JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 04.


__ADS_3

"baik Raka apa pun yang Raka Tugaskan untukku, aku pasti akan mengerjakan sesuai kemampuanku." kata Untari,


"bagus, aku percaya pada ke mampuanmu Untari. dan Tugasku tentunya sesuai dengan kemampuanmu, aku ingin memberikan tugas merebut Pedang Kayu Cendana. dari Seseorang Kiyai di Padepokan Girilayang," ucap Ratna Anjani pada Adiknya.


"waah kalau soal itu, izinkan aku untuk memikirkannya Raka. karena menurut keterangan, Pedepokan Girilayang semua para Muridnya pun licin bagaikan Belut. sulit untuk di terjang oleh senjata apa pun," keluh Untari.


"kamu tak usah khawatir, aku akan meminjamkan Pusaka simpenanku yaitu. Gada Trisula, yang nanti malam aku akan mengambilnya. di Daerah Gunung Saga," usul dari Ratna Anjani.


"baik saya akan mencobanya, untuk tetap tenang untuk memasuki Padepokan itu Raka," ucap Untari.


"baiklah kalau begitu, aku tak bisa berlama lama di sini. karena Rama di Rumah tak ada yang menemani, aku pergi dulu." kata Ratna Anjani, sambil menaiki Kudanya kembali.


lalu Ratna Anjani menari kadali Kudanya, Meninggalkan tempat Untari. karena Untari di beri kepercayaan oleh Ratna Anjani, untuk mengurus Karaman Rampok Kampak Merah. dan Ilmu Silat Untari pun sudah cukup lumayan Mumpuni, semua Jawara sudah mengenalinya. termasuk Singa Maruta, Ketua Karaman Macan Edan.


Singa Maruta saat ini, telah menggabungkan dirinya pada Perguruan Sanca Dawuk. Perguruan yang sudah terkenal Mahir dalam Silat dan Tata gerak yang sangat langka ia temukan, Sanca Dawuk memang Awalnya benci yang Namanya Karaman. apa lagi yang suka memberontak di tiap Daerah, tetapi dengan Janji Manis yang Singa Maruta katakan pada Sanca Dawuk. membuat Sanca Dawuk tertarik, yaitu akan menghadiahkan Pedang Kayu Cendana. untuk Sanca Dawuk,


lalu Akhirnya Sanca Dawuk dengan mudah mempercayai Singa Maruta, untuk Gabung dengan Perguruannya. Sanca Dawuk sedang mengadakan Perkumpulan di dalam Sanggarnya.


Sanca Dawuk yang sedang Duduk di Kursi Khususnya, lalu berkata." para Pemuda dan Para Murid Setiaku, saya sebagai Guru dari Perguruan ini. telah membawa Murid baru, dari Daerah Alas Waringin, yaitu ketua Karaman Macan Edan, bukan begitu Maruta?" tanya Sanca Dawuk pada Singa Maruta. yang sedang Duduk di bawah Kursi yang di Duduki oleh Sanca Dawuk.


"ehmm, betul Ki Guru. saya akan sebisa mungkin berbakti diri pada Ki Guru. dan selanjutnya ingin belajar Ilmu lagi dari Ki Guru," kata Singa Maruta, sambil menyembah Hormat.


"hahaha.. Bagus, bagus. justru itulah yang saya cari, Murid yang Benar benar Patuh terhadap Gurunya. tak ingkar dengan Janjinya," kata Sanca Dawuk, seolah mengingatkan Singa Maruta. yang berjanji akan memberikan Pedang Kayu Cendana.

__ADS_1


"tentu saja Ki Guru, saya takkan lupa pada Janji janji saya pada Ki Guru." ucap Singa Maruta agak Bingung, karena sampai detik ini. para Anak Buahnya belum menemukan dimana Pedang Kayu Cendana itu berada. karena Singa Maruta yakin, bahwa Pedang Kayu Cendana itu ada di tangan Marta atau Langkara, begitu dalam Fikirnya Singa Maruta saat ini.


sedangkan keadaan di Padepokan Girilayang, pas memasuki waktu Sore. para Murid Kiyai Hasbullah. sudah berkumpul di Bale Sewakan, yaitu tempat mereka mendengarkan Wejangan dari lisan Kiyai Hasbullah.


sedangkan si Petir saat itu masih bermain di kandang Ayam, bersama si Jago. Nama Ayam Piaraannya. Kang bardi mencari keberadaan si Petir sudah kemana mana, tahunya ia sedang bermain dengan si Jago.


"aduuh Tir.. Tir, Emang Nyari kamu kemana mana tahunya kamu masih di sini!" seru Kang Bardi, saat menemukan si Petir, yang sedang menggendong Ayamnya.


"aduhh kasian ya Mang hehe.. emangnya ada apa sih Mang?" tanya si Petir,


"eehh ko malah nanya si Tir, kata Abah kamu harus ikut kumpulan di Bale Sewakan Tir." jawab Kang Bardi,


"ooh.. aahh nggak mau ah, bilangin saja aku lagi males Mang hehehe," ucap si Petir lurus dan ketus,


"Go.. tuh lihat ada yang gangguin kita yang lagi enak bermain nih!" seru si Petir malah ngomong sama Ayamnya,


dan Kang Bardi pun sudah merasa kesal dengan tingkah si Petir yang sudah kebiasaan nggak pernah menanggapi omongan Orang, lalu Kang Bardi pun terpaksa, balik lagi ke Bale Sewakan. menemui Kiyai Hasbullah,


sesampainya di Bale Sewakan, Kang Bardi kaget. ternyata si Petir sudah ada bersila di barisan depan di dalam Bale Sewakan itu.


Kang Bardi baru sadar kalau, si Petir ternyata sudah berhasil sebagian Ilmunya Kiyai Hasbullah. lalu Kang Bardi pun segera Duduk bersila di barisan belakang, sambil menatap ke depan mendengarkan Wejangan Kiyai Hasbullah.


"Assalamualaikum warahmatullahi Wabaro kaatuh..." ucap salam pembuka Wejangan sudah di Ucapkan oleh Kiyai Hasbullah.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam Warahmatullahi Wabaro kaatuh.!" seru mereka yang sedang Duduk bersila di Bale Sewakan, menjawab Salam bersama sama.


"Alhamdulillaah.. di dalam waktu yang singkat ini, kita masih di berikan ke sempatan untuk berkumpul seperti biasa di Bale Sewakan ini, tiada lain untuk memberikan sebuah Wejangan yang pernah di Ajarkan oleh Guru saya, dan akan menyampaikannya pada kalian. dan mohon maaf jika ada ucapan yang tak mengenakan perasaan kalian ya," kata Kiyai Hasbullah.


"iyaa Kiyai.." seru mereka semuanya,


"Alhamdulillaah.. baiklah saya akan membahas, kalimat Dusta, kata Dusta itu adalah kalimat yang di benci oleh Alloh, di antaranya berbohong, ingkar janji, dan sering mengadu Dombakan sesama Manusia. untuk kita yang sudah tahu bahwa itu, di benci oleh Sesembahan kita. yaitu Alloh SWT, maka belajarlah dari sekarang untuk menjauhinya. apa lagi bermalas malasan," ucap Kiyai Hasbullah, sambil menatap Si Petir. yang tak tahan mengantuk.


"khookk... khok," si Petir malah ngorok,


"Tir.. hey, bangun.." ucap Kiyai Hasbullah membangunkan Petir,


lalu si Petir pun membuka matanya buru buru.." aduh maaf Bah soalnya saya ngantuk banget nih," kata si Petir sambil mengunyah ngunyah mulut kosongnya.


pas si Petir mau melanjutkan tidurnya lagi, Kiyai Hasbullah mencubit pipinya. dan dengan terpaksa si Petir pun terbangun lagi,


"Petir, dengerin Abah. jangan kebiasaan Ngantuk atau pun Tidur di Sore hari, karena itu adalah umpannya bangsa Jin atau pun Setan. cepat bangun," ucap Kiyai Hasbullah menasehati Anak Angkatnya itu.


dan si Petir pun berusaha menahan rasa kantuknya kembali, dan dengan melihat si Petir Akhirnya maun melawan rasa Kantuknya itu, Kiyai Hasbullah hanya tersenyum tipis. melihat ke lucuan Anak Angkatnya itu.


seusai beres memberi Wejangannya, Kiyai Hasbullah melangkah menuju Rumahnya. dan mencari keberadaan Anak Angkatnya itu, yaitu si Petir.


sedangkan si Petir yang di cari Kiyai Hasbullah, sedang melatih Indra ke enamnya,

__ADS_1


__ADS_2