Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Rania sudah bisa pulang


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat. hari ini Rania sudah di izinkan untuk pulang. selama dirawat di RS ikhsan tidak pernah meninggalkan Nia sendirian. entah apa yang membuat pria itu tak membiarkan sang istri sendiri walau barang sebentar saja.


Setelah selesai sarapan, Dr Yandra masuk bersama seorang perawat. ikhsan menatap Dr itu dengan wajah tak bersahabat. tapi lain halnya dengan sang dokter yang terlihat cuek.


"Bagaimana keadaan kamu Nia? apakah ada keluhan yang lain?" tanya dr Yandra


"Alhamdulillah semua sudah baik-baik saja,Dok. tidak ada keluhan apapun," jawab Nia


"Kalau begitu kita lepas infusnya sekarang ya,Bu." ujar perawat


"Baik,Sus."


"Sini biar saya saja yang melepasnya,Sus. kamu boleh keluar sekarang!" perintah Yandra


"Baik, Dok." suster itu segera keluar dari ruangan itu


Yandra segera mengambil tangan Rania. membuka plaster yang menyatukan jarum infus dan nadi.


"Sedikit sakit,Ya," ujarnya mewanti


"Sementara itu ikhsan masih setia berdiri di samping Rania. sebenarnya ia tak rela melihat Dokter itu memegang tangan sang istri. andai saja ia memiliki ilmu kesehatan maka saat itu juga ia menjauhkan tangan Pria itu.


Setelah selesai melepas insfus, Yandra tak lantas melepaskan tangan Rania. tetapi ia masih sengaja menggoda Pria yang cukup posesif yang ada disampingnya itu.


"Masih sakit?" tanya Yandra memukul pelan tangan Nia


Plakk!


Ikhsan mengambil tangan Dokter itu dan memukulnya dengan keras tanpa perasaan


"Awwhh! sakit tahu? nggak berperasaan banget jadi orang!" ujar Yandra sembari mengibaskan tangannya yang terasa panas

__ADS_1


"Bodo Amad! lancang banget kamu pegang-pegang tangan Istriku. sekali lagi kamu menyentuhnya, akan kupatahkan tanganmu itu!" ancam ikhsan dengan garang


"Hahaha.... galak banget," Yandra tertawa membuat ikhsan semakin kesal


Ikhsan menarik kerah baju Yandra ingin melayangkan gempalan tangannya tetapi tangan itu berhenti di udara


"Ikhsan! apa yang kamu lakukan? kenapa kamu ingin memukul dr Yandra?" Papi Bowo dan Mami Sarah masuk.


Ikhsan segera melepaskan tangannya.dan segera merangkul pundak Dr Obgyn itu, dan senyum untuk menutupi kecurigaan sang Papi.


"Aku nggak mukul kok,Pi. mungkin Papi salah lihat. kami tadi sedang ngobrol, dan aku sedang memperagakan bagaimana caraku saat menghadapi orang-orang yang membawaku pergi saat itu. benarkan,Dok?" ikhsan meremat bahu Yandra untuk minta pernyataan palsu


"Benar, Pak Bowo. kami sedang ngobrol. tidak ada masalah apapun," Yandra membenarkan ucapan ikhsan. ia tidak mau terlihat kelewatan dalam bercanda. karena pak Bowo adalah orang penting dan sangat ia hormati.


Sementara Rania hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku dua orang Pria itu.


"Wah, sepertinya kalian sudah akrab. syukurlah, jadi Papi tidak perlu lagi untuk mengenalkan kamu kepada Dr Yandra. karena sebentar lagi semua tugas Papi kamulah yang akan mengemban, jadi kamulah yang akan menggantikan Papi untuk menjadi rekan bisnis Dr Yandra," jelas Papi


Mendengar penjelasan Papi, ikhsan segera melepaskan tangannya yang masih berada di pundak Yandra. dan mendorong tubuh Dokter itu sedikit menjauh


"Kenapa,San? apakah kamu tidak mau meneruskan usaha Papi, atau kamu tidak tertarik dengan perusahaan Papi yang bergerak di bidang retil. apakah kamu masih nyaman dengan perusahaan industri?" tanya Papi dengan wajah sedikit kecewa


"Bu-bukan itu maksud aku,Pi. tentu saja aku menyukai semua bidang perusahaan. maksud aku itu untuk berurusan dengan Dr Yandra lebih baik Papi saja. karena aku masih kurang paham tentang pemasaran obat,"


"Tenang saja,Kawan. nanti aku akan mengajarimu tentang kerja sama kita," potong Yandra mengukir senyum kemenangan


Ikhsan menatap Dr Yandra dengan tatapan singa lapar. andai tidak ada Papi maka ia berniat ingin menelan Dokter itu hidup-hidup.


"Nah, kalau itu Papi setuju apa yang dikatakan Dr Yandra. kamu harus belajar untuk menjadi pebisnis dalam bidang apapun. pokoknya kamu tenang saja, nanti Papi yang akan membantumu dari belakang."


"Benar apa yang dikatakan Papi kamu itu,San. sekarang kamulah yang akan mengambil semua tugas Papi di perusahaan. karena papi kamu sudah tua, jadi biarkan Papi istirahat untuk menikmati hari tuanya," kini giliran Mami Sarah yang memberi dukungan

__ADS_1


"Benar itu,Bu. aku juga begitu. aku yang mengambil semua tugas Papa untuk mengelola semua Rumah Sakitnya. tapi aku tetap happy. sudah seharusnya kita memberikan kesempatan kepada ke-dua orangtua untuk menikmati hari tuanya dengan nyaman tanpa ada beban."


Lagi-lagi Dokter itu berlagak menjadi seseorang yang bijak dan penuh bakti kepada orangtua. dasar Dokter carmuk. ikhsan menggeram dalam hati


"Benarkah? wah dokter memang anak yang berbakti sekali, pasti kedua orangtuanya sangat bangga mempunyai anak seperti dr Yandra," balas Mami Sarah.


"Nggak usah berlebihan memujinya,Mi. kita kan tidak tahu yang sebenarnya. bisa saja dia sekedar cari muka. aku juga bisa membuat Papi dan Mami bangga. tenanglah aku akan mengambil semua tugas Papi. aku akan buktikan jika aku bisa!" tutur ikhsan sentimen menatap Pria disampingnya itu.


"Alhamdulillah... terimakasih anak Mami. sini peluk Mami dulu. Mami masih sangat merindukan kamu,Nak. jangan pernah pergi meninggalkan kami semua. mulai sekarang jadilah putra kami yang selalu kami banggakan."


Mami Sarah tersenyum bahagia mendengar keputusan ikhsan dan memeluk putra semata wayangnya itu dengan penuh rasa bangga. Yandra ikut tersenyum melihat suasana haru. ia teringat oleh sikap sang Mama hampir mirip dengan Bu Sarah yang penuh kasih sayang dan kelembutan dalam mendidik anak-anaknya.


"Kalau begitu saya permisi dulu,Pak, Bu. mari kawan ikut keruang saya, ada yang perlu kamu tanda tangani," ajak Yandra segera berlalu dari hadapan Pak Bowo dan Bu Sarah.


"Ck.. apaan sih kamu pakai ngajakin aku segala. aku jadi curiga, jangan-jangan kamu menyimpan ketertarikan dengan aku, jangan bilang kamu kaum jeruk makan jeruk?" omel ikhsan sembari mengikuti langkah Dr Obgyn itu menuju ruang prakteknya.


"What?! are you crazy! Ish.. amit-amit. nggak sudi aku lonceng ketemu lonceng," bals Yandra tak kalah gemas mendengar tuduhan ikhsan.


"Abisnya kamu itu kenapa suka sekali menncari masalah denganku? gondok banget aku lihat kamu. kenapa aku harus bertemu dengan dokter sepertimu!"


"Hahaha.... kamu tuh kenapa sensi sekali dari pertama kita bertemu. nggak malu banget sama istrimu yang begitu kalem dan tenang. kenapa suaminya yang bersikap bar bar begini! santai Bro. aku hanya ingin berteman."


"Berteman sih berteman tapi kenapa kamu selalu membuat huru hara denganku?"


"Itu bentuk perkenalkan agar cepat akrab. contohnya sekarang kita sudah banyak ngobrol 'kan? aku tuh tahu sebenarnya kamu itu orangnya baik dan sangat pandai berteman. tapi aku hanya ingin menggodamu. dan ternyata orang baik dan kalem itu bisa juga mengeluarkan taringnya saat cemburu. hahaha.."


"Halah! sok tahu banget kamu. emang kamu psikolog bisa melihat sifat seseorang dari wajahnya,"


"Eeiit... Jangan salah, aku memang pernah kuliah jurusan psikologi. tapi akhirnya berhenti di tengah jalan.ternyata memory otakku error saat menyimpan banyak file jadi terpaksa aku hentikan, dan fokus pada profesiku saat ini," ujar Yandra menanggapi


Ikhsan menatap Dokter itu sedikit melunak. sepertinya dia baru menyadari bahwa Dr Yandra memang orang baik. mungkin dirinya saja yang sudah terlalu posesif sehingga sang dokter jahil itu semakin gencar menggodanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku terima pertemanan darimu. kuharap kita akan menjadi teman baik dan rekan bisnis yang saling menguntungkan. tetapi kalau bisa akulah yang lebih banyak untung darimu. hahaha..."


Akhirnya ikhsan mencair juga. mereka saling berjabat tangan dan berpelukan ala manly.


__ADS_2