Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Bonus chapter 1


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan, kini kandungan Rania sudah berjalan delapan bulan. Wanita itu sangat dimanjakan oleh suami dan Mami mertuanya, maka ia tidak dibolehkan membantu apapun di rumah itu.


Terkadang Nia merasa bosan harus di kamar terus. Karena dokter memang menganjurkan agar tak banyak bergerak karena Nia punya riwayat keguguran, maka kandungan juga rawan.


Maka dari ini Nia mau tidak mau ia harus mengikuti saran dokter dan juga yang lainnya. Siang ini Nia berencana akan ke kantor suaminya sambil membawa makan siang.


Memang sejak hamil Rania sangat manja pada sang suami, ikhsan akan lepas dari Nia saat ia kekantor saja. Sepulang dari kantor maka Nia akan menempel selalu padanya bagaikan luka dan kain kasa.


"Mi, aku sangat bosan di kamar terus. Aku boleh ya main ke kantor Mas ikhsan?" Rengek Nia pada sang Mami.


Ya, Nia benar-benar merasa Mami Sarah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Wanita itu juga sangat menyayangi menantu semata wayangnya itu.


"Dirumah saja, Nak. Kamu kan bisa baca buku pelajaran kamu agar lancar membacanya. Nanti Mami yang beri kamu hadiah spesial jika kamu lancar membaca," ujar Mami memberi janji untuk memacu semangat bumil itu, karena sejak hamil Nia sangat malas belajar, bermacam ragam buku yang di belikan oleh ikhsan maupun Mami dan Papi, tapi Nia tetap lebih senang nonton tv dan bermain ponsel.


"Iya, belajarnya nanti ntar malem ya, Mi? Aku kangen banget sama Mas ikhsan Mi, aku janji nggak akan merecoki Mas ikhsan, aku akan duduk anteng asalkan bisa memandang wajah tampan anak Mami itu," ujar Nia sembari merayu Mami.


Mami Sarah menggelengkan kepala mendengar celotehan menantunya itu. Sepertinya tidak ada alasan untuk melarang Rania.


"Baiklah, tapi kamu janji jangan pecicilan, duduk tenang!" Pesan Mami


"Iya aku janji,Mi." Nia tersenyum bahagia akhirnya bisa keluar untuk menikmati udara segar.


Sampai di kantor Nia segera menuju meja resepsionis menanyakan dimana ruangan ikhsan, karena ini kali pertama dirinya menginjakkan kakinya di kantor suaminya itu.


"Maaf, Bu mau bertemu dengan siapa?" tanya pegawai itu


"Saya, mau bertemu dengan suami saya."


"Kalau boleh tahu siapa suami Ibu?"


"Suami saya namanya ikhsan," jawab Nia anteng.


"Maksudnya direktur utama, Ikhsan Wibowo?" Tanya pegawai itu sedikit mengerutkan keningnya.


"Ah, benar. Bisa tunjukkan saya dimana ruangannya?"


"Baiklah, Bu. Mari saya antarkan."


Nia segera mengikuti langkah wanita yang memakai rok diatas lutut itu. Ternyata pegawai di kantor ini banyak wanita cantik dan seksi, apakah mungkin suaminya tidak tergoda? Sementara dirinya sudah seperti karung beras begini.


Setelah sampai di depan ruangan ikhsan pegawai itu menyerahkan Rania pada sekertaris ikhsan.


"Mbak, Vivi. ini Ibu Rania istrinya Pak ikhsan. Beliau ingin bertemu dengan Pak ikhsan," ujar pegawai resepsionis itu.


Wanita itu menatap Rania dari bawah hingga atas, apakah istri seorang direktur hanya berpenampilan seperti ini?

__ADS_1


"Kenapa Mbak? Ada yang aneh ya pada diri saya? Apakah saya sudah bisa bertemu dengan suami saya?" Tanya Nia sedikit judes


Ya, semenjak hamil sikap Nia banyak berubah, dia sedikit judes dan tidak suka bila ada orang yang melihat dirinya seperti aneh begitu. Apalagi sikap cemburunya sangat mendominasi.


Nia takut kehilangan suaminya yang tampan itu maka ikhsan harus sabar mensiasati sikap posesif sang istri.


"Maaf, Bu. Mari saya antar," ujar sekretaris cantik itu.


"Tidak perlu, Mbak! Saya bisa membuka ruangan suami saya sendiri!"


Nia segera beranjak dan masuk keruangan direktur utama itu.


Tok! Tok!


"Ya, masuk!"


Terdengar suara Pria yang dirindukannya itu menyahut dari dalam. hatinya merasa bahagia bisa mendengar suara itu setiap hari.


Cklekk!


Pintu ruangan itu terbuka, ikhsan terkesiap melihat siapa yang datang. Ia segera berdiri dan menyambut kedatangan sang istri tercinta.


"Sayang! Kenapa kamu datang tidak bilang-bilang, hmm?" Ikhsan memeluk Rania dan menghadiahi sebuah kecupan dibibir mungil itu.


"Benarkah? Apa yang kamu katakan pada Mami sehingga kamu di izinkan?"


"Aku bilang bahwa aku kangen dengan anak Mami yang tampan ini. Hehe..." Cengengesnya


"Bisa aja kamu ya. Sini peluk Mas, dulu!" Ikhsan kembali memeluk sang istri sembari memberi kecupan di seluruh wajah Nia.


"Mas, aku lapar. Kita maka bareng ya!"


"Baiklah, ayo duduklah!"


Ikhsan membuka tempat bekal makan siang itu, dan menyuapi sang istri.


"Mas, aku bisa makan sendiri. Kamu jangan terlalu memanjakan aku dong! Nanti aku akan ikut kamu selalu ke kantor."


"Tidak apa-apa. Asalkan dapat izin dari Mami," balas ikhsan merasa tak keberatan.


"Ish, itu hal yang sulit. Kamu tahu nggak Mas? Tadi itu aku sulit banget ngerayu Mami agar di izinkan. Malahan Mami menyuruh aku untuk belajar dan Mami bilang jika aku pintar membaca maka Mami akan memberiku hadiah uang spesial," adu Nia pada ikhsan.


"Bagus itu, Sayang, kamu harus rajin belajar biar dapat hadiah dari Mami!" Ikhsan memberi dukungan.


"Nggak ah, Mas, lagi nggak mood. Aku cuma pengen selalu dekat sama kamu."

__ADS_1


Ikhsan geleng-geleng kepala mendengar pengakuan Rania. Istrinya itu benar-benar menggemaskan.


"Kenapa kamu ngeyel sekali sekarang? Nanti anak aku ngeyelan kaya Mamanya." Ujar ikhsan mengusap perut Nia dengan lembut.


Setelah selesai ritual makan siang. Nia duduk bersandar di dada ikhsan. Matanya terasa sangat berat setelah kenyang.


"Sayang, kamu mau pulang jam berapa?" Tanya ikhsan mengusap perut buncit Nia.


Nia tak menjawab. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya. Ikhsan menatap wajah cantik yang kini sudah berisi. Tidak seperti Nia hamil anak pertama mereka, dulu Nia terlihat sangat kurus.


Ikhsan membopong tubuh Rania dan menaruhnya di ruangan kecil yang ada ranjangnya itu dan menyalakan AC agar Nia tak gerah.


Saat ikhsan ingin keluar, Nia menarik tangannya sehingga langkah pria itu terhenti.


"Mas, jangan pergi. Temani aku hingga terlelap." Rengeknya


Ikhsan tersenyum dan segera berbaring di sisi sang istri dan mengusap perut Nia agar tidur lebih nyaman, karena itu sudah kebiasaan Nia sebelum terlelap.


Ikhsan mengecup bibir merah jambu itu. Awalnya hanya mengecup sayang, tetapi saat bibir itu menyatu maka bagaikan magnet, ikhsan tak rela melepas pagutannya.


Nia yang merasa ada sesuatu yang mengeksplor di dalam rongga mulutnya maka ia membuka mata dan membalas luma tan itu.


Karena hal itu membuat pusaka turun temurun milik ikhsan berdiri. Pria itu menatap Nia dengan mata sayu dan nafas memburu.


"Sayang, Mas tidak tahan!" Bisiknya


"Mas, yakin kita melakukannya disini?"


"Yakin banget, Sayang, tidak ada orang yang berani masuk keruangan ini."


"Nanti mandi dimana?"


"Itu ada kamar mandinya, Sayang, mau ya, Sayang?" Bujuk ikhsan menahan.


"Hmm, baiklah!" Jawab Nia memberi angin surgawi.


Akhirnya permainan hangat itu berlangsung mereka menikmati sensasi baru dan di tempat baru maka menjadi candu tersendiri buat mereka berdua.


Happy reading 🥰


Hai, apa kabar untuk peminat novel ini. Author sempatkan kasih bonchap ya🥰 semoga senang 🤗


Jangan lupa mampir di novel baru author mampir ya jika berkenan 🙏🤗


__ADS_1


__ADS_2