
dua ke Kuatan beradu, menimbulkan Suara yang begitu menggemakan Telinga. sehingga di antara yang menyaksikan Pertarungan itu merasa Jenger, karena mendengar Suara yang begitu Dahsyatnya.
Duaaaaarrr...!!
suara ke Kuatan si Petir dan Danuarta beradu, dan yang bikin Danuarta kaget. karena serangan si Petir mampuh menguras Tenaga Danuarta, sehingga tubuhnya terpental sangat keras,
ciush!
Danuarta pun Pergi, dengan menghilangkan dirinya. karena ia merasa di bagian Dadanya terasa Sakit sekali, hingga memutuskan untuk melarikan diri saja. sementara si Petir hanya merasakan ngilu saja di bagian Dada sebelah kirinya, tetapi itu hanya luka Ringan saja.
Marta pun segera menghampiri si Petir, sambil menahan Dadanya yang terasa Ngilu si Petir hanya berucap sedikit saja.
"aduhh Alhamdulillaah cuma sakit Dada saja Paman," ucap si Petir.
"ahh, kamu beneran tidak Apa apa Tir?" tanya Marta memastikannya,
"hehe.. iya betul Paman Petir Baik baik saja ko, ya luka Ringan segini mah. betulkan Bah?" tanya si Petir, di tujukan pada Kiyai Hasbullah.
"iya tapi biarpun luka Ringan, kamu mesti di Obati Tir. Kang Bardi!! kang," seru Kiyai Hasbullah berteriak memanggil Bardi. murid ke percayaannya itu,
Bardi pun datang, sambil berlari kecil." iya Bah, ada apa Bah?" tanya Bardi,
"barusan kamu tadi tidak tahu ada Pertarungan seru di sini?" tanya Kiyai Hasbullah.
"oh, tidak Bah.. soalnya tadi saya takut Badai turun Bah," jawab Bardi.
"pantesan saja aku nggak ngeliat kamu, barusan juga Badai itu merupakan sebuah ke Kuatan pelantara dari musuh Kang." kata Kiyai Hasbullah.
"waduuh, memangnya siapa yang sedang Bertarung barusan teh Bah?" tanya Bardi Penasaran,
__ADS_1
"tuh..!! si jagoan kita Kang," seru Kiyai Hasbullah. sambil menunjuk pada si Petir,
"waduhh, ternyata kamu Tir. yang barusan Bertarung itu hem?" tanya Bardi pada si Petir,
"ya,iya Mang.. memangnya siapa lagi hehe, aduh ngilu nih Dada," ucap si Petir. sambil merintih memegang Dada Kirinya,
"ya sudah sekarang Kang Bardi tolong Obati dulu luka si Petir ya Kang." kata Kiyai Hasbullah, di tujukan pada Bardi.
"oh iya baik Bah, saya akan mengobati luka si Petir. Ayuk Tir," ucap Bardi sambil mengajak si Petir ke Kamarnya. dengan maksud Kang Bardi, akan mengobati lukanya,
sedangkan Danuarta, hanya sekedar pingsan di suatu tempat. jauh dari Perkampungan, akibat beradu ke Kuatan dengan si Petir. membuat Danuarta mengalami Cedera Fatal, sedangkan Kuda yang sebelumnya ia tunggangi. di Rampok Orang, dan membuang badan Danuarta yang sedang Pingsan itu. ke Tengah Hutan, yang jauh dari Pemukiman Warga.
setelah Waktu sudah memasuki Senja, Danuarta belum sadar juga. tapi ada Seseorang yang mebdekati tubuh Danuarta yang sedang terbaring lemah itu, Seorang jago Wanita. yang mengenali Danuarta.
"ternyata itu Kau Danuarta Hihihi... hem, rupanya kau sangat lemah. bisa Rubuh dengan lawanmu Hem," Ucap Perempuan itu di tujukan pada Danuarta. yang masih terbaring lemah,
"Uhuk, uhuk.. ahh a,aku dimana?" tanya Danuarta saat mulai membuka kedua Matanya,
Nyai Ganitri hanya membelakanginya, dan berkata." bangunlah Danuarta, kau ternya sedang terluka cukup Parah," jawab Nyai Ganitri.
Danuarta pun memperhatikan Punggung perempuan itu, tapi saat Danuarta melihat jelas. di belakang punggunnya ada Pedang yang menempel,
"ahh siapa kau? mengapa aku ada di sini?" tanya Danuarta Bertubi tubi,
"Haha.. masih saja kau bertanya Danuarta,"jawab Nyai Ganitri sambil membalikan Badannya. jadi berhadapan dengan Danuarta,
"kau? Nyai Ganitri ya?" tanya Danuarta memastikan,
"Haha.. Akhirnya kau masih mengenaliku Danuarta, baguslah kalau begitu. itu tandanya kau masih Waras," jawab Nyai Ganitri.
__ADS_1
Danuarta pun bangun dan berdiri, menatap Nyai Ganitri lalu berkata. " jadi kau sekarang tinggal di sini? terus apa kau melihat Kudaku yang sebelumnya aku tunggangi? aku tidak tahu, mengapa aku jadi berada di sini ya?" tanya Danuarta Bertubi tubi,
"hem. apa kamu Benar benar tidak mengingat semuanya Danuarta, karena aku merasakan tubuhmu sangat Cedera luar biasa. terus mengapa kau menanyakan Kudamu padaku hem?" tanya balik Nyai Ganitri,
"Sebentar.." jawab Danuarta mengingat ngingat ke jadian, yang menimpa dirinya. akhirnya Danuarta mengingatnya, karena baru saja ia bertarung Melawan Seorang Bocah. yang lumayan dalam gerakan Ilmu Silat yang di milikinya, Danuarta kaget saat mengingat Ilmu Tenaga dalam Bocah itu sangat menyiksa dirinya.
"mengapa kau malah melamun Danuarta? apa kau sudah mengingat ke jadian sebelumnya Hem?" tanya Ganitri, yang menyadarkan Danuarta. dari lamunannya,
"iya.. aku sekarang mengingatnya Nyai, ternya Bocah itu Ilmu Silat dan kanu Ragannya luar biasa Nyai." jawab Danuarta,
Nyai Ganitri pun mengerutkan dahinya, lalu berkata. "siapa Bocah yang kau maksud itu Danu?" tanya Nyai Ganitri,
"dia adalah calon Jawara Baru, yang sebentar lagi akan mengguncangkan Dunia Persilatan Nyai. karena Tahapan Ilmu Silat yang dia miliki tak bisa di anggap enteng, dan yang lebih aku sayangankan lagi. jika Pedang Pusaka Kayu Cendana milik si Langkir jatuh ke tangan Bocah itu, ini bisa gawat Nyai." penjelasan dari Danuarta,
"Hahaha.. wahaaha, Calon Jawara. aku akan menjajalnya terlebih dulu, kalau benar dia mampuh merubuhkanku baru aku percaya padamu." ucap Nyai Ganitri,
Danuarta pun hanya berfikir sejenak, di dalam Fikirnya. "apakah kamu mampuh mengalahkan Bocah itu Ganitri, aku akan menyembahmu jika kau Beneran mampuh melumpuhkannya." begitulah yang ada dalam Fikirnya Danuarta, terhadap Nyai Ganitri si Pedang Setan.
"lebih sementara kau ikut aku dulu, karena percuma kau pulang juga. karena sebentar lagi alam akan Gelap, lebih baik untuk sementara waktu tinggalah bersamaku dulu." tawar Ganitri pada Danuarta,
"hem. baiklah kalau begitu, aku ikut denganmu dulu Nyai." kata Danuarta menyetujuinya,
"baiklah mari ikuti aku Danu," ucap Ganitri sambil berjalan menuju Gua Hayungkung.
lalu Danuarta yang berjalannya agak sempoyongan itu, mengikuti langkahnya Nyai Ganitri.
Malam pun sudah tiba, barisan Perguruan Sanca Dawuk sedang menyusun rencana. karena saking murkanya Sanca, pada Singa Maruta. maka ia akan menjebaknya, apakah kiranya bakal berhasil? kita lihat saja,
benar saja, Singa Maruta dengan tergesah gesah mendatangi Perguruan itu. ia berlari kecil sambil membawa Obor. setelah berhadapan dengan Sanca Dawuk, Singa Maruta pun memberi Hormat.
__ADS_1