
Akhirnya Mustika Ular pun sudah bisa di Rampas oleh Ki Rungkup Bumi, melalui pelantara si Singa Maruta yang mengambilnya. karena melihat kondisi Ki Sanca terbaring lemah, Singa Maruta pun berhasil mengambil Mustika itu.
di pagi harinya, Ki Sanca pun tersadar dari pingsannya waktu semalam. Ki Sanca menengok kanan dan kiri, banyak Pepohonan. ia pun baru sadar ke jadian waktu semalam saat ia bertarung melawan Ki Rungkup Bumi, Ki Sanca memegang kepalanya yang masih terasa pusing. saat ia menyadari sesuatu yang waktu semalam ia Genggam, ternyata sudah tidak ada.
"oh Dewa, ternyata Mustika miliku hilang. ah ini gawat, pasti leluhur Ular akan menghukumku. maafkan ke cerobohanku Dewa!!" seru Ki Sanca saat menyadari Mustika yang ia Simpan, kini telah hilang. di rampas oleh musuh.
sedangkan di tempat lain, Ganitri sedang berjalan Kaki. sambil mencari keberadaan Danuarta, Ganitri pun akhirnya memasuki wilayah Alas Mengker. para Warga semuanya pada ke Takutan, saat Ganitri melangkah menuju perkampungan ci Haur. tak jauh dari pembatas Desa, Ganitri menatap Seseorang yang sedang menarik Kuda. karena baru saja di mandiin di kali Cihaur, Ganitri pun mendekati Pria yang membawa Kuda itu.
"tunggu Ki Sanak, sepertinya Kudamu lumayan Bagus juga. bagaimana kalau Kudamu itu di serahkan padaku," kata Ganitri pada Seseorang yang menarik Kuda itu.
"Enak saja, jangan asal bicara ya. kau Fikir aku takut sama Wanita sepertimu Hem, walaupun di belakangmu kau membawa Pedang. aku tidak takut untuk menghadapimu," ucap Seseorang yang membawa Kuda itu.
koek cih! keparat berani sekali kau berucap seperti itu. belum ngerasain di Tampar Wanita ya hem?" kata Ganitri, sambil maju selangkah.
Seseorang yang membawa Kuda itu sudah bersiaga rupanya, ia pun sama maju sedikit kedepan. "coba saja kalau bisa," ucap Seseorang Pria itu menangtang.
"oh, jadi kamu beneran mau aku Tampar. baik Rasakan ini!" seru Ganitri menyerang terlebih dulu,
ternya Seorang Pria itu menjadi Sabil. saat melihat gerakan Ganitri di luar dugaannya, sehingga semua terjangan dan pukulan Ganitri tak dapat di hindari apa lagi di tepisnya. yang Akhirnya Ganitri pun berhasil memasukan serangannya pada perut Pria itu.
__ADS_1
tapi saat Pria itu akan rubuh sambil terdorong kebelakang, dari ke jauhan ada Dua pria juga. yang satu sudah lumayan berumur, yang satunya lagi masih Bocah. ternyata Kang Bardi dan si Petir, yang tak sengaja melewati tempat pertarungan itu. si Petir pun melihat gerakan yang di gunakan oleh Ganitri memang sangat membahayakan Pria yang sedang merasa lemah itu. akibat terkena Pukulan Ganitri barusan,
si Petir langsung loncat. dan menghadang Ganitri. yang akan melakukan Tindakan menindas musuh yang sudah lemah, Ganitri jadi terdorong kebelakang. akibat terkena terjangan si Petir, karena menggagalkan serangan Ganitri terhadap Pria itu.
"Kurang Ajar, ternyata cuma Bocah. berani sekali kau menggagalkan rencanaku ya," kata Ganitri. yang sangat terlihat kaget dengan gerakan si Petir, sebab gerakan yang di lakukan oleh si Petir. tak menimbulkan suara Tiba tiba datang menghadang Ganitri,
"hahaha.. Bibi ini gimana sih, sudah tahu orang ini sudah lemah. Bibi malah mau membinasakannya," ucapan si Petir. rupanya dapat menyinggung Ganitri,
"hey Bocah. jangan berani kau campuri urusanku, lagian jangan Sesekali panggil aku dengan sebutan Bibi. karena aku merasa belum pernah menikahi Pamanmu," kata Ganitri.
"hehe, yee gitu saja marah.. terus aku harus panggil apaan dong?" tanya si Petir, tapi bagi Ganitri. pertanyaan si Petir berasa seperti meledeknya, maka dari itu Ganitri langsung mau menangkap tubuh si Petir.
"rupanya Bocah ini yang di ceritakan oleh Danuarta kepadaku. apakah yang Bocah itu bawa beneran Pedang Kayu Cendana?" pertanyaan Ganitri dalam hatinya.
"Eleuh eleuh.. ternyata si Kamu malah melamun gitu hem, gimana ini teh mau di lanjutin lagi tidak?" tanya si Petir, dan mengagetkan Ganitri.
"Bocah Sialan! berani sekali kau menangtangku Bocah, aku akan meladenimu hiyaat!!" seru Ganitri yang mulai kembali menyerang lagi si Petir,
tapi si Petir sudah matang dari semua ke waspadaannya terhadap musuh, sehingga si Petir dengan mudahnya menghindari gerakkan lawan. tapi si Petir juga memang agak kaget, karena gerakan yang di miliki lawan ternyata mengandung hawa Dingin. si Petir rupanya sudah mengerti, karena lawan yang sedang ia hadapi bukan lawan sembarangan. dengan jurus peringan Badan yang sudah mahir, si Petir tak bisa terkena serangan lawan sedikit pun juga.
__ADS_1
Ganitri sudah merasa Geram rupanya, karena semua jurusnya tak bisa mengimbangi gerakkan lawannya. Ganitri pun langsung mundur dulu kebelakang, dan mengatur Nafasnya. dengan terpaksa Ganitri mengeluarkan Ilmu Mande Hiyang.
Kang Bardi yang sedang menyaksikan Pertarungan si Petir melawan Ganitri si Pedang Setan, merasa sabil karena takut si Petir kalah tarung dengan Ganitri.
Ganitri sudah mulai mengumpulkan tenaga dalamnya di salurkan pada dua telapak tangannya. dan terpancar Cahaya bergulung berwarna Biru Putih,. Cahaya itu membesar dari mulanya sebesar Bola kastik Sekarang malah bertambah besar.
si Petir pun terpaksa menggunakan Ilmu pamungkasnya, yaitu Ilmu pancer manunggali Alam. Ilmu pamungkas yang di Ajarkan oleh Kiyai Hasbullah, si Petir hanya memejamkan kedua Matanya saja. sambil di dalam hatinya memasrahkan diri pada yang maha Kuasa sepenuhnya, lalu Tiba tiba Tangan si Petir gerak sendiri.
saat Ilmu Mande Hiyang sudah di pentangkan oleh Ganitri, tujuannya pada si Petir. dan Gulungan Berwarna Biru Putih yang besar itu mulai mendekati si Petir, si Petir pun sama mengeluarkan Cahaya Berwarna Putih bersih. Besarnya melebihi kekuatan Mande Hiyang. saat kekuatan itu Beradu, terjadi Suara yang begitu Dahsyat kedengarannya.
Duaaar...
seuasa dua tenaga dalam itu beradu, Ganitri terdorong mundur lumayan agak jauh. lalu menghilang Meninggalkan tempat itu, tapi si Petir tetap berdiri kokoh. kedua telapak Kakinya masih lengket menginjak tanah, lalu si Petir pun membuka kedua Matanya perlahan. dan Tiba tiba Lututnya terasa lemas dan terjatuh posisi Duduk.
Kang Bardi pun berlari bersama Seseorang yang membawa kuda itu mendekati si Petir, Kang Bardi mulai panik lalu menghampiri si Petir.
"Tir kamu nggak Apa apakan?" tanya Kang Bardi Sambil posisi Duduk,
"iya Aden nggak Apa apa Den, saya mohon maaf ya Den. Gara gara nyelametin saya Aden jadi seperti ini," kata Seseorang Pria pembawa kuda itu. memelas pada si Petir,
__ADS_1
"tidak Apa apa Paman, ini sudah jadi ke wajibanku menolong sesama Manusia Paman." ucap si Petir,