
jedag.. desss..!
tend*ngan Seseorang dengan Baju Serba Putih itu, melukai bagian Mulutnya Singa Maruta. Singa Maruta baru saja akan menatap siapa yang mend*angnya keburu Seseorang itu pergi, dengan membawa Ki Langkir yang mau di antarkan ke Rumahnya.
Duarta yang bersembunyi di Balik Pepohonan itu, Tiba tiba mengerutkan Dahinya. merasa Penasaran dengan Seseorang yang membawa Ki Langkir itu, Danuarta segera membaca Mantra dan menghilang dari tempat itu.
sedangkan di Rumah Ki Langkir, Ki Langkara Akhirnya bisa mendengar suara Bayi yang telah Lahir dan selamat. sedangkan Marta sedang menengok kanan kiri, karena Gurunya belum kunjung datang.
"kamu kenapa Marta? ko seperti yang lagi resah begitu?" tanya Langkara.
"entahlah Ki Langkara Tiba tiba perasaanku tak enak begini, memikirkan Sang Raka belum juga datang." jawab Marta,
"kau tenang Saja Marta, karena aku yakin Raka akan datang sebentar lagi.." jelas dari Langkara pada Marta.
tak lama kemudian.. suara teriakan dari Kamar Nyai Ipah terdengar lantang, dan bikin kaget Marta juga Langkara.
Langkara segera lari untuk masuk ke dalam Kamar Nyai Ipah, ternyata keadaan Nyai Ipah sudah mengenaskan. lehernya berdarah dan tewas secara tragis,
"Raka..!! apa yang terjadi, siapa yang berani melukai Rakaku. akan kuhabisi dia!" seru Langkara marah,
Marta yang menyusul masuk memberanikan diri ke Kamar Istri Gurunya itu. Tiba tiba kaget dengan melihat kondisi, Nyai Ipah sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.
sedangkan Bayinya masih hidup dan terdengar menangis. di Pangkuan Nyai Uwo yang bersembunyi di dekat lemari Kayu,
"suara tangis Bayi Ki Langkara, dimana Bayinya." kata Marta sambil mencari suara tangisan Bayi itu,
Tiba tiba Nyai Uwo keluar dari persembunyiannya, Sambil menggendong Anak Ki Langkir dan Nyai Ipah. baru saja Ki Langkara akan melangkah melihat Bayi itu,
__ADS_1
Tiba tiba dari garis Pintu terlihat Seseorang menggendong Ki Langkir yang sudah bersimbah Darah pula. Ki Langkara jadi semakin kaget melihat keadaan di luar dugaannya, Ki Langkir Rakanya pun sama sudah tak bernyawa lagi.
"ada apa dengan Raka Langkir, apa yang terjadi?" tanya Ki Langkara.
"Guru..!! ternyata benar pirasatku Guru huu..hu," seru Marta langsung menangis melihat Gurunya telah di penuhi Darah,
"Langkir terkena Serangan dari Singa Maruta, Ketua dari Karaman Macan Edan Ki Sanak." jelas Seseorang itu yang Bernama Kiyai Hasbullah.
"Singa Marut? terus Ki sanak sendiri siapa?" tanya Marta,
"iya ini ulah Singa Maruta, saya adalah Musafir dari Alas Mengker. saya sejak lama mengenal Langkir. eehm boleh saya membaringkannya," ucap Kiyai Hasbullah,
" oh Silahkan Ki Sanak, Rebahkan saja bersama Raka Istri," kata Ki Langkara sambil melirik Mayat Istrinya Ki Langkir.
"Astagfirulloh.. mengapa dengan Perempuan ini!" seru Kiyai Hasbullah kaget.
"coba mungkin Nyai tahu ke jadiannya Nyai?" tanya Kiyai Hasbullah.
"tentu saja, saya melihatnya dengan kedua Mata saya sendiri Ki sanak. begini ceritanya," kata Nyai Uwo menceritakan awal ke jadian kematian Nyai Ipah,
ketika beres melahirkan, Nyai Ipah sempat melihat Bayinya sebentar. dan Nyai Uwo sendiri, sedang membersihkan Bayinya, tak lama kemudian ada Seseorang memakai Topeng Hitam, masuk ke dalam Kamar. dan menyuruh Nyai Uwo berdiam di tempat. lalu si Bertopeng itu, menindih badannya Nyai Ipah, dan Tiba tiba menus*k bagian Lehernya Nyai Ipah.
"begitulah ceritanya Ki Sanak, dan Ki Langkara." usai menceritakan semuanya, Nyai Uwo pun pamit pulang pada mereka.
"Jagad Dewa Batara.. Awas saja, siapapun Orangnya aku tak segan segan membinasakannya," ucap Ki Langkara sambil mengepalkan tangannya.
"Sabarlah Ki Sanak, justru kita harus mendidik Putranya ini. supaya dialah yang akan menggetarkan Jagad ke Jawaraan di Tatar Sunda ini." kata Kiyai Hasbullah,
__ADS_1
"terus bagaimana kita mendidik dan membesarkan Bayi ini Marta," ucap Ki Langkara bingung.
"hehe.. maaf jika Ki Sanak mengizinkan, biarlah aku yang akan mendidik dan membesarkan Bayi ini," usul dari Kiyai Hasbullah.
lalu Ki Langkara saling Tatap dengan Marta, dan Kiyai Hasbullah pun berkata lagi, " kalian jangan Khawatir. saya pasti akan amanah untuk mendidiknya, kalau kalian merasa ragu. datanglah ke padepokan kami, di Tapel Batas. antara Alas Waringin dan Alas Mengker, di sana ada sebuah Padepokan bernama Girilayang." kata Kiyai Hasbullah meyakinkan mereka,
dan Akhirnya Ki Langkara mengizinkan. Kiyai Hasbullah untuk membawa Bayi itu. dan ia berkata untuk menyampaikan Amanat dari Rakanya itu, untuk Nama Bayi itu.
"baiklah Ki Sanak, dengan rasa hormat saya mengucapkan banyak Terima kasih pada Ki Sanak. saya pun mengizinkan Ki Sanak untuk membawa Bayi itu, dan Berilah Nama Bayi itu dengan Nama Si Petir, karena sebelum pergi berlaga. Raka mengamanatkan Nama itu, jika ia Laki laki," begitulah yang telah di Sampaikan oleh Ki Langkara pada Kiyai Hasbullah. sebelum pergi meninggalkan kediaman Ki Langkir,
setelah Usai percakapan, Kiyai Hasbullah Pamit dan membawa Bayi yang bernama si Petir. ke Padepokan Girilayang, di Alas Mengker.
setibanya di Padepokan Kiyai Hasbullah di Sambut oleh para Muridnya, dan Muridnya pun menatap Kiyai Hasbullah yang sedang menggendong seorang Bayi, lalu Kiyai Hasbullah menyerahkannya pada Sang Istri yang bernama Gayatri.
"Bayi siapa ini Bah?" tanya Gayatri,
"ceritanya panjang, yang jelas kita Besarkan Bayi ini. supaya bisa mengalahkan Seseorang yang sudah menewaskan kedua Orang Tuanya itu." kata Kiyai Hasbullah, dan pergi setelah menyerahkan Bayinya pada Gayatri,
Gayatri pun sangat senang merawat si Petir waktu itu. karena ia bersama Kiyai Hasbullah belum di percayai untuk mendapatkan ke turunan, Gayatri pun merebahkan Bayi itu. di tempat tidurnya, sedangkan Bayi Laki laki yang bernama si Petir itu. mempunyai watak Humoris dan sangat Cerdas.
Beberapa Tahun kemudian.. si Petir sudah menginjak usia Remaja, ia memiliki Wajah tampan dan terlihat Gagah. si Petir adalah ke turunan Jawara, maka tak heran dirinya mempunyai Beberapa Jurus dari Kiyai Hasbullah.
Si Petir saat itu, sedang berkeliling bersama sala satu Murid ke percayaan Kiyai Hasbullah. ia mengelilingi Pasar, yang terletak di jalan Ranca Picung. sedangkan di Daerah Pasar itu, terkenal dengan Jago Kampak Merah. yang di Lulugui oleh Ratna Anjani, seorang Wanita yang Jago Silat juga.
saat sampai di sebuah Taman, si Petir Tiba tiba di Hadang oleh Empat orang yang semuanya membawa Kampak berwarna Merah.
"hey mau kemana kalian, jika kalian mau selamat serahkan Barang yang kalian bawa." kata sala satu dari ke Empat orang itu,
__ADS_1
"ehhm maaf saya tak mempunyai Apa apa Ki Sanak," sahut dari Murid ke percayaanya Kiyai Hasbullah itu.