
Lodaya tak tinggal diam, semua tenaga lapisan dari Tata Geraknya itu. semakin di tingkatkan lagi,
tapi bagi si Cadar Coklat itu, tak dapat mempengaruhinya. tetap saja dia berusaha bertarung secara tenang, dengan penuh percaya diri.
Cakaran Cakaran dari tangan Lodaya terus berusaha agar bisa mengenai kulit si Cadar Coklat itu. tapi tetap saja belum mampuh, hingga akhirnya si Cadar Coklat bisa memukul duluan pada bagian pergelangan tangan Lodaya,
"tek dess!!
Lodaya kaget, dengan gerakan tak terlihat si Cadar Coklat itu, Tahu tahu sudah memukul Pergelangan tangannya. Lodaya pun mundur sementara, dan mengatur Nafasnya.
"Ilmu Silatnya tak bisa di anggap enteng, siapa sebenarnya Orang bertopeng ini!" seru Lodaya dalam hatinya.
"Hohoo.. kenapa malah diam hah? cape ya? hooho," tanya si Cadar Coklat yang seakan meledeknya.
"hey kau, jangan merasa puas dulu ya. itu belum seberapa, kau harus merasakan ini," jawab Lodaya sambil membentangkan jurus Harimau pemangsa, dari telapak tangannya mengeluarkan gumpalan Angin dan Api. lalu di pentangkan pada musuh,
si Cadar Coklat sudah paham apa yang akan terjadi pada dirinya, dengan tenaga dalamnya yang hanya setengah bagian. ia menghadangnya dengan jurus tapak Naga,
Cahaya Kuning beradu dengan Gulungan antara Api dan Angin. yang Akhirnya beradu di Udara, Lodaya terpental ke belakang seperti Layang layang putus Benangnya,
gedebug!
Lodaya jatuh dan sudah mulai terasa lemah, Singa Maruta yang hanya menyaksikan si Cadar Coklat menggulungkan jurus Tapak Naga itulah. mengingat dirinya pada Ki Langkir, saat Bertarung melawan dirinya. akhirnya dia tahu bahwa lawan tersebut tak seimbang dengannya,
"para kawan kawan.. ayo kita Bubar!!" seru Singa Maruta pada Kawan kawannya, setelah memerintahkan Kawan kawannya untuk membubarkan dirinya Masing masing. Singa Maruta menghampiri Lodaya yang sedang terbaring di tanah.
"ahh.. Lodaya kau tak Apa apa?" tanya Singa Maruta dengan Posisi Jongkok.
"A..ku tak bisa ber,tahan la..gi," jawab Lodaya dan langsung pingsan.
Singa Maruta pun membopong badan Lodaya, dan menghilang seperti di telan Angin. lalu sudah tiba di kediamannya,
sedangkan si Cadar Coklat pun sama, segera meloncatkan tubuhnya lalu menghilang juga. semua pasti penasaran siapa yang topeng bercadar Coklat itu, karena ke mampuannya pun sama percis dengan Gerakan Ki Langkir.
__ADS_1
kita ceritakan si Petir, yang baru saja sampai di pemukiman Alas Mengker. si Petir dengan dua Orang lainnya, sedang bermalam dulu di sala satu penghuni kampung Panembong. yang terletak di Desa Alas Mengker,
yang punya Rumah sangat Bahagia, karena ke datangan tamu dari Padepokan Girilayang. ternyata yang punya Rumah itu adalah Seseorang yang sering di tolong oleh Kiyai Hasbullah.
"aduh betapa senangnya kami sekeluarga Ki Sanak, ternyata kami telah kedatangan tamu Istimewa. bukan begitu kan Nyai?" tanya Jahri pada Istrinya,
"iya betul Kang, saya juga tak menyangka banget. bakal kedatangan tamu dari Padepokan Girilayang," jawab Esih Istrinya Jahri. pemilik Rumah yang di tempati Petir dan dua Orang lainnya,
"hehe.. ahh Biasa biasa saja atuh Kang, lagian kan kami teh bukan Tamu dari kerajaan atuh," ucap Kang Bardi,
"iya betul Paman, Bibi, jangan sungkan gitu atuh Paman. da kami mah sekedar ikut mondok saja," kata si Petir.
"iya betul Bibi, Paman. mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu Istirahat kalian," sambung Marta.
"ahh nggk ko Aden, tenang saja sama saya mah. lagian sudah deket ini, paling besok siang juga kalian pasti sampai," ucap Jahri.
"mau pada Makan dulu atuh Aden Aden? da masih ada Nasi mah?" tanya Esih menawarkan Makan pada mereka bertiga,
"tak usah ah Bi, lagian kami mah masih kenyang, bukan begitu kan Tir?" tanya Kang Bardi pada si Petir,
"oh begitu, mari saya antar ke Kamar Khusus tamu Aden," ucap Jahri. sambil mengajak mereka untuk melihat Kamar untuk mengistirahatannya.
Jahri berjalan lebih dulu, lalu di Ikuti oleh Petir, Bardi juga Marta. setelah sampai di dalam Kamar Khususnya, mereka pun di persilahkan untuk beristirahat terlebih dulu.
lalu Jahri seusai menunjukkan kamar untuk mereka pun, lalu keluar meninggalkan mereka bertiga. setelah si Petir akan Duduk di Ranjang yang terbuat dari kayu jati itu, Tiba tiba ia merasakan langkah Kaki Seseorang di luar Rumah ini.
"ssst.. ada Seseorang di luar sana Mang, Paman ." kata si Petir,
"ahh kamu mungkin salah dengar kali Tir," ucap Kang Bardi.
"tapi apa salahnya kalau kita lihat Mang," sambung Marta.
"jangan dulu, ini Orang punya ke Kuatan lumayan Tinggi Paman," ucap si Petir lirih.
__ADS_1
"aduhh kasihan dong, yang punya Rumah akan di sergap oleh mereka Tir." kata Kang Bardi,
"tapi maaf menurut saya, kita mesti tenang dulu Tir, Mang. sepertinya Seseorang itu bukan untuk menyergap yang punya Rumah ini." ucap Marta,
"betul firasatku pun begitu paman." kata si Petir,
"terus dia mau ngapain dong?" tanya Bardi penasaran,
"mereka mengikuti kita Mang." jawab si Petir,
"benar aku pun merasakan hal yang sama Tir," kata Marta.
Bardi pun setelah mendengar keterangan dari mereka berdua, ia pun segera mengatur sikapnya jadi lebih waspada.
si Petir Tiba tiba keluar tanpa menimbulkan suara. karena Ilmu peringan Badan yang sudah cukup lumayan tinggi, setelah si Petir sampai di luar. jalan Pintu Belakang Rumah Jahri dan Esih, Akhirnya si Petir dapat melihat jelas Seseorang itu adalah Karaman Rampok Kampak Merah.
Marta pun sudah bersiaga di pintu masuk jalan depan Rumah, karena berkeyakinan pasti mereka bakal masuk lewat Pintu tersebut.
sedangkan Bardi, dia berjaga di Jendela Ruang Tengah. kala musuh lewat sini ia Bisa menghadangnya segera.
semua anggota Karaman Kampak Merah yang Jumlahnya sembilan Orang itu sudah berjajar di depan Rumah Jahri, dan Esih. Tiba tiba perwakilan ketua Karaman memberikan Isyarat agar mereka menyebar.
mereka pun menyebar, dan ada pula yang mendampingi Perwakilan ketuanya itu. tapi si Petir sangat tenang hanya memperhatikannya terlebih dulu, tapi si Petir mengerti ia harus melakukan apa terlebih dulu.
si Petir loncat berpindah tempat, menjadi di atas Pohon, tepatnya di atas ketiga Orang kawanan Perampok Kampak Merah itu.
"sudah saatnya kita gertak Rumah itu," kata perwakilan ketua itu.
kedua Orang Kawanannya pun hanya memanggut mengerti, lalu berpencar. tapi baru saja akan melangkah, dengan sangat cepat dan kilat. si Petir Tahu tahu sudah berada di depan pintu.
mereka pun tercengang kaget, Dan menghentikan langkahnya. lalu saling Tatap dengan temannya itu,
"tunggu apa lagi Serang!" seru perwakilan ketua itu,
__ADS_1
Kampak merah sudah di pesatkan, dan