
di Pagi harinya.. Ki Langkara juga Marta sudah berkumpul di Ruangan tengah, Kopi dan Makanan Ringan pun sudah tersaji. di atas Samak di Rumahnya Ki Langkara,
di Susul oleh si Petir dan juga Kang Bardi, yang sudah Bersiap siap akan pergi pulang. ke Alas Mengker bersama Marta, yang akan menemani Perjalanan mereka berdua.
Ki Langkara berbicara," Petir Sering seringlah main kemari Nak. juga nanti kamu kelak sudah Dewasa, Paman akan mengajarimu Gerakan Ilmu Karang Nunggal. warisan dari Ayahmu Nak," ucap Ki Langkara.
"hehe.. justru Petir juga merasa penasaran Paman, ingin mengusai ke Kuatan itu. kan saya juga kesal dong paman, kalau menunggu nanti Petir Dewasa mah." kata si Petir merengek,
"sabar dong Tir, kita itu mesti Belaja tenang dan Sabar. kan kata si Abah juga begitu iyakan?" tanya Kang Bardi, seraya menenangkan si Petir.
"iya Tir.. Paman yakin nanti jika kamu sudah menginjak Dewasa, Paman Langkara akan memberikan Dua jurus padamu secara berlangsung. iyakan Ki," sambung Marta.
"betul Tir, karena ini juga adalah pemberian dari Ayahmu Tir. maka Paman pun juga selayaknya mengajarkan padamu," ucap Ki Langkara.
si Petir dan Kang Bardi saling tatap, ia ingin segera mengusai Ilmu peninggalan Ayahnya itu Sesegera mungkin Rasanya. tapi karena faktor Usia yang menjedanya, untuk menunggu Usia jenjang Dewasa.
di Pemukiman Karaman Macan Edan, Singa Maruta sedang Duduk di pelataran tempat latihan. Karaman Singa Maruta memang giat dalam melatih ke Kuatan, Singa Maruta rupa sedang kedatangan tamu dari Sirna Galih.
dan di belakang Pemukiman Karaman itu, ada telik Sandi dari Perguruan Sanca Dawuk. yang sedang mengintip Gerak gerik Singa Maruta,
Lodaya si Cakar Harimau sedang berbincang dengan Singa Maruta, di kediaman khususnya. Lodaya berbicara." kamu tenang saja Maruta, aku akan berjanji pada diriku sendiri. akan mengabdi berbakti diri pada Karaman Macan Edan Maruta," ucap Lodaya si Cakar Harimau.
"Hahaha.. tenang Adikku, aku percaya sepenuhnya pada dirimu. karena kaulah Sahabatku Satu satunya dari Perguruan Sinar Lodaya, maka dari itu kau layak jadi Panglima Karaman Lodaya Haha. " kata Singa Maruta sambil kedua tangannya memegang Pinggangnya,
"ehm.. tapi Maruta, sepertinya aku belum paham. apa rencanamu Maruta?" tanya Lodaya,
__ADS_1
"oh soal itu ya! hahaha, tentu saja aku ingin menguasai Dunia Persilatan Lodaya. itu tujuanku yang pertama, nah kalau yang keduanya. aku ingin merampas Pedang Pusaka Kayu Cendana, milik si Langkir. yang sekarang entah ada dimana," jawab dari Lodaya sambil terlihat sinis.
Telik Sandi itu segera menulis Surat dari Daun Kering, dan Darah dari telunjuknya Sebagai jadi Tintanya. Telik Sandi segera mencari seekor Burung yang akan mengantarkan pesan dari Daun itu.
di Sore harinya, di Perguruan Sanca Dawuk sedang mengadakan acara khusus. yaitu Sembahyang adat mereka, dengan memuja Patung Ular Sanca. juga tak ke tinggalan, ke menyan dan Sesajen lainnya sudah di simpan di Tengah tengah kumpulan.
Tiba tiba setelah Acara Ritual atau acara selesai, ada Seekor Burung bertengger di depan Ki Sanca. dan sedang menggigit Daun Kering,
Ki Sanca pun langsung beranjak berdiri dari Duduk bersilanya, dan mendekati Burung itu. lalu mengambil Daun Kering yang sedang di Gigitnya. Ki Sanca membaca isi Tulisan itu, seusai membacanya Ki Sanca pun membuang Daun itu ke bawah Kakinya, hingga di Injak oleh telapak Kaki Ki Sanca.
"sudah ku duga dari awal, ternyata Singa Maruta adalah Karaman yang Jahat. aku harus membuat perhitungan dengannya." ucap Bathin Ki Sanca.
Dadong salah satu Murid ke percayaanya Sanca Dawuk pun berkata," ada apa Guru? sepertinya Guru sedang memikirkan Sesuatu?"tanya Dadong.
"maksud Guru? siapa Guru?" tanya Dadong penasaran,
"siapa lagi kalau bukan si ketua Karaman itu! cih! sudi aku menerimanya kembali." jawab Ki Sanca sambil melangkah pergi meninggalkan Dadong.
Dadong pun memungut Daun Kering yang baru saja di Injak itu. dan masih terlihat jelas Tulisan Darah dari telunjuk Telik Sandi itu, Akhirnya Dadong pun Sama sama merasa kecewa pada Singa Maruta.
sedangkan di malam harinya, Singa Maruta akan mengubrak Abrik perkampungan kembali. demi mendapatkan keterangan mengenai Pedang Pusaka itu.
semua orang atau para Warga Alas Waringin, atau perkampungan Pamidangan. sudah terlihat sepi, padahal di Bulan Purnama seperti ini, biasanya masih ada Warga yang berlalu lalang. tapi semenjak Ancaman dari pihak Karaman, membuat Warga Kampung itu tak memberanikan diri untuk keluar.
Lodaya yang mendampingi Singa Maruta, sudah berdiri di Tengah tengah perkampungan. para kawanan lainnya sedang memegang Obor untuk menerangi lingkungan perkampungan,
__ADS_1
"inilah yang di sebut Desa kenangan para Jawara dulu Lodaya, sekarang tak ada satu pun Jawara yang bisa menandingiku Haha..!" seru Singa Maruta berjumawa,
"jangan merasa senang dulu kau Maruta, karena aku mempunyai Pirasat. bakal ada calon Jawara yang luar biasa, Cikal bakal dari Desa ini!" seru Lodaya menjelaskan,
Singa Maruta jadi terhenti dari Tawanya, dia merasa kaget. apa yang di katakan oleh Lodaya barusan. Akhirnya untuk melampiaskan rasa kagetnya, Singa Maruta menyuruh Kawanannya. mengubrak abrik pengisi ini perkampungan.
semua kawanan Karaman Macan Edan, sudah mengeluarkan Goloknya Masing masing. lalu melangkah pada Rumah penduduk di sana, semua Orang pengisi itu perkampungan di paksa oleh sekawanan Karaman Macan Edan. untuk keluar dari Rumahnya,
semua Warga penduduk banyak yang terluka, karena sekali membangkang. pasti terkena Pukulan, dan Lodaya juga Singa Maruta mulai Maju. untu berburu harta dan Wanita Cantik,
Tiba tiba sebelum mereka berdua akan memasuki Rumah Warga, yang mempunyai seorang Anak Perempuan Cantik. ada yang melompat kencang menuju ke sana,
jorelaat!! jlig!
ternyata Orang itu mengenakan Cadar dan menghentikan Aksi mereka semua," hentikan!! kalian beraninya melakukan kekacauan di wilayahku, berani kalian menyakiti Saudara saudaraku. maka aku takkan tinggal diam!" seru Seseorang yang memakai Cadar Warna Coklat itu.
"hey, siapa kau Berani sekali berkata pada Kawanan Karamanku hem," kata Singa Maruta.
"hooho.. Cuh! Karaman pengecut seperti kalian bagiku tak ada yang perlu di takuti. hooho.." ucap si Cadar Coklat itu, membuat Lodaya marah,
"jangan biarkan orang ini untuk Hidup seribu tahun Maruta, akan ku Cabik cabik mulutnya. hiyaat!!" seru Lodaya menyerang duluan.
ternyata Tata Gerak Lodaya pun cukup sangat membahayakan, karena setiap Kuku kuku dari sela sela Jemarinya mengandung Racun.
tapi si Cadar Coklat itu hanya dengan satu tangan saja, bisa menepis semua Tata Gerak si lodaya itu.
__ADS_1