Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Menjemput Bu Asih


__ADS_3

Pagi sudah menjelang, namun pasutri itu masih bergelung dalam selimut tebal yang membuat tubuh mereka nyaman.


Nia membuka matanya karena merasakan ada sesuatu menyelinap dalam piyama tidurnya. "Hmm... Mas," desisnya menahan geli ulah suaminya itu


"Mas pengen, Sayang," lirih ikhsan di telinga sang istri.


"Tapi aku belum bersih,Mas." ujar Nia sembari membalikkan tubuhnya menghadap pada ikhsan


"Bantuin Mas ya," ujarnya menghiba


Nia menatap mata suaminya yang sudah berkabut gairah. Rasa tak tega membiarkan, maka akhirnya ia membantu melepaskan beban yang sedang berada di ubun-ubun itu.


"Terimakasih istriku Sayang, muuach." ikhsan mengecup kening Nia dengan dalam, rasa bahagia menyelimuti hatinya di pagi ini, karena istrinya yang begitu pengertian dengan penderitaannya. Banyak jalan menuju Roma. Dengan bantuan Nia, semua yang nyumpek akhirnya keluar.


"Mas..." Panggil Nia


"Ya, Sayang," jawab ikhsan yang baru saja selesai mandi, lalu duduk di lantai yang beralaskan karpet beludru. Posisi kepalanya tepat di antara kedua paha Rania yang duduk di pinggir ranjang kakinya menjuntai ke bawah.


Ikhsan menyerahkan handuk kecil kepada Rania. Nia yang sudah terbiasa rutinitas seperti itu maka dengan senyum ia menerima handuk kecil itu mulai mengeringkan rambut ikhsan yang hitam legam.


Pria itu benar-benar menikmati pijitan lembut di antara kulit kepalanya, ia merasakan benar-benar rileks. Ikhsan memejamkan matanya meresapi segala sentuhan tangan sang istri tercinta.


"Mas, kapan kita mau jemput Bu Asih?" ucap Nia di sela aktivitasnya.


"Subhanallah Mas benar-benar lupa,Sayang. Gimana kalau hari ini kita jemput Bu Asih?" ujar ikhsan meminta pendapat Rania


"Mas, serius? terus pekerjaan kamu gimana?"


"Itu gampang, aku akan minta izin ke Papi untuk dua hari saja, gimana? mau nggak?" tanya ikhsan sembari meraih wajah Nia dan memberi kecupan di bibir mungilnya.


"Baiklah, kalau begitu kita minta izin dulu sama Mami dan Papi. Tapi Mas?" ujar Nia ragu


"Tapi apa, Sayang?"


"Apakah Mami dan Papi mau menerima Bu Asih?"

__ADS_1


"Kamu jangan cemas, aku yakin mereka pasti mau menerima Bu Asih, karena mereka sudah tahu hanya Bu Asih lah pengganti orangtua kamu!" ikhsan meyakinkan Rania


***


"Kamu nggak ngantor San?" tanya Mami yang melihat ikhsan keluar hanya menggunakan pakaian santai


"Pi, Mi. Aku dan Rania mau minta izin untuk menjemput Bu Asih ke Jakarta. Apakah Mami dan Papi tidak keberatan jika Bu Asih tinggal disini?" tanya ikhsan mewakili sang istri


Mami dan Papi saling pandang, lalu mereka tersenyum. "Tentu saja Mami dan Papi sangat senang jika Bu Asih tinggal di sini bersama kita," ujar Mami Sarah senang


"Alhamdulillah... Terimakasih ya,Mi," ujar Rania tak kalah senang


"Kapan kalian ingin menjemput Bu Asih?" tanya Papi


"Rencananya hari ini,Pi, aku sudah pesan tiket pesawat," jawab ikhsan


"Yasudah, pergilah dan cepatlah kembali. Karena Papi tidak mau menggantikan tugasmu terlalu lama. Rencananya Papi juga ingin liburan dengan Mami kamu kesuatu tempat!"


"Benarkah? kemana?" tanya ikhsan penasaran


"Ciee... Manis banget sih Papi! Mami benar-benar beruntung punya suami kayak Papi." goda Nia yang membuat Mami tersenyum malu.


"Emang kamu nggak beruntung punya suami kayak aku!" balas ikhsan sewot merasa di abaikan.


"Ya ampun, Mas. tentu saja aku sangat beruntung dan bersyukur banget memiliki suami seperti kamu,Mas. Kamu adalah suamiku terhebat nggak akan ada yang bisa ngalahin kamu," puji Nia sembari memeluk ikhsan dari belakang yang hendak melangkah pergi.


Mami dan Papi hanya bisa tersenyum menyaksikan kemesraan mereka. "Semoga mereka selalu bahagia ya,Mi. Seperti kita!" ucap Papi merangkul bahu sang istri.


"Aamiin... Semoga saja, Pi." Balas Mami sembari menyaksikan Senda gurau mereka yang berlalu pergi.


Nia mengemas barang-barang bawaannya, rencananya mereka akan menginap satu hari saja disana karena Nia ingin ziarah ke makam sang ibu sebelum kembali lagi kesini.


***


Kini mereka sudah berada di Bandara Soekarno Hatta. Ikhsan memesan taksi online untuk mengantarkan mereka ke kampung Bu Asih, yaitu tanah kelahiran Rania juga, walaupun ibunya seorang perantauan, tapi Nia sudah menganggap bahwa itu adalah kampung halamannya karena ia lahir dan di besarkan di kampung itu. Bahkan ibunya dimakamkan disana.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan ikhsan menatap keluar jendela mobil. Ia masih ingat segala kenangan beberapa bulan yang lalu saat menemui Rania dengan menaiki Bus.


"Mas, kok bengong? mikirin apa sih?" tanya Nia sembari bersandar di bahu ikhsan


"Hmm, mikirin sesuatu!" jawab ikhsan singkat, dan membawa Nia kedalam dekapannya sehingga wanita itu merasa sangat nyaman menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Emang aku nggak boleh tahu ya apa yang kamu pikirkan? Atau jangan-jangan kamu memikirkan Sofi!" Ujar Nia yang membuat ikhsan terpana.


"Kamu tuh ya, nggak bisa apa mikirin tentang kita aja! tanpa harus membawa orang lain agar kemesraan kita tidak berkurang!" protes ikhsan sembari mencolek hidung Rania dengan geram


"Makanya jika tidak mau aku mikirin yang aneh-aneh, jujur dong!" Rajuknya ingin melepaskan pelukan ikhsan tetapi Pria itu segera menahan tubuh Nia agar selalu dalam dekapannya.


"Aku tuh lagi ingat saat malam aku datang menemui kamu Setelah pulang dari Kalimantan. Seumur-umur baru kali itu aku naik Bus. Rasanya nyaman juga. Tapi yang paling pegel saat kita naik Bus ke Sumatra waktu itu deh. Mas merasa benar-benar capek banget karena kamu bawaannya tidur mulu sampai nih paha kebas," ikhsan mengingat kembali perjuangan mereka.


Nia menatap ikhsan dengan dalam. Iya, dialah lelaki yang dari awal memperjuangkan cintanya hingga sampai saat ini lelaki itu masih setia berada disisinya. Padahal dirinya adalah seorang wanita yang begitu banyak kekurangan, namun cinta ikhsan begitu tulus kepadanya. Ia rela hidup susah meninggalkan segala kemewahan hanya demi hidup bersama wanita yang ia cintai.


Tanpa terasa air mata Rania menetes begitu saja. Wanita itu terharu dengan segala perjuangan sang suami. Ternyata jodoh yang di pilihkan ibu benar-benar yang terbaik.


"Kenapa menangis,Sayang? Hmm?" ikhsan kembali membawa Nia kedalam dekapannya.


"Mas, terimakasih atas segala cinta dan kasih sayang selama ini kamu curahkan. Terimakasih sudah mau memperjuangkan cinta wanita yang banyak kekurangan ini. Maaf jika selama ini aku masih tidak pandai bersyukur atas segala pengorbanan kamu," lirih Nia dengan isaknya.


"Sayang, kamu itu memang layak untuk di perjuangkan. Karena selama kita menjalani rumah tangga ini. Kamu tidak pernah memberatkan aku. Kamu itu benar-benar istri idaman buat aku, kamu begitu pengertian dan penuh kelembutan, tetaplah selalu bersamaku walaupun suatu saat nanti ujian akan selalu ada, namun aku berharap ujian itu akan menjadi tali ikatan batin kita semakin kuat. Jangan pernah goyah. Mas percaya segala masalah bisa kita selesaikan asalkan kita saling jujur dan terbuka. maka anggaplah ujian itu sebagai kerikil-kerikil kecil yang tak akan membuat kita jatuh tapi hanya untuk membuat kita berjalan semakin hati-hati!" Ujar ikhsan menasehati sang istri.


Nia semakin memeluk erat tubuh sang suami. "Terimakasih Mas, insyaAllah semua nasehat kamu akan selalu aku ikuti,"


Ikhsan mengecup kening Rania dengan dalam, "Terimakasih,Sayang. tetaplah menjadi Rania ku yang patuh dan penuh kelembutan. Aku sangat mencintai kamu istriku,"


Nia tersenyum bahagia. "Aku juga sangat mencintai kamu Suamiku!"


Bersambung.....


Tinggalkan dukungannya ya bagi yang masih suka dengan kisah mereka🥰


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2