Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Rania keguguran


__ADS_3

"Rania.... Sayang, apa yang kamu lakukan?" ujar ikhsan menahan tubuh Nia agar tak jatuh


"Ikhsan, ayo bawa Rania ke RS sekarang!" perintah Papi Bowo.


Ikhsan segera membopong tubuh Rania yang sudah tak sadarkan diri. "Pak, ayo jalan sekarang." titah ikhsan pada sang supir.


Sementara itu saat mobil yang membawa Rania keluar. mobil polisi sudah tiba di kediaman keluarga Bowo. entah siapa yang menelepon polisi. mungkin sequrity.


Setelah melakukan penembakan Amarzoni beranjak ingin melarikan diri. dia menjalankan mobilnya dengan cara aktrek panjang kebelakang namun sequrity dan polisi sudah menunggu di gerbang.


Zoni Kembali ingin melepaskan satu tembakan lagi pada polisi atau sequrity yang menghalang jalannya. namun Bowo terlebih dahulu menembak tangannya. entah sejak kapan Pria paruh baya itu mengambil senjatanya kedalam.


***


Sementara itu diperjalanan ke RS. Rania sudah terkulai lemas di pangkuan sang suami. ikhsan tak henti-hentinya berdo'a dan menangis.


"Sayang, kamu harus kuat. kamu harus bertahan, kamu jangan pernah tinggalkan aku. bisa lebih cepat sedikit, Pak!" bentak ikhsan panik


Supir yang mengendarai segera menambah kecepatan laju kendaraannya. sehingga tak perlu menunggu lama mobil sudah berhenti di depan RS.


"Dokter..... tolong istri saya,Dok!" ikhsan berteriak dengan langkah tegap membawa Rania masuk kedalam ruang IGD.


"Silahkan baringkan istrinya disini,Pak. ini istri bapak kenapa?" tanya dokter IGD pada ikhsan


"Istri saya tertembak bahu bagian belakang,dok. tolong selamatkan istri dan calon anak saya,Dok!" jelas ikhsan dengan nada panik


Namun setelah ia membaringkan tubuh Rania.kedua tangannya berlumuran darah. dan ia segera melihat ternyata darah dari bahu dan juga dari jalan lahir yang keluar.


Ikhsan benar2 shock melihat pemandangan itu. ia menatap wajah Rania yang sudah pucat. "Sayang, kamu harus kuat. kamu percaya sama aku. kamu dan bayi kita akan baik-baik saja." gumam ikhsan ditelinga Rania sembari mengecup seluruh wajahnya.


***


Kini Rania sudah berada diruang operasi untuk pengangkatan timah panas yang masih bersarang di bahunya. beberapa Dokter dikerahkan. karena keadaan Nia yang juga dalam keadaan hamil.


Maka dokter Yandra juga ikut andil di dalam tindakan itu. sementara ikhsan menunggu dalam keadaan cemas yang luar biasa. dia selalu melafazkan Do'a untuk kesembuhan sang istri yang sedang berjuang melawan maut


"Ikhsan..." Mami Sarah setengah berlari menghampiri putranya yang terlihat sangat kacau

__ADS_1


"Mami..." ikhsan memeluk sang Mami. ia butuh kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.


"Tenanglah,Nak. Nia pasti baik-baik saja!" Mami Sarah mengusap punggung sang Putra dengan lembut memberinya kekuatan.


"Mi, tadi Rania Kembali mengalami pendarahan. aku takut,Mi. aku takut!" lirih ikhsan dengan suara serak


"Tenanglah, Nak. kita sama-sama berdo'a untuk kesembuhan istri dan calon anakmu."


Kini sudah satu jam lebih Rania menjalani operasi. ikhsan tak bisa duduk diam. pikirannya yang resah membuat ia tak tenang. sesekali dia mengintip di depan kamar operasi berharap segera mendapatkan penjelasan dari Dokter tentang kondisi Rania.


Cklekk!


Akhirnya hal yang dinantikan datang juga. dua orang Dokter keluar dari ruangan operasi. yaitu dokter Yandra dan Dr bedah. ikhsan segera menghampiri kedua dokter itu


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


"San, operasi pengangkatan pelurunya sudah berhasil. tapi..." Yandra menjeda ucapannya


"Tapi apa, Yan?" tanya ikhsan tak sabar


"Tidak! itu tidak mungkin kan Yan?" ikhsan masih belum bisa menerima kenyataan


"Maafkan aku,San. tapi memang itu kenyataannya. ikhlaskan saja. mungkin sudah ini takdirnya. mari ikut aku kedalam, kita tidak mempunyai banyak waktu untuk melakukan tindakan."


Yandra membawa ikhsan masuk untuk mendampinginya dalam tindakan kuret. dia tidak ingin membuat sahabat barunya itu menjadi salah paham. karena dia tahu ikhsan sangat mencintai Rania. mungkin jika tak dalam keadaan emergency dia tak akan membiarkan istrinya dijamah oleh dokter laki-laki.


"Sabar,Nak. ayo sekarang masuklah, temani istrimu didalam. kamu harus kuat,Sayang!" Mami Sarah memberi kekuatan pada anaknya.


Akhirnya ikhsan mengikuti Dr Yandra masuk kembali ke ruang operasi. dengan setia dia menemani sang istri. sesekali air matanya jatuh mengenai pipi Rania.


"Kamu harus kuat, sayang. jangan sedih. mungkin Allah hanya menitipkannya sebentar saja kepada kita." bisik ikhsan ditelinga Rania.


Selama 45 menit tindakan dilakukan, akhirnya selesai juga. kini Rania sudah dipindahkan ke kamar rawat inap, Nia belum sadar tetapi dia sudah melewati masa kritisnya.


Mami Sarah dan ikhsan dengan setia menunggui Rania. "Mi, kenapa istriku lama sekali sadarnya?" tanya ikhsan lirih


"Sabar,Nak. mungkin Nia masih dalam pengaruh bius anastesi." Mami Sarah mencoba menenangkan putranya yang sudah tampak gelisah menunggu sang istri untuk sadar.

__ADS_1


Cklekk!


"Bagaimana keadaan Rania?" tanya Papi Bowo dengan cemas saat baru masuk.


"Nia, mengalami keguguran,Pi," jelas Mami Sarah lirih


Dengan wajah sedih Papi Bowo mendekati ikhsan. tak ada kata yang di ucapkan. ia melihat wajah sedih putranya itu, Papi juga merasakan kesedihan karena harapannya yang ingin segera menimang Cucu pupus sudah.


Papi memeluk putranya itu dengan erat. "Sabar, Nak. Papi tahu apa yang kamu rasakan tenanglah. mungkin ini memang sudah takdir dari Allah. kamu jangan lemah. tetaplah menjadi suami yang kuat. jika kamu rapuh maka istrimu akan semakin terpukul." papi memberi wejangan pada putranya


***


Kini sudah malam. ikhsan masih setia berada disisi Rania. tangannya selalu menggenggam tangan Rania, sesekali dia mengecupnya.


Entah berapa lama ikhsan duduk di kursi samping ranjang pasien. rasa lelah membuatnya dilanda kantuk, sehingga ia tertidur dalam keadaan duduk dengan kening bertumpu di antara tangannya dan tangan Rania.


Sementara itu Rania yang merasa sudah cukup lama dengan tidurnya, maka dia membuka mata perlahan, sembari mengerjab -ngerjabkan matanya.


Dengan posisi miring maka saat matanya terbuka sempurna ia mendapati sang suami yang sedang tertidur dalam posisi duduk.


Rania mengelus rambut hitam legam sang suami dengan perasaan sayang. namun ia belum menyadari apa yang telah terjadi


Ikhsan yang merasa tidurnya terganggu, maka ia segera membuka matanya. "Alhamdulillah... Sayang, kamu sudah sadar? muuach.. muuach." ikhsan mengecup seluruh wajah Rania.


"Mas, kenapa aku masuk RS lagi?" tanya Nia belum sadar.


"Sayang, kamu tertembak jadi kamu harus menjalani operasi pengangkatan peluru. tapi Alhamdulillah semua baik-baik saja, kamu jangan menelentang dulu ya Sayang." jelasnya pada rania,


"Mas, bagaimana keadaan janin kita? dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Nia penuh harap sehingga ikhsan sulit untuk memberitahukan yang sebenarnya.


"Kenapa kamu diam saja,Mas?" Nia meraba perutnya dengan pelan. tetapi ia merasakan ada yang aneh. perutnya tak lagi padat.


"Mas.. apa yang terjadi? kenapa perut aku tak merasakan apapun lagi? katakan,Mas!" Nia mengguncang tubuh sang suami. sungguh ikhsan tak dapat menyembunyikan kesedihannya.


"Sayang, kamu tenanglah!" hanya itu yang keluar dari bibir Pria itu. wajahnya tertunduk.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2