JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 11.


__ADS_3

si Jarong sudah memasang Kuda kudanya, dan membentuk kedua tangannya seperti menyembah. juga memejam kedua matanya,


si Petir sudah tahu apa yang akan di lakukan oleh si Jarong, dan ternyata benar si Jarong membuang tenaga lapisan itu pada si Petir. mengarahkan pada sekujur badannya si Petir, tepat dengan datangnya tenaga lapisan yang merupakan Gulungan Angin, si Petir mengimbanginya dengan tenaga dalam seperempat bagian. dan apa yang terjadi,


si Petir juga si Jarong keduanya pada kaget, saat terjangan itu terjadi. si Marta menggagalkannya dan membuat serangan keduanya hanya meledak di Udara,


Marta menarik Napas panjang, lalu berkata di tujukan pada si Jarong juga si Bewok." hem, ngakunya seorang kesatria, tapi berani ingin membinasakan seorang Bocah. apa kalian tidak merasa malu heh?" tanya Marta,


"hahaha.. Rupanya kau Marta yang menggagalkan tenaga lapisanku? aku sudah tak tahu rasa malu lagi, selama ada yang menghalangi kami berdua. maka harus binasa Haha!!" seru si Jarong,


"sudahlah Jarong lebih baik kita tinggalkan dulu tempat ini, dan melapor pada Raden Singa Maruta. biar dia yang nemberi Pelajaran pada Orang ini!" seru si Bewok,


"lancang kalian!" seru Marta baru saja mau melangkah untuk maju, tapi di halangi oleh si Petir.


"cukup paman, biarkan dulu dia pergi. nanti kalau dia bikin ulah lagi, baru kita bertindak lagi," kata si Petir,


Marta pun melihat si Petir, yang sedang berdiri di sampingnya itu. dan mengangguk mengerti, setelah itu Marta melihat kearah Jarong dan Bewok, yang ternyata sudah tak ada di tempatnya lagi.


Ki Langkara dan Kang Bardi, menghampiri mereka berdua. dan berkata," sudahlah lebih baik kita kembali ke Rumah, soal Mayat ini kita serahkan pada Ki Kuwu saja yang akan mengurusnya. mari!" ajak Ki Langkara pada mereka,

__ADS_1


Ki Langkara sudah berjalan duluan, sedangkan Marta, Petir dan Kang Bardi menyusulnya dari belakang. sesampainya di Rumah Ki Langkara duduk bersila sambil mengepalkan tangannya.


di Susul oleh Marta, Petir juga Kang Bardi. yang baru saja sampai, ikut Duduk. Ki Langkara memutarkan Pandangannya pada mereka.


"Marta apa tanggapanmu tentang ke jadian ini? apakah pantas kita biarkan Karaman itu meneror para Warga di sini?" tanya Ki Langkara meminta pendapat dari Marta.


"mohon maaf Ki, justru saya juga bingung dengan semua ke jadian yang menimpa Desa kita ini, tapi kalau menurut saya. lebih baik mengambil tindakan saja bagaimana?" tanya Marta, memberikan usulan.


"iya itu dia Marta, aku bingung dengan kemampuan kita ini. apakah bisa membuat mereka takluk pada kita, apa lagi sekarang keadaan Singa Maruta semakin Jumawa. semenjak mengabungkan dirinya pada Perguruan Sanca Dawuk. haah.." ucap Ki Langkara sambil menarik nafas panjang,


tapi ke Semangatan si Petir semakin membara, dan ingin membantu Pamannya itu. menyelamatkan Nasib Warga Alas Waringin, dari Ancaman para Karaman itu.


"eehhm.. gimana kalau saya ikut serta Paman, ya pengen atuh saya ikut bantu?" tanya si Petir antusias.


"apaan sih Mang, kan saya juga ingin membantu menyelamatkan Warga di sini, membantu Paman Langkara. apa tidak boleh?" tanya si Petir pada Kang Bardi,


baru saja Kang Bardi mau menjawab, tapi ke duluan oleh Ki Langkara." Petir, Paman mengakui dengan kemampuan dan ke semangatanmu. tapi kalau saran Paman, lebih baik kamu nggak usah ikut Campur dulu. karena ini bisa membahayakan diri kamu Petir," kata Ki Langkara sambil beranjak berdiri, menatap si Petir yang sedang kecewa. atas jawaban dari Ki Langkara,


"tapi kan Paman.." ucapan si Petir terputus, karena keburu terpotong oleh Marta,

__ADS_1


"Petir, Paman Marta juga sangat takjub dengan keberanian, serta kemampuanmu. namun kamu belum saatnya mengikuti misi orang Dewasa Petir, nanti jika kita ada dalam ke kalahan. baru nanti kamu bisa membalasnya," saran atau usul dari Marta untuk si Petir.


lalu dengan sangat terpaksa, si Petir pun memanggutkan kepalanya.. dan menelan kekecewaannya, karena belum di perbolehkan ikut membantu.


kita ceritakan di kediaman Karaman Macan Edan.. Jarong dan Bewok, sedang di Marahi oleh Singa Maruta. karena mendengar mereka berdua kalah Bertarung melawan seorang Bocah, Singa Maruta yang sedang Duduk di atas Kursi Khususnya. menatap Jijik pada si Jarong juga Bewok, lalu berkata."Dasar Bod*h kalian.. mengapa hanya dengan Seorang Bocah saja kalian bisa kalah heh? apa mau beralasan Bocah itu hebat, sakti, dan tak tertandingi." kata Singa Maruta yang terlihat marah pada mereka berdua.


"A..mpun Raden, sa..ya sudah ber,usaha tata.." ucapan Jarong terputus, oleh omongan Singa Maruta.


"aaahk.. aku sudah tak Sudi mendengar Alasan kalian berdua, yang tak becus melaksanakan tugas. dan mulai sekarang kalian berdua aku Hukum!!" mendengar Singa Maruta berucap seperti itu, langsung bersujud di bawah Kakinya Singa Maruta. Namun sudah tak di hiraukannya lagi,


Singa Maruta menendang mereka sedang bersuju memohon, pada Singa Maruta yang akan menghukumnya itu. namun Singa Maruta adalah Seseorang yang keras Hatinya, Tetap akan menghukum mereka berdua. dengan Hukuman yang setimpal, yaitu di simpan dalam kerangkeng.


juga di kediaman Kampak Merah pun sama, di waktu Siang hari. Untari dan Karsa sedang menghadap Ratna Anjani, dan mereka melaporkan usahanya. karena ada Seorang Bocah yang menggagalkan Rencananya,


"aku tidak mau tahu dengan seribu alasan dari kalian, termasuk kamu Untari! bukankah aku sudah meminjamkanmu Gada Trisula milikku. mengapa kau dapat di lumpuhkan oleh Seorang Bocah Hem?" tanya Ratna Anjani, di tujukan pada Untari.


"mohon maafkan kami Raka, aku juga tidak tahu. karena Gerakan yang di lakukan oleh Bocah itu. di luar dugaan kami Raka," jawaban dari Untari, membuat Ratna Anjani malah mengepalkan tangannya.


"aku tidak abis Fikir sama kalian berdua, tak bisa menggunakan Senjata dengan baik. alias Beg*, pake otak dong hem. jangan mengandalkan jurus doang, buktinya kalian malah yang kalah. ahhk, memalukan." kata Ratna Anjani, semakin marah. karena merasa Gagal untuk mengambil apa yang dia mau. yaitu Pedang Kayu Cendana, yang berada di Padepokan Girilayang.

__ADS_1


Karsa pun menyembahkan kedua tangannya, memohon Maaf pada Ratna Anjani. agar tak di hukum." Nyimas Anjani, tolong maafkan ke teledoran saya Nyimas. dan saya akan melatihnya kembali," kata Karsa memohon.


"kalian semua terlambat, dengan terpaksa kalian aku maafkan hanya kali ini saja. tapi kalau saja melakukan ke Gagalan lagi, maafkan aku Rayi. jika aku menghukum Kalian berdua, mengerti?" tanya Ratna Anjani sambil mengancam,


__ADS_2