
Malam yang Sangat mencekam di Daerah perkampungan yang di sebut Alas Waringin.. semua menjadi Geger, semenjak kawanan musuh Ki langkir. datang memporak porandakan Warga Alas Waringin, Ki Langkara Adik Ki Langkir mengetahui adanya serangan Musuh datang.
sedangkan keadaan di Rumah Ki Langkir sedang kebingungan melihat Istrinya Nyai Ipah akan melahirkan. Ki Langkir menyuruh muridnya Marta Namanya, ia Murid ke percayaanya Ki Langkir.
"Marta tolong kau carikan Nyai Uwo, untuk memeriksa keadaan Istriku cepat!" seru Ki Langkir,
"baik Guru.." kata Marta beranjak berdiri, lalu melangkah keluar,
hujan masih sangat deras di luar sana. Kilat Petir terpampang jelas di langit hitam itu, Ki Langkara datang dengan lari tergesah gesah.
"Raka.. ini gawat Raka!!" seru Ki Langkara yang langsung masuk tanpa mengetiknya.
"gawat kenapa Rayi?" tanya Ki Langkir sambil menatap Adiknya.
"karaman dari Maung Edan sudah memporak porandakan Warga, semua pun menjadi ke Takutan. dan tak sedikit yang melawan, hingga tewas Raka," jelas dari Ki Langkara.
"Jagad Dewa Batara... mengapa Serangan itu terus menerus meneror Warga kita ya? baiklah kamu tolong tunggu dulu Raka Istri, aku akan melihat ke sana," kata Ki Langkir. sambil mengambil Pedang Kayu Cendana Warisan dari Nenek Moyangnya.
Petir pun dan geledek menyala dan bersuara menakutkan Ki Langkara, Angin pun sangat kencang berbarengan dengan Derasnya Hujan.
Ki Langkir keluar dan menyimpan Pedang Kayu Cendana itu di Pinggang sebelah kanannya, dan berpesan pada Adiknya Langkara.
"Rayi tolong jaga Istriku, dan tunggu Marta sedang Menyusul Nyai Uwo. bila sudah Tiba Anakku Lahir berilah Nama.." ucapan Ki Langkir terputus saat melihat Kilat Petir akan nenyambar.
"Namanya siapa Raka?" tanya Langkara penasaran.
"SI PETIR! jika ia Laki laki, kalau Perempuan tanyalah pada Raka Istri." seru Ki Langkir, sambil meloncat menyusuri atas Rumah Warga.
sedangkan di tempat yang akan di tuju oleh Ki Langkir, si Singa Maruta sedang menjambak perempuan yang paru baya. karena ia tak mau menyerahkan Putrinya pada Singa Maruta.
"tolong! lepaskan saya Den.. kasihanilah saya Aden," ucap Perempuan Paru Baya itu pada Singa Maruta.
__ADS_1
"apa!! lepaskan? Enak saja! inilah bukti dan sekaligus Contoh bagi orang yang membangkang padaku. beginilah Akibatnya haha. !!" seru Singa Maruta tertawa puas di hadapan Warga yang sangat ke Takutan dengan tingkahnya itu.
siuung.. pletak!!
ada Batu kecil dengan ke Cepatan tinggi menuju Singa Maruta, tapi Singa Maruta bukan jago sembarangan. dia bisa merasakan gerakan itu datan padanya, lalu dengan mudah menangkisnya dengan keplakan tangannya.
"Kurang Ajar!! siapa yang berani menyerangku secara Diam diam Hem..!" seru Singa Maruta sambil membagikan pandangannya, ke seluruh itu tempat.
joreelaat.. jlig!
suara Ki Langkir loncat dan berdiri di Samping Anak Buahnya Singa Maruta. "ini aku Maruta, hem Dasar Pengecut.. berninya melawan perempuan yang sudah paru baya, sudahlah mari kita lihat siapa yang paling unggul dalam Pertarungan ini." kata Ki Langkir,
"ternyata kau Langkir, ternyata kau masih hidup. kukira kau sudah tewas saat Peperangan melawan. Kerajaan Manuk Wari, ternyata kau masih mampu bertahan Hidup ya." kata Singa Maruta,
"hahaha.. kenapa kau merasa kaget hem! sudahlah lepaskan Perempuan itu, dan hadapilah aku. jika kau Seorang ke Satria," ucap Ki Langkir, menangtang Singa Maruta.
"kioek Cih! berani sekali kau berkata pada ketua Karaman Macan Edan.. jangan sesali diri jika dirimu ajal di tanganku," ucap Singa Maruta sambil meloncat.
jleng.. jlig.
"hahaha.. besar juga keberanianmu Maruta, ku kira kau akan memanfaatkan Anak Buahmu ini untuk menyerangku." kata kata Ki Langkir, Membuat Singa Maruta Marah,
"Cih! jangan berani merendahkan kemampuanku Langkir, hiyaat..!" seru Singa Maruta, lalu menyerang Ki Langkir dengan membabi buta.
tapi Ki Langkir juga bukan jago Biasa biasa, karena dirinya mewarisi ilmu Karang Nunggal. pemberian dari Eyang Pancanaka, serta di beri Pedang Ampuh yang di sebut. Pedang Kayu Cendana,
Singa Maruta terus menerus menyerangnya tiada henti, tak membiarkan musuh mengenai tubuhnya. Singa Maruta sudah merasa Geram, karena sulit untuk memasukkan gerakannya. mengenai bagian tubuh Ki Langkir,
Ki Langkir sudah mengusai Tata gerak Ilmu peringan Badan yang cukup tinggi. maka setiap serangan lawan mudah di hindarinya,
Singa Maruta mencoba mengeluarkan tiga Perempat ke Kuatannya sehingga bisa memepentangkan tenaga dalamnya, untuk menembus bagian Tubuh Ki Langkir.
__ADS_1
syuushh..
tenaga dalam Singa Maruta berhasil di Pentangkan. dan Ki Langkir tak tinggal diam, ia menahan serangan itu dengan setengah bagian Jurus Ilmu karang nunggalnya. Ki Langkir hanya diam tanpa menghindari tenaga dalam Singa Maruta yang menyerupai Perisai merah putih itu.
Deg!!
tenaga dalam yang di pentangkan Singa Maruta mengenai Dadanya Ki Langkir, tapi Ki Langkir tetap diam tak menggeser sedikit pun.
tentu saja Singa Maruta merasa kaget ternyata Ilmu tiga Perempat tenaga dalamnya, tak berpengaruh Apa apa.
tapi di luar sana ada Seseorang yang mengintip Pertarungan itu, ternya Danuarta Kakak seperguruan Ki Langkir. ia merasa kecewa karena Ki Langkir merebut ke Kasihnya Nyai Ipah. yang saat ini akan melahirkan,
Danuarta sudah tahu kelemahan Ilmu Karang Nunggal, ternyata ada di punggungnya. kalau Singa Maruta menyerangnya di depan, tentunya tak berpengaruh Apa apa bagi Ki Langkir.
saat Ki Langkir akan mengeluarkan Aji Tapak Naga, Warisan dari kanjeng Rama Darma Pamungkas. Angin yang sedang kencang mendadak terhenti, Awan yang menurunkan Hujan pun jadi terhenti. Bulan Purnama yang mustahil takkan muncul di saat derasnya hujan sebelumnya. kini Tiba tiba muncul menerangi dirinya yang sedang berdiri tegak,
weerrr.. weerrr..!
Cahaya Kuning menyelimuti dirinya yang sedang berdiri. "Tapak Naga...!!" seru Ki Langkir sambil membuka telapak tangannya di rentangkan..
tapi saat posisi Ki Langkir seperti itu, Danuarta melemparkan Batu kecil pada Pundaknya.
blesurrr...!! Tek!
Batu itu melesat begitu cepat, dan tepat mengenai Urat Penting di bagian tengkuknya. tentunya Ki Langkir tak bisa menahan rasa Sakit itu..
"aaaa.. sakit!! Aaa..!" teriak Ki Langkir mengangetkan suasana di situ, Singa Maruta pun tak paham mengapa Ki Langkir bisa ke Sakitan seperti itu.
Ki Langkir mengeluarkan Darah yang cukup banyak dari Mulutnya. dan tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya lagi.
bruuk..!
__ADS_1
Ki Langkir Ambruk tak sadarkan diri, dan tak bisa hidup lagi. setelah rasa kagetnya hilang, Singa Maruta tertarik pada pusaka yang di simpan Ki Langkir di pinggang sebelah kanannya.
saat mau di Ambil, Tiba tiba ada Seseorang locat dan menendang Mulutnya.