JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 45.


__ADS_3

Danuarta kaget sambil berteriak dan ke Kuatannya sendiri itu telah menghancurkan Anggota Badannya Danuarta. wung...! wung..! "ahh tidak..!!" teriak Danuarta sambil tercengang kaget, jelegurrr...!!


suara ledakan terdengar hingga keluar, membuat Ratna Anjani dan Untari kaget. saat mendengar suara dari luar itu, Untari dan Ratna Anjani pun segera pada melangkah keluar ingin melihat sumber Suara itu dari mana. Tiba tiba ada sala satu Anggota Kampak merah yang melapor pada kedua perempuan itu,


"mohon ampun Nyai, Tuan.. tuan Danuarta, anu Nyai?" kata sala seorang Karaman Kampak merah itu agak Gugup,


"cepat katakan dengan jelas Sarmedi! apa yang terjadi pada Guru?" seru Ratna Anjani, sambil bertanya pada sala satu Karaman itu.


"iya Sarmedi, kau jangan meleletkan Bahasamu!" seru Untari, yang Sama sama Penasaran juga.


"Tu.. tuan Danuarta tu, tubuhnya hancur terpisah Nyai." jelas yang bernama Sarmedi itu pada ketua besar Karaman Kampak Merah yang sedang tercengang kaget keduanya,


"A..apa! yang betul kalau kau ngomong Sarmedi!" seru Untari agak membentak,


"cepat katakan, apa yang sebenarnya terjadi terhadap Guru heh!" seru Ratna Anjani, sambil menarik kerah Baju Kampret Sarmedi.


"just.. justru itu saya nggak tahu Nyai," jawab Sarmedi sambil menundukkan kepalanya ke bawah.


"Dasar Gobl*k.. Kerja begitu juga tidak becus heh! ya sudah ayo kita lihat saja berdua Raka!" kata Untari pada Ratna Anjani, lalu pergi meninggalkan Sarmedi. yang sedang merapihkan Kerah Baju Kampretnya,


setelah Ratna Anjani dan Untari sampai di luar Ruangan khusus Gurunya itu, Tiba tiba tercium bau Bangkai yang sangat pekat. seusai mencium bau tersebut mereka berdua melangkah menuju arah yang baunya sangat pekat itu. dan ternyata sesampainya di dalam Ruangan Gurunya itu, terlihat tubuh Danuarta yang berserakan secara terpisah.

__ADS_1


"tidaaak...!! Guru!!" seru mereka berdua bersamaan, sambil duduk bertekuk di samping lengan dan tubuhnya Danuarta yang sudah terpisah itu,


"siapa yang telah melakukan ini semua padamu Guru?" tanya Untari, sambil menangis menatap Wajah Gurunya yang sudah terputus dari Tubuhnya itu.


"Rayi, siapa lagi kalau bukan ke lakuan Orang orang Padepokan Girilayang itu. kita harus membalaskan Dendam Guru kita Rayi," sahut Ratna Anjani. dengan Tatapan Matanya menyala, tanda dirinya sudah tak bisa membendung lagi Amarahnya.


sedangkan keadaan di Padepokan Girilayang sendiri, di pagi harinya Gayatri sudah mulai siuman. di samping Gayatri ada Nek Annah dan Kiyai Hasbullah. Gayatri melirik Suaminya lalu berkata,


"Bah, gimana dengan keadaan Jabang Bayi kita Bah?" tanya Gayatri lesu,


"Alhamdulillaah Ambu. Anak kita selamat karena itu semua berkat pertolongan Alloh SWT, bukan begitu kan Nek?" jawab dari Kiyai Hasbullah, sambil menatap Nek Annak. Dukun Beranak di wilayah itu,


"makasih Nek, berkat pelantara Nenek juga. saya bisa tenang karena tahu keadaan Bayi saya selamat Nek," ucap Gayatri sambil memegang pergelangan tangan Nek Annah.


"Sama sama Nyai Geulis, yang penting sekarang Nyai mesti banyakin Istirahat Nyai ya." kata Nek Annah,


"dan jangan lupa juga terus Berdzikir di dalam hatimu Ambu, agar senantiasa Alloh menjaga keluarga kita." saran dari Kiyai Hasbullah di tujukan pada Gayatri,


di siang harinya Ki Rungkup Bumi, sedang melatih Singa Maruta. Jurus jurus yang pernah di Ajarkan pada Ganitri dulu, sedangkan Singa Maruta sendiri cuman baru menguasai seperempat bagian Jurus Mande Hiyangnya. saat Ki Rungkup Bumi menyimak pergerakan Singa Maruta yang dapat mengusai Seperempat Bagian jurusnya itu, membuat Ki Rungkup Bumi semakin penasaran pada Singa Maruta.


"hahaha, Bagus.. bagus, tapi aku mau bertanya padamu dulu Maruta?" tanya Ki Rungkup Bumi,

__ADS_1


Singa Maruta lalu menghentikan latihan Jurusnya, dan menarik Nafas Panjang. serta melirik pada Ki Rungkup Bumi yang sedang Duduk di Atas Bale bale, Singa Maruta mulai melangkah mendekati Ki Rungkup Bumi. lalu Duduk di Sampingnya,


"memangnya mau bertanya apa Ki Guru?" jawab Singa Maruta, sambil bertanya balik,


"apakah kau bersungguh sungguh untuk mempelajari Ilmu ini, atau hanya sekedar ingin memiliki Pedang Pusakanya saja?" tanya Ki Rungkup Bumi pada Singa Maruta,


"eehm, iyaa.. bersungguh sungguh Guru, karena saya ingin membalaskan Dendamku pada Musuh musuhku Guru. terutama keluarga si Langkara, Putra dari Abah Laleyang. aku sangat benci pada Anak dan Turunan yang lainnya Guru, maka dari itu aku ingin sekali memiliki ke Kuatan tambahan." jawab dari Singa Maruta menjelaskan,


"Hahaha... baiklah kalau begitu, cepat kau selesaikan berlatihnya. hingga sampai bisa memiliki Ilmu Mande Hiyang, tapi saat aku melihatmu berlatih mengapa hanya memiliki Seperempat bagian. makanya aku bertanya seperti itu padamu," kata Singa Maruta,


"baiklah saya mulai saat ini akan mempelajari secara Fokus, nggak akan Setengah setengah lagi. tapi dengan satu Syarat, kau harus bertapa di Gunung Sumur Panamping. selama lima tahun," ucap Ki Rungkup Bumi. dan mengingat Singa Maruta akan tugasnya, yaitu untuk berolah Tapa di Gua Sumur Panamping.


sedangkan Ki Sanca yang baru saja sampai di Perguruan Sanca Dawuk, dan di barengi oleh Ahmad si Bolga. agar tahu kalau Ki Sanca memiliki Perguruan menyilokakan Ular Sanca, dan Ki Sanca pun segera memperkenalkan Ahmad si Bolga pada para Muridnya. serta kedatangan Ki Sanca selama Seminggu meninggalkan Perguruan, Akhirnya sekarang sudah kembali pulang dengan keadaan selamat. para Anggota Perguruan Sanca Dawuk sangat berbahagia sekali, karena melihat kedaan Gurunya yang Baik baik saja.


Ki Sanca memperkenalkan Ahmad si Bolga, Tabib dari Negeri Sebrang itu. yang kini sudah menggabungkan diri, pada Perguruan Sanca Dawuk. dan menceritakan pengalamannya saat Malam itu Ki Sanca menghadapi Singa Maruta, dan mengalami ke Kalahan. karena Singa Maruta di bantu oleh Gurunya, yang datangnya secara Tiba tiba.


dan hingga di tolong oleh Ahmad si Bolga sampai sesehat ini," naah begitulah ceritanya, dan saya pun sangat berhutang jasa pada Kang Ahmad ini. karena jikalau tidak ada dia, pastinya saya sudah di Makan Binatang Buas." kata Ki Sanca menjelaskan pada para Anggota Muridnya,


"hehehe.. Anda terlalu Sungkan Ki Sanca, saya hanya sekedar Pelantaranya saja. tapi sebetulnya yang sudah menyelamatkan Nyawa Anda adalah Yang Maha Kuasa Ki Sanca," jawab Ahmad si Bolga.


"hehem.. ya saya tahu kamu Orangnya, sangat merendah dan terlalu sungkan. tapi tak apalah yang terpenting aku ingin mempelajari Ilmu tentang Sesembahanmu," kata Sanca sambil tersenyum,

__ADS_1


__ADS_2