JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 34.


__ADS_3

Kiyai Hasbullah langsung ke belakang sambil meloncat tinggi, untuk menghindari Samberan Pedang Setan milik Ganitri.


lalu si Petir pun maju lagi, dengan menggunakan jurus khusus. yaitu Jurus Pedang Kayu Cendana, otomatis si Petir menggunakan Ilmu Peringan Badan sepenuhnya. dan Menyerang Ganitri Bertubi tubi, sehingga Ganitri sangat kewalahan juga menghadapi si Petir. apa lagi saat mencium Aroma Pedang Kayu Cendana itu, membuat Konsentrasinya Buyar.


saat Kiyai Hasbullah melihat ada kesempatan langsung maju kembali untuk menyerangnya. tapi apa yang di fikirkan oleh Kiyai Hasbullah itu ternyata sekedar umpan saja, setelah Kiyai Hasbullah turun dari atas Pohon. dan menapaki Tanah, lalu menyerang Nyai Ganitri dengan cara mengeluarkan tenaga dalamnya, tentu saja dengan kewaspadaan Nyai Ganitri. bisa mementalkan Tenaga dalam Kiyai Hasbullah dengan Tenaga dalam juga, yang jadinya Kiyai Hasbullah yang terdorong oleh kekuatan itu.


Kiyai Hasbullah terpental jauh hingga melewati tempat itu, untung saja daya tahan tubuh Kiyai Hasbullah tak semudah jago lainnya. Kiyai Hasbullah mampuh menjaga keseimbangan tubuhnya, dan berdiri tegak.


"ternyata aku salah mengira, tenaga dalam Perempuan itu lumayan luar biasa. Alhamdulillaah aku bisa mengatasinya, tapi akankah si Petir dapat melumpuhkannya?" gumam Kiyai Hasbullah, sambil bertanya tanya pada dirinya sendiri.


si Petir hampir saja lengah, setelah melihat Kiyai Hasbullah terpental jauh. tapi si Petir mengabaikannya terlebih dulu, untuk mengakhiri Pertarungannya si Petir dengan terpaksa mengeluarkan Jurus pamungkasnya yaitu, Ilmu pancer manunggali Alam. si Petir berdiri tegak sambil memejamkan kedua Matanya, dan memasrahkan diri sepenuhnya pada Sang Maha Pencipta.


Cahaya Mutih mulai terlihat menyinari sekujur tubuh si Petir, dan menggulung Besar. Nyai Ganitri sudah tahu apa yang harus di lakukannya, ia pun segera mengkombinasikan kekuatan Pedang Setan dengan Ilmu Mande Hiyang.


lalu maju Menyerang si Petir terlebih dulu.. tapi saat Nyai Ganitri mendekati Tubuh si Petir, Tiba tiba ada Serangan Cahaya Kuning menyerang Tubuhnya Nyai Ganitri. sehingga Nyai Ganitri terpental dan terluka Parah, Akibat terkena kekuatan sendiri.


"Aaaaa..!! eeee.. tol, long Aa..aku," seru Nyai Ganitri ke Sakitan dan sudah tak bernyawa lagi. akibat terkena tenaga dalam dari Seseorang, yang ternya dari Ki Sanggah Langit.


Ki Sanggah Langit pun menampakkan dirinya, memakai Cadar Cokelat. dan berdiri membelakangi si Petir, yang sudah membuka Matanya. serta kembali ke Posisi semula.


"jangan takut Cucuku, aku sengaja mencari dia Bertahun tahun. Akhirnya aku sudah menemukan dan membinasakannya, tolong kau Rawat Pedang Kayu Cendana itu sebaik mungkin," kata Ki Sanggah Langit pada si Petir. tentunya si Petir pun merasa Penasaran lalu bertanya,

__ADS_1


"hehe.. memangnya Kisanak ini siapa? ko bisa di bilang aku Cucumu? ya tentu saja saya akan merawat Pedang ini, karena ini Warisan dari Almarhum Ayah saya Ki Sanak." ucap si Petir sambil bertanya tanya dan menjelaskan.


"nanti juga kamu akan tahu siapa aku, tapi yang jelas kau Adalah Cucu dari Muridku. atay kau Anaknya Ki Langkir kan? Syukurlah jika kau akan merawat Pedang itu dengan baik." jawab Ki Sanggah Langit, dan menjelaskan tentang Ayahnya si Petir. walaupun hanya sedikit,


"hehe.. ahh mau Ki Sanak siapa juga saya tidak Perduli yang jelas saya sangat berterima kasih pada Ki Sanak yang sudah menolong saya, terus kenapa juga Ki Sanak tahu sama keluarga Ayah saya ya? jadi Penasaran ini teh?" tanya si Petir Bertubi tubi, saking merasa penasaran pada si Cadar Cokelat itu.


"haha.. ternyata Adat tabi'atmu percis dengan Kakekmu, selalu lurus tak mengenal rasa penasaran.. naah Sekarang Akhirnya kau Penasaran juga kan, siapa aku dan mengapa aku tahu dengan keluarga Ayahmu," kata Ki Sanggah Langit menjelaskan.


lalu tak lama kemudian Kiyai Hasbullah datang menghapiri mereka berdua, "eehm. maaf Ki Sanak saya memotong Pembicaraan kalian sebentar." ucap Kiyai Hasbullah, saat mendekati mereka berdua.


"hehe, ternyata kau Pengurus Padepokan Girilayang iyakan?" tanya Ki Sanggah Langit pada Kiyai Hasbullah,


"hahaha.. hem, tolong aku titipkan Cucuku padamu. Didiklah ia dengan benar, dan jangan lupa jika dia kelak sudah Dewasa suruh dia untuk datang ke tempatkan. di Kota Raja," kata Ki Sanggah Langit, dan langsung menghilang Meninggalkan mereka bertiga.


"yaa bagaimana Ki Sanak itu, belum kasih Penjelasan sama saya Bah. keburu ngilang aja," kata si Petir. sambil cemberut,


"sudahlah. mungkin beliau belum memberikan Penjelasannya sekarang, bahkan kamu juga dengarkan apa yang di ucapkannya barusan.?" tanya Kiyai Hasbullah sambil mengelus Rambutnya si Petir,


"iya juga ya Bah, tapi kata Petir mah agak terlalu lama dong Bah. kalau menunggu Petir Dewasa mah," jawab si Petir. yang kembali Cemberut lagi,


"hehe.. sabar Tir, nanti juga pasti tiba Waktunya ko. ya sudah sekarang kita mesti segera pergi menjemput Ambumu dari Tangan Karaman itu Tir," kata Kiyai Hasbullah.

__ADS_1


"baiklah kita jangan Menunda nunda lagi Waktu Bah, kita harus segera selamatin Ambu Bah." kata si Petir yang sudah berjalan duluan kedepan,


"ehh kamu kemana Tir?" tanya Kiyai Hasbullah, yang sekaligus harus mengingatkannya.


"ya mau selamatin Ambu atuh Bah, masa kita nggak segera menyelamatkannya." jawab si Petir, yang belum menyadari sesuatu,


"iya memang kita mesti selamatin Ambumu Tir, tapi jangan sampai tinggalin Kudanya dan Kang Bardi juga kali!" seru Kiyai Hasbullah, yang telah mengingatkan si Petir sama ke salahannya.


"Astaghfirulloh.. ko saya bisa lupa ya hehe, untung Abah ingetan. ampir saja Mang Bardi sama Kuda yang saya Tunggangi ke tinggalan haha," ucap si Petir di sela Tawanya.


seusai si Petir sudah Menunggangi Kudanya kembali, lalu melirik Barda yang sedang tersenyum. lantaran melihat Tingkah si Petir yang lucu baginya, si Petir pun lalu fokus menatap kedepan. sambil menjalankan Kudanya lagi,


Kiyai Hasbullah mengikutinya dari belakang.. di Perjalanan sekarang mereka terlihat aman, hingga sampai pada tujuan. sesampai di Perbatasan Pasar, Kiyai Hasbullah memberhentikan Kudanya. lalu berkata pada Bardi yang ada di depannya,


"Kang lebih baik kita biarkan si Petir untuk berjalan terlebih dulu, kita ikuti dari belakang saja." kata Kiyai Hasbullah,


"oh memangnya kenapa Bah, apa kita tidak merasa si Petir bakal dalam Bahaya Bah?" tanya Kang Bardi,


"jangan Khawatir, si Petir sudah mampuh membela dirinya sendiri. justru yang kita Khawatirkan adalah musuh yang ada di belakang si Petir nantinya Kang," jawab Kiyai Hasbullah. sambil menjelaskan maksudnya,


sampai Akhirnya si Petir sudah sampai perbatasan antara Pasar dan tempat Karaman, sudah terlihat oleh Mata si Petir. Rumah yang lumayan Besar di sertai halaman yang sangat luas.

__ADS_1


__ADS_2