
"Wa'alaikum Salam.. Bardi, dari kapan kamu berangkat dari sana," jawab salam dari Bardi. lalu Kiyai Hasbullah mulai menanyainya,
"saya kemarin tak sempat menginap, setelah di beri Ramuan. saya langsung Pergi lagi Abah," jawaban Bardi membuat Kiyai Hasbullah agak kaget.
"loh kenapa saudaraku tak ikut kemari? apa beliau sedang Benar benar sibuk?" tanya Kiyai Hasbullah penasaran,
"mohon maaf sebelumnya Abah. sebetulnya saya tak sempat pergi ke Cirebon, justru baru sampai daerah Kuningan. saya di pertemukan dengan Seseorang turunan Raja Kuningan, yang bernama Gusi Prabu Jaya Giri. dan menjelaskan bahwa beliau adalah Muridnya Syeckh Nurjaman, dan kebetulan juga beliau mengenali Abah." kata Bardi menjelaskan,
"haah.. jadi kamu tak sempat berjumpa dengan Syeckh Nurjaman, tapi malah mengunjungi Putra Mahkota Kerajaan Kuningan?" Ucap Kiyai Hasbullah sambil bertanya,
"benar Bah, bahkan ia pun mencegah saya untuk pergi ke Cirebon." kata Bardi,
"mengapa beliau malah melarangnya?" tanya Kiyai Hasbullah lagi,
"karena... Beliau telah Wafat katanya Bah," jawaban Bardi. menjadikan Kiyai Hasbullah kaget.
"Yaa Alloh, Innalillahi.. terus apakah Putra Mahkota itu menjelaskan sebabnya," tanya Kiyai Hasbullah.
"tentu saja Bah, beliau bilang penyebab Wafatnya di karenakan terkena Peluru Emas. oleh Warga Negara Asing katanya Bah." ucap Bardi menjelaskan,
"Yaa Alloh.. maafkan aku Saudaraku, ternyata benar Isu Daerah Cirebon di Serang oleh Mark Fater. sampai sampai dia membinasakan Saudaraku," kata Kiyai Hasbullah sambil menundukan wajahnya karena merasa menyesal, tak sempat untuk membantu Syeckh Nurjaman.
"iya Bah, kita Do'akan saja semoga Beliau mendapat ketenangan di Alam sana." ucap Bardi, untuk mencoba menghibur Kiyai Hasbullah.
"iya Amiin, terus Beliau memberi Ramuan apa Bardi." kata Kiyai Hasbullah mengingatkan Bardi, tentang Ramuan pemberian Prabu Jaya Giri.
"oh ini Bah.." kata Bardi Sambil memberikan Guci kecil yang berisi Ramuannya,
__ADS_1
"oh sungguh hebat tempatnya juga, unik dan sangat terlihat Rapih. terus cara memakainya bagaimana Kang Bardi," kata Kiyai Hasbullah. meminta petunjuk pada Bardi, cara menggunakan Ramuan Pemberian Jaya Giri itu.
"kalau tidak salah, beliau menyuruhnya untuk mengoleskannya saja Bah. karena Ramuan ini beliau memberikan Nama Raksa Jasad," jelas Bardi. memberikan petunjuk Tata cara pemakaiannya,
seusai Berbincang dengan Kang Bardi di Ruang Tamu, lalu Kiyai Hasbullah segera masuk lagi kedalam Kamarnya si Petir. dan Gayatri yang dari tadi sedang mengajak Ngobrol si Petir, jadi beranjak berdiri dari pinggir Ranjang yang sedang di pakai si Petir Berbaring. karena melihat Kiyai Hasbullah sudah masuk lagi ke Kamarnya,
"hehe.. gimana sekarang keadaanmu Nak?" tanya Kiyai Hasbullah di tujukan pada si Petir,
"Alhamdulillah Bah.. cuma agak sedikit Ngilu saja sekujur Badan Petir Bah," jawab si Petir. yang masih kelihatan agak masih lemas.
tapi daya Tahan si Petir memang luar biasa, sehingga bisa menahan semuanya. lalu Kiyai Hasbullah pun mengeluarkan Guci kecil yang berisi Ramuan Herbal buatan Gusti Prabu Jaya Giri.
"naah berhubung Saudara Abah telah Wafat, maka Alhamdulillaah masih ada Ramuannya." ucap Kiyai Hasbullah sambil memperlihatkan Ramuannya pada si Petir,
"ouh jadi Syeckh Nurjaman telah Wafat Bah?" tanya Gayatri,
"iya.. kata Kang Bardi begitu Ambu, dan sangat mengenaskan juga Ambu. Beliau Wafat karena sebab di jebak oleh Penjajah Negara Asing, lalu Beliau terkena Tembakan Peluru Emas," kata Kiyai Hasbullah menjelaskan.
"oh iya Abah lupa, ini Ramuan yang Bernama Ramuan Raksa Jasad. berarti hanya di oleskan saja ke area badanmu saja Tir," jawab Kiyai Hasbullah.
"oh jadi begitu ya Bah, ya sudah tolong olesin sekarang bisa nggak Bah?" tanya si Petir lagi, di tujukan pada Kiyai Hasbullah,
"oh tentu bisa Tir, ehhm gimana kalau sama Ambu saja ya. di olesinnya," kata Kiyai Hasbullah sambil melirik Gayatri, yang berada di sebelahnya,
lalu Gayatri pun mematuhi perintah Kiyai Hasbullah, sebagai Suaminya untuk mengoleskan Ramuan pemberian dari Kerajaan Kuningan itu.
Hari ke hari begitu cepat.. setelah sekian lamanya si Petir di Rawat oleh Kiyai Hasbullah dan yang lainnya, Akhirnya berkat pelantara Ramuan itu si Petir sudah Pulih seutuhnya. Badan yang tadinya lemas dan tak ada Gairah atau Tenaga, kini si Petir sudah bisa kembali berdiri dan bisa beraktivitas lagi. untuk berlatih Ilmu kanu Ragannya, dan juga Melatih Jati dirinya. Akhirnya si Petir semakin Harinya sudah maju pesat dalam mempelajari Ilmu Beladirinya, dan sudah mulai pengusai Garakan Kayu Cendana seutuhnya.
__ADS_1
di kediaman Karaman Kampak Merah pun sama, semua Anggota sudah di Beri Tata Gerak yang baru oleh Danuarta. sehingga akan merencanakan untuk merampok lagi di sekitar Alas Mengker,
Malam pun tiba.. para Anggota Karaman Kampak sudah Bersiap siap akan pergi untuk memancing si Petir keluar, dengan mencoba membuat ke kacauan pada Warga Penduduk.
"hahaha.. Bagus kalian sudah sangat Semangat sekali untuk menjalankan misi ini, tapi ingat jangan berani Maju sebelum ada Perintah dariku dan Rakaku. Mengerti!" seru Untari memberi Saran pada Anggotanya,
"Mengerti Nyai...!!" seru balik dari para Anggota dengan Antusias,
Untari dan Ratna Anjani segera menaiki Kudanya Masing masing, lalu Ratna Anjani sebelum berangkat memberi Saran juga pada Anggota Kampak Merah,
"kalian jangan gegabah jika menghadapi Bocah Sakti itu, ingat pesanku Mundurlah jika kalian bertemu dengannya. biar kami berdua yang menghadapinya," Saran dari Ratna Anjani.
seusai memberi Saran, mereka pun berangkat menuju Kampung Panembong. para Anggota mengikutinya dari belakang sambil membawa Obor penerang Jalan,
sedangkan di Padepokan Girilayang, si Petir sedang belajar bermeditasi sambil Berdzikir. meminta petunjuk pada Sang Maha Pencipta agar selalu di beri jalan yang lurus. untuk menghadapi Rintangan kehidupan,
Kiyai Hasbullah sedang memperhatikannya dari ke Jauhan, melihat si Petir semakin banyak kemajuan di dalam Belajarnya menjadi suatu kebanggaan bagi Kiyai Hasbullah. baru saja Kiyai Hasbullah akan melangkah menuju Kamarnya, Tiba tiba ada sala Santri datang menghadap.
"Assalamualaikum.. Kiyai ini gawat," ucap Sala satu Santri itu terlihat Panik.
"Wa'alaikum salam, ada apa Janri?" tanya Kiyai Hasbullah pada Janri sala satu Santrinya,
"di pemukiman Warga telah terjadi Huru hara lagi Kiyai, Pasukan Karaman Kampak Merah sudah kembali beraksi." jawab Janri,
"Innalilahi.. kalau begitu panggil Kang Bardi dan Beberapa Santri untuk ikut denganku, dan kita juga mesti mengajak si Petir." kata Kiyai Hasbullah memerintah,
tak lama kemudian si Petir keluar dari kamarnya, tempat dirinya belajar Meditasi." ada apa Bah, kok Janri kayaknya Panik." tanya si Petir,
__ADS_1
"ada Bencana lagi Tir, Karaman Kampak Merah sudah berani mengacau kembali," jawab Kiyai Hasbullah.
"Astaghfirulloh.. hehe sudah bosan Hidup kayaknya Bah hehe,"