
"Gobl*k.. berani nganter Nyawa ya!" kata Bardi sala satu ke Empat orang itu. dengan memperlihatkan Kampak merahnya,
"hehe.. aduuh Geli!!" seru Si Petir sambil memasuk Rumput kering yang tipis ke dalam telinganya sendiri,
"Dasar Bocah Dede*g.. kau malah menganggap Remeh pada kami yah heh!" Ucap Riswa kedua dari ke empat Orang itu,
"hehe.. apa barusan? Sede*g katamu, kalau iya kenapa haha..!!" seru si Petir makin meledeknya,
"Cuh! Dasar Bocah Ed*n.. serang dia!" seru Riswa untuk menyerang mereka berdua,
Bardi dan si Petir bersiap siaga bila Serangan lawan menyerang mereka berdua, tapi hanya si Petir yang masih tegak berdiri. belum membangun Kuda kuda sama sekali,
saat gempuran tiga Orang lawan dengan cepat menghantamkan Kampak merahnya, Bardi hanya menggeserkan tubuhnya ke samping untuk menghindari Kampak merah yang di gunakan oleh lawan.
sedangkan si Petir hanya menatap Kampak itu, lalu Tiba tiba 2 Orang lawan yang akan menangkap itu Bocah. hanya terdiam saja sambil memperlihatkan Kampak merahnya,
"eehh kenapa kalian berdua teh malah diam saja atuh hehe..!! takut ya!" seru si Petir seakan meledek dua Orang lawan yang ada di hadapannya itu,
"hey Bocah! jangan Pura pura tenang kau, belum tahu ya ke hebatan kami berdua!" seru sala satu dari Orang lawan itu,
"aahh.. menurut saya masa bodo weh ah, hehe.." ucap si Petir pendek, dan membuat dua Orang lawan itu berasa di pandang sebelah mata olehnya,
"Bocah Ed*n.. hiyaat!" seru lawan yang satunya sambil menyerang si Petir dengan kampaknya.
si Petir hanya dengan sikap tenang dan penuh rasa Percaya diri, menghadapi dua lawan sekaligus hanya dengan Berdiri tegak dan tak membangun Kuda kudanya sedikit pun.
dua lawan itu bertubu tubi memasukan Beberapa serangan dengan Kampak merahnya, tapi dengan badan yang yang terasa ringan itu. dengan Mudahnya si Petir menghindari dua Kampak merah yang akan menyerangnya itu,
__ADS_1
powh.. syuushh..!!
suara samberan Angin dua Kampak merah itu seolah akan mengenai Titik penting di bagian organ tubuh si Petir, dan si Petir hanya menghindarinya dengan mudah.
ketika dua Orang lawan itu, menghentikan pertarungannya sementara. dan mengatur nafasnya, mereka pun merasa heran dengan Jurus jurus yang di perlihatkan oleh, dua Orang lawan itu.
"haah.. ternyata Jurusnya di luar dugaan Kang, bagaimana ini?" tanya sala seorang dua Orang itu pada temannya,
"kita jangan menyerah, justru kita harus melumpuhkan Bocah itu!" seru sala seorang temannya, merasa geram.
"hahaha.. eehh kunaon kalian teh malah bengong kaya gitu hah?" tanya si Petir, sambil mengorek lubang Kupingnya dengan jerami barusan,
"jangan merasa unggul dulu kau Bocah, Rasakan jurus Asli kami!" seru dua Orang lawan itu maju bersama sama.
si Petir hanya diam saja, sambil terus mengorek ngorek Kupingnya dengan jerami. sambil bergidik geli, Tiba tiba dua orang lawan akan menyerangnya dengan tenaga yang cukup menakutkan.
tapi si Petir masih seperti tadi, dengan menggunakan jurus peringan Badannya. tak ada Serangan pun mengenai kulitnya, ia melihat ada anggota badan lawan yang tak terjaga. si Petir langsung memasukkan Pukulannya ke bagian Dada dan iga dua Orang lawannya itu,
suara Pukulan si Petir mengenai Iga dan Dadanya dua Orang lawan itu, dan tentunya dua Orang itu mundur dan ada juga yang terus rubuh tak bisa, menahan keseimbangan tubuhnya lagi.
sedangkan yang satunya lagi hanya menatap si Petir dengan mata sinis, lalu merapal mantra dan mementangkan kekuatannya. lewat telapak tangannya,
si Petir sudah siap siaga tapi tak memoerlihatkan Kuda kudanya, saat Serangan tenaga dalam musuh sudah hampir mendekati si Petir. dirinya langsung menahannya dengan Ilmunya,
teeeng... daaar!!
suara benturan ke kuatan beradu di udara, lalu semua yang sedang bertarung jadi terhenti, saat mendengar ledakan itu. si Petir hanya melanjutkan mengorek ngorek Kupingnya lagi, tak merasa ada serangan musuh mengenai bagian tubuhnya, sedikit pun juga.
__ADS_1
"ternyata ini bukan bocah sembarangan, aku harus melaporkannya pada Nyai Untari," gumam sala seorang lawan dalam hatinya.
lalu memberi Isyarat pada temannya yang sedang bertarung melawan Bardi, untuk membawa sala seorang lawan tadi yang terkena Serangan si Petir tadi.
yang sedang melawan si Bardi pun segera menghentikannya, dan melesat membawa temannya yang sedang terbaring itu. dan menghilang dari itu tempat,
Bardi menghampiri si Petir lalu bertanya," kau tidak Apa apa Petir?" tanya bardi cemas,
sambil mengorek ngorek Kupingnya, si Petir lalu menjawab." hehe, geli paman. Alhamdulillaah saya nggak Apa apa Paman hehe.. Paman sendiri bagaimana?" tanya balik si Petir,
"ya Syukurlah jika kamu tak Apa apa, oh Alhamdulillaah paman juga Baik baik saja. ya sudah mari kita pulang saja," ajak bardi pada si Petir.
si Petir yang sedang bergidik geli di bagian Kupingnya yang terus di korek korek itu, lalu ia pun ikut pergi bersama Bardi.
mari kita ceritakan di kediaman yang baru saja bertarung dengan Bardi dan si Petir, lalu sala satu dari empat orang itu melaporkan semua ke jadian barusan pada Untari, Adik dari Ratna Anjani.
"mohon Ampun Nyimas, ternya baru saja hamba melihat. Bocah yang sudah berlumuran Remaja, ia membuat ke kacauan di Daerah Pasar Ranca Picung Nyimas," kata Anak Buahnya itu mengada ngada Cerita.
"apa? seorang Bocah? terus apa yang kalian lakukan masa hanya dengan seorang Bocah, kalian kalah heh!" seru Untari sambil melipatkan kedua tangannya di bagian Dadanya,
"mohon ampun Nyimas, saya dan yang lainnya sudah berusaha untuk mencakalaknya. tapi lumayan cukup licin Nyimas," kata sala satu Anak Buahnya membela diri.
"kalian sudah mempermalukan anggota Kampak Merah, melawan seorang Bocah pun tak mampuh. bagaimana kalau Raka Ratna mengetahui ke Bodohan kalian, kalian Bisa bisa di Usir oleh Rakaku." kata Untari yang sudah kesal dengan perlakuan Anak Buahnya itu.
tak lama kemudian, Untari yang sedang mengobrol dengan Anak Buahnya itu. mereka pun mendengar langkah Kuda di luar Rumahnya Untari,
lalu Untari pun melangkah menuju keluar, ingin memastikan siapa yang berada di luar sana. sesampainya di Garis pintu, Untari kaget bercampur senang. ternyata yang menunggangi kuda itu, adalah Ratna Anjani. Kakaknya sendiri, lalu Anak Buahnya yang baru saja Ngobrol dengan Untari ikut keluar. sama ingin memastikan siapa yang di luar,
__ADS_1
"oh ternyata Raka, mohon maaf ku kira ada Pemberontak yang datang kemari." kata Untari sambil dua tangannya menyembah memberi Hormat.
"maaf jika ke datanganku mengagetkan kalian, Rayi aku akan memberi tugas buatmu." ucap Ratna Anjani setelah turun dari atas Kudanya.