
Rupanya Ki Rungkup Bumi sudah tahu siapa Seseorang yang sedang Mengintipnya itu. Ki Rungkup Bumi segera memasukan Pedangnya kedalam Serangkanya, lalu berdiri dan berkata.
"masuklah Maruta, jangan hanya mengintip saja," ucap Ki Rungkup Bumi, sekaligus mengagetkan Singa Maruta yang sedang mengintip di Balik Pintu itu.
"I..iya Guru," jawab Singa Maruta pendek, dan agak Gugup.
Singa Maruta membuka Pintu Ruangan Rahasia milik Gurunya itu, lalu mendekati Gurunya dan duduk nekuk di bawah Ki Rungkup Bumi.
"hahaha.. ternyata kau yang mengintip itu ya, dan pasti kau juga Penasaran dengan Pedang ini iyakan? hahaha.." kata Ki Rungkup Bumi, pada Singa Maruta,
"maafkan saya Guru. tadinya saya hanya sekedar lewat saja, tapi nggak tahu kenapa saya merasakan Tenaga atau Hawa Murni yang begitu Kuat di sini, nggak tahunya ada Guru di sini." jawab Singa Maruta, sambil menjelaskan.
"hahaha.. tenanglah Maruta kau jangan takut aku marah padamu, justru aku sengaja memancing kehadiranmu hahaha.." kata Ki Rungkup Bumi, sambil memperlihatkan Pedang Setannya.
Singa Maruta pun mengerutkan Dahinya, karena belum mengerti maksud Gurunya itu." maaf Guru, maksud Guru apa ya?" tanya Singa Maruta penasaran,
"Haha.. oh begitu, jadi begini Maruta bahwa aku akan menitipkan Pedang ini padamu Maruta. dan jadikanlah Titipanku ini ke kuatanmu untuk melawan Musuh musuhmu itu." jawaban dari Ki Rungkup Bumi, tentunya membuat Singa Maruta kaget bercampur dengan senang. karena Pedang Setan Peninggalan Ganitri, akan di Wariskan pada Singa Maruta.
Singa Maruta pun lalu menghayal kalau dirinya, mampuh membinasakan Keluarga Langkir dan semua yang Tunduk patuh pada Ki Langkir. lalu Singa Maruta berkuasa di Dunia Persilatan,
"hahaha.. belum Apa apa kau langsung membayangkan Pedang ini dan ke Saktiannya haha," ucapan Ki Rungkup Bumi. membuyarkan lamunan atau khayalan Singa Maruta,
"Ma..maafkan saya Gu, guru.. sebab sungguh tak percaya saya akan mewarisi itu Pedang Guru," kata Singa Maruta Gugup.
__ADS_1
"iyaa.. ya, kau jangan merasa jumawa dulu Maruta, karena ke Saktian Pedang ini. sulit untuk di sepelekan jika kau bisa Memegangnya aku percaya Padamu, namun kalau tak bisa berarti kau harus Bersemedi terlebih dahulu Hahaha.." kata Ki Rungkup Bumi, sambil Memesat Pedangnya lagi.
ke kuatan yang sangat kuat itu mulai terasa Panas bagi Singa Maruta, saat Pedang itu lepas dari Serangkanya. Cahaya Merah yang sangat Kuat menyelimuti Pedang itu, Singa Maruta sudah mulai terasa Sesak Nafasnya. akibat menahan ke Saktian yang di miliki oleh Pedang itu, yang Akhirnya tubuh Singa Maruta lemas dan menjatuhkan lututnya ke bawah. dan tengkurap jatuh,
"Hahaha.. apa aku bilang Maruta, ke Kuatanmu takkan mampuh menahan Aura ke Saktian Pedang Setan ini hem, Hahaha..!" seru Ki Rungkup Bumi sambil tertawa Puas,
Malam pun tiba, keadaan di Alas Waringin sementara terasa Aman dan tentram. semenjak Karaman Macan Edan dapat di taklukan oleh si Cadar Cokelat, sehingga belum ada yang berani mengacau di Desa itu.
sedangkan di Rumah Ki Langkara sedang ke datangan tamu, yaitu Kuwu Bandi untuk melaporkan keadaan perkampungan dan Desa sekarang mulai Aman dan tentram.
"Syukurlah Ki Kuwu, saya merasa sangat senang mendengarnya. dan tolong Ki Kuwu selalu melihat terus keadaan sekitar, takutnya ada Mata mata dari pihak Karaman." ucap Ki Langkara,
"iya Aki, saya pun merasa sangat Bahagia. melihat keadaan para Warga Alas Waringin menjadi Rahayu Aman dan Tentram Aki hehe.. baik saya akan terus memeriksa tiap siang dan Malam Aki. eeh kalau Den Marta kemana ya? ko saya nggak lihat?" tanya Ki Kuwu,
"iya saya juga berharap seperti itu Ki," kata Ki Kuwu.
"iya Ki Kuwu, oh iya barusan Ki Kuwu sempat menanyakan Marta ya. maaf saya lupa memberitahunya, Marta sedang saya utus untuk pergi ke Alas Mengker. untuk menjemput ke Ponakan saya, Putra Raka Langkir karena saya akan memberikan sesuatu padanya. begitu Ki Kuwu," kata Ki Langkar menjelaskan mengenai Marta.
kita Ceritakan keadaan di pemukiman Padepokan Girilayang di Pagi harinya, ketika Sang Surya sudah memancarkan Sinarnya di upuk Timur. para Santri dan yang lainnya sedang sibuk menyiapkan buat Sarapan Ambu Gayatri dan Kiyai Hasbullah, ada yang di suruh pergi ke Pasar oleh Kang Bardi. dan ada juga yang mencari Kayu Bakar ke Hutan, di kediaman Padepokan Girilayan sedang pada Sibuk semuanya. terkecuali si Petir karena saat itu dia sedang melatih Jurus Pedang Kayu Cendana,
si Petir sudah lumayan Mahir memainkan Gerakan Pedangnya, dan bisa mempercepat Gerakannya juga dengan sempurna. lalu bisa memotong Ranting Pohon dari jarak jauh, si Petir latihan main Pedangnya hingga waktu Siang hari.
Kang Bardi baru saja beres Memasaknya dan membawa Hidangan khusus ke Ruangan Kiyai Hasbullah juga Gayatri, setibanya di hadapan Kiyai Hasbullah Bardi berucap. "Assalamualaikum..?" tanya Bardi sambil berucap Salam,
__ADS_1
"Wa'alaikum Salam. mari masuk Kang" jawab salam dari Kiyai Hasbullah, yang di ikuti oleh Gayatri.
setelah itu Kang Bardi pun melangkah masuk ke Ruangan tersebut, lalu Duduk sambil menghidangkan Makananya. dari mulai Ikan Panggang, juga Lalab dan Sambel Khasnya.
"loh ko si Petir nggak ikut Kang?" tanya Gayatri pada Kang Bardi,
"oh.. memangnya si Petir kemana gitu Ambu? saya kira teh ada bersama Ambu dan Abah gitu," jawab Kang Bardi. sambil bertanya balik,
"justru nggak Kang, dari pagi hingga saat ini saya belum melihatnya Kang." jawab Gayatri,
"pasti si Petir sedang di belakang Kang, pastinya dia sedang berlatih mungkin." kata Kiyai Hasbullah, sambil mulai Mengalas Nasi.
"oh begitu rupanya, tunggu sebentar biar saya Susul dulu ya Abah, Ambu." ucap Kang Bardi sambil mulai berdiri,
setelah itu Kang Bardi melangkah keluar Ruangan, untuk menyusul si Petir. setelah Kang Bardi sampai di halaman belakang jelas, si Petir sedang Fokus Latihan. Kang Bardi tersenyum saat melihat si Petir latihan Main Pedang dengan semangat,
"sudah cukup Tir," sahut Kang Bardi sambil melangkah mendekati si Petir.
lalu si Petir pun menghentikan Gerakannya, dan mengatur Nafasnya kembali. " memangnya ada apa sih Mang?" tanya si Petir, sambil memasukan Pedang Kayu Cendananya ke dalam Serangkanya.
"hehehe, itu Abah sama Ambu memanggil Tir." jawab Kang Bardi singkat,
lalu si Petir pun melangkah mendahului Kang Bardi, Kang Bardi hanya Geleng geleng kepala sambil tersenyum. karena melihat tingkah si Petir yang semakin hari semakin Gagah saja.
__ADS_1