Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Makan bakso


__ADS_3

Kini mereka sudah sampai di kediaman Bu Asih, Nia begitu semangat turun dari mobil ia sudah tidak sabar ingin menemui wanita paruh baya itu.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..." Bu Asih membukakan pintu


"Rania!"


"Ibu..." Nia segera menyongsong wanita tua itu dan memeluk erat


"Ya Allah, mimpi apa Ibu bisa ketemu kamu lagi, Nak," ujar Bu Asih membalas pelukan Rania


"Aku kangen banget, Ibu apa kabar?"


"Alhamdulillah,Nak. Seperti yang kamu lihat Ibu baik-baik saja. Ayo, ayo masuklah!" Bu Asih membawa Nia dan ikhsan masuk.


"Apa kabar,Bu?" ikhsan menyalami dengan hikmat


"Alhamdulillah Ibu sehat Nak. Ibu senang bisa bertemu kalian kembali, ibu selalu menunggu kabar kalian. Ibu benar-benar merasa kehilangan jejak, mau cari kabar kemana bahkan ibu saja tidak tahu dimana kalian sekarang."


"Alhamdulillah kami baik-baik saja, Bu. Kami sengaja datang kemari untuk menepati janji, yaitu ingin menjemput Ibu. Ibu mau 'kan ikut kami ke Sumatra?" tanya Nia penuh harap.


"Nia, Ikhsan. Ibu bukan tidak ingin ikut kalian Nak, tapi ibu merasa berat untuk meninggalkan kampung halaman ini. Jika ibu pergi siapa yang akan merawat makam ibumu dan makam suami Ibu. Menurut ibu, lebih baik ibu tetap disini saja, lagipula sekarang Ibu sudah bertemu dengan kalian. Hati ibu sudah tenang. Biarkan lah ibu tetap disini Nia, jadi kapan-kapan kamu pulang, masih ada orangtua yang akan kamu kunjungi. Lagipula ibu lebih nyaman tinggal di kampung,"


Terlihat kecewa di wajah Rania. Tapi ia juga tidak bisa memaksa kehendaknya, tentu saja kenyamanan yang utama.


"Tapi,Bu. Bagaimana jika nanti Ibu sakit, sementara kami jauh, ibu hanya tinggal sendiri. Aku juga tidak tega meninggalkan ibu sendiri," ujar Nia dengan kecemasannya.


"Kamu tidak perlu khawatir,Nia. Sekarang kita sudah bisa berkabar," ujar Bu Asih meyakinkan.


Nia menatap ikhsan dengan wajah sedikit kecewa, rencananya gagal karena orang yang akan dibawa tidak ingin ikut.


"Tidak apa-apa,Sayang. Walaupun Ibu tidak ingin ikut, bukan berarti suatu saat beliau tidak mau berkunjung kesana, benar begitu,Bu?"


"Benar Nia, ibu janji nanti kalau kamu mendekati hari lahiran Ibu akan berkunjung kesana," ujar Bu Asih sontak membuat Rania dan ikhsan terkejut.


Ternyata mereka lupa memberi tahu Bu Asih jika jabang bayi mereka telah tiada. Akhirnya mereka menjelaskan semuanya kejadian itu.


"Ibu turut berdukacita ya,Nak. Kalian sabar ya, semoga secepatnya Allah berikan penggantinya,"


"Aamiin... Terimakasih,Bu," Nia kembali memeluk wanita tua itu.


Puas membujuk agar mau ikut bersama mereka namun wanita paruh baya itu masih kokoh dengan pendiriannya yaitu tetap berada di desa itu. Akhirnya Nia dan ikhsan mengalah juga, biarlah. Mereka berjanji bila ada waktu senggang akan berkunjung ke kampung untuk bertemu dengan ibu angkat Rania itu.

__ADS_1


***


Malam ini ikhsan dan Rania menepati kamar mereka, diatas tempat tidur sederhana itu terukir kenangan indah saat malam mereka melepaskan rindu sewaktu ikhsan menyusul Rania setelah pulang dari Kalimantan.


Ikhsan baru saja selesai sholat isya, ia melihat sang istri sudah meringkuk diatas tempat tidur, karena libur sholat, wanita itu sudah terlebih dahulu berada di alam mimpi.


Ikhsan berbaring disisi sang istri, perlahan ia memindahkan kepala Rania diatas tangannya untuk menjadi bantal, agar sepenuhnya ia bisa membawa wanita itu dalam dekapannya.


Dekapan penuh membuat tidur Nia sedikit terganggu, pasalnya tangan pria itu tidak bisa tenang. "Mas, kamu mesum ih! aku ngantuk," rengek Nia


"Hehe... Udah dari tadi lo,Sayang, kamu tidurnya. Kita cari makan keluar yuk, Mau nggak?" tawarnya sembari menggusalkan hidung di wajah sang istri.


"Cari makan? tapi ini udah malam,Mas," ujar Nia membuka matanya dengan sempurna


"Baru jam delapan kurang, kamu nggak ingat waktu itu kita cari martabak telur, udah jam sembilan tapi tetap aja pergi. Kamu dalam keadaan hamil lagi, ayolah Sayang, cari angin sembari bernostalgia," rayunya kembali


"Hmm... Baiklah."


"Nah gitu dong."


Malam ini mereka kembali mengulang nostalgia, dengan pinjaman motor tetangga mereka membeli makanan keluar.


"Mas, kita mau cari makanan apa?" tanya Nia sembari mengeratkan pelukannya di pinggang ikhsan.


"Kayaknya bakso enak deh Mas,"


"Baiklah, ayo kita cari warung bakso."


Setibanya di lapak bakso, ikhsan segera memesan makan kesukaan sang istri itu. Dua mangkuk bakso terhidang sesuai pesanan mereka.


"Makan baksonya dulu,Sayang," ujar ikhsan yang melihat sang istri masih sibuk memainkan ponsel pintarnya melihat video lucu di sebuah aplikasi.


"Iya bentar,Mas, masih panas," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar pipih itu.


Ikhsan meraih benda pipih itu dengan lembut, dan menyodorkan mangkuk baksonya yang sudah terisi kecap dan saus.


"Ini makan punya mas, udah lumayan dingin,"


Nia menatap netra sang suami dengan serius, sepertinya pria itu tidak ingin diabaikan saat bicara.


"Mas, marah ya?"


"Nggak, Sayang, ayo makanlah!" titahnya datar

__ADS_1


"Nggak mau, kamu pasti kesel sama aku 'kan?"


"Astaghfirullah, enggak, Sayang." Ikhsan mengambil mangkuk bakso itu kembali, lalu mengaduk rata. "Ayo buka mulutnya!" Pria itu menyuapi sang istri yang sedang mode merajuk.


Nia yang mendapat perlakuan manis begitu segera tersenyum bahagia dan membuka mulutnya menerima suapan dari sang suami tercinta.


"Sini aku makan sendiri,Mas, makan punya kamu nanti keburu dingin," ujar Nia


"Nanti saja, lagi pengen manjain kamu. Nih ponselnya," ikhsan mengembalikan ponsel Rania yang sempat dia sita.


"Manis banget suami aku ini."


"Iya dong, baru nyadar punya suami romantis."


Hehe... Kamu bisa aja,Mas."


"Hai, Rania 'kan?" Tanya seseorang menyambangi mereka


Nia dan ikhsan segera menatap Pria yang sudah berdiri di sisi meja mereka.


"Mas Alfin, benar nggak sih?" Tanya Nia kembali meyakinkan agar tak salah orang


"Ternyata kamu masih ingat, Dek. Apa kabar?" ujar pria itu sembari mengulurkan tangannya


"Alhamdulillah kabar istri saya sehat wal afiat," jawab ikhsan masuk dalam pembicaraan mereka


"Oh, kamu suaminya Rania? Kapan nikahnya kok aku nggak dapat kabar tentang pernikahan kalian?" ujar pria itu penasaran


"Sudah enam bulan,Mas. Ya tentu saja nggak dapat kabar kan selama ini mas Alfin tugas diluar kota," jawab Nia


"Oh iya, bagaimana kabar Ibu,Dek?" tanya Pria itu.


"Ibu sudah meninggal,Mas."


Pria itu mengucap innalillahi, dengan raut wajah terkejut. "Kapan ibu meninggal? Aduh maaf banget ya aku baru dapat kabar dari kamu, inipun baru semalam balik rencananya besok juga udah balik lagi bertugas," jelasnya, sembari duduk di kursi kosong mereka bicara begitu nyambung.


Ikhsan mulai gerah melihat obrolan Rania dan Pria itu, walaupun tidak membahas hal pribadi tapi sepertinya mereka sudah sangat akrab. seakan melupakan kehadirannya disana.


"Habisin makan kamu,Sayang," ikhsan menyerahkan mangkuk bakso itu pada Nia. Ia segera memakan baksonya dengan secepat mungkin agar segera bisa pergi membawa Rania dari hadapan Pria asing itu.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2