
Akhirnya Bu Asih mengikuti keinginanku yaitu untuk pergi ketempat Bidan saat itu juga. aku benar-benar tidak sabar untuk mengetahui yang sebenarnya. aku sangat berharap jika dirahimku ini sudah ada malaikat kecil yang akan aku jaga dan kurawat dengan penuh kasih sayang.
Setelah sampai di rumah Bidan. aku segera menceritakan apa yang sedang aku alami. dan Bu bidan menanyakan tanggal terakhir aku haid. aku segera mengingat tanggal haidku. dan ternya dalam bulan ini aku memang belum kedatangan tamu bulanan itu.
"Baiklah Bu, Rania. untuk lebih memastikan dan lebih akurat, sekarang ibu tampung urinenya dulu ya, kita akan mengujinya dengan alat tespeck ini." ujar Bu bidan
"Urine? apa itu urine Bu?" tanyaku tidak mengerti. ya, maklum saja aku yang tidak pernah sekolah jadi aku tidak mengerti dengan bahasa berbeda dari biasanya yang aku ucapkan.
"Ayo nak. biar ibu bantu kamu." ujar Bu Asih menjawab pertanyaan yang belum sempat ibu bidan itu ucapkan
Aku hanya mengikuti Bu Asih untuk masuk kedalam kamar mandi. dan setelah sampai didalam kamar mandi. Bu Asih membisikkan kepadaku. "Nia, urine itu adalah air pipis. jadi kamu diminta untuk menampung air pipis kamu untuk menguji agar mengetahui bahwa kamu itu sedang hamil atau tidak!" jelas Bu Asih berbisik di telingaku.
"Ooo... Jadi itu artinya Bu? hehe maklum saja Bu aku tidak pernah makan bangku sekolahan, eh maksudnya bukan makan bangku tapi aku tidak pernah menduduki bangku sekolahan." ucapku kepada Bu Asih dengan nyengir kuda.
"Udah, ayo cepat kamu tampung. nanti keburu lama, ibu tunggu kamu diluar ya!" ujar Bu Asih dan segera aku balas dengan anggukan.
Kini aku duduk dihadapan Bu bidan yang sedang mencelupkan benda pipih itu kedalam air urine yang dia katakan tadi. jantungku berdebar. aku memperhatikan benda itu dari mulai dicelupkan hingga diangkat kembali
Bu bidan itu melihat garis yang muncul di benda itu. dan dia tersenyum. "Selamat ya ibu Rania. Anda positif Hamil. dan dihitung dari tanggal terakhir haid Anda. maka kandungan sekarang berjalan lima Minggu." ujar Bu bidan memberiku selamat
__ADS_1
Saat itu juga air mataku luruh. aku menatap Bu Asih dengan tangis yang begitu bahagia. "Alhamdulillah.. Bu, aku benaran hamil aku sangat bahagia Bu." aku menghambur dalam pelukan Bu Asih. dengan tak hentinya mengucapkan rasa syukur. ternyata Allah begitu baik mendengarkan Do'aku.
"Alhamdulillah nak. kamu harus jaga kandungan kamu ya. kamu jangan terlalu lelah, sekarang kamu dirumah saja, biar ibu yang ke kebun." nasehat Bu Asih kepadaku, dan aku hanya mengangguk menyetujuinya.
"Sekali lagi selamat ya,Bu Nia. pasti suami anda sangat senang. karena ini anak pertama jadi peran suami sangat dibutuhkan dalam menjaga kesehatan dan juga selalu memberikan support kepada Anda. baiklah akan saya berikan buku untuk periksa rutin setiap bulannya. siapa nama Suaminya Bu?" tanya bidan itu saat menuliskan nama suami dariku
Aku menatap Bu Asih. wanita tua itu menganggukkan kepalanya. "Namanya ikhsan Marzoni, Bu." jawabku dengan yakin, karena bagiku saat ini mas ikhsan masih berstatus sebagai suamiku. karena dia belum datang memberiku surat cerai. ya walaupun nanti dia sudah tidak menjadi suamiku lagi tetapi dia adalah ayah dari bayi yang sedang aku kandung.
Setelah selesai periksa dan mendapatkan vitamin dari Bu Bidan. aku dan Bu Asih segera pulang. di tengah perjalanan aku selalu tersenyum bahagia sambil mengusap perutku dengan lembut.
"Terimakasih ya Nak, kamu sudah mau hadir di rahim ibu. dan ibu sangat bahagia dengan kehadiranmu. kamu jangan takut ya. ibu akan selalu menjaga dan merawatmu dengan baik." aku membawa calon bayiku bicara dan Bu Asih menatapku dengan senyum tak terlepas dari bibirnya. "Kamu jangan takut Nak, nenek juga akan ikut menjaga kamu. Nenek sudah tidak sabar ingin menimang kamu dan membawamu kepasar untuk membeli mainan." timpal Bu Asih yang membuat aku semakin bahagia.
"Terimakasih ya Bu. terimakasih ibu Sudah selalu ada buat aku. aku sangat bahagia mempunyai ibu yang begitu baik denganku. terimakasih sudah selalu menyayangi aku Bu." ujarku kepada Bu Asih.
"Aku janji tidak akan pernah meninggalkan ibu lagi. kita akan terus bersama Bu."
***
Kini dua Minggu setelah aku periksa ke Bidan. aku merasakan setiap hari kondisiku semakin menurun. karena aku tidak bisa makan apapun. apa yang aku makan maka akan keluar lagi dengan muntah sehingga muntah yang aku keluarkan sudah berwarna kuning dan begitu pahit di lidahku.
__ADS_1
Malam ini aku hanya tiduran di ruang tamu. aku tidak suka mencium aroma apapun, Bu Asih sebenarnya sangat khawatir dengan kondisiku,dia ingin membawaku berobat ke bidan ataupun ke puskesmas, namun aku menolak karena ada tetangga yang bilang, apa yang sedang aku alami sekarang adalah hal yang wajar bagi hamil muda hingga nanti kandunganku sampai empat bulan.
"Sayang, kenapa kamu tidak mau makan apapun nak? kalau adek nggak mau makan begini nanti kita lemes, yuk kita pikirkan apa yang enak? hmmm... kalau ibu pengen martabak telor kayaknya enak deh. adek mau? iya kita minta beliin itu saja sama bang Yogi ya." Yogi itu adalah anak tetangga kami dia baru kelas tiga SMP. dialah yang selalu membantu kami membelikan sesuatu jika kami membutuhkan. maklum saja kami tidak mempunyai kendaraan untuk transportasi.
Saat aku sedang bicara dengan janinku. aku mendengarkan suara ketukan pintu. sepertinya Bu Asih sudah tertidur di kamarnya sehingga beliau tidak mendengarkan,
Tok... Tok....
Aku berusaha bangun untuk membukakan pintu. rasanya kakiku begitu lemas untuk menopang tubuhku yang sudah kurus ini. namun aku paksakan karena suara ketukan itu tak kunjung berhenti. mungkin ada yang penting.
Aku segera membuka pintu. namun mataku membulat sempurna saat menatap punggung Pria yang berdiri sedang membelakangi aku itu.
"Mas. mas ikhsan?" ucapku dan Pria itu segera membalikkan tubuhnya dan menghadap kepadaku.
"Rania." Dia segera memelukku dengan erat. "Aku sangat merindukan kamu Nia. kenapa kamu pergi meninggalkan aku tanpa pamit?" dia melerai pelukannya dan menatapku lalu menghujani wajahku dengan kecupannya.
Aku tidak bisa menahan perasaan haruku, karena aku juga sangat merindukan dia. aku kembali memeluk suamiku yang sangat aku rindukan dan aku cintai. rasanya bagaikan mimpi saat aku mendengarkan dia mengatakan rindu kepadaku.
"Mas, ayo masuklah kita bicara didalam ya." dia mengangguk dan segera merangkul diriku untuk masuk.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya 🙏