
"Mas, apa yang terjadi? ibuku baik2 saja kan, mas?" tanyaku kembali. namun air mataku ikut jatuh, aku kembali menatap pria yang ada dihadapanku saat ini. dia hanya menangis dengan wajah tertunduk.
Sedetik, dua detik. hingga satu menit. aku tak kunjung dapat jawaban dari mas ikhsan. kembali aku mendekati pria itu. namun kini aku memegang kedua lengannya. "Mas, katakan apa yang terjadi pada ibukuu?!!! jangan diam saja mas!!!" aku mengguncang tubuh Pria itu. dengan suaraku yang begitu tinggi, namun lama2 aku merasakan suaraku tercekat di tenggorokan. hanya air mataku yang masih setia untuk terjun bebas di pipiku
"Nia, maafkan aku. ibu, ibu sudah meninggal!" akhirnya aku mendengarkan berita buruk yang sedari tadi menghantuiku. namun kini apa yang aku takutkan memang benar terjadi.
Aku tak bisa menopang tubuhku. kakiku begitu lemas. bagaimana bisa ibu pergi secepat itu. sedangkan tadi pagi aku masih melihat senyum diwajah wanita yang sangat aku sayangi itu. dan baru hitungan jam, dia akan berencana ingin membuatkan aku sebuah kue ulang tahunku.
Ah, ya Allah. kembali engkau menguji kesabaranku. dulu selama berpuluh tahun Engkau mengujiku dalam bentuk menyembunyikan kasih sayang ibu dariku. dan setelah baru beberapa Minggu aku mendapatkan kasihan sayangnya. kini engkau kembali memberiku ujian yang rasanya sangat begitu besar. apakah aku sanggup dengan ujianMU ini ya Rabb?
Bermacam pertanyaan berkecamuk dalam hatiku. aku ingin marah dan menyalahkan takdir dari Rabbku,tapi aku segera menyadari. Bahwa Allah tidak akan pernah memberi ujian diluar batas kemampuan seorang hamba-Nya.
Aku berusaha untuk berdiri, dan dibantu oleh mas Ikhsan. dengan Isak tangisku. aku berusaha untuk tetap tegar "Mas, aku ingin bertemu ibu." ucapku dengan suara lirih dan tatapan kosong
"Baiklah, ayo aku temani." jawabnya sembari memapahku masuk keruangan itu.
Kini aku sudah berada dalam ruangan itu. dan aku melihat para medis sedang melepaskan semua alat yang tadi terpasang ditubuh ibuku. aku melihat tubuh itu telah kaku.dan kembali aku memperhatikan perut ibuku. aku berharap masih melihat perut itu bergerak Naik turun dengan helaan nafasnya. namun semua tidak seperti keinginanku. semua diam tak ada gerakan sedikitpun, semua tampak kaku.dengan segala kekuatan dan rasa sabar yang tersisa di diriku.
Aku mendekati tubuh wanita yang sangat aku sayangi itu, wanita yang telah melahirkan aku ke dunia ini dan membesarkan aku dalam bentuk cinta dan sayang dia sembunyikan dariku, sehingga aku mengira bahwa dia benar-benar membenciku, padahal dia sangat menyayangi aku. namun karena rasa trauma dan kejadian masalalunya yang menyedihkan. maka ibu tak bisa menyayangi aku selayaknya seperti ibu ibu yang lainnya.
"Ibu.. kenapa ibu pergi meninggalkan aku? kenapa ibu tega meninggalkan aku seorang diri di dunia ini? bukankah ibu Sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku. bagaimana jika nanti aku merindukan Ibuu? bukankah ibu juga sudah berjanji ingin membuatkan aku sebuah kue ulangtahunku, Ibuu kenapa tega sekali! Huuuu... Hiks... Hiks.."
Kembali tangisku pecah diruangan itu. aku memeluk tubuh ibuku yang kini sudah tak bergerak lagi. rasanya aku ingin ikut saja dengannya.
__ADS_1
Rasa sedihku yang begitu dalam. sehingga menimbulkan rasa haru di tengah tangah mereka yang ada di ruangan itu. mungkin mereka menyadari bahwa nasibku tidak seberuntung mereka yang masih memiliki kedua orangtua. maka para dokter maupun perawat, ikut meneteskan air matanya, setelah mendengarkan racauanku yang begitu menyedihkan.
"Mbak, sudahlah. semoga ibu anda tenang di sisi-Nya." ucap salah seorang Dokter yang ada disana. dia memberiku kekuatan.
***
Kini pemakaman ibu baru saja selesai. semua para pelayat yang tadi ikut mengantarkan jenazah ibu untuk terakhir kalinya, mereka sudah pulang. kini hanya tinggal kami bertiga. yaitu. aku, mas ikhsan,dan ibu Asih yang masih setia menemani aku.
"Nia, mari kita pulang nak. biarkan ibu kamu istirahat dengan tenang. jangan terlalu larut dalam kesedihan ini. kasihan ibumu pasti akan sedih lagi melihat dirimu begini." bujuk Bu Asih
"Bu, biarkan aku disini dulu. aku ingin menemani ibuku untuk yang terakhir kalinya." jawabku yang masih menyandarkan kepalaku di batu nisan ibu.
"Baiklah, kalau begitu ibu pamit dulu ya. segeralah pulang jika rasa dihatmu sudah mulai lega." ucap Bu Asih, dan aku hanya membalas dengan anggukan
Dia berjongkok di sampingku. dan menatap wajahku yang masih menyimpan segala kesedihan dan kerinduan pada sosok ibuku.
"Nia, ayo kita pulang sekarang. kamu harus istirahat dan makan sesuatu. kamu sedari tadi belum makan apa2" ujarnya kepadaku. padahal aku juga tahu bahwa dia tidak lebih seperti aku. dia yang sedari tadi menemani aku dan tak kulihat dia makan apapun.
"Aku tidak lapar mas. aku hanya ingin disini."
"Tapi kita harus pulang sekarang, Nia. kita akan melaksanakan ijab qobul hari ini juga!" ucapnya yang membuat aku terkesiap dan menatap wajahnya dengan rasa terkejut dan penuh tanda tanya
"Nia, aku sudah berjanji pada ibu. bahwa aku akan menikahi kamu hari ini juga. maka aku minta, mari kita laksanakan amanat itu sekarang. biarkan aku menikahimu dan menjagamu selamanya." ujar mas Ikhsan kembali
__ADS_1
Aku masih diam terpaku. kembali ingatanku kepada beberapa Minggu yang lalu saat ibu mengatakan bahwa dia akan mencarikan aku jodoh yang baik. apakah ini yang dimaksud oleh kata2 ibu Waktu itu? Ah, ya Allah. kenapa ibu benar2 menepati janjinya itu.
Aku terpaksa mengikuti keinginan ibu. aku dan mas ikhsan segera pulang untuk menemui Bu Asih. aku memberitahukan Soal rencana pernikahanku dan mas ikhsan. ya, aku hanya memiliki Bu Asih, dialah yang akan menjadi pengganti ibuku nanti. karena aku juga tahu bahwa Bu Asih sangat menyayangi aku.
***
"Sah!
"Sah!
Disaat saksi mengatakan Sah, maka Seketika itu juga aku sudah sah menjadi istri seorang pria pilihan ibuku.dan tak dapat aku bohongi perasaanku, bahwa Pria pilihan ibu itu, adalah Pria yang pertama kali membuat jantungku berdebar saat awal pertemuanku dengannya.
Ya, awal pertemuanku saat itu. aku sudah jatuh cinta kepadanya. sebenarnya ada rasa bahagia dihatiku karena bisa menikah dengan orang yang aku cintai.
Namun rasa sedihku masih menyelimuti hati, karena ibu tak bisa melihat kebahagiaanku. kenapa harus dengan cara ini Allah mengabulkan keinginan ibu? ah sudahlah aku jalani saja takdir hidupku ini dengan ikhlas.
Setelah selesai acara ijab qobul. semua tamu sudah meninggalkan kediamanku. tak banyak yang menghadiri pernikahanku dan mas ikhsan, hanya para tetangga saja. begitu juga keluarga mas ikhsan yang tidak mengetahui pernikahan ini. aku tidak tahu apa alasannya,kenapa mas ikhsan tidak memberi tahu keluarganya.
Aku masih enggan untuk banyak bertanya. aku hanya ingin memenuhi permintaan ibu yang terakhir kalinya, yang ia sampaikan kepada mas ikhsan saat diruangan itu sebelum ibu menghembuskan nafas terakhirnya.
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya. agar Author semangat Update, terimakasih 🙏🥰🤗
__ADS_1