
Kini mas ikhsan sudah duduk di ruang tamu yang tanpa sofa itu. dia duduk hanya beralaskan karpet saja. aku segera membuatkan dia minum. sebenarnya aku sangat tidak menyukai aroma dapur, tetapi dengan rasa bahagiaku yang tak terkira itu. aku tidak menghiraukan apapun yang sedang tidak aku sukai.
Setelah selesai membuatkan teh, aku segera menyuguhkan dihadapannya. "Minum dulu mas. apakah mas ikhsan, sudah makan ?" tanyaku kepadanya.
Dia menatapku dengan dalam. lalu menggeser duduknya agar dekat dan menggenggam tanganku. "Nia, kenapa kamu pucat dan kurus begini? apakah yang terjadi selama aku pergi Nia? apakah mereka menyiksa kamu?" pertanyaan mas ikhsan beruntun dan membuat aku tidak mengerti maksud dari pertanyaannya itu.
"Mereka siapa mas? tidak ada yang menyiksa aku. aku baik2 saja mas. aku Kurus begini, itu karena selera makanku memang sedang bermasalah!" jawabku dengan jujur
"Nia, kenapa pagi itu kamu pulang ke sini tidak pamit denganku. apakah keadaan Bu Asih memang benar-benar parah?" kembali pertanyaan mas ikhsan membuat aku bingung
***
POV Ikhsan Marzoni.
Awal pertemuanku dengannya adalah sangat mengesankan. aku tidak pernah merasakan jantungku berdetak begitu kencang saat dia berada di atas tubuhku. aku menatap mata polos itu. debaran jantungku semakin tak menentu.
Aku berpikir ada apa dengan diriku? namun aku segera menyadari dari perasaan itu, karena aku sudah menjalin hubungan dengan Sofi, wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter kecantikan. Walaupun aku tidak pernah merasakan jantungku berdebar saat bersama dirinya. ini sangat berbeda saat aku menatap mata wanita desa yang polos itu.
__ADS_1
Aku dan Sofi sudah memutuskan untuk bertunangan dua bulan yang akan datang. namun sebuah kejadian yang tanpa aku duga terjadi hari itu. dimana saat itu aku baru saja pulang menjenguk Nenekku yang ada di desa itu juga. ya, perkebunan teh tempat Rania bekerja itu adalah milik sang nenek.
Saat aku sedang perjalanan pulang. tanpa aku duga ada seorang Ibu melintas di hadapan mobilku yang sedang laju. aku tidak bisa mengendalikan kemudiku sehingga aku menabrak ibu itu. aku sangat shock dengan kejadian itu. namun aku segera menormalkan perasaanku. dan segera turun untuk membantu ibu itu.
Saat aku hendak membantu ibu itu. aku terkesiap melihat wanita polos yang sedang menangis histeris yang sedang memeluk tubuh ibunya. ternyata aku telah menabrak ibunya wanita yang pernah membuat jantungku berdebar.
Aku menyingkirkan perasaan itu. aku hanya fokus ingin menyelamatkan ibu. segera aku membopong tubuhnya yang sudah penuh dengan luka dan berlumuran darah.
Setelah sampai di RS. aku dan Rania sangat cemas menantikan penjelasan dokter yang menangani ibu yang bernama Ayu itu. namun apa yang kami tunggu akhirnya dokter itu keluar dari ruangan ICU.
Aku dan Rania segera menghampiri Dokter itu dan menanyakan kondisi ibu Ayu. Dokter itu menjawab dengan lesu. dia menyampaikan kepadaku bahwa keadaan Bu ayu kritis. dan dia ingin bertemu dengan orang yang telah menabraknya.
Saat aku sudah berada di ruangan ICU. aku segera menghampiri ibu Ayu. aku segera meminta maaf kepadanya. "Bu, maafkan aku sudah membuat ibu celaka. tapi aku benar-benar tidak sengaja Bu. maafkan aku. ibu harus kuat dan sembuh ya!" ujarku kepadanya dengan air mata tak bisa aku tahan.
Beliau menatap dan meraih tanganku. beliau bicara dengan suara yang pelan hampir tak terdengar. "Nak, ibu tidak menyalahkanmu. mungkin ini sudah takdir ibu. dan ibu merasa sudah tidak kuat. ibu ingin kamu menikahi putri ibu dan menjaganya dengan baik. ibu mohon jangan pernah sakiti dia. karena dia adalah wanita yang malang. sedari kecil dia sudah menderita. dia adalah wanita yang tidak bernasab, dia terlahir dari hasil perkosaan.
Aku adalah ibu yang baru sembuh dari depresi. dia baru saja mendapatkan kasih sayang dariku. dan ada satu lagi yang harus kamu ketahui, bahwa dia adalah seorang wanita Buta huruf. dia tidak pernah ibu sekolahkan sedari kecil. tetapi dia wanita yang sangat patuh dan penuh kelembutan. dia tidak pernah melawanku. jadi tolong berjanjilah kepada ibu, bahwa kamu akan bersedia menikahinya dan menjaganya dengan baik?" dia menggenggam tanganku untuk meminta Jawaban dariku. dengan suara bergetar, aku menerima permintaan beliau.
__ADS_1
"Baiklah Bu, aku berjanji akan menikahi Rania dan menjaganya sampai kapanpun."
Setelah mendengar jawabanku. ibu ayu menghembuskan nafas terakhirnya. sehingga membuat aku tak bisa bicara apa apa. aku benar-benar sudah menghilangkan nyawa orang yang begitu berarti dalam hidup wanita polos yang kini sedang menunggu kabar diluar.
Aku rasanya tidak sanggup untuk memberitahukan berita sedih ini kepadanya. namun aku tidak punya pilihan lain. karena dia pasti akan mengetahui jika ibunya sudah meninggal.
Dengan langkah gontai aku keluar dari ruangan itu. aku memberitahukan bahwa ibunya telah meninggal dunia. batinku benar2 sakit saat melihat dia begitu terpukul oleh kenyataan itu. namun aku berusaha untuk tetap tenang mendampinginya, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan dia walau sampai kapanpun.
Setelah pemakaman selesai aku segera memenuhi permintaan ibu Ayu. yaitu untuk menikahi putrinya. akhirnya hari itu juga aku resmi menikahi gadis cantik yang membuat jantungku berdegup kencang itu. entah kenapa aku merasa sangat bahagia dengan pernikahan itu, tidak ada keterpaksaan ataupun kekecewaan di hatiku. tetapi aku melihat dia masih sangat begitu sedih.
Aku berpikir mungkin dia tidak bahagia dengan pernikahan ini. semua dia lakukan Hanya bentuk hormat dan patuhnya kepada sang ibu sehingga dia tidak bisa menolak pernikahan itu. aku berusaha untuk tetap tenang dihadapannya aku tidak ingin dia mengira jika aku mengambil keuntungan dari meninggalnya sang ibu.
Empat hari setelah meninggalnya ibu mertuaku. aku segera memboyong Nia untuk menemui keluargaku. aku menelepon Sofi dan orangtuanya. dan meminta keluargaku untuk berkumpul. aku ingin mengatakan yang sebenarnya. aku berharap mereka bisa mengerti dan bisa menerima Nia sebagai bagian keluarga di rumah itu.
Setelah aku mengatakan yang sebenarnya ternyata harapku tidak menjadi kenyataan. orangtuaku hingga saudara yang lainnya tidak menerima kehadiran Nia di tengah-tengah mereka. namun aku berusaha untuk meyakinkan Nia,agar dia tetap bersabar, dan istri polos ku itu menuruti keinginanku. aku melihat dia tetap sabar saat mendengar kata-kata yang tidak mengenakan dari keluargaku.
Aku selalu berusaha bersikap sewajarnya kepada Nia,agar dia tidak takut tinggal satu kamar denganku. aku tahu bahwa dia belum bisa menerima dan mencintai aku. karena aku tahu bahwa itu tidak akan mudah baginya.
__ADS_1
Bersambung....