JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 39.


__ADS_3

kata Kiyai Ma'mun Soleh, Gurunya Kiyai Hasbullah.


"maafkan saya Guru, yang lancang tak memberi Rasa Hormat pada Guru. dan saya sangat Berterima kasih, jika Guru berkenan Hadir pada saya." jawab Kiyai Hasbullah, sambil menundukan Wajahnya.


"cukup Muridku, aku tak suka jika melihat Seorang Murid yang sangat Sungkan berlebihan hehehe.. aku mendengar kalau Putriku di Culik oleh Pihak Karaman, Makanya aku segera datang kemari Muridku." jelas Kiyai Ma'mun Soleh,


"terimakasih Guruku. saya memang ke Musibahan saat para Karaman berani memporak Porandakan Warga Alas Mengker, Waktu Malam kemarin Guruku. hingga saya dan para Santri dan juga Istriku turun Tangan untuk membantu Warga Guruku, dan hingga Gayatri berhasil di lumpuhkan oleh sala satu dari mereka Guru." kata Kiyai Hasbullah, menjelaskan pada Gurunya juga.


tak lama kemudian si Petir dan Kang Bardi Akhirnya sudah sampai, seusai mencari Ranting Keringnya. si Petir pun mengerutkan Dahinya dan saling tatap sama Kang Bardi,


"kalian jangan kaget, inilah Guruku. Guru kita Bersama, Petir Kang Bardi silahkan kalian beri hormat terlebih dahulu." ucap Kiyai Hasbullah, pada si Petir juga Kang Bardi.


si Petir yang terlebih dulu datang mendekati Kiyai Ma'mun Soleh, mengulurkan Tangannya dan mengecup Punggung Tangannya Kiyai Ma'mun Soleh. dan di ikuti oleh Kang Bardi, seusai memberikan salam penghormatan mereka pun kembali Mundur tiga langkah ke belakang. dan Duduk di dekat Kiyai Hasbullah, yang sedang membaringkan Gayatri di Bawah pohon.


Gayatri ternyata semakin Menggigil kedinginan, Kiyai Ma'mun Soleh mendekati Gayatri dan sambil jongkok Kiyai Ma'mun Soleh memperhatikan Gayatri. dan berucap di dalam hatinya, " Masyaa Alloh. ternyata lukanya Benar benar cukup Parah, Gayatri mesti segera di Obati." begitulah ucapan Kiyai Ma'mun Soleh di dalam hatinya,


"bagaimana menurut Guru, apakah Gayatri sudah bisa di sembuhkan?" tanya Kiyai Hasbullah,


"Insyaa Alloh Muridku, kebetulan aku membawa Ramuan khusus Luka luar dan dalam." jawab Kiyai Ma'mun Soleh, sambil mengambil Guci kecil yang berisi Ramuan Khusus luka.


Kiyai Hasbullah segera mengambilnya, lalu memperhatikannya sebentar. dan menanyakan caranya terlebih dulu pada Gurunya, " terus cara Memakaikannya seperti gimana Guru?" tanya Kiyai Hasbullah pada Kiyai Ma'mun Soleh.

__ADS_1


sedangkan si Petir dan Kang Bardi, sedang sibuk menyalakan Api Unggun. yang tak jauh dari Kiyai Hasbullah dan Kiyai Ma'mun Soleh yang sedang Berbincang itu.


"jangan khawatir Muridku, cukup aku Rendam saja pada Air Jernih. dan jangan lupa Airnya mesti di Matangkan terlebih dulu, lalu kamu Campurkan Ramuan ini. maka Insyaa Alloh Gayatri bisa di Tolong, melalui Ramuan ini." jawab Kiyai Ma'mun Soleh menjelaskan,


"baiklah kalau begitu Guru. dan saya Pribadi sangat Berterimakasih atas Syare'at yang Guru berikan pada Saya, dan semoga Guru semakin Sehat dan Panjang Umur." kata Kiyai Hasbullah, sambil memberikan Senyuman pada Gurunya itu,


"hehehe.. Sama sama Muridku, semoga kamu juga dapat Mengamalkan Ilmumu dengan Baik dan Bermanfaat bagi semuanya. kalau begitu aku izin Pamit, semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali. Assalamualaikum?" kata Kiyai Ma'mun Soleh, yang berpamitan hanya pada Kiyai Hasbullah.


Kiyai Ma'mun Soleh pun, pergi Menghilang seperti tertelan Gelapnya Malam itu. si Petir dan Kang Bardi yang baru saja selesai menyalakan Api Unggunnya pun kaget, saat melirik pada Posisi Kiyai Hasbullah. yang sekarang sedang berduaan dengan Gayatri yang masih terbaring lemah,


"laah, ko tinggal Abah dan Ambu saja ya Mang? kan tadi ada Gurunya Abah di situ teh?" tanya si Petir penasaran,


"justru itu Tir, Mang juga merasa aneh ko. begitu cepat Gurunya Abah itu perginya gitu," jawab Kang Bardi. yang Sama sama merasa Penasaran,


setelah Kiyai Hasbullah sudah mendekati mereka berdua, lalu berucap dan mengagetkan mereka berdua tentunya. "ekhmt.. waah besar sekali Nyala Apinya Kang, Tir," kata Kiyai Hasbullah Tiba tiba.


"aduh Abah bikin saya kaget saja nih.." ucap Kang Bardi,


"iya Petir juga kaget Bah," sahut si Petir sambil melirik Kiyai Hasbullah.


"ahh masa suara Petir bisa kaget sama Abah haha.. oh iya pasti kalian merasa aneh ya terhadap Guru Abah barusan hem?" tanya Kiyai Hasbullah, seolah sudah tahu apa yang mereka berdua bicarakan barusan.

__ADS_1


"I..iya Bah, me.. mangnya kemana beliau Bah?" tanya balik si Petir agak Gugup,


"hehehe.. beliau sudah pulang Tir, beliau sudah memiliki Ilmu yang sangat Mumpuni. maka Gerakannya pun tak ada yang bisa melihatnya, tak menimbulkan Suara dan langkah. betulkan?" tanya Kiyai Hasbullah pada mereka berdua,


"ck.. ck.. Subhanalloh Ilmunya sudah tahap atas kalau begitu mah Bah, dan sangat luar biasa menurut saya mah. iyakan Tir," kata Kang Bardi. yang sangat merasa Takjub dengan kemampuan yang di miliki oleh Kiyai Ma'mun Soleh itu.


"betul Bah, Petir juga jadi penasaran. ingin Berguru Ilmu padanya Bah?" tanya si Petir,


"hehehe.. Insyaa Alloh, jika kamu sudah Dewasa nanti Abah akan antarkan kamu ke Padepokannya. tapi itu pun jika kamu sudah mewarisi Ilmu Karang Nunggal, dari Ki Langkara Pamanmu." kata Kiyai Hasbullah, menjelaskannya.


dan mereka berdua pun sudah kembali berdiri, dan di suruh mencari Mata Air untuk berwudhu. si Petir sengaja tak ikut, karena menunggu Gayatri Ambunya. sedangkan Kang Bardi dan Kiyai Hasbullah berangkat menuju Mata Air tersebut,


sedangkan Jayadi Praja yang sedang Tapa Brata di Kamar tempat Khususnya, sedang merasakan ke hadiran Arwah Temannya yang pernah ia selamatkan tempo lalu.


"hem.. Ganitri, dimana Ragamu mengapa kamu datang melalui Raga halusmu." ucap Jayadi Praja, yang masih Memejamkan Matanya.


"maafkan aku Jayadi, aku sudah Tewas di bantai oleh Ki Sanggah Langit. dan di Kuburkan oleh Maha Guruku, Ki Rungkup Bumi. dan aku meminta Izin pada Sang Maha Pencipta untuk Berterima kasih padamu Jayadi," ucap Ganitri.


"Jagat Dewa Batara.. ternyata Ki Sanggah Langit Mantan Guru kita masih Hidup? dan kau sendiri telah di Binasakannya Ganitri?" tanya Jayadi Praja, kaget bercampur dengan Penasaran. karena mendengar kalau Ki Sanggah Langit ternyata masih Hidup,


"betul Jayadi, dan sekarang ia memihak pada Musuhku. hingga aku tak bisa menahan Serangan Tenaga dalam Ki Sanggah Langit, lalu Tewas begitu saja, tapi aku hanya ingin menyampaikan Amanat padamu Jayadi?'' tanya Ganitri,

__ADS_1


"hem. semoga kau tenang di Alam sana Ganitri, tenanglah kau jangan berucap Terima kasih padaku. karena kita adalah Teman, dan aku juga hanya kebetulan menyelamatkanmu'


__ADS_2