
joreelaat... jleng!
Karsa loncat dan sudah berdiri di samping Untari, yang tubuhnya Kaku itu. si Petir dan Kang Bardi membiarkan Untari pergi, atau di bebaskan dari pengaruh penglumpuhan oleh Karsa.
seusai Karsa membebaskan Pengaruh penglumpuhan Untari, ia dan Untari segera meninggalkan Padepokan Girilayang.
Kiyai Hasbullah datang menghampiri mereka berdua, dan berkata." Alhamdulillah.. kalian tidak Apa apa?" tanya Kiyai Hasbullah saat mendekati mereka berdua,
"Alhamdulillah Bah, saya dan Petir tida Apa apa! terus Abah sendiri gimana,?" tanya balik Bardi,
"Syukurlah kalau kalian Baik baik saja. Alhamdulillaah saya juga Baik baik saja, Bardi. Petir," jawab Kiyai Hasbullah. sambil menatap mereka berdua.
"hehe.. iya Bah Alhamdulillaah kalau gitu mah, oh iya Bah. memangnya mereka itu siapa sih Bah?" tanya si Petir sambil menggaruk kepalanya,
"oh itu adalah Karaman Perampok Kampak Merah. yang ingin mencuri Pusaka Milikmu," ucap Kiyai Hasbullah membuat si Petir penasaran.
"hah? senjata, emang senjata apaan sih Bah?" tanya si Petir penasaran.
"baiklah, akan saya tunjukkan. karena kini saatnya kau mengetahui siapa dirimu sebenarnya, mari ikut denganku." kata Kiyai Hasbullah sambil melangkah berjalan duluan,
lalu si Petir dan Kang Bardi mengikutinya dari belakang. sesampainya di sebuah kamar khusus, si Petir kaget saat Kiyai Hasbullah menunjukkan sebuah Peti, yang di dalam Peti itu, tersimpan sebuah Pusaka peninggalan Ki Langkir. Ayahnya si Petir,
lalu Kiyai Hasbullah membuka Peti itu, dan tercium Wangi yang semerbak.. Membuat semua takjub akan dalam Peti itu," naah inilah yang mereka cari Petir, ini adalah Warisan dari.." ucap Kiyai Hasbullah terputus.
"dari siapa Bah?" tanya si Petir penasaran,
"dari Ayahmu Tir, ini adalah Pedang Kayu Cendana. yang saya simpan, karena Pusaka ini akan jadi milikmu nanti Petir." kata kata Kiyai Hasbullah membuat Petir bingung,
__ADS_1
"memangnya saya teh Anaknya saha gitu Bah?" tanya Petir penasaran.
"hah.. kamu adalah keturunan JAWARA PILIH TANDING Petir, Orang Tuamu adalah seorang Pejuang Desa yang di segani Masyarakatnya. dan ia sangat setia pada Warga atau Masyarakat Alas Waringin, ia mampu mengorbankan semua jiwanya demi menyelamatkan Warga Desanya Petir. naah mohon maaf selama ini Abah sempat menceritakan semuanya padamu, karena Abah selalu melihat ke semangatanmu dalam berlatih. jadi Abah sengaja menundanya," jelas dari Kiyai Hasbullah. tentunya membuat si Petir sedih,
"terus sekarang dimana Orang tuaku Bah?" tanya si Petir sambil berlinang Air Matanya.
"hah.. Orang tuamu sudah lama meninggal Petir, begini ceritanya" ucap Kiyai Hasbullah. lalu menceritakan ke jadian yang menimpa pada kedua Orang Tuanya si Petir,
dari waktu Hujan Deras itu, Ki Langkir sedang berhadapan dengan Singa Maruta. Karaman Macan Edan, Ki Langkir sedang menggunakan Ilmu pamungkasnya. yaitu Ilmu tapak Naga, dan setelah itu Singa Maruta menyerangnya dan Ki Langkir Tiba tiba tewas, dan mengenaskan. setelah Ki Langkir berbaring lemah. dan sedang Sekarat, Singa Maruta akan merampas Pedang Pusaka Kayu Cendana dari Pinggangnya Ki Langkir. untung saja keburu ketahuan oleh Kiyai Hasbullah, lalu seusai Kiyai Hasbullah membawa mayat Ki Langkir ke Rumahnya, Kiyai Hasbullah kaget karena melihat Nyai Ipah Ibunya si Petir, meninggal mengenaskan juga.
"nah begitulah ceritanya Petir, hingga aku melihatmu dalam Gendongan Dukun Beranak yang bernama Nyai Uwo. dan semua yang ada di sana ke bingungan cara merawatmu, sehingga aku memutuskan untuk merawatmu." penjelasan dari Kiyai Hasbullah membuat si Petir penasaran, ingin pergi ke Alas Waringin.
"oh jadi saya ini hanya Anak angkat Abah dong," ucapan si Petir, sambil memelas.
"tidak Petir, kau adalah Anak ke sayangan Abah pewaris tunggal Ilmu Abah Nak." kata Kiyai Hasbullah Sambil mengusap rambut si Petir,
"tidak Petir, kau Anak baik. dan calon Jawara seperti Ayahmu. bukan begitu kan Mang Bardi," ucap Kiyai Hasbullah sambil menatap Bardi.
"iya betul Tir, kau emang Anak berbakat dan sangat baik. kenakalanmu itu adalah cara kamu menaikan derajatmu Tir." ucap Kang Bardi.
"kalau begitu izinkan saya untuk pergi ke Alas Waringin ya Bah, aku ingin melihat Rumah Almarhum Ayahku. walau pun belum tahu Wajahnya," kata si Petir seraya meminta Izin.
"iya boleh tentu saja Tir, tapi kamu ke sana nggak boleh sendirian. mesti di dampingi oleh Mang Bardi ya," kata Kiyai Hasbullah mengizinkan si Petir untuk menengok bekas tempat tinggal Ayahnya.
"iya Tir, Kita Jalan jalan sama Mamang saja ya hehe...!" seru Kang Bardi memberi semangat pada si Petir, agar tak bersedih lagi.
pada Esok harinya.. setelah makan bareng di Rumah Kiyai Hasbullah, si Petir Pamit pada Kiyai Hasbullah dan Gayatri. karena akan pergi ke Alas Waringin bersama Kang Bardi.
__ADS_1
Gayatri sudah tahu kalau Kiyai Hasbullah sudah menceritakan semuanya pada si Petir. Gayatri memeluk dan mencium keningnya si Petir, dan mengeluarkan Air Matanya.
"Hati hati di jalan Tir. meski kau sudah di bekali Ilmu bela diri, tapi tetep harus selalu waspada ya." kata Gayatri,
"iya Ambu, Ambu tenang saja. lagian kan Petir di dampingi sama Mamang Bardi, iyakan Mang?" tanya si Petir sambil melirik Mang Bardi,
"oh iya siap Tir, ku Mamang bakal di dampingi selalu lah hehe.." kata Kang Bardi,
"saya Nitip si Petir ya Kang." kata Gayatri,
"iya Nyai tentunya Akang akan selalu mendampingi si Petir, Nyai tak usah Khawatir." ucap Kang Bardi.
setelah percakapannya selesai, Kang Bardi dan si Petir pergi. dan Kiyai Hasbullah mengantarkan mereka berdua sampai pintu Gerbang Padepokan.
Kang Bardi dan si Petir sudah jauh melangkah, yang di tuju mereka adalah Desa Alas Waringin. kediaman Ki Langkir, Ayahnya si Petir. setelah jauh melewati tapel batas Alas Mengker dan Alas Waringin. Kang Bardi mengajak si Petir untuk Istirahat dulu di sebuah Warung, lalu mereka pun berjalan menuju Warung yang di tunjukkan oleh Kang Bardi,
setelah dekat dengan Warung itu, lalu Kang Bardi berucap." Mak mesen Kopi Mak." kata Kang Bardi memesan pada si Mak Warung,
"oh mangga Aden, tunggu sebentar ya." ucap si Mak Warung sambil berdiri dari tempat Duduknya, karena akan membikinkan kopi untuk Kang Bardi.
"kalau kamu apa Tir, sok pesen saja. nanti biar Mamang yang bayarin," kata Kang Bardi pada si Petir.
"nggak mau Apa apa Mang ah. maunya sih ingin sampai tujuan saya mah Mang," ucap si Petir.
"memangnya Aden ini teh bukan Orang sini ya? ko Emak baru lihat gitu," tanya si Mak Warung.
"hehe.. iya Mak, kami berdua dari Desa tetangga. dari Desa Alas Mengker."
__ADS_1