JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 08.


__ADS_3

"oh jadi Aden ini teh, dari Desa sebelah ya?" tanya si Mak Warung.


"iya Mak, saya sama Ponakan saya ini. ingin berkunjung ke Rumahnya Ki Langkir." jawab Kang Bardi, tentunya membuat si Mak Warung penasaran.


"oh begitu ya, memangnya teh mau ada keperluan apa gitu Aden?" tanya si Mak Warung,


"yaa sekedar mau Silatu Rahmi aja Mak," ucap Kang Bardi.


"memangnya teh apaan Silaturahmi teh Aden, Emak mah baru denger?" tanya si Mak Warung lagi.


"hehe.. kalau kata Guru saya mah, silatu Rahmi itu berkunjung Mak, ya maklumlah saya berdua ini muridnya Kiyai Hasbullah Mak." celetuk Kang Bardi lagi, membuat Mak Warung mengerutkan dahinya.


"oh berkunjung.. sebentar, Emak asa pernah mendengar Nama Kiyai Hasbullah itu teh. tapi tahu dari siapa ya.. Emak lupa lagi, tapi yang jelas. dia itu katanya dari Padepokan Girilayang ya?" tanya si Mak Warung.


"naah itu benar Mak, beliau itu. bukan hanya membuka Padepokan saja, tapi sekaligus mengajarkan Ilmu Agama Mak." jawab Kang Bardi, sambil meneguk Kopinya.


sedangkan si Petir, hanya menengok ke kanan dan juga ke kiri. karena Wilayah Alas Waringin itu, sangatlah sepi hening tak ada Penduduk yang berkeliaran.


"oh.. bagus atuh Den, kalau begitu mah. tapi kayaknya kalian ini beda ke Yakinan sama Emak ya?" tanya si Mak Warung.


"yaa Alhamdulillaah Mak, tapi menurut saya mah, walau pun beda ke Yakinan juga. kita mesti saling menghargai dan menghormati, karena walau pun beda Tata cara beribadahnya. tapi kita satu tujuan Mak, yaitu menyembah Sang Maha kuasa." kata Kang Bardi,


"iya betul Den, oh iya silahkan di abiskan kopinya Den." ucap si Mak Warung,


Kang Bardi hanya memanggut saja, mengiyakan perkataan si Mak Warung. yang menyuruh menghabiskan Kopinya barusan, lalu Kang Bardi melihat si Petir. sedang menghadap Pepohonan yang nampak rindang.


"kamu lihat apaan sih Tir, kayaknya serius banget." tanya Kang Bardi,


"itu tuh Mang, perkampungan sebelah sana. membuat saya penasaran deh Mang," jawab si Petir sambil menunjuk sebuah perkampungan yang sangat Sepi.

__ADS_1


"oh iya,ya. kayaknya sepi banget itu Kampung Tir?" tanya Kang Bardi.


"iya Den jelas pasti sepi, karena ia takut sama Karaman Macan Edan Den." ucap si Mak Warung, Membuat si Petir teringat akan ucapan Kiyai Hasbullah. Karaman Macan Edan itulah yang menyebabkan Orang Tuanya tewas.


"terus Nama Kampung itu, apa Mak?" tanya si Petir.


"oh kalau Nama Kampungna mah, Kampung Pamidangan Den kecil." jawab si Mak Warung,


"oh, jangan panggil Den Kecil atuh Mak, panggil aja Namaku si Petir." tentu saja perkataan itu, membuat si Mak Warung kaget,


"ini Bocah sepertinya bukan Bocah sembarangan. saya yakin ini Bocah adalah Jago." kata Mak Warung dalam hatinya.


"ya sudah kalau begitu, ayo Kita lajutin lagi perjalanannya Mang. udah kesel nih!" seru si Petir pada Kang Bardi.


"oh siap Tir, sebentar Mamang bayar dulu bekas Minum Kopi barusan ya, bentar." kata Kang Bardi Sambil membayar bekas Minum Kopinya.


seusai membayar pada si Mak Warung, dan berpamitan. Kang Bardi dan si Petir melanjutkan perjalanannya lagi, setelah jauh melewati Kampung Pamidangan yang di katakan Mak Warung tadi. Akhirnya ia bertemu dengan Seseorang yang sedang membawa Kayu Bakar.


"andika siapa? dan mau apa kalian menanyakan Rumah Ki Langkir?" tanya balik Seseorang itu.


"ahh.. nggak cuma hanya sekedar berkunjung saja," jawab Kang Bardi,


"Andika berdua ini asal darimana?" tanya Seseorang itu sambil menatap si Petir, Bocah Remaja yang kelihatannya. pemberani, begitu dalam Fikirnya Seseorang itu,


"ehm, saya berasal dari Desa tetangga Ki Sanak. dan ini Ponakan saya," ucap Kang Bardi. Seseorang itu mulai penasaran, mengerutkan dahinya lalu bertanya lagi.


"emmh, maksud Andika Desa Tetangga itu Alas Mengker bukan?" tanya Seseorang itu semakin penasaran,


"naah itu Ki Sanak tahu," jawaban Bardi membuat Seseorang itu kaget.

__ADS_1


"siapa sebenarnya Andika, dan ada tujuan apa datang kemari?" tanya Seseorang itu memastikan,


"saya dan Ponakan ini, ingin berkunjung ke Rumahnya Ki Langkir. dan ingin mengetahui Rumah Orang tuanya," jawaban Kang Bardi. membuat Seseorang itu terdiam sekaligus tercengang kaget.


"ehhm, jadi kalian ini dari Padepokan Girilayang? dan siapa Nama Kalian?" tanya Seseorang itu, yang ternyata dia Adalah Murid ke percayaanya Ki Langkir. yaitu Marta,


"iya itu dia Ki Sanak, saya dan Ponakan saya ini berasal dari Padepokan Girilayang. sedangkan Nama saya adalah Bardi, Orang orang di sana menyebutnya Mang Bardi, lalu Ponakan saya ini. Namanya si Petir," jawab Kang Bardi. sambil memperkenalkan dirinya dan si Petir, tentu saja Marta tercengang kaget bercampur dengan senang. sebab Putra Almarhum Ki Langkir. sudah seusai Remaja, Gagah dan sangat tampan,


"Petir? kau sudah Besar Nak, ini adalah Murid Ayahmu. maafkan saya yang sudah merasa Curiga pada kalian," kata Marta.


"iya tidak Apa apa Paman, lagian kan awalnya kita belum saling kenal. bukan begitu kan Mang?" tanya si Petir pada Kang Bardi,


"iya betul Ki Sanak, apa yang di katakan oleh Ponakan saya ini. alangkah baiknya kita saling memaafkan mah hehe, jadi Ki Sanak ini Muridnya Ayahnya si Petir ya?" tanya Kang Bardi.


"iya Kang, saya Murid nomor satunya Ki Langkir. saya sangat merasa Bahagia bisa di pertemukan kembali dengan Petir, semoga beliau melihat di Alam sana. kalau begitu mari kita ke Rumah saja," ajak Marta pada mereka berdua,


dan melangkah duluan sambil membawa Kayu Bakarnya, serta di ikuti oleh Kang Bardi dan si Petir dari belakang.


tak lama kemudian, mereka pun sampai. Ki Langkara sedang berbaring di Kamar tidurnya, karena sedang Cedera. akibat Pertarungan melawan Singa Maruta, tak lama dari kamatian Rakanya.


Marta setelah menyimpan Kayu Bakarnya, segera masuk ke dalam Kamar Langkara. dan memberitahu ada tamu yang di tunggu,


"betul Ki, dia Tamu yang Kita Tunggu tunggu. sebaiknya Aki temui saja dulu." ucap Marta dengan peruman yang ceria,


"siapa ya? baiklah mari kita ke sana." ucap Ki Langkara penasaran dan terbangun dari Ranjangnya,


pas sampai di Ruang Tengah, Ki Langkara kaget. sebab merasa belum pernah melihat Seseorang yang sedang duduk di atas karpet ruang tengah itu.


Ki Langkara mendekati Bardi dan juga, si Petir. lalu Duduk berhadapan dengan kedua tamunya itu, sedangkan Marta sedang pergi ke belakang. memasak Nasi,

__ADS_1


"mohon maaf, saya kemari mengejutkan Aden kayaknya ya?" tanya Bardi.


__ADS_2