JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 14.


__ADS_3

Untari sudah semakin geram rupanya, ia Terus terusan menyerang tapi tak mampuh untuk memasukan serangannya.


Gayatri rupanya sudah mulai merasakan kewalahan, tenaganya sudah mulai terkuras juga. Kiyai Hasbullah sempat melirik melihat Gayatri yang sudah kewalahan,


tapi Ratna Anjani yang sedang berhadapan dengan Kiyai Hasbullah, melihat ada ke sempatan. karena Kiyai Hasbullah sedang lengah, tentunya sangat mudah bagi Ratna Anjani memasukkan Pukulannya pada anggota badan Kiyai Hasbullah.


Kiyai Hasbullah terkejut saat Ratna Anjani, memukul bagian Iga dan Perutnya, Kiyai Hasbullah pun memundurkan Badannya. dan segera berdiri tegak, menjaga keseimbangannya.


"Hahaha.. bagaimana Rasanya Kiyai Tua?" tanya Ratna Anjani, sambil kedua tangannya memegang Pinggangnya.


"hem,, kau jangan merasa senang dulu Wanita Si*l*n,, aku akan menghabisimu." jawab Kiyai Hasbullah sambil kembali berdiri tegak, ia pun mencoba mengepalkan tangan kanannya. Tiba tiba keluar Pedang Kayu Cendana.


Ratna Anjani pun sangat terkejut, karena Ratna Anjani juga tahu. betapa ampuhnya Pedang itu. dan Ratna Anjani pun berantisipasi, takut Pedang itu mengenai tubuhnya. lalu ia menggunakan Ilmu Aji Baal Sagara.


Kiyai Hasbullah memesat Pedang itu dari Warangkanya, dan saat Pedang itu di pesatkan oleh Kiyai Hasbullah. betapa Harum semerbak Wangi Kayu Cendana,


Ratna Anjani pun tak sengaja mencium Aroma Harumnya Bunga Cenda itu, juga Untari yang sedang Menyerang Gayatri Habis habisan. jadi terhenti saat mencium Aroma Harum semerbak Wangi dari Kayu Cendana itu.


keduanya jadi lupa dengan apa yang terjadi, sehingga Gayatri mempunyai ke sempatan untuk menotok Urat Pentingnya lagi. tapi terlambat karena Untari sudah di selamatkan oleh Seseorang Bercadar,


Ratna Anjani pun sama di bawa oleh Seseorang itu menghilang dari tempat itu. ternyata Seseorang itu adalah Gurunya Untari dan Ratna Anjani, yaitu Danuarta. yang telah membinasakan kedua Orang Tuanya si Petir,


Kiyai Hasbullah segera memasukan Pusakanya lagi, dan menengok kanan dan kiri. Seseorang yang bercadar itu sudah pergi jauh,"siapa Seseorang Bercadar itu ya. dari Gerakannya juga, sepertinya aku baru melihatnya," gumam Kiyai Hasbullah dalam hatinya.


"Abah.. kamu tidak Apa apa kan Bah?" tanya Gayatri sambil berjalan mendekati Suaminya itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, aku tidak Apa apa Gayatri. terus kamu sendiri bagaimana?" tanya balik Kiyai Hasbullah,


"Alhamdulillaah.. saya juga nggak Apa apa Bah, terus siapa barusan Bah? yang menyelamatkan mereka?" tanya Gayatri lagi,


"justru itu. Abah juga tidak tahu Gayatri, entah siapa sebenarnya Seseorang itu. ya sudah lebih baik kita selamat ya, biarkan para Santri biar Abah yang Obati mereka." kata Kiyai Hasbullah sambil berjalan menuju para Santrinya yang terluka, Akibat serangan Kampak Merah.


sedangkan keadaan di Desa Alas Waringin, si Petir akan pulang Besok. karena ia merasa tak Enak Perasaan tak bisa merem hingga saat ini.


Kang Bardi juga rupanya sama, sedang merasakan Gelisah. dan Kang Bardi beranjak bangun lalu berdiri di depan Jendela Kamarnya, karena Kamar Kang Bardi dan si Petir terpisah.


"yaa Alloh.. kenapa dengan perasaanku ini, Tiba tiba teringat Padepokan ya? apa ke jadian yang semalam Beberapa hari yang lalu terulang lagi? atau kah ini hanya perasaanku saja?" Kang Bardi bertanya tanya pada dirinya sendiri,


tapi tak tahu kalau si Petir sedang memperhatikannya, di luar Rumah peninggalan Ki Langkir."Mang Bardi lagi ngapain ya? atau sama, seperti apa yang sedang aku Fikirkan? soalnya seperti Kumat Kamit gitu Mulutnya, apa mungkin sedang memikirkan Abah di sana ya?" pertanyaan si Petir di luar Rumah, sambil memperhatikan Kang Bardi.


"yeeh malah melamun Mang! awas entar ke sambet lo Mang hehe!" seru si Petir, sambil tertawa.


"ahh kamu Tir, ngagetin Mamang saja. emang kamu belum tidur Tir?" tanya Kang Bardi,


"hehe.. iya nih Mang, saya susah Merem dari tadi. nggak tahu kenapa ini teh Mang!" seru si Petir, sambil menutupi rasa ke cemasannya. akan keadaan di Padepokan Girilayang, yang ia rasakan saat ini.


ternyata bukan hanya mereka berdua yang tak bisa tidur malam itu, Marta pun sama. malah sudah berada di belakang Kang Bardi, yang sedang berbincang bincang di Jendela bersama si Petir.


"ekhm, ternyata Mang belum tidur juga Mang?" tanya Marta, jelas Mengagetkan mereka berdua. yang sedang berbincang,


"eeh iya Den. Aden juga belum tidur?" Kang Bardi malah tanya balik,

__ADS_1


"hehe.. emang Mamang kenapa ko nggak biasanya udah Malam begini belum tidur, oh kalau saya tentunya belum bisa langsung tidur. karena selalu melihat keadaan Ki Langkara, karena terkadang beliau sering Sakit tiap pada tengah Malam Mang," jawab dari Marta sekaligus menjelaskan alasannya.


"ohh begitu ya, memangnya Ki Langkara kenapa gitu Den? dan ini Mamang teh lagi merasa Cemas sama keadaan di Desa Den, soalnya sama di sana juga sempat ada Rampok Den." ucap Kang Bardi,


tak sengaja mata Marta juga melihat si Petir di luar bawah Jendela." loh Petir, kamu juga belum tidur? jadi Mamang ini lagi berbincang berduaan rupanya, iya?" tanya Marta,


"iya Den. kami berdua lagi merasakan hal yang sama Den, karena merasa cemas akan keadaan di sana. begitulah Den," jawab Kang Bardi.


"iya Paman, Petir juga sama. merasa sangat nggak enak Bathin, takut terjadi sesuatu di sana Paman." sahut si Petir,


"hehe.. kalian jangan khawatir, nanti besok sesudah Matahari terang. Paman akan mengantar kalian, ya!" seru Marta sambil tersenyum,


"terus gimana sama Ki Langkara Aden? masa di tinggal sendirian di sini Ari Aden!" seru Kang Bardi,


"iya soal itu sudah saya Fikirkan Mang, jangan khawatir." kata Marta,


"memangnya teh kenapa Paman Langkara teh Paman? ko Petir nggak tahu penyebabnya," tanya si Petir.


"ceritanya panjang Tir, bisa di sebut Pamanmu itu terkena Pukulan Rahasia Singa Maruta. karena ia juga sempat membalaskan dendam kematian Orang Tuamu Petir. hingga Paman Langkara mengalami ke kalahan, hingga Luka di dalam tubuhnya." jelas dari Marta,


"oh jadi begitu ceritanya Paman. kasian ya Paman, andaikan saja di beri ke bebasan untuk membalaskan Dendam keluargaku. aku sendiri yang akan membinasakannya Paman, dan saya bersumpah akan membinasakan Singa Maruta...!!" seru si Petir, dengan Tatapan liar entah kemana. saking merasa kesal.


"hehe.. sudahlah Petir, lebih baik sekarang kalian tidurlah dulu. karena besok kita akan pergi ke Desa Alas Waringin," kata Marta sambil mengelus pucuk kepala si Petir.


Kang Bardi pun sudah mulai menguap, karena merasa lelah juga mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2