Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Kedatangan Amarzoni


__ADS_3

Setelah mengurus semua administrasi RS. ikhsan segera kembali ke ruangan sang istri. disana Mami Sarah sedang mengemasi barang-barang Rania.


"Sudah siap semuanya,Mi?" tanya ikhsan yang baru masuk.


"Sudah. mana kursi rodanya,San?"


"Buat apa kursi roda, Mi? aku bisa membopong istriku sendiri."


"Nggak mau,Mas. aku pake kursi roda saja, aku malu dilihatin orang," potong Rania


"Sudah,Nia. tidak apa-apa kamu di gendong oleh ikhsan. ngapain harus malu? Papi dulu juga begitu, Papi tidak membiarkan Mami kamu menaiki kursi roda saat dia masuk RS. benar 'kan,Mi?" Papi Bowo memotong pembicaraan mereka.


"Benar sekali,Nia. Mami paling sering masuk RS. tapi Papi mu tidak pernah membiarkan Mami menggunakan kursi roda." Mami Sarah membenarkan ucapan suaminya, mungkin apa yang dilakukan ikhsan sekarang bawaan dari sang Papi.


"Dengar tuh,Sayang. makanya Mami dan Papi sampai sekarang masih tetap mesra. iya 'kan,Mi?" tanya ikhsan menggoda sang Mami.


"Apa sih kamu. biasa aja," elak Mami.


"Yah Mami malu lagi. emang apa sih Pi, rahasia tetap mesra hingga tua?" kini pertanyaan itu beralih pada Papi. karena ia melihat sendiri keharmonisan hubungan Papi dan Maminya itu. walaupun sudah tua tapi mereka tetap mesra.


Itu dapat terlihat Papi Bowo selalu memanjakan Mami Sarah. ia tak pernah bicara dengan nada tinggi dan Papi selalu mengikuti kemauan Mami. Papi Pria yang setia. walaupun Mami dinyatakan tidak bisa mempunyai anak lagi setelah melahirkan ikhsan. tapi Pria itu tak pernah berniat ingin menduakan sang istri.


"Ikhsan, hidup berumah tangga itu bukanlah untuk waktu yang sebentar. tapi kita harus mempunyai komitmen. Papi menikahi Mami dengan satu tujuan yaitu Papi ingin hidup bahagia bersamanya untuk selamanya.


Kebahagiaan dalam rumah tangga itu ada beberapa hal yang harus kita lakukan. yaitu tertawa bersama, perhatian, sentuhan cinta. dan jangan lupa untuk selalu membawa istri pacaran. walaupun kita sudah menikah dan mempunyai anak, biarkan jadwal pacaran tetap ada. meski frekuensinya diatur dikarenakan kita sudah mempunyai anak. yang penting nikmati waktu bersama pasangan. entah itu nonton film bersama, memasak,atau melakukan hobi bersama. yang jelas jangan putuskan waktu berduaan walau sebulan sekali yang penting tetap ada." Papi Bowo memberi wejangan kepada putra semata wayangnya itu.


Ikhsan tersenyum puas mendengar ajaran dari Papi. "Terimakasih ya,Pi. aku akan lakukan semua tips dari Papi dan Mami. aku juga ingin rumah tanggaku bahagia hingga tua seperti Papi dan Mami."


"Lakukanlah yang terbaik untuk istri dan anakmu. yang pastinya berikan Papi dan Mami cucu yang banyak. karena kami ingin menghabiskan hari tua bersama cucu-cucu kami," ujar Papi sembari memukul bahu sang anak dengan bangga.


"Tenang,Pi. kami akan beri Papi dan Mami cucu yang banyak. benarkan, Sayang?" tanya ikhsan tersenyum menggoda Rania


"Ringan banget kamu ngomongnya,Mas. satu ini saja aku udah kewalahan." sungut Nia

__ADS_1


"Udah nggak usah didengar ucapan suamimu. lelaki mah enak tinggal deposit. lah kita yang perempuan, setengah mati perjuangannya." kali ini Rania tersenyum bahagia karena mendapat pembelaan dari ibu mertuanya.


"Yah, Mami... katanya ingin punya cucu yang banyak, kok nggak ngedukung sih,Mi," ujar ikhsan tak terima


"Pengen sih pengen. tapi mami tidak ingin Memaksakan kehendak. jika mantu mami belum siap yaudah, yang penting Mami sudah punya cucu dari kalian walaupun hanya satu yang penting Mami sudah merasakan menimang dan mengasuh cucu kelak."


"Yee.. Terimakasih, Mami cantik." Rania kegirangan sembari memeluk Mami Sarah.


"Sama-sama,Sayang. udah kamu nggak usah mikir yang berat-berat. kamu harus jaga kandungan agar kamu dan calon cucu Mami sehat." Mami membalas pelukan anak menantunya itu.


Papi Bowo tersenyum melihat keakraban mertua dan menantu itu. sementara ikhsan hanya geleng-geleng kepala melihat kedua wanita kesayangannya begitu dekat.


***


Kini mobil yang membawa keluarga Bowo itu sudah sampai didepan gerbang rumahnya. dan sequrity segera membukakan pintu. saat mobil sudah memasuki perkarangan rumah itu.


Sebuah mobil berwarna hitam sudah terparkir di sana. Mami Sarah menatap suaminya "Mobil siapa itu,Pi?"


Ikhsan yang tertidur di jok belakang segera membuka matanya karena mendengar pertanyaan Mami.


Seseorang keluar dari mobil itu. ikhsan dan yang lainnya terperanjat saat mengetahui siapa orang itu. ya, Amarzoni. dengan gagahnya dia keluar dari mobil. dan di ikuti oleh Mama Lena keluar dari mobil itu.


"Papa?" ujar ikhsan berdiri beberapa meter dari Amarzoni dan istrinya.


"Ternyata kamu masih ingat dengan Papamu,San.heh!" Zoni menyeringai


"ikhsan, ayo pulang,Nak. apakah kamu tidak merindukan kami lagi?" tanya Mama Lena.


"Dasar penculik tak tahu malu! berani sekali kalian datang dan meminta putraku untuk kembali lagi!" Mami Sarah bicara ber api-api.


"Tutup mulutmu Sarah! dia putraku. aku yang merawat dan membesarkannya!" Mama Lena tak kalah sengitnya


"Cukup!! sekarang kalian pergi dari kediamanku. tak ada putra kalian disini. sekuat apapun kalian mengatakan bahwa ikhsan adalah putra kalian. namun kenyataan tak bisa dipungkiri. dia adalah darah dagingku!" ujar Papi Bowo menyadarkan pasangan pasutri itu.

__ADS_1


"Baiklah, jika ikhsan tak bisa menjadi Putraku maka kamu juga tidak bisa memilikinya,Bowo!"


Amarzoni tersenyum licik sembari mengeluarkan sebuah senjata api. dan mengarahkan kepada ikhsan sehingga semua orang terkesiap. terutama Rania yang sudah menggigil melihat pemandangan menakutkan itu.


"Sayang, ayo kamu masuklah!" perintah ikhsan pada Nia.


"Tidak,Mas. aku takut mereka akan menyakitimu." lirih Nia dengan nada cemas


Mami Sarah yang melihat Rania ketakutan dia segera merangkul menantunya itu. "Mami, aku takut sekali. hiks.."


"Tenanglah, sayang. dia tidak akan berani melakukan itu."


"Apa yang Papa lakukan? kenapa harus seperti ini,Pa? kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik." ujar ikhsan melunak


"Jangan macam-macam kamu,Zoni. sedikit saja kau berani menyentuh Putraku maka aku akan menghabisimu.


"Hahahaha.... kau kira aku main-main,Bowo!"


"Pa, jangan. apa yang Papa lakukan?" Mama Lena memperingati sang suami yang sudah terlihat kalap.


"Ikhsan... sekarang masuk kedalam mobil jika kamu masih ingin hidup! dan ingat jangan ada diantara kalian yang telpon polisi!" Amarzoni masih mengarahkan senjatanya kepada ikhsan.


"Aku tidak akan ikut jika begini cara Papa membawaku!" tolak ikhsan dengan tegas


Amarzoni terlihat begitu emosi mendengar jawaban ikhsan. sorot matanya menyala. ia melepaskan satu timah panas kepada ikhsan


Duarr!


"Mas ikhsan, Awas!" Rania melepaskan dekapan Mami Sarah dan segera memasang badan untuk menjadi tameng bagi sang suami.


Seketika itu Nia ambruk dalam dekapan ikhsan. tubuhnya bergetar semua persendiannya melemah bagaikan tak bertulang. tatapannya sayu, namun ia masih bisa tersenyum kepada sang suami.


Bersambung....

__ADS_1


NB: Maaf ya untuk novel ini masih slow update 🥺 sempat kepikiran ingin tamatin aja. tapi mengingat masih ada raeder yang nungguin. jadi lanjutin aja alon-alon 😊 jangan lupa tinggalkan jejak ya agar Author semangat 🙏🤗🥰


Happy reading 🥰


__ADS_2