
dan mereka pun sudah Bersiap siap akan menyerang, Kampak sudah di mainkan oleh kedua kawanan Perampok itu.
si Petir hanya menatapnya saja sambil berkata,"haha.. memangnya saya takut, ahh sudah kuno sama yang gituan mah hehe!" seru si Petir,
"Kurang Ajar.. di koek cih! lancang sekali mulutmu Bocah, Rasakan ini hiyaat..!" seru dua kawanan Perampok itu kembali maju Menyerang, semua Tata Gerak mereka yang di Ronjatkan oleh kedua Kawanan Perampok itu cukup sangat membahayakan juga. tapi tidak bagi si Petir, dia Tetap tenang dalam menyikapi kedua Serangan itu datang bersamaan.
syuushh.. powh, powh!
suara Serangan Kampak Merah Menyerang si Petir Bersamaan, dengan sangat cepat dan sigapnya si Petir. mampuh mengimbangi Tata Gerak dua lawannya sekaligus, hingga dua Kampak itu tak sedikit pun menggores anggota badan si Petir.
perwakilan ketua yang sedang melihat Pertarungan antara dua kawanan Perampok itu, cukup merasa kesal juga. karena tak menyangka Bocah seperti si Petir mampuh mempermainkan Tata Gerak lawan.
"Bocah itu memang bukan lawan sembarangan rupanya. aneh tapi nyata, ke kuatan Angin Samberan kedua Kampak Merah pun dapat di imbanginya." umpat ketua Kawanan Perampok itu di dalam hatinya,
ternyata di luar dugaan dua kawanan Perampok itu, ternyata si Petir berhasil nenendang Bokong dan pantatnya dua Orang itu. hingga mereka pun terjatuh tengkurap,
"seet.. deg dess!
suara tendangan Kaki si Petir yang berhasil mengenai Bokong dan Pantat dua musuhnya sekaligus.
mereka pun merasa ke Sakitan di Area tersebut, hanya bisa mengerang ke Sakitan. lalu di sisi lain, Marta sedang mengintip di jendela ruang Tengah. Akhirnya ia pun percaya dengan ke mampuan si Petir, yang telah Marta Saksikan sendiri. bagaimana si Petir mampuh mengimbangi ke Kuatan mereka, dan Marta pun memanggut manggutkan kepalanya. karena merasa Bangga pada si Petir,
tapi Marta kaget saat mendengar suara Seseorang sedang bertarung di Belakangnya, tepatnya di Ruangan Jendela tengah. tempat Bardi berjaga.
karena Bardi yang seorang diri telah di serang oleh Lima Kawanan Perampok itu. maka dari itu Bardi mulai kewalahan, Serangan Kampak yang sangat mengagetkannya menyerangnya Bertubi tubi. Bardi terus menerus menghindari Serangan itu, namun sangat terdesak. saat Punggungnya terpentok dengan lemari yang terbuat dari Kayu itu.
deg!
__ADS_1
punggung Bardi sudah beradu dengan Lemari itu, tapi Musuh malah semakin pada mendekatinya. Bardi pun membagikan pandangannya, agar tak kecolongan Gerak. karena Jurus yang mereka lakukan cukup lumayan bringas. saat dua Kampak akan mengarah pada Lehernya Bardi, Tiba tiba ada yang menghadangnya.
degg.. dess!
suara Kaki Marta menggagalkan Serangan dua Orang itu. mengenai Pipi dan dagunya dua Orang itu, lalu terdorong mundur ke belakang.
"Mang Bardi tak Apa apa?'' tanya Marta sambil terengah engah,
"Akhamdulillaah sae Den." jawab Bardi.
tapi sejak mereka bercakap, ketiga Kampak Merah datang akan menghantam punggung Marta, tapi Marta sudah bisa membaca gerakan tersebut dan dapat mengelaknya. sehingga ketiga Kampak Merah itu berbarengan malah mengenai sisi Lemari, yang baru saja di pakai penyandar punggung Bardi.
mereka berlima pun kaget saat melihat ke Cepatan Marta yang luar biasa itu. dan menggabungkan ke Kuatannya, mereka mempercepat gerakannya Masing masing. sehingga tangan ke Lima Perampok itu sangat cepat dan seperti Bayangan.
"Mang Bardi sebaiknya mundur dulu Mang, mohon Maaf bukannya saya meremehkan kemampuan Mang Bardi. tapi ini sangat berbahaya Mang," kata Marta pada Bardi.
Bardi pun mengerti apa yang di katakan oleh Marta, karena demi ke selamatan dirinya juga. hingga Akhirnya Bardi pun mundur ke belakang,
begitu Serangan Beberapa Kampak itu datang secara bersamaan. Marta hanya terdiam saja, menunggu serangan itu mengenai tubuhnya.
Ting.. ting Ting!
suara Kampak itu mengenai tubuh Marta, dan yang menyebabkan mereka merasa aneh. karena Tiba tiba Badan Marta Seperti Besi, atau Kampak beradu dengan Pedang.
mereka terus terusan menyerang Marta Beberapa kali, dan hasilnya pun masih sama. tak bisa menembus Dada, perut, dan Anggota badan Marta yang lainnya.
mereka semua kaget dan saling Tatap, pada Teman teman yang lainnya. tubuh musuh ternyata kuat di luar dugaan, Marta terpaksa pula mengeluarkan jurus Tapak Naga.
__ADS_1
Tiba tiba tubuh Marta bergetar, dan sempat Memejamkan kedua matanya sebentar. seusai memusatkan Mantra Jurus itu. dari Sela sela Jemari dan telapak tangan Marta mengeluarkan Cahaya Kuning.
Teeng! syuushh.. Jegerrr!
suara ledakan yang sangat keras terdengar oleh siapa pun, karena Ajian Ilmu Tapak Naga sudah berhasil merubuhkan Musuh Bersamaan. semua kelima Anggota perampok itu Gosong dan tak sadarkan diri untuk selamanya.
Juhari dan Esih pun terbangun, lalu melangkah keluar dari kamarnya. betapa kaget Juhari dan Esih, saat melihat kawanan Perampok itu sudah tak terselamatkan.
"Masyaa Alloh.. apa yang terjadi Aden?" tanya Juhari pada Marta,
"biasa Paman, ternya ada Seseorang yang sedang iri pada kami. sehingga mereka mengikuti kami sampai kemari," jawab Marta.
lalu tak lama kemudian si Petir datang dan dengan Raut muka yang tetap segar, tak memperlihatkan rasa Lelahnya sedikit pun. setelah Petir sampai ke Ruangan tempat ke jadian Kawanan Perampok itu terbaring dengan keadaan sekujur badan Gosong. si Petir pun heran,
"hehe.. loh ko bisa Gosong begini Paman?" tanya si Petir, di tujukan pada Marta.
"hehe, yah inilah Pelajaran untuk mereka selalu terus menerus. melakukan aksi ke Jahatan pada Orang yang tak berdosa Petir," jawab Marta.
"walaah, Gelo bisa Gosong begini Orang haha!!" seru Bardi yang Tiba tiba keluar dari persembunyiannya.
"iya Ki Sanak, saya juga kaget. Tiba tiba sudah Geheng begini hehe.." sambung lidah dari Juhari,
"ya sudah nanti setelah Matahari terbit kita Bakar saja Jasadnya, dan sekarang kita simpan saja di halaman belakang. bolehkan Paman?" tanya Marta pada Juhari,
"oh iya silahkan Aden, saya mah Setuju setuju saja." jawab Juhari.
saat Pagi tiba, Marta yang di temani si Petir. sedangkan membakar ke lima jasad yang Gosong waktu semalam, akibat terkena serangan jurus Tapak Naga. seusai beres membakar kelima jasad tersebut, Akhirnya mereka bertiga pun pamit. pada Juhari dan Esih, pemilik Rumah itu.
__ADS_1
Juhri dan Esih, sangat Berterima sekali kepada ketiga ke Satria itu. karena kalau tidak ada mereka, pasti mereka sudah Tewas oleh Karaman Perampok waktu semalam.
seusai berpamitan, ketiga Orang itu Akhirnya sudah pergi meninggalkan Rumah Juhari dan Esih.