
Aku segera pulang. malam ini benar-benar malam yang sangat melelahkan. semua perasaanku bercampur aduk. apa yang harus aku katakan kepada Rania? bagaimana reaksinya jika mengetahui bahwa aku tiba-tiba besok akan berangkat ke Kalimantan. semoga saja dia mengerti dan bisa sabar, toh lagipula aku sudah memperingatkan kepada orangtuaku untuk tidak menyakiti istriku yang polos itu.
Setibanya di rumah, aku segera masuk kedalam kamar, malam ini aku pulang memang cukup larut karena waktuku habis hanya untuk berdebat dengan orangtuaku maupun keluarga Sofi yang masih kekeuh memintaku untuk menikahi putrinya.
Saat aku masuk kamar aku melihat Rania baru saja terbangun. sebenarnya aku ingin memberitahukan semuanya. tetapi karena ini sudah larut malam, maka aku berpikir lebih baik besok saja aku membicarakannya sebelum aku berangkat. aku tidak ingin mengganggu istirahat istriku.
Aku juga merasa sangat lelah, dan andai saja istriku juga mencintai aku. mungkin saat ini aku akan memeluk tubuhnya dan aku akan mengeluarkan semua uneg-unegku. tapi aku menyadari hal itu, aku harus bersabar, semoga suatu saat Rania bisa mencintaiku.
Saat aku sudah membaringkan tubuhku. aku mendengar pertanyaan Rania yang membuat aku terperanjat dan segera duduk.
"Mas, apakah aku ini terlalu menjijikkan? sehingga kamu tidak pernah menyentuhku."
Kata-kata itu Bagaikan tamparan keras mengenai aku. apa ini? apa maksud dari pertanyaannya? aku seakan belum bisa menormalkan jantungku. kenapa dia bicara seperti itu. bukankah dia belum bisa mencintai aku? tapi kenapa malam ini dia minta aku menyentuhnya. apakah dia ingin memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri? ah entahlah. yang jelas aku sangat senang dan bahagia mendengar permintaannya itu
Saat dia ingin melanjutkan kata-katanya kembali. aku segera mencegahnya.dan aku segera mengecup bibirnya. dia sudah begitu pasrah dan akhirnya malam itu adalah malam yang sangat indah bagiku. aku sangat bahagia karena aku dan dia sudah menyatu. dia sudah menjadi milikku seutuhnya.
Setelah melakukan penyatuan. aku memang sangat lelah sehingga tidak berapa lama aku sudah tertidur. namun saat aku terbangun, aku tidak melihat keberadaan Rania di sampingku. aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. setelah selesai mandi aku segera turun, aku ingin menemui istriku. aku masih mengingat percintaan kami tadi malam. rasanya begitu nikmat. aku semakin mencintainya. aku ingin menemui dia dan memberikan dia kecupan manis.
Namun lagi-lagi aku menelan kekecewaan, aku tidak menemukan dia di dapur. aku menanyakan kepada ART dimana istriku berada. tetapi art menjawab tidak tahu.
Aku semakin bingung. hingga akhirnya Mama memberitahuku bahwa Rania berangkat ke kampungnya pagi2 sekali, dia mengatakan bahwa Bu Asih sedang sakit keras. aku menjadi semakin bingung. dan aku merasa curiga dengan penjelasan mama.
"Apakah ini rencana Mama? apakah mama yang telah mengusir Rania dari rumah ini?!" tanyaku sedikit meninggikan suara.
__ADS_1
"Jaga bicaramu ikhsan! mana mungkin Mama mengusirnya. memang dia yang ingin pulang sendiri. dia bilang tidak mau mengganggu tidurmu. maka dia titip pesan dengan mama. sudahlah kamu tidak perlu khawatir, besok lusa akan mama suruh supir menjemputnya. yang penting sekarang kamu berangkat dulu ke Kalimantan, kerena tiket sudah papa pesan."
Rasanya aku masih belum percaya dengan penjelasan Mama. tapi aku tidak mempunyai waktu untuk menyusul Rania ke kampungnya. aku terpaksa berangkat hari itu juga.
"Baiklah.tapi ingat ya ma! tolong jemput kembali istriku dan perlakuan dia dengan baik. aku tidak ingin mama menyakitinya!" tegasku kepada Mama.
Aku segera bersiap untuk berangkat ke bandara. aku harus secepatnya menyelesaikan masalah perusahaan yang disana. setelah itu aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada istriku. aku ingin dia bahagia, aku juga berjanji jika dia tidak bahagia tinggal di rumah ini. maka aku akan membawanya keluar dari rumah orangtuaku. aku juga ingin menghabiskan hari2ku berdua dengannya, dan aku juga berharap dia akan segera hamil maka keluarga kecilku akan semakin utuh.
***
Kini sudah satu Minggu aku berada di Kalimantan. aku merasa masalah perusahaan ini berbelit-belit. aku sangat susah untuk menyelesaikannya. aku tidak tahu dalang dari semua masalah ini terjadi. ada penyelundupan ribuan ton batu bara. aku mencoba untuk menyelidikinya dan memeriksa Segala staf di kantor ini. tetapi masih saja buntu dan tidak diketahui diantara mereka yang berlaku curang.
"Aaaahh!!! aku tidak bisa seperti ini terus. jika seperti ini maka bisa2 aku disini selamanya. aku harus mencari tahu yang sebenarnya!!" kesalku sendiri
Aku hanya bisa bersabar. aku ingin sekali menyelesaikan masalah ini. tapi kenapa aku tidak mendapatkan akar permasalahannya. padahal mengatasi masalah seperti ini adalah hal yang mudah bagiku.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini sudah satu bulan lebih aku berada disini.Hingga suatu hari hal yang tak terduga terjadi. saat aku terbangun dari tidurku. aku melihat ada wanita yang tidur disampingku. aku memperhatikan wajah wanita itu. dan ternyata dia adalah Sofi. aku benar-benar terperanjat dan rasanya tidak percaya. aku bingung apa yang telah terjadi antara aku dan dia. aku berusaha untuk mengingatnya. tapi aku yakin dengan hatiku bahwa aku tidak melakukan apa-apa dengan wanita itu.
Namun saat itu juga Sofi meminta pertanggungjawaban dariku. dia mengatakan bahwa telah terjadi hubungan badan diantara aku dan dia. aku hanya tersenyum kecut mendengar semua kata2nya. aku bisa menyimpulkan bahwa ini semua adalah sekenario orangtuaku kembali.
"Kamu harus bertanggung jawab mas. karena kita sudah melakukan hubungan itu. aku takut jika nanti aku hamil. aku ingin kita menikah sekarang juga!" ujar Sofi dengan percaya dirinya
"Baiklah, jika benar kita sudah melakukan hal itu. maka aku akan memeriksa camera di kamar ini dulu. aku harus melihat adegan yang mantap itu. lumayan buat koleksi film po**o di galery ponselku." ujarku dengan senyum sinis kepada wanita itu.
__ADS_1
Aku segera mengeluarkan Camera kecil yang sengaja aku sisipkan di balik meja rias dan menghadap ke arah ranjang itu. Ya, aku memang sudah punya firasat bahwa akan terjadi sesuatu semenjak Papa dan mamaku selalu tidak menanggapi pertanyaanku mengenai Rania. mereka malah menyuruhku untuk lebih lama memimpin perusahaan disini. semenjak itu aku selalu waspada dengan jebakan mereka. heh.. ternyata dugaanku benar.
"Apa yang kamu lakukan mas? kesiniin camera itu!" Sofi merebut camera yang ada ditanganku namun aku segera menjauhkan dari jangkauannya.
Aku tersenyum muak kepada gadis itu. aku segera keluar dari kamar, dan menuju kantor. aku akan menyelesaikan masalah ini sekarang juga. aku akan segera kembali ke kota J.
Setelah sampai di kantor, aku segera menemui wakil direktur perusahaan itu. aku ingin menemukan jawabannya sekarang juga.
"Pak, ikhsan? apakah ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Rudi, yaitu wakil direktur itu. dia terkejut saat melihat kehadiranku yang tiba-tiba
Aku segera mendekati Pria itu dengan tatapan yang tak bersahabat. "Rudi, katakan padaku sekarang! siapa dalang dari semua masalah ini? apakah aku menyelesaikan masalah yang tak pernah ada?!"
"Maaf pak. saya tidak tahu apa maksud pak ikhsan!" jawabnya kembali, sehingga membuat aku semakin muak dan amarahku semakin terpancing.
"Dengar Rudi! aku ini adalah direktur semua perusahaan. apakah kau ingin aku mencopot jabatanmu sebagai wakil direktur di perusahaan ini? maka aku minta kamu jujur sekarang kepadaku! sekarang katakan?!!"
Ujarku kepadanya dan menarik kerah bajunya aku benar-benar sudah muak dengan permainan ini.
"Ba-baiklah Pak. saya akan mengatakan. sebenarnya ini semua adalah rekayasa Tuan Amarzoni.saya hanya menuruti perintahnya. tapi saya tidak tahu apa alasannya."
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya. biar author semangat up
__ADS_1
Happy reading 🥰