JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 29.


__ADS_3

"ternyata si Petir cukup lumayan hebat, mampu menahan luka dalamnya. tapi apakah sudah ada Tabib yang mengobatinya Paman?" tanya Marta, di tujukan pada Kiyai Hasbullah.


"oh justru itu Nak Marta, saya sangat salut sama daya Tahan si Petir. yang mampuh menahan luka dalamnya, kalau soal Tabib belum ada yang datang kemari. cuma Kang Bardi sedang mencarikannya, yaitu Saudara saya yang kebetulan Seorang Tabib." jawab Kiyai Hasbullah, sambil menjelaskan.


"iya Kiyai maka dari itu juga, saya semakin Yakin kalau si Petir berhak mewarisi Ilmu Karang Nunggal dan Tapak Naga. nanti jika dia Dewasa," kata Ki Langkara. menyambung lidah,


"hehe.. ya Mudah mudahan si Petir semakin hari semakin bertambah kemampuannya, dan bisa menjadi JAWARA PILIH TANDING seperti Ayahnya." kata Kiyai Hasbullah,


"saya Yakin Ki. si Petir akan jadi Calon Jawara yang akan menggemparkan Jagat Persilatan, lihat saja nanti!" seru Marta sangat antusias,


sedangkan di tempat lain. Ganitri sedang Memamerkan Jurus Pedang Setannya, semua Pepohonan yang berjajaran di sana pada Tumbang. akibat terkena Angin samberan Pedang Setan yang di milikinya,


Jayadi Praja sangatlah kaget, karena tak menyangka kalau kemampuan Pedang Setan itu Benar benar ampuh. dan Jayadi Praja pun baru Pertama kali melihat Pedang sehebat itu,


saat Pedang Setan di Tebaskan pada Benda seperti Batu Besar, Jayadi Praja jadi semakin Kaget. karena Tebasan Pedang itu mampuh membelah Batu Besar itu menjadi Dua bagian,


Akhirnya Ganitri pun mengakhirinya, lalu memasukan Pedangnya kembali kedalam Serangkanya. dan menatap Jayadi Praja,


"bagaimana menurutmu Jaya, apakah kau percaya dengan kemampuan yang aku punya sekarang?" tanya Ganitri, sambil memperlihatkan tingkah Sombongnya.


"haha.. jagat Dewa Batara, sungguh luar biasa Ganitri. Ilmu dan senjata yang kau miliki sangat ampuh dan juga Mumpuni haha," jawab Jayadi Praja.


"hem, sekarang aku ingin melihat kemampuanmu. dan seperti apa Ilmu Tapak Delapan Dewa itu," tangtang Ganitri. karena penasaran dengan Ilmu yang di Miliki Jayadi Praja.


"hehe, baiklah aku akan memperlihatkannya. tapi hanya Dua jurus saja," kata Jayadi Praja.


lalu Jayadi Praja berdiri tegak, Fokus dan memejamkan kedua Matanya. dengan Posisi Tangan menyilang, Tiba tiba saja kedua Tangan yang sedang menyilang itu bergetar. Aliran listrik dan Cahaya berwarna Biru mulai melapisi tubuhnya, Angin sudah mulai kencang.

__ADS_1


"kombinasi Tapak Dewa Ruci, dan Dewa Wisnu..!!" seru Jayadi Praja, sambil membuka kedua Matanya. dengan Posisi kedua Tangannya rentang kedepan,


Tiba tiba Telapak kedua Tangannya jadi membesar, dan menghantam Pohon dan juga Batu. Tiga Pohon sekaligus Tumbang, dan Lima Batu hancur semuanya menjadi Abu.


Ganitri pun sangat Takjub, baru pertama kali dirinya melihat Jurus itu. pantas saja Nama Perguruannya pun Sopala Braja tunggal, ternyata punya Pukulan yang luar biasa.


"Hebat, sangat Hebat.. Ilmu dua Tapak Dewa juga sudah sangat Ampuh, kau adalah Saingan Dunya Persiapan juga." ucap Ganitri,


"puja Dewata Agung, ini semua hanya Titipan yang Maha Kuasa Ganitri. aku sama sekali tak mengakuinya," kata Jayadi Praja.


"sekarang Tingkah kamu pun bagaikan seorang Resi, apakah Berguru pada Seorang Resi?" tanya Ganitri.


"iya benar Ganitri, aku di Ajarkan Ilmu Oleh Resi Angga Lodra. dia adalah Sesepuh Perguruan Sopala Braja Tunggal," jayadi Praja menjelaskan.


"hem, pantesan saja tingkah berbeda seperti yang dulu. baiklah jangan di Bahas lagi, lebih baik kita bergabung saja. untuk mengusai Dunia Persilatan Jayadi," kata Ganitri.


"Bagus ternyata sangat tak susah mencari Teman untuk membantuku hehe..." kata Ganitri antusias,


sedangkan Danuarta sekarang sedang melatih gerakan baru pada Untari, supaya ia dapat mengalahkan si Petir itu. yaitu ia mengajarkan Gerakan Napak Sancang, jadi yang di utamakan dari Tata Gerak itu adalah kecepatan dan Peringan badan yang di sangat Mahir.


Untari akhirnya berhasil menguasai Gerakan itu, dan sudah lulus Uji Coba. Danuarta langsung mencoba menyerangnya dengan sebagian jurusnya,


Untari sudah sangat sigap menahan gerakkan Gurunya itu, sehingga tak memberi celah untuk serangan Gurunya. Danuarta terus menyerang dari berbagai Titik untuk mengenai tubuh Untari, ternyata Untari sudah bisa menghindarinya dengan cepat. menandakan Ilmu Tapak Sancang sudah di kuasai oleh dirinya,


"hehe.. bagus kau rupanya sudah mampuh mengusai menahan terjanganku Untari, tapi sedikit lagi kau akan bisa mengusai Dunia Persilatan." ucap Danuarta seusai bertarung dengan Untari,


"Terima kasih Guru. saya sangat senang sekali dengan Tata Gerak yang Guru berikan padaku," kata Untari, sambil memberi Hormat.

__ADS_1


"haha.. ya sudah sekarang kau boleh Istirahat sekarang," ucap Danuarta,


dan dengan rasa penuh ke senangan Untari Akhirnya kembali kedalam Rumahnya untuk beristirahat.


lalu Untari merebahkan tubuhnya di atas Ranjang Khususnya, dan Untari membayangkan jika dirinya bisa segera mengusai Dunia Persilatan secepatnya. supaya bisa mendekati Aji Basa Pamungkas, yang kini pergi meninggalkan dirinya.


dulu sebelum Untari masuk kedalam Dunia Persilatan, ia pernah menjalin Hubungan dengan Aji Basa Pamungkas. namun Cintanya kandas saat Huru hara terjadi, Karaman Kandang Weusi memporak porandakan Perkampungan Panembong. sehingga semua Rumah dan kedua Orang Tua Untari Tewas, tapi Untari dan Ratna Anjani berlari ke Hutan Pananjung. hingga bertemu dengan Danuarta, lalu di jadikan Muridnya.


saat Arah Mata Hari, sudah mulai naik ke atas. si Petir baru bisa membuka kedua Matanya, dan berkata pada Kiyai Hasbullah dan Gayatri. "A, Abah Ambu.. kenapa sampai saat ini kondisi Petir belum juga membaik ya?" tanya si Petir pada kedua Orang Tua Angkatnya,


"yang sabar Nak. mungkin Kang Bardi sedang di jalan," ucap Kiyai Hasbullah. berusaha untuk menenangkan perasaan si Petir,


"iya Tir, Ambu yakin pasti kamu segera cepat sembuh. sabar sedikit ya Nak," kata Gayatri. sambil mengusap Rambut si Petir.


tak lama kemudian, sala satu Santri datang menghadap Kiyai Hasbullah. "Assalamualaikum.. mohon Maaf Abah, Kang Bardi sudah sampai. sekarang sudah di Ruang Tengah," ucap Santri itu.


"Wa'alaikum.. oh Syukurlah kalau Kang Bardi sudah sampai kemari mah, sekarang dia dimana?" tanya Kiyai Hasbullah, pada sala satu Santrinya itu.


"iya Bah, dia sudah menunggu di Ruang Tengah Bah," jawab sala satu Santri itu.


"ya sudah Abah temui aja dulu sana, biar si Petir Ambu yang temenin." sambung Gayatri,


tak lama kemudian Kiyai Hasbullah dan Santri itu keluar dari dalam Kamar si Petir, yang kini hanya Gayatri yang menemaninya.


saat Kiyai Hasbullah sampai di Ruang Tengah, Kiyai Hasbullah mengerutkan Dahinya. karena Kang Bardi datangnya sendiri, karena Kiyai Hasbullah belum tahu kalau Syeckh Nurjaman sudah Wafat.


"Assalamualaikum Bah..?" ucap Salam Bardi,

__ADS_1


__ADS_2