
"ya sudah sementara kalian, pulang saja duluan. biar aku yang akan mencarinya sendiri, perketat penjagaan di wilayah Perguruan sana ya!" seru Ki Sanca, di tujukan kepada tiga orang Suruhannya itu. mereka pun memberi Hormat menyembah, pada Ki Sanca yang sebagai Gurunya itu.
mereka bertiga pun segera pergi meninggalkan Ki Sanca, yang sedang berdiri sambil membagikan Pandangannya. karena menurut Fikiran dan hati Nurani Ki Sanca, Singa Maruta lari kearah Utara. Ki Sanca pun segera berangkat menulusuri keberadaan Singa Maruta,
sedangkan malam itu, Ki Rungkup Bumi sedang di melangkah. dengan maksud mencari mangsa untuk di jadikan percobaan Ilmunya itu, Ki Rungkup Bumi yang sedang berjalan itu. mendadak menghentikan langkahnya, saat melihat Seseorang yang sedang berlari lari. tapi terlihat oleh Ki Rungkup Bumi, Seseorang itu seperti lari Sempoyongan.
ternyata yang Ki Rungkup Bumi lihat adalah Singa Maruta, Ki Rungkup Bumi pun loncat keatas Pohon. sengaja bersembunyi dulu di atas Pohon tersebut, tapi saat Singa Maruta sudah mendekati bawah Pohon yang sedang di pakai Duduk oleh Ki Rungkup Bumi. Singa Maruta pun menyenderkan punggungnya pada Pohon Besar itu, sambil mengatur Nafasnya. Singa Maruta bergumam sendiri,
"hah.. hah, Gila aku sangat lelah sekali seperti ini. Lodaya maafkan aku, karena aku tak bisa membawa Sanca Dawuk itu ikut denganku. malah sebaliknya dia Mengejar ngejarku," ucap Singa Maruta. sambil menyebut nyebut Lodaya temannya yang sedang terluka itu, akibat bertarung melawan si Cadar Cokelat. alias Ki Sanggah Langit,
Ki Rungkup Bumi, mendengarkan Ucapan Singa Maruta dari atas Pohon. lalu berkata," Huhuhaha. hey Anak Bodoh, ku kira kau sekarang sudah menjadi kuat. tahunya masih lemah seperti dulu, Huhuhaha..." kata Ki Rungkup Bumi, yang berada di atas Pohon besar itu.
"hah? si..siapa itu, Beraninya berbicara seperti itu padaku?" tanya Singa Maruta, sambil menengadahkan kepalanya.
Seeng.. jlig!
Ki Rungkup Bumi sudah berdiri di bawah pohon, dan menatap Singa Maruta." Huhuhaaha.. rupanya kau tak mengingatkanku Maruta?" tanya Ki Rungkup Bumi,
"ah.. kau Ki, Ki Rungkup kah?" tanya balik Singa Maruta,
"Huhuhaha.. iya Maruta, ini aku Gurumu Huhuhaha.." jawab Ki Rungkup Bumi sambil tertawa,
"ah, Gurumu maafkan ke lancanganku ini Guru. ku kira Seseorang yang telah mengejarku Guru," ucap Singa Maruta.
"huhuhaaha, tenang Muridku. dan kau mengapa sampai di Kejar kejar Seperti itu Hem?" tanya Ki Rungkup Bumi,
__ADS_1
"ceritanya Panjang Guru. cuma sekarang aku sedang terluka Guru, mohon bantuannya Guru." ucap Singa Maruta memohon,
tetapi saat Ki Rungkup Bumi. mau bertanya kembali, Tiba tiba ada Seseorang yang berdiri tak ketahuan dari Gerakannya. Tahu tahu sudah berdiri di belakang Singa Maruta,
"Huhuhaha.. ternyata itu Seseorang yang mengejarmu itu hem," kata Ki Rungkup Bumi. sambil menatap Ki Sanca,
lalu Singa Maruta pun, membalikan badannya. hingga berhadapan dengan Ki Sanca yang sudah berdiri tegak.
"benar Guru, dialah Orangnya. dia yang sudah melukai Burungku, Guru." kata Singa Maruta, yang tentunya membuat Singa Maruta sangat senang. karena ada Ki Rungkup Bumi di dekatnya,
"kamu tenang saja Muridku, biar aku yang akan memberikan Pelajaran pada Situa Bangka ini! Huhuhaha," ucap Ki Rungkup Bumi.
"baik Guru silahkan," kata Singa Maruta sambil melangkah Mundur kebelakang.
"Huhuhaha.. itu bukan urusanmu Tua Bangka, yang perlu kamu tahu adalah. aku adalah Gurunya dia, maka dari itu. kamu sama saja menangtangku Huhuhaha," kata Ki Rungkup Bumi sambil tertawa.
"hem, sekiranya Tuan mau membela Murid kotor seperti dia. apakah menurut anda itu sebuah hal yang benar?" tanya Ki Sanca, pada Ki Rungkup Bumi, tentunya membuat Ki Rungkup Bumi tak bisa menahan dirinya lagi.
Ki Sanca sudah mengerti apa yang akan di lakukan oleh musuh terhadap dirinya, tapi Ki Rungkup Bumi hanya maju selangkah. ingin mencoba mental Ki Sanca dulu,
"Huhuhaaha.. punya kemampuan apa, sehingga kau berani menghinaku hem?" tanya Ki Rungkup Bumi,
"hehe.. aku hanya punya kemampuan untuk membela diri sendiri saja, karena tak memiliki ke saktian yang menandingi ke kuatan Dewa." jawab Ki Sanca ketus,
"Huhuhaha. baiklah aku akan mencobanya hiyat!" seru Ki Rungkup Bumi, langsung menyerang Ki Sanca.
__ADS_1
Ki Sanca tak mengentengkan kekuatan lawan, karena melihat dari semua Tata Gerak yang di lakukan Ki Rungkup Bumi. lumayan juga, semua Gerakan yang di tunjukkan Ki Rungkup Bumi memiliki hawa Dingin.
setelah nengetahui Jurus yang di miliki Ki Rungkup Bumi, Ki Sanca segera meloncatkan badannya kebelakang. serta mengatur Nafasnya terlebih dulu,"rupanya Ilmu Silat Gurunya Singa Maruta lumayan membahayakan juga." gumam Ki Sanca di dalam hatinya,
"Huhuhaha.. mengapa kau malah mundur Tua Bangka, apakah sudah tak melanjutkan pertarungan ini. menyerah mengaku kalah hem?" tanya Ki Rungkup Bumi,
"jangan merasa sudah menang Anda. aku masih bisa berdiri tegak, itu tandanya aku belum merasa kalah." jawab Ki Sanca,
"Huhuhaha.. kalau benar kau belum merasa kalah, ayo kita lanjutkan lagi." ucap Ki Rungkup Bumi, ia pun sudah memasang Kuda kudanya lagi.
sedangkan Ki Sanca sedang mempersiapkan dirinya, dan mengeluarkan Senjata Rahasianya. yaitu Mustika Ular Sanca, Mustika itu memancarkan Cahaya yang sangat gemerlap. Ki Rungkup Bumi pun tak kuat untuk menatap Mustika itu,
Ki Sanca langsung membangun Kuda kudanya, dan, berteriak pada Ki Rungkup Bumi."Rasakan ini, Hiyaaat!!" seru Ki Sanca menyerang terlebih dahulu, dari serangan melalui Mustika Ular itu. Tiba tiba Ki Sanca bisa mementangkan Sinar Cahaya yang mengandung daya kekuatan,
seeeng... syuushh!!
Cahaya yang berwarna Putih itu mengarah pada Ki Rungkup Bumi, tapi Ki Rungkup Bumi segera menggunakan ke kuatan Barunya itu. yang di sebut Ajian Sirep Aji Tungku, tentunya membuat Ki Sanca kaget. saat Ki Rungkup Bumi mengucapkan, "Baliklah. serang Tuanmu wahai Tenaga Mustika," seusai Ki Rungkup Bumi berucap seperti itu. Ilmu atau tenaga dalam yang terpancar dalam Mustika Ki Sanca, berbalik arah pada Ki Sanca sendiri.
Ki Sanca pun langsung terguling ke Belakang, dan tubuhnya terasa lemas. tak bisa membangunkan Badannya sendiri, tak lama kemudian Ki Sanca pun jatuh Pingsan.
"Terimakasih Guru, untung saja ada engkau yang telah menolongku Guru." kata Singa Maruta sambil kedua tangannya menyembah Ki Rungkup Bumi,
"Huhuhaha.. bangunlah Muridku, kau sepertinya mesti mengambil Mustika yang di Genggam situa Bangka itu cepat." perintah Ki Rungkup Bumi, tentunya pada Singa Maruta.
Singa Maruta pun dengan terpaksa mengambilnya dari tangan Ki Sanca, yang masih terbaring Pingsan.
__ADS_1