuk kamu Nia. yang kamu pegang itu handuk aku." tiba-tiba langkahku terhenti saat mas ikhsan mengatakan bahwa kami harus mempunyai handuk sendiri-sendiri.
Kembali perasaanku perih. begitu tidak nyamankah dia denganku? bahkan untuk memakai handuk yang sama saja dia tidak mau. ah, sudahlah. aku harus sabar dan kuat. semoga saja perasaan cintanya segera hadir untukku.
Aku segera mengambil handuk yang telah dia sediakan untukku. tanpa menoleh segera masuk kedalam kamar mandi, dan aku segera membersihkan diri. tak lupa setelah mandi aku melaksanakan sholat isya. karena suara adzan telah berkumandang.
***
Kini aku kembali berada di tengah-tengah keluarga itu. tak ada sapaan atau senyum yang aku terima. aku benar-benar merasa sangat asing di keluarga suamiku.
Mereka akan bicara kepada yang bersangkutan keluarga itu saja. aku hanya diam dan fokus pada makanan yang ada di piring ku, hingga makanan yang aku makan terasa begitu hambar tak ubahnya seperti hatiku saat ini.
"Ikhsan, bagaimana keadaan nenek?" tanya mama membuka percakapan kepada mas ikhsan yang sedari tadi juga hanya diam.
"Oya, Nia. kamu sekolah di SMA mana?" tiba-tiba aku mendapatkan pertanyaan dari mbak Dewi. Yaitu kakak mas ikhsan yang paling tua. kembali jantungku ingin lompat saat mendengar pertanyaan itu.
Wajahku seketika berubah menjadi merah. aku bingung apa yang harus aku jawab. sementara SD saja aku tidak pernah. "Kok, bengong? apa kamu lupa dengan sekolah mu sendiri?" tanya mbak Dewi dengan senyum mengejeknya. dan di ikuti oleh yang lainnya. mereka semua menatapku
Apakah mereka sudah mengetahui tentang diriku yang sebenarnya? tapi untuk apa aku menyembunyikannya dari mereka. toh suatu saat mereka juga akan mengetahui yang sebenarnya.
Aku menatap mas ikhsan yang sepertinya Hanya diam dia seperti sedang berpikir. namun aku tidak mau dia berbohong lagi. sudah seharusnya keluarga mas ikhsan mengetahui. agar tak ada lagi yang akan mereka selidiki dari statusku
"Aku, aku tidak pernah sekolah Mbak. aku adalah seorang wanita yang buta huruf. aku tidak tahu membaca bahkan aku tidak bisa menulis namaku sendiri." Akhirnya aku mengakui segala kekuranganku kepada mereka. agar mereka puas dan tidak menjadikan aku bahan ejekan lagi.
__ADS_1
"Hebat ya. dijaman sekarang masih ada wanita yang tidak bersekolah dan buta huruf sepertimu. apa saja yang dilakukan oleh ibumu? apakah ibumu itu orang yang sangat tidak mampu. hanya sekedar untuk menyekolahkan kamu. bukankah sekolah itu gratis?" ujar mama Lena.
"Maaf ma. tolong jangan pernah menyalahkan ibuku. karena mama dan yang lainnya tidak tahu bagaimana keadaan ibuku. aku tidak pernah menyesal jika ibu tidak menyekolahkan aku. karena aku sangat memahami keadaannya dan aku juga sangat menyayangi ibu. sekali lagi tolong jangan pernah membawa ibuku dalam masalah ini." tukas ku. kepada mereka.
Aku tidak masalah jika mereka akan menghinaku atau merendahkan aku. asalkan mereka tidak menyalahkan ibuku.
"Tapi aku dan keluargaku yang lainnya sangat bermasalah menerima kamu menjadi menantu di keluarga Amarzoni ini. apakah kamu tahu bahwa ikhsan adalah anak lelaki satu-satunya dalam keluarga ini! apakah kamu tidak memikirkan bagaimana malunya kami mempunyai menantu seorang buta huruf dan juga bodoh sepertimu!"
"Cukup, Ma! Cukup! tolong jangan pernah membahas tentang itu lagi! walau bagaimanapun juga keadaan Nia. dia sudah menjadi istriku. dan aku harap kalian bisa menghargainya!"
Aku tak bisa menahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah.maka aku segera beranjak dari tempat itu. selera makanku sudah hilang. aku segera lari dan menuju kamar. aku segera membuka pintu menuju balkon kamar itu. aku duduk dan memangku lututku dengan tangisku yang sudah pecah.
Aku menatap malam yang kelam tanpa ada sinar bintang yang menghiasi langit malam ini. Ya Allah, kuatkan aku. tambahkan rasa sabar dihatiku ini ya Rabb. jangan biarkan aku menjadi wanita lemah. aku tahu dengan segala kekuranganku.maka aku mohon kuatkan hatiku jika nanti aku akan mendapatkan celaan dan cemoohan dari mereka. biarkan aku tetap sabar bersama suamiku. aku juga memohon kepadamu ya Rabb. jangan engkau uji diriku dengan sikap mas ikhsan yang nanti juga akan berubah kepadaku. Jika itu terjadi maka aku tidak sanggup ya Allah. lebih baik aku pergi. karena saat ini aku bertahan di tempat ini hanya demi mas ikhsan.
"Nia, maafkan segala kesalahan keluargaku ya. aku tahu kamu pasti sangat kecewa atas semua perkataan mereka." mas ikhsan meminta maaf kepadaku dengan tulus.
"Tidak apa-apa, Mas. mereka tidak salah, karena apa yang mereka katakan memang benar. aku memang sangat banyak kekurangan. maafkan aku mas. maaf jika aku sudah menjadi penghalang kebahagiaan mas ikhsan. pasti kamu sangat malu mempunyai istri bodoh seperti aku mas."
"Ssstt... Nia, kamu jangan bicara seperti itu. aku tidak pernah malu dengan segala kekuranganmu. lagipula kamu hanya tidak bisa menulis. tetapi kamu bisa dalam segalanya. kamu sangat pintar berhitung, kamu pintar membaca alquran.dan kamu juga pintar memasak, kamu baik, dan juga cantik. jadi kekuranganmu yang satu itu bisa kamu tutupi oleh kelebihan yang begitu banyak Allah berikan." ujar mas ikhsan.aku tidak tahu apakah dia sedang menyenangkan hatiku yang kini sedang bersedih.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. terimakasih 🙏🤗🥰
__ADS_1