JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 38.


__ADS_3

"kalau benar kau merasa takut, coba buktikan jika kau mampuh mengusir kami." ucap Kiyai Hasbullah,


"koekh cih! lancang kau Tua Bangka, hiyaath!!" seru Ratna Anjani, yang akhirnya sudah terpancing Nafsu Amarahnya. lalu mengambil sikap untuk menyerang terlebih dulu, tapi Kiyai Hasbullah tetap tenang dengan penuh kewaspadaan. karena Serangan Ratna Anjani sangat cepat dan membahayakan baginya, untung Kiyai Hasbullah menggunakan Ilmu Peringan Badan sepenuhnya. sehingga Badannya mampuh menghindari Serangan lawan,


sedangkan si Petir masih berhadapan dengan Danuarta, Danuarta semakin meningkatkan Terjangan terjangannya. sehingga si Petir lumayan agak Sulit untuk mengimbanginya, Danuarta sangat kejam melakukan Serangan demi serangan pada si Petir. namun si Petir Terap penuh dengan kewaspadaan, sehingga Gerakan Danuarta belum mampuh mengenai Badan si Petir.


Danuarta berbicara di dalam hatinya, sambil mengatur Nafasnya terlebih dahulu."Kurang Ajar.. rupanya ke hebatan Ilmu Silat Bocah ini lumayan juga, semua terjanganku mampu di hindarinya." begitulah dalam hatinya Danuarta,


"loh ko malah melamun sih Woy, ayo mau lanjut lagi tidak?" tanya si Petir, sambil mengorek Kupingnya seperti biasa.


"baiklah Bocah kita lanjutkan lagi! tapi kau mesti merasakan Tenaga Pamungkasku." seru Danuarta, sambil Menyilangkan Gerakan kedua Tangannya.


si Petir rupanya sudah paham, apa yang akan di lakukan oleh si Cadar Hitam itu. si Petir lalu Memejamkan kedua Matanya, lalu Berdo'a pada yang Maha Kuasa. minta di jaganya supaya tak rubuh oleh Serangan Musuhnya,


Tangan si Cadar Hitam atau Danuarta, sudah mulai Bergetar. tanda ke Kuatan Pamungkasnya sudah Memusat pada Kedua Tangannya, Cahaya Biru sudah Melapis kedua Telapak tangannya Danuarta.


"Rasakanlah Seranganku ini Bocah! hiyyaaat..." seru Danuarta, sambil Membentangkan Cahaya Biru yang sudah menebal itu.


si Petir langsung membendungnya dengan Gulungan Cahaya Putih, hingga Akhirnya dua ke Kuatan itu Beradu. dan menimbulkan Suara yang sangat Keras sekali, seusai Suara Ledakan itu terhenti.


si Petir Mundur Tiga langkah ke Belakang, sedangkan Duarta Melayang terdorong ke Kuatannya sendiri. hingga Rubuh di atas Tanah, sambil memegang Dadanya yang lagi Sakit akibat Benturan ke Kuatan itu, Danuarta Memuntahkan Darah Banyak dari Lubang Mulut dan Hidungnya.

__ADS_1


si Petir pun hampir sama, cuma yang keluar dari Selah selah Mulut si Petir hanya sedikit Darahnya yang keluar. beda dengan Danuarta yang sekarang belum mampuh untuk membangunkan Badannya sendiri,


Untari yang sedang memperhatikan Ratna Anjani sedang berhadapan Kiyai Hasbullah, menjadikan dirinya kaget saat dirinya melihat Gurunya terbaring lemah di atas Tanah. luka Untari pun lumayan Parah, saat menghampiri Gurunya yang masih Terbaring lemah itu pun jalannya agak Sempoyongan.


begitu juga Ratna Anjani saat mau Melumpuhkan Bardi yang membantu Kiyai Hasbullah, ia tak sengaja Melirik Untari yang sedang berjalan Sempoyongan mau menghampiri Gurunya itu. Ratna Anjani Bengong,


saat Ratna Anjani sedang Bengong sambil memperhatikan Gurunya yang sedang terbaring lemah dan mulai tak sadarkan diri itu. Kang Bardi rupanya mempunyai ke sempatan untuk menghantam Ratna Anjani, rupanya apa yang di Gambarkan Kang Bardi untuk menyerang Ratna Anjani yang sedang lengah itu berhasil. Ratna Anjani di Pukul bertubi tubi oleh Kang Bardi, dengan sepasang Tangannya.


"Aaaa..!" seru Ratna Anjani, menjerit lantaran merasakan Sakit di sekujur Badannya. terkena Serangan Kang Bardi,


"Cukup Kang!! jangan melawan Musuh yang sudah lemah Kang, ingat tujuan kita Kang. kita hanya ingin membebaskan Ambu, biarkan dia terluka Akibat ke salahannya sendiri Kang. ayo masuk," ucap Kiyai Hasbullah. lalu mengajak Kang Bardi untuk segera masuk ke dalam Rumah kediamannya Karaman Kampak Merah.


si Petir pun mengikutinya dari Belakang, hingga Akhirnya mereka bertiga pun berhasil menemukan Kamar tempat Gayatri di sekap. setelah Masuk ke dalam Kamar itu, Kiyai Hasbullah kaget. karena Gayatri sudah sangat Pucat sekali, di Tambah anggota Tubuhnya bercucuran Darah. akibat di Siksa oleh Pihak Karaman,


"Kakang, Ahhk.. sakit Kang Tubuhku di Hantam dengan Cambuk sangat keras sekali Kang, cepat bawa aku keluar dari Tempat ini Kang. " kata Gayatri menjelaskannya,


"baiklah.. Kang bantu aku lepaskan Ikatannya," ucap Kiyai Hasbullah di tujukan pada Kang Bardi,


Bardi pun segera membukakan Tali yang sedang Mengikat Gayatri tersebut, seusai Tali itu lepas. Bardi segera melangkah keluar terlebih dulu, tak lupa Bardi keluar selalu di Temani si Petir. untuk melihat keadaan situasi di area Pelataran Tempat Kampak Merah berada,


sedangkan Untari yang baru saja beres mentransfer tenaga Murni pada Gurunya, Untari segara mengatur Tenaga dan Nafasnya. lalu berucap, " bagaimana sekarang Guru? apakah luka Guru sudah mulai membaik?" tanya Untari pada Danuarta, yang sebagai Gurunya itu.

__ADS_1


"uhuk... uhuk, lumayan Tari. aku sudah mulai mem, baik.. tapi dimana keberadaan Ratna Anjani Rakamu Tari? dan bagaimana keadaannya?" tanya balik Danuarta, pada Untari.


"entahlah, tadinya Raka mengejar mereka bertiga Guru. tapi hingga sekarang Raka belum kembali juga," jawab Untari.


"haah.. kalau begitu mari kita lihat Tari," ucap Gurunya sambil menarik Nafas. dan lalu berdiri Pelan pelan,


dan Akhirnya mereka Bertiga sudah jauh meninggalkan kawasan Karaman Kampak Merah, hingga waktu sudah mulai Gelap. dengan terpaksa Kiyai Hasbullah menyuruh Kang Bardi dan juga si Petir untuk beristirahat dulu di Daerah Hutan, Bulan Purnama sudah Menampakkan Sinarnya. Angin Malam sudah terasa menembus Kulit dan Tulang Gayatri yang sedang terluka itu,


"Abah kasihan Ambu, sepertinya mulai kedinginan Bah?" ucap si Petir, di tujukan pada Kiyai Hasbullah.


"iya Tir, kalau kalian nggak keberatan tolong cariin Ranting Kering di sekitaran sini. untuk bikin Api Unggun," kata Kiyai Hasbullah. sambil menidurkan Gayatri di Bawah Pohon Tinggi.


Kang Bardi dan si Petir pun tanpa banyak Bicara lagi, keduanya langsung berangkat. melihat Gayatri yang semakin menggigil Kiyai Hasbullah langsung Memejamkan kedua Matanya, Bermeditasi untuk meminta ke sembuhan pada yang Maha Kuasa. sambil Memutar mutar Tasbihnya dan Mulut berkumat kamit Berdzikir.


Tiba tiba ada Suara langkah Seseorang, tapi Kiyai Hasbullah Tetap Memejamkan Kedua Matanya. dan Menghiraukan suara tersebut,


"Assalamualaikum.." Ucap Salam itu sangat jelas di Dengar oleh kedua Telinga Kiyai Hasbullah,


dengan terpaksa Kiyai Hasbullah sambil kedua Matanya masih terpejam, Bibirnya menjawab Salam tersebut. "Wa'alaikum Salam.." jawab Salam dari Kiyai Hasbullah,


"sungguh luar biasa Imanmu Muridku!" seru Suara itu Menyanjung Kiyai Hasbullah,

__ADS_1


Kiyai Hasbullah pun kaget, dan dengan terpaksa membuka kedua Matanya."Guru..!!" seru Kiyai Hasbullah kaget, saat melihat Kiyai Ma'mun Soleh Gurunya.


"jangan kaget Muridku, aku sengaja datang kemari. karena ingin Silaturahim padamu"


__ADS_2