JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 40.


__ADS_3

kata Jayadi Praja dengan keadaan Mata luarnya masih terpejam, sementara Mata Bathinnya terbuka lebar. lalu dengan sangat jelas melihat Raga Halus Ganitri,


"baiklah kalau begitu Jayadi, aku mohon Pamit. karena akan pergi ke alam yang seharusnya aku Tempuh sekarang." ucap Ganitri saat ia Menghilang dari pandangan Mata Bathin Jayadi Praja,


lalu Jayadi Praja baru membuka kedua Mata Luarnya, dan mulai mengepalkan kedua Tangannya tanda Jayadi Praja sangat Marah terhadap Seseorang yang sudah membinasakan Ganitri. lalu Jayadi Praja teringat akan Amanat Ganitri untuknya, "mengambil Pusaka Pedang Setan dari tangan Ki Rungkup Bumi" begitulah yang terngiang dalam Benaknya Jayadi Praja saat ini,


dan Sang Surya pun sudah Mulai Menerbitkan Sinarnya, tanda Waktu sudah berganti. di Hutan tempat Pengistirahatan Kiyai Hasbullah dan yang lainnya sudah sepi. karena sebelum menjelang Subuh mereka sudah pada Pergi meninggalkan Hutan tersebut, tinggal Sisa sisa Ranting Kering yang sudah hangus terbakar. bekas Bardi dan si Petir membuat Api Unggun,


lalu ada Seseorang yang beristirahat di sana, dan menyenderkan tubuhnya pada Pohon Bekas Gayatri di tidurkan. Seseorang itu adalah Marta, dari Alas Waringin. karena di beritugas oleh Ki Langkara untuk menjemput si Petir, lalu Marta merasakan ada Bekas bekas Seseorang yang sudah bermalam di Hutan itu.


"rupanya tadi Malam ada Seseorang yang sudah bermalam di tempat ini, tapi.. mengapa aku merasa mengenali Seseorang itu ya, padahal aku tak sempat melihatnya." gumam Marta di sana, seperti sudah bisa merasakan siapa yang sudah bermalam di tempat itu.


lalu Marta pun berdiri, karena merasa ke hausan Marta melangkah ingin mencari Mata Air. tak lama dari ia berjalan Akhirnya sampai di sebuah Waduk yang ke lihatannya Airnya sangat Jernih sekali, tapi saat ia mau melangkah Marta pun menghentikan langkahnya. karena melihat Seseorang yang Bermeditasi di atas Batu yang Besar serta membentuk Persegi itu,


rupanya Marta sedang memperhatikan Jayadi Praja yang sedang Bersemedi, untuk mengalihkan Arwah Ganitri dari Benaknya. dan di antarkan melalui olah Tapanya, lalu Marta bergumam dalam hatinya.


"siapa Orang itu, sepertinya dia sedang berkonsultasi dengan Dewa. tapi dari Gerakan Duduknya dia seperti memindahkan Arwah Seseorang," kata Marta di dalam hatinya. dan bisa menebak Gerakan dan Tata cara olah Tapa,


jayadi Praja tentunya dapat merasakan Seseorang yang sedang memperhatikannya, lalu berucap dengan ucapan yang sangat Lantang. "hey Ki Sanak!! sedangkan apa kau di sana, kemarilah jika kau sedang merasa ke hausan." kata Jayadi Praja, yang kedua Matanya masih terpejam.

__ADS_1


Marta kaget, karena melihat Seseorang yang Tahap Ilmunya dapat merasakan kehadirannya. Marta pun mulai Melangkah untuk mendekati Waduk itu, setelah dekat Marta pun memberi Hormat pada Jayadi Praja.


"Sampurasun Ki Sanak, atau pun Resi." ucap Marta memberi Hormat, dengan Posisi kedua Tangannya menyembah di atas kepala,


"hahaha.. Rampes Ki Sanak, Duduklah di Bantu yang berada di hadapanku. dan tolong jangan kau panggil aku seorang Resi," sahut Jayadi Praja dengan merendahkan diri.


"eeh, baik Ki Sanak Terima kasih. terus kalau Ki Sanak bukan Seorang Resi, lantas siapa Ki Sanak ini?" tanya Marta setelah Duduk di Batu yang berada di hadapan Jayadi Praja,


"hahaha.. saya hanyalah Seseorang yang sedang Belajar Tapa Brata Kisanak, maka dari itu panggil saja Namaku Jayadi Praja." jawab Marta, yang baru saja membuka kedua Matanya.


"waah.. kalau begitu bagus Kang Jaya, kalau Kang Jaya selalu Belajar Tapa Brata. berarti bisa berkonsultasi dengan Dewata Agung," kata Marta.


"hehehe.. tidak Ki Sanak Ilmu saya belum sampai ke sana, karena saya masih ke sebut Seseorang yang penuh dengan salah dan Dosa Ki Sanak. maka dari itu saya suka Belajar Ilmu Dharma hehe.." ucapan Jayadi Praja dengan sangat tenang,


"hehehe, Ki Sanak terlalu sungkan ya. saya belum sepenuhnya bisa merubah karakter dan prilaku saya Ki Sanak, oh iya Ki Sanak mau Mandi apa mau sekedar Minum." kata Jayadi Praja bertanya tujuan Marta,


"hehe.. tapi Mudah mudahan Kang Jaya bisa meyakini Ilmu kehidupan yang semestinya Kang ya, oh iya saya kebetulan haus Banget Kang." ucap Marta,


"oh kalau begitu silahkan Ki Sanak, maaf saya menghabat Ki Sanak mencari Air." senyum Jayadi Praja, sambil berkata.

__ADS_1


"oh iya nggak Apa apa Kang Jaya, mari.." seru Marta sambil berlalu, menyusuri Air.


Air yang sangat Jernih itu tentunya, bisa menyegarkan Tubuh Manusia dan Makhluk lainnya. Marta pun segera meneguknya dengan sebelah telapak tangannya, lalu merasakan betapa segarnya Air Jernih tersebut.


waktu yang sangat Panas, di Siang harinya Ki Sanca sudah mulai membaik ketika di Obati oleh Tabib dari Sebrang yang bernama Tabib Ahmad si Bolga. Ki Sanca sudah bisa memperbaiki Tata Geraknya kembali, dan seusai melatih Jurusnya. Ki Sanca kembali berdiri tegak dan mengatur Nafasnya,


"Syukurlah.. kau rupanya sudah Sehat kembali bah," ucap Ahmad si Bolga. dengan Nada Bahasa Negri Sebrangnya,


"iya Kang Ahmad, saya sangat Berterima kasih sekali pada Kang Ahmad. yang sudah membantu menyembuhkan saya," kata Ki Sanca. sambil melirik mengarah pada Ahmad si Bolga,


"Syukurlah, Sama sama Sanca. jangan terlalu sungkan sama Aku, anggap saja kita Saudara betul tidak?" tanya balik Ahmad si Bolga,


"iya, eehm.. baiklah kalau begitu mulai sekarang kita Saudara Kang Ahmad," ucap Ki Sanca antusias.


mereka berdua pun segera melakukan Rencana, akan menggabungkan Perguruan Sanca Dawuk. dan Ahmad si Bolga dari Negri Sebrang itu,


sementara di Sore harinya, si Petir beserta Kiyai Hasbullah juga Gayatri. Akhirnya sudah sampai di Padepokan Girilayang, tak ketinggalan Kang Bardi segera masuk Gerbang Padepokan terlebih dulu. ingin memberitahu para Santri kalau Ambu Gayatri berhasil di Selamatkan,


setelah Kang Bardi memberitahu para Santri Padepokan Girilayang itu, dan semuanya menyambut kedatangan Kiyai Hasbullah beserta yang lainnya, Maman Santri yang sudah lama di sana pun menjadi terharu melihat ke pulangan Ambu Gayatri dengan Selamat. walaupun terlihat dari Muka sampai Badannya terlihat masih lemas,

__ADS_1


Maman segera menyiapkan Kamar Khusus Gayatri untuk di Istirahatkan, dan Kang Bardi segera Pergi ke Dapur untuk memasak Makanan buat mereka Makan. begitulah keadaan di Padepokan Girilayang, dengan kedatangan Kiyai Hasbullah ke Padepokan Girilayang dengan Selamat.


Ki Rungkup Bumi yang sedang Memesat Pedang Setan milik Ganitri, di sebuah Ruangan Rahasianya. tapi di balik Selah selah Pintu Ruangan itu ada Sepasang Mata yang sedang mengintipnya,


__ADS_2