
"hehehe, iya Paman Sepuh. justru saya juga nggak ngerti awalnya, Tiba tiba saya nggak ngerasain semenjak di Terjang oleh Paman Marta Paman Sepuh." kata si Petir,
"hehehe... ya baguslah akhirnya hutang Paman sudah terlunaskan Tir, karena Usia Paman sudah beransur Kepala Lima. karena Mati tak tahu kapan datangnya, maka dari itu Paman menyuruh Paman Marta untuk menjemputmu Tir." ucap Ki Langkara sambil tersenyum senang,
"iya benar Tir, karena di Usia Remaja sepertimu ini pasti bisa sangat cepat Paham semua Gerakan." sahut Marta,
"hehehe.. ya saya mah bersyukur saja Paman, karena yang saya harapkan bisa jadi ke nyataan begitu sangat cepat hehehe..." seru si Petir antusias,
Bulan Purnama sudah mulai menerangi Alam dan seisinya, karena waktu sudah mulai berganti. Teriknya Matahari yang tadi menyinari sudah tergantikan oleh datangnya Rembulan, saat itu di Bale Sewakan. sedang mengadakan acara Syukuran, karena Gayatri telah mengandung.
betapa Gembiranya Kiyai Hasbullah, saat mendengar dari Nek Annah. seorang Dukun Beranak, kalau Gayatri sudah mengandung jalan Empat Bulan. maka dari itu Kiyai Hasbullah mengadakan Syukuran,
tapi saat Kiyai Hasbullah sedang memberi Wejangan pada para Santrinya, ada Empat Bola Mata sedang memperhatikan Kiyai Hasbullah dan yang lainnya. dan Empat Bola Mata itu tentunya sudah memperhatikannya dari tadi,
ternyata Telik Sandi dari Karaman Kampak Merah, di tugaskan oleh Danuarta dan Ratna Anjani untuk melihat situasi di Padepokan Girilayang. saat berhasil mendapatkan keterangan Dua Orang itu segera meninggalkan Pelataran luar Padepokan itu,
sesampainya di tempat Ratna Anjani. Telik Sandi segera melaporkannya pada Danuarta dan Ratna Anjani, yang kebetulan sedang mengobrol di tengah Rumahnya. yang terbuat dari Bambu itu, namun Ruangannya cukup luas. mampuh menampung Beberapa Orang Anggota Karaman.
"jadi begitu Nyai, Tuan, ternyata Istrinya Kiyai itu sedang Hamil Nyai. dan yang saya Dengar Usia kehamilannya itu sudah Empat Bulan Nyai, Tuan." kata keresa, sala satu Telik Sandi khusus.
__ADS_1
"bagus Kerja kalian Benar benar Rapih, tak ketahuan oleh Bocah Edan itu." seru Nyai Ratna Anjani Geram,
"Hahaha.. ini kesempatanku untuk memainkan Ajian Santet Kalajengking Ireng, gimana mereka akan merasakan Rasa Sakit yang luar biasa." ucap Danuarta sambil mengempalkan telapak tangannya,
Malam semakin Sunyi, hanya hembusan Angin yang terasa dan terdengar. di kediaman Karaman Kampak Merah, Danuarta sudah Duduk bersila sambil berkomat kamit dari mulutnya. Danuarta akan Mementangkan Ajian Kalajengking Ireng, yang di sebut Santet terampuh.
lalu di Kamar Kiyai Hasbullah saat itu mendadak kepulasan, dia lupa sembahyang Malam. begitu pun Gayatri tertidur dengan sangat Pulas, Angin semakin kencang di luar Kamarnya.
Danuarta segera mengambil Peti Ukuran Lima Puluh Centi meter, dan di simpan di temat Duduknya barusan. Danuarta pun lalu membuka Peti itu, di dalamnya ada Boneka yang terbuat dari Jerami. lalu menyimpan Boneka itu di bawah Peti, dan membawa Petinya untuk di simpan pada tempanya kembali. seusai menyimpan Petinya, Danuarta kembali Duduk bersila. sambil memejamkan kedua Matanya, lalu merapal Mantra khususnya. sambil tangan kirinya mengepal Boneka Jerami itu,
seusai merapal Mantranya Danuarta mulai membuka kedua Matanya, lalu mengambil Air di dalam Baskom yang terbuat dari Kendi. lalu Danuarta menggigit telunjuknya hingga keluar Darah, Darah itu di Teteskan Baskom yang berisi Air tersebut. ternyata jelas terlihat Kiyai Hasbullah dan Gayatri sedang tertidur Pulas,
Duarta memendang Perut Boneka Jerami itu, Boneka itu Tiba tiba bergetar. Pelan, pelan, dan semakin kencang.. Danuarta pun meniup Boneka itu hingga terhenti seketika, lalu mengambil Paku Ukur lima Cm. dan di tusukan pada Perut Jerami itu,
Gayatri yang sedang tertidur pulas menjadi terbangun, dan menggelinjang ke sakitan di bagian Perutnya. "aduuh.. Bah, tolongin aku Bah, ko tiba tiba Perutku sakit begini sih." keluh Gayatri pada Kiyai Hasbullah yang baru membuka Matanya,
"Masyaa Alloh. aku juga mendadak kepulasan, ada apa ini," sahut Kiyai Hasbullah sambil mengira ngira.
"Bah, ko Perutku jadi Buncit Bah." keluh Gayatri lagi sambil meringis ke Sakitan, di bagian Perutnya yang mendadak Buncit.
__ADS_1
"Masyaa Alloh.. ini pekerjaan Orang Gayatri, tunggu aku akan Berwudhu dulu. dan membangunkan yang lainnya," kata Kiyai Hasbullah. sambil menyalakan Cempornya, dan melangkah keluar untuk pergi Berwudhu.
sedangkan Gayatri masih merasakan sakit bagian Perutnya yang mulai membesar, seperti Hamil Sembilan Bulan. saking Gayatri tak bisa menahan Rasa Sakitnya, iya pun membuka kembennya. dan terlihat jelas Perutnya membesar, lalu Gayatri menutup Perutnya lagi dengan kembennya asal.
"Aduuh Sakittt..!! Bah cepetan Bah!!" seru Gayatri sambil berteriak, tak lama kemudian Kiyai Hasbullah dan para Santri pun datang melihat Gayatri. yang seperti ke Surupan, karena sudah tak kuat dengan Rasa Sakitnya itu,
Kiyai Hasbullah Tetap tenang, dan mencoba Mementangkan ke Kuatannya. keluar Cahaya Putih dari telapak tangan Kiyai Hasbullah, di tujukan pada Perutnya Gayatri. yang kini kian membesar, "ciuuhhh.. ciuuuh.." tenaga dalam Kiyai Hasbullah sudah mulai masuk ke dalam Perut Gayatri,
"cepat kalian bantu saya untuk membaca Ayat Kursi!" seru Kiyai Hasbullah, sambil memerintah pada Santrinya.
para Santrinya pun mulai sudah ramai membacakan Surat Ayat Kursinya, lalu Kiyai Hasbullan mengkombinasikan ke kuatannya dengan Ilmu pancer manunggali Alam. Cahaya Putih itu jadi Warna ke Unguan, dan bertambah Tinggi daya ke Kuatannya. karena Ilmu itu adalah hubungan antara manusia dan Alam, "Lahaula Walaquwwata Illabilahi.. !! Allohu Akbar!!" seru Kiyai Hasbullah sambil agak teriak,
wung wung..!! suara Ilmu Kiyai Hasbullah sudah berhasil menyempurnakan Jasad dan Jiwa Gayatri, hingga ke Kuatan Danuarta terpental ke Udara. dengan berupa Cahaya Api Warna Hitam, dan melesat melalui Atap kamar Gayatri dan Kiyai Hasbullah.
wushh..!! suara itu berbarengan dengan Cahaya Hitam itu pergi," Alhamdulillaah...!" seru Kiyai Hasbullah, mengucap Hamdalah. yang di ikuti oleh para Santrinya. karena Gayatri sudah berhasil di selamatkan,
Gayatri pun langsung merasa lemas tak bertenaga, dan pingsan. Kiyai Hasbullah segera menekan Urat urat tertentu yang di bagian tubuh Gayatri. setelah tercek oleh Kiyai Hasbullah, ternyata Gayatri hanya ke capean. karena baru saja sudah perang melawan Rasa Sakit yang dia Rasakan.
sedangkan di kediaman Danuarta, yang masih Duduk bersila. dengan kedua Matanya masih terpejam, Tiba tiba ada suara Jendela Kamar sekaligus Ruangan Khususnya. di tabrak oleh ke kuatan yang telah di Pentangkan olehnya tadi, dan malah berbalik menyerang Danuarta.
__ADS_1
Danuarta membuka kedua Matanya yang terpejam itu, karena merasa kaget saat Jendela Kamarnya ada yang Nabrak. dan yang Nabrak itu adalah ke Kuatannya sendiri, lalu berbalik menyerang Tubuhnya Danuarta.