
sesampainya di Ruangan, serta bergabung dengan kedua Orang Tua Angkatnya. si Petir langsung Duduk dan berhadapan dengan Kiyai Hasbullah juga Ambu Gayatri, "gimana sudah kelar Latihannya Tir?" tanya Ambu Gayatri lebih dulu,
"hehehe... Alhamdulillah Ambu lumayanlah, tapi kalau nggak keburu Mang Bardi ke sini pasti Petir bisa lebih meningkatkan lagi Jurus jurus main Pedanya Ambuh, Abah." sahut si Petir sambil melahap Buntut Ikan Panggang yang di buatkan oleh Kang Bardi,
"loh.. ko langsung makan saja kamu lupa ya? mengucapkan Bismillah terlebih dahulu sebelum kita melakukan sesuatu, termasuk Makan atau pun mencicipi Makanan. naah yang keduanya, jangan lupa juga harus serba Bersih Tir. udah Cuci Tangan belum hem?" tanya Kiyai Hasbullah, sambil mengingatkan si Petir.
"Astaghfirulloh.. Petir lupa Abah maaf hehe, maklum cape mungkin hehe.." jawab si Petir agak girang,
"ya sudah lain kali, sebelum Apa apa mesti Cuci Tangannya dulu ya Nak. kan Agama kita selalu menganjurkan ke bersihan adalah sebagian dari Iman, betulkan Bah?" tanya Gayatri pada Kiyai Hasbullah,
Kiyai Hasbullah pun memanggut lalu menjawab, " betul Tir. lain kali kita Awali dengan membersihkan diri dulu sebelum melakukan sesuatu ya, terus Kang Bardinya mana Tir?" tanya Kiyai Hasbullah, menanyakan Kang Bardi. selaku Murid kepercayaannya,
tak lama kemudian. seusai Kiyai Hasbullah bertanya pada si Petir Kang Bardi pun tiba, dan langsung masuk dan Duduk di sampingnya si Petir.
"naah ini dia Bah, yang Abah tanyakan udah datang hehehe.. baru saja Abah nanyain Mamang, memangnya abis dari mana dulu sih Mang?" tanya si Petir,
"hehehe... aduh mohon maaf pada semuanya, barusan Mamang teh Cuci Tangan dulu Tir. Abisnya di tempat Airnya Ngantri sama Santri lainnya hehe.." jawab Kang Bardi,
"oh. begitu yah Kang, ya sudah ayo sekarang kita mulai Berdo'a sebelum Makan." usul Kiyai Hasbullah pada semuanya,
kita tinggalkan dulu keluarga Padepokan Girilayang yang sedang Sarapan, kita Ceritakan keadaan di Daerah Cirebon saat ini. Warga Penduduk Asing sudah berdatangan untuk bermukim di Wilayah itu, Gusti Prabu Jaya Giri pun terpaksa berangkat ke Cirebon dengan membawa Beberapa Pasukan. namun saat sampai di Perbatasan antara Kuningan dan Cirebon, Kereta Kencana yang sedang di Tumpangi oleh Prabu Jaya Giri sedang di hadang oleh pihak Karaman. yang terbilang garang dan sangat Jahat Sedaerah Sumedang dan Cirebon,
__ADS_1
Kusir Kereta pun terpaksa menghentikan laju kudanya, karena ke Empat Karaman sudah berjajar menghadang mereka. "hahaha, ternyata ada Warga Asing yang datang kemari Badrun." ucap Uyu selaku ketua dari mereka,
"betul Yu, mari kita sikat Harta yang ada dalam kereta Kencana itu. lalu kitu berpoya poya Ahahaha.." kata Badrun antusias,
"hem.. benar juga kenapa kalian malah diam saja ayo maju Ancam mereka semua, dan pinta Paksa seisi Kereta Kencana itu." seru Uyu, sambil memerintah pada Dua Orangnya lagi.
"rupanya mereka ingin bermain main denganku. baiklah kita lihat siapa yang paling unggul," gumam Jaya Giri di dalam hatinya,
ternyata benar saja Dua Orang suruhan Uyu dari ketua Karaman itu datang mendekati Kuda yang membawa Kereta Kencana Prabu Jaya Giri, dan memesat Goloknya Masing masing sambil berbicara ketus.
"hey kau.. cepat Serahkan seisi didalam Kereta Kencanamu itu, itu pun jika kalian masih pengen Hidup." kata Sonjaya, di antara ke Empat Karaman itu, dialah yang sangat tegas dan cukup Mahir dari Gerakan Silatnya.
"koekh cih! jangan merasa bakal unggul dulu Kurang Ajar, ayo turun jika kau berani!" seru Bangbang sambil menggerak gerakan Goloknya.
"sebelum aku turun kau hadapi dulu Patihku, Paman kau layani meraka." kata Gusti Prabu Jaya Giri, sambil memerintah Paman Patih.
lalu Paman Patih pun dengan rasa Hormat, tanpa Basa basi lagi langsung loncat dari Punggung Kudanya. dan langsung berhadapan dengan kedua Orang itu,
"Haha.. Hem, mau nganterin Nyawa ya?" tanya Sonyaja, dengan Mata melotot.
"jangan banyak Omong lagi, ayo kalian berdua maju saja." jawab Paman Patih sangat ketus,
__ADS_1
Sonjaya dan Bangbang saling tatap, dan langsung maju bersamaan menyerang Paman Patih. mereka berdua tak Segan segan lagi menyerang Paman Patih dengan Goloknya, sedangkan Paman Patih hanya memakai tangan kosong saja tanpa Senjata.
Sonjaya yang sudah cukup berpengalaman menghadapi Rupa rupa lawan, kini ia pun bisa tahu apa yang mesti dia lakukan. untuk melumpuhkan musuh secara singkat, Paman Patih agak kewalahan. karena Gerakan Sonjaya sangat begitu cepat, apa lagi Serangan Goloknya terus mengarah pada Daerah Titik pentingnya. yaitu Antara kepala dan Perut Paman Patih,
Gusti Prabu Jaya Giri. masih mengamati Gerakan Sonjaya yang kewilang cukup jago juga, sehingga Gusti Prabu Jaya Giri segera menentukan sikapnya. yaitu untuk membantu Paman Patih,
ternyata apa yang di khawatirkan Gusti Prabu Jaya Giri kenyataan, Paman Patih telah kecolongan Gerakan lawan. sehingga Paman Patih tak keburu menahan dan menakis Gerakan dua Lawan sekaligus, Akhirnya Paman Patih terluka di bagian Dada Kirinya. akibat terkena tebasan Golok Bangbang,
lalu di ikuti oleh Tendangan dan pukulan dari Sonjaya, yang mengenai Tulang Iganya. seterusnya Paman Patih pun terjatuh ke belakang sambil berteriak, "Aaaa..!! aaaa," teriakan Paman Patih sangat mengkhawatirkan. lalu Gusti Prabu Jaya Giri loncat dari Kursi Kereta Kencanya, dan dua Telapak Kakinya sudah menapaki Tanah dan berhadapan dengan kedua Orang itu. Tatapan Sonjaya dan Bangbang sangat Tajam pada Gusti Prabu Jaya Giri,
"Hem, sekarang kau tinggal pilih pergi dengan Selamat atau Nyawamu Tewas di sini hem. Hahaha..." kata Sonjaya sambil tertawa cukup puas, karena telah mengancam Gusti Prabu Jaya Giri yang sedang berdiri di hadapannya itu,
" jika kalian bisa, silahkan buktikan kalau malah sebaliknya mohon maafkan," ucapan Gusti Prabu Jaya Giri cukup tenang.
"Jahanam, koekh cih!! Bangbang ayo kita habisi dia, hiyaaat.." seru Sonjaya dan Bangbang berbarengan, menggempur Gusti Prabu Jaya Giri.
sedangkan Uyu dan Badrun hanya mengamatinya di balik Rerimbunan, melihat aksi para kedua suruhannya. melawan Gusti Prabu Jaya Giri.
Gusti Prabu Jaya Giri memang sudah matang, dalam mengasah Ilmu Bela dirinya waktu di Cirebon dulu. makanya semua ke cepatan Gerak lawan mampuh di hindarinya, Sonjaya pun kaget. sebab baru pertama kalinya Gerakan memainkan Goloknya, mampuh di hindari lawan.
justru Bangbang yang sangat teledor, tak Benar Fokus sama Gerakan lawan. yang tentunya mampuh di hajar Gusti Prabu Jaya Giri,
__ADS_1