Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Pergi malam


__ADS_3

Setelah sampai di rumah. Nia segera membuka pintu yang tadi sengaja ia kunci dari luar. namun saat ia masuk, bu asih sudah berdiri didepan pintu.


"Nia, kamu dari mana nak? kenapa kamu kunci pintu dari luar? ibu cari kamu kemana2, ibu sangat mencemaskan kamu, Nia." ucap Bu asih.


"Maaf, Bu. tadi aku pergi beli martabak telur bersama mas ikhsan." jawab Nia


"Ikhsan?" tanya bu asih dengan nada terkejut


"Selamat malam Bu, maaf tadi kami pergi tidak kasih tahu ibu." ucap ikhsan yang baru saja datang setelah mengembalikan motor pinjamannya.


"Kamu, kapan datang San? maaf ya tadi ibu ketiduran dari sore." ucap Bu asih


"Iya, tidak apa-apa Bu." jawab ikhsan


"Yasudah,ayo sekarang kita masuk dulu." ajak Bu Asih.


Setelah mereka masuk, Rania dan ikhsan, menjelaskan semuanya kepada Bu Asih, kenapa selama ini ikhsan tidak datang menemui Nia


Bu Asih, merasa kasihan dengan nasib kedua anak angkatnya itu yang tak mendapatkan restu dari orangtuanya.


"Kalian sabar ya nak, ibu percaya kalian pasti bahagia dan sukses."


"Aamiin, terimakasih ya Bu."


***


Kini pagi sudah menjelang. Nia sudah bangun dari tadi, tetapi ia masih betah di dalam dekapan sang suami. Nia menghirup aroma tubuh ikhsan yang begitu ia sukai.


"Dingin sayang, ternyata disini udaranya sejuk sekali ya." gumam ikhsan yang mempererat pelukannya,dan menghadiahi Rania kecupan mesra.


"Hihi... geli mas, kamu nakal banget sih." Nia tertawa kecil karena tidak tahan dengan keusilan ikhsan yang menggerayangi tubuhnya.


"Habisnya kamu membuat dia bangun sayang." ikhsan menggesekkan tubuhnya yang sudah menonjol itu pada kedua paha Rania.


Rania melonggarkan pelukannya. dia menatap ikhsan dengan senyum penuh arti.


"Apakah kamu juga menginginkannya,hmm?" ikhsan menggusalkan hidungnya keseluruh wajah Nia, sehingga wanita itu tertawa tak henti-hentinya

__ADS_1


"Mas, udah dong. baiklah kita akan mengulanginya pagi ini. tapi nanti mandi nggak boleh bilang dingin ya." ujar Nia


"Baik, sayangku.mas, janji nggak bilang dingin. kan, udah dihangatkan terlebih dahulu." ujar ikhsan tersenyum bahagia


Akhirnya mereka mengulangi permainan hangat itu. sehingga mereka mencapai kenikmatan bersama dan terkulai lemas saling berpelukan.


***


Pagi ini, ikhsan sudah rapi dengan pakaian yang dia kenakan saat datang dari Kalimantan. walaupun belum di cuci tetapi pakaiannya masih terlihat rapi dan aroma parfum itu masih mengguar di Indra penciuman.


"Mas, kamu yakin ingin mencari pekerjaan hari ini? bukankah kamu masih capek,Mas? kenapa kamu tidak istirahat saja hari ini." ucap Nia sembari menggulung lengan panjang ikhsan hingga dibawah siku.


"Tidak, sayang. aku tidak capek. aku harus mencari pekerjaan agar kita bisa menabung."


"Baiklah,Mas. kalau begitu kamu sarapan dulu ya. maaf ya mas,tadi Bu Asih yang masakin kamu sarapan, soalnya aku masih belum bisa mencium aroma bawang dan minyak penggorengan." jelas Nia kepada sang suami


"Iya, tidak apa-apa Sayang. apakah pagi ini kamu mau makan sesuatu? biar mas carikan sebentar, sebelum mas pergi."


"Nggak, mas. aku tidak ingin makan apapun pagi ini. aku masih merasakan mual."


"Baiklah, tapi kamu jangan lupa minum susu hamilnya ya. nanti mas pulang sekalian beli susu, stok susu hamil kamu sudah mau habis mas, lihat semalam. kamu mau rasa apa. coklat, vanilla,atau stroberi?" tanya ikhsan yang sepertinya sudah hafal dengan varian rasa susu ibu hamil itu.


"Okey, nanti mas belikan ya. kalau begitu mas minta uang dulu dong buat jaga-jaga. mana tahu dapat kerjanya jauh. jadi diharuskan naik angkot."


"Hihi.. baiklah suamiku sayang." Nia tertawa kecil melihat cara ikhsan meminta uang kepadanya.ia segera mengambil uang di dalam lemari,dan memberikan kepada ikhsan.


***


Kini ikhsan berada di desa yang sudah menjadi kecamatan itu. daerah itu sudah cukup padat oleh penduduknya,tapi entah kenapa masih belum menjadi kabupaten. mungkin karena minimnya lapangan pekerjaan.dan juga potensi ekonomi lokal yang kurang berkembang. ya, rata2 bidang usaha di desa itu adalah sebagai buruh pemetik teh dan juga petani Tebu.


Ikhsan bingung harus berbuat apa. dia sudah mencoba mencari pekerjaan dengan mendatangi setiap toko, maupun gudang, untuk menawarkan jasanya. tetapi semuanya mengatakan bahwa mereka tidak menambah karyawan.


Kini hari sudah mulai sore.Ikhsan duduk disebuah warung. dia berpikir langkah apa yang harus dia lakukan. sepertinya disini tidak bisa di andalkan untuk mendapatkan pekerjaan. apalagi dia yang tak mempunyai ijazah ataupun sertifikat pendidikannya yang lain. karena semua telah ia tinggalkan di rumah orangtuanya.


Ikhsan berpikir sepertinya dia harus membawa Rania dan Bu Asih pindah ke kota. mungkin jika di kota dia masih bisa menawarkan jasanya, dengan pengalaman yang telah dia miliki.


Niatnya sudah bulat.ikhsan segera pulang, dia berencana besok pagi2 sekali akan membawa Nia dan Bu Asih pindah ke kota. namun sebelum pulang dia tidak lupa untuk membelikan Nia susu hamil sesuai rasa yang di request oleh istrinya.

__ADS_1


Saat ikhsan mengarah jalan pulang.dia melihat sebuah mobil yang sangat dia kenali. yaitu adalah mobil keluarga Amarzoni,yang tak lain adalah orangtuanya sendiri.


Ikhsan bersembunyi dan memperhatikan seksama, dia melihat beberapa orang turun dari mobil itu dan bertanya sembari menunjukkan sebuah foto yang dipegang oleh orang itu. ikhsan melihat bahwa itu adalah orang suruhan sang papa. entah apa yang sedang mereka rencanakan.


Perasaannya tidak tenang ikhsan harus segera sampai dirumah Bu Asih. dia harus secepatnya pergi dari desa ini. dengan langkah terburu-buru ia menuju rumah ibu angkat Rania itu.


Sesampainya di kediaman Bu Asih. kini hari sudah mulai gelap. ikhsan segera memberitahukan kepada Rania dan Bu Asih. namun saat mereka sedang bicara. terdengar suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah.


Tidak berapa lama terdengar ketukan pintu menandakan ada tamu yang datang.


"Ayo, kalian pergi sekarang Lewat pintu belakang." bisik Bu Asih.


"Tapi bagaimana dengan ibu?" tanya Nia


"Kamu jangan pikirkan ibu Nia. pokoknya kamu dan ikhsan harus pergi dulu dari desa ini. jika besok kalian sudah berhasil. baru jemput ibu kesini. sudah ayo pergi sekarang!"


Nia segera mengambil uang simpanannya di lemari dan memasukkan beberapa helai pakaiannya kedalam tas.


Akhirnya ikhsan dan Rania segera meninggalkan rumah itu melalui pintu belakang.walaupun sangat gelap dan melewati perkebunan Tebu. ikhsan selalu menggenggam tangan Rania dengan erat.


"Gelap sekali mas." bisik Nia di tengah menyusuri kebun tebu itu.


Ikhsan yang tahu bahwa istrinya itu sedang ketakutan. dia segera merangkul tubuh Nia. "jangan takut ya, sayang. mas selalu berada disisi kamu."


Entah sudah berapa jauh mereka berjalan. hingga akhirnya mereka melihat ada sebuah pondok di perkebunan itu. ikhsan segera membawa Nia naik ke atas pondok itu.


"Sekarang kita istirahat disini dulu ya, sayang. besok pagi-pagi kita akan ke terminal. kita harus secepatnya pergi dari kampung ini. mas tahu mereka akan membawaku pulang dengan paksa." jelas ikhsan yang sudah tahu maksud kedatangan orang suruhan papanya itu


"Bagaimana jika nanti mereka menemukan kamu mas, dan mereka membawa kamu pergi meninggalkan aku." lirih Nia didalam dekapan sang suami.


"Jangan bicara seperti itu sayang. aku tidak akan pernah meninggalkan kamu walau bagaimanapun. tenanglah kita akan tetap bersama. andai saja aku ini sendiri, maka aku tidak akan pernah takut melawan orang suruhan keluargaku itu. tetapi aku hanya tidak ingin meninggalkan kamu Nia. aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu dan juga calon anak kita."


"Terimakasih ya, mas. aku juga tidak mau berpisah denganmu. aku sangat mencintai kamu mas." ucap Nia sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku juga sangat mencintai kamu sayang." ikhsan mengecup bibir, dan kening Nia.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, agar Author semangat Update, terimakasih 🙏🥰🤗


Happy reading 🥰


__ADS_2