JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 18.


__ADS_3

tak di ceritakan di perjalannya, ketiga Orang itu pun Akhirnya sampai di Gerbang Padepokan Girilayang. lalu kedatangan mereka bertiga pun di sambut dengan hangat oleh Kiyai Hasbullah dan para Santri lainnya.


Gayatri sangat terharu rupanya, melihat Anak Angkatnya pulang dengan keadaan selamat. Gayatri pun memeluk si Petir, lalu mencium Kening dan kedua Pipinya si Petir.


sedangkan Kiyai Hasbullah sedang mengobrol dengan Bardi, juga Marta di Teras depan. tapi Situasinya cukup menyejukkan, akan Indahnya Bunga bunga yang baru bermekaran di pekarangan Pedepokan.


"Alhamdulillaah, kalian Pulang dengan keadaan Sehat Wa'alfiat Bardi." kata Kiyai Hasbullah, membuka pembicaraan.


"iya Alhamdulillaah Bah, dengan sangat Bersyukur. kita selalu di Mudahkan Bah," ucap Bardi.


"maaf ternyata saya baru mendengar, Kalimat kalimat Bahasa yang Asing barusan." sahut Marta, karena ia berbeda ke Yakinan dengan keluarga Kiyai Hasbullah.


"hehe, iya tidak Apa apa Anak Muda. karena kita Sama sama Manusia tapi berbeda ke Yakinan, ini adalah bahasa Memuji ke Yakinan kami pada Sang Penguasa Alam Jagat Raya Anak Muda." jelas Kiyai Hasbullah, di tujukan pada Marta.


"oh, jadi ternyata di samping ke Yakinan saya. rupanya ada yang berbeda Tata cara ya? maaf sekali lagi, karena saya baru tahu sekarang." kata Marta,


"hehe.. tidak Apa apa Anak Muda, yang penting kita satu tujuan. mengemban Amanah Dzat yang Maha Tunggal," ucapan Kiyai Hasbullah sangat bertoleransi dan Bijaksana.


dari situlah Marta, bisa menilai Orang orang Desa Alas Mengker. ternyata Orang yang sangat Baik dan berbudi bagus, Marta merasa Nyaman berbicara dengan Kiyai Hasbullah. Orangnya santai dan penuh ketenangan, hingga ia mulai menyukai gelagatnya.


sedangkan di kediaman Kampung Pamidangan yang terletak di Desa Alas Waringin, semuanya menjadi Tentram kembali. saat ada si Cadar Coklat yang sudah menyelamatkan Nasib para Warga di sana.


Ki Langkara mendengar keterangan dari Seorang Kuwu, yang menceritakan ke jadian waktu semalam. saat para Karaman Macan Edan, menggempur kembali ke tenangan Warga. dan di situlah si Cadar Coklat menyelamatkan para Penduduk,


"hem.. jadi Seseorang itu hanya bertopeng dengan Cadar, jadi kalian belum tahu pasti siapa Orang itu?" tanya Ki Langkara,


"betul Ki, oleh sebab itu saya menanyakan pada Aki. siapa tahu Aki mengenalinya, karena menurut cerita Warga. dia juga memiliki Jurus jurus yang sama dengan Aki," jawaban Kuwu itu pada Ki Langkara.

__ADS_1


"Jagad Dewa Batara, siapa Seseorang itu ya? mengapa dia mempunyai Jurus jurus seperti saya?" tanya Ki Langkara kembali,


."betul begitu katanya Ki, dan saya juga mengira itu adalah Aki sendiri." jawab Kuwu,


"Demi Dewata Agung, saya tak pernah keluar Rumah. waktu diriku sedang Cedera seperti ini, tapi waktu Malam yang dua hari ke belakang saya memang sempat keluar Rumah. itu pun bersama Marta dan dua Orang Tamu saya, saat si Jarong dan si Bewok menyerang Warga saja." jelas dari Ki Langkara,


mendengar keterangan seperti itu, Kuwu Bandi pun merasa heran. siapa Seseorang yang menjadi Pahlawan baru di Desa Alas Waringin ini.


sementara yang menjadi perbincangan antara Kuwu Bandi, dan Ki Langkara itu ternyata adalah Ki Sanggah langit. Gurunya Abah Laleyang, Ayah Langkir dan Langkara.


Ki Sanggah Langit pernah di Gosipkan telah meninggal, akibat di Bunuh oleh Ki Rungkup Bumi. yang ternyata Ki Sanggah Langit hanya jatuh Pingsan saja, dan ia pun Berpura pura Mati.


karena bagaimana pun Pertarungan mereka hanya salah paham, maka dari itu Ki Sanggah Langit hanya bisa mengalah saja. lalu siapakah Ki Rungkup Bumi itu? dan apakah masih Hidup?


Ki Rungkup Bumi adalah ketua Perguruan dari Serigala Bayangan, juga sekaligus pewaris Tunggal Ilmu Kala Rajah, dan Ilmu Mande hiyang. Ki Rungkup Bumi ternyata masih Hidup dan sedang Bertapa di Gua legok Sumur Panamping.


Ki Sanggah Langit karakternya memang seperti Orang Gila, Baju Cumpang camping. dan Rambut panjang Gimbal, ia sengaja bertopeng rupa. karena tak mau ada Seseorang yang mengenalinya.


begitulah Dunia ke Jawaraan di Alas Waringin hingga sekarang, Turun temurun kalau Istilah Bahasa Jawa barat dahulu. hingga banyak para Murid Ki Sanggah Langit yang murtad, akibat ke Sombongan dirinya Masing masing.


di antaranya, Danuarta, Ki Cupung Igel, Jayadi Praja, Ganitri si Pedang Setan. masih Banyak Murid Ki Sanggah Langit yang membelot.


sementara di kediaman Untari alias di tempatnya Karaman Rampok Kampak Merah, Untari mendapat kabar. mengenai kelima kawanan Perampok itu sudah tewas, oleh Jurus yang mengerikan. sehingga sekujur tubuhnya Gosong,


Untari Mukanya menjadi bringas, lantaran marah pada Perwakilan ketua itu."terus mengapa kau tidak bisa menangkap Bocah itu? apa mungkin kau merasa takut heh?" tanya Untari Bertubi tubi,


"mohon ampun Nyimas, saya juga sudah berusaha dengan sekuat tenaga. bertarung melawan Bocah itu, tapi..." ucapan Perwakilan ketua itu di potong oleh Untari,

__ADS_1


"tapi kau malah yang kalah, iya!!" seru Untari marah sambil berdiri dari tempat Duduknya,


"iya Nyi..mas, to..long maafkan saya Nyimas," kata perwakilan ketua itu memohon.


tapi rasa Marah yang cukup berat bagi Untari, Membuat Untari sudah tak punya lagi rasa belas kasihan padanya. sehingga Untari Memerintah sebagian Kawanan Perampok Kampak merah untuk menyeret perwakilan ketua itu.


dua Orang Kawanan Perampok itu pun segera menghadap Untari, lalu dengan sebuah Isyarat saja. kedua Orang kawanan Perampok itu menyeret Perwakilan ketua itu, dan di satukan dengan tawanan yang lainnya.


Tiba tiba Untari melangkah menuju sebuah Taman kecil tak jauh dari tempatnya, dan Tiba tiba lagi. Danuarta datang.


jorelaat jlig!


Duarta baru saja meloncat, dan sekarang Sudah berdiri di samping Untari. Untari pun langsung duduk dan menyembah,


"Guru. ada apa Tiba tiba Guru secara mendadak datang kemari?" tanya Untari,


"hahaha.. jangan Pura pura tidak tahu kau Untari, karena aku baru saja mendapatkan kabar dari Rakamu kalau kau sudah Gagal lagi mendapatkan Pedang Pusaka itu." jawaban dari Danuarta, terdengar agak Pedas di telinga Untari.


"maafkan Tari Guru, sebab Kiyai itu Ilmu Silatnya cukup licin juga. dan mampuh menghindari semua seranganku." jela Untari,


"bukannya kau sudah di pinjamkan Senjata Gada Trisula, oleh Rakamu?" tanya Danuarta lagi,


"mohon maaf Guru, Gada itu pun sama saja tak mampuh untuk memperdayai mereka Guru." jawab Untari, dengan Posisinya masih menyembah.


"dengar dengar kau di kalahkan oleh Seorang Bocah?" tanya Danuarta Bertubi tubi,


"I..iya Guru, Bocah itu sudah memiliki Ilmu Silat sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2