JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 09.


__ADS_3

"uhuk.. uhuk, hehe.. tidak Apa apa. malahan saya merasa Asing melihat Kisanak dan Anak ini, cuma agak heran saja gitu. uhuk! uhuk!!" seru Ki Langkara sambil Batuk batuk,


" oh iya pastinya Aden, karena baru pertama saya juga melihat Aden." kata Kang Bardi,


"oh iya, pasti dan kita tentunya belum saling mengenal bukan?" tanya Ki Langkara,


"oh iya hehehe.. saya Bardi, dari Alas Mengker. dan ini Ponakan saya Namanya Petir," jawab Kang Bardi, membuat Ki Langkara tercengang kaget dan bercampur senang juga. karena Akhirnya ia bisa bertemu dengan si Petir, Putra dari Rakanya itu.


"apa? dari Alas Mengker, dan ini Namanya. si Petir? ka..kalian ini dari Padepokan Girilayang?" tanya Ki Langkara memastikan.


"hehe betul Aden, saya dan Ponakan saya ini. dari Padepokan Girilayang Aden, dan maksud saya datang kemari ingin.." perkataan Kang Bardi terputus,


"iya cukup Ki Sanak, saya sudah tahu pastinya Anak ini ingin melihat kediaman Ayahnya. bukan begitu kan Nak?" tanya Ki Langkara sambil menatap si Petir.


"iya Paman, saya juga baru tahu dari Abah saya. kalau saya ini Aslinya berasal dari Alas Waringin," jelas dari si Petir.


"oh begitu katanya, siapa Abah yang kamu maksud itu Nak?" tanya Ki Langkara penasaran.


"Abah saya bernama Kiyai Hasbullah Paman," jawaban si Petir membuat Ki Langkara kaget. dan menderaikan Air Matanya, merasa terharu karena melihat Anak Rakanya itu. akhirnya sudah Besar dan Remaja, Gagah serta tampan.


Ki Langkara pun memeluk tubuh si Petir lalu menangis, di bahunya si Petir." Raka lihatlah Putramu ini, sudah Remaja. dan sangat Tampan Raka. andaikan kalian masih ada, pasti kalian akan senang melihat Putramu sudah Besar." kata Ki Langkara, yang maksudnya berkata pada Almarhum Ayahnya Ki Langkir, juga Pada Almarhumah Nyai Ipah Ibunya.


"jadi Paman ini siapanya Ayah saya, dan beliau di Makamkan dimana?" tanya si Petir Bertubi tubi,


"paman ini adalah Adiknya Orang tuamu Nak, dan Ayahmu sudah di bakar Jasadnya." jawaban Ki Langkara Membuat si Petir mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"ko malah di Bakar sih Paman," tanya si Petir lagi.


"hehe maksud paman ini, cara memakamkan Jenazahnya memang begitu Tir. kan beda tradisinya sama kita." usul Kang Bardi menjelaskan pada si Petir,


"oh begitu ya, saya mah baru tahu Mang. dan Paman ini jadi Adiknya Ayah saya," tanya si Petir pada Ki Langkara.


" betul Petir, jadi kamu tidak salah memanggilnya dengan sebutan Paman, karena saya adalah Paman Aslimu." jawab Ki Langkara sambil merasa terharu dengan ke datangan si Petir ke bekas Rumah kedua Orang Tuanya, yang sekarang di Tempati oleh Ki Langkara.


"oh begitu ya Paman, bisakan saya mendengar cerita Ayah saya ketika masih Hidup. ya supaya saya dapat mengenangnya gitu Paman," ucap si Petir.


" tentu saja boleh Petir, karena kamu persis dengan Ayahmu. bawel dan suka Selalu penasaran, tapi Ayahmu adalah Jawara yang tak tertandingi. karena beliau mewarisi Ilmu Karang Nunggal, Ilmu pemberian Kakekmu. Abah Laleyang. tapi Namanya juga Ajal, pasti akan ada sebab untuk dirinya harus meninggalkan kami untuk selamanya." jelas Ki Langkara menceritakan Filosofi Ki Langkir,


"tapi Paman, mengapa Warga di sini nampak sepi sekali?" tanya si Petir.


"untuk hal itu ceritanya panjang Petir, karena Singa Maruta. musuh Bebuyutan kita, telah mengancamnya, oleh sebab itu para penduduk Seakan akan takut dengan ancamannya Petir." jelas Ki Langkara,


"hehe.. di Ancam akan di penggal, di Alun alun kota Raja, yang sekarang di sebut Kampus Alas Kota. semenjak pihak Singa Maruta menggabungkan diri pada Perguruan Sanca Dawuk, ke kuatan Maca Edan itu semakin bertambah. begitu Petir," jawab dari Ki Langkara menjelaskan.


"waah jangan sampai di biarkan kalau kaya gini mah Paman, saya siap bantu ko." kata si Petir antusias.


"eehh jangan Gegabah Tir, walau pun kamu sudah di bekali Ilmu Beladiri. tetap saja nanti kamu bakal ke walahan Tir, bukan begitu kan Den?" tanya Kang Bardi, sambil menatap Ki Langkara,


"iya benar petir, kamu harus lebih meningkatkan lagi ke mampuanmu karena Lawan yang kita hadapi. bukanlah lawan atau jago sembarangan Petir, kita mesti mempunyai ke Kuatan penuh." saran dari Ki Langkara,


"ohh.. atuda saya teh sudah gemes Paman, karena Akibat si Singa Maruta itukan Ayah meninggal?" tanya si Petir, Membuat hati Ki Langkara merasa bergetar. dan terharu mendengarnya, karena seru ucapan Kiyai Hasbullah juga. bahwa si Petirlah yang akan membalaskan kedua Orang Tuanya itu,

__ADS_1


"sabar Tir, kita harus laporan dulu sama si Abah, biar kamu di bekali jurus lainnya." kata Kang Bardi.


"iya benar Petir, kamu harus melatih diri dulu. karena ke Kuatan mereka tak bisa kita Anggap Enteng Nak," sahut Ki Langkara menyambung lidah Kang Bardi.


"ya sudahlah aku mau berlatih lagi, eeh Paman saya teh penasaran sama Ilmu Karang Nunggal, sama Ilmu Tapak Naga itu." kata si Petir, membuat Ki Langkara tersenyum.


"hehe.. nanti jika kamu sudah Dewasa paman akan ajarkan untukmu," ucap Ki Langkara sambil mengelus Ubun ubun si Petir.


tak lama kemudian Marta berlari lari memasuki Rumah, dan Berkata sambil terengah engah." gawat Ki, si Jarong dan si Bewok sudah datang memeras Warga lagi. saya tahu dari si Karim barusan," ucap Marta melapor.


"haah.. pasti ini sudah ku duga lagi, dari bawahannya si Singa Maruta. baiklah nanti aku menyusul," kata Ki Langkara.


taa..tapi kan Aki masih.." ucapan Marta terputus,


"biarin aku sudah berjanji pada diriku sendiri Marta, karena ingin meneruskan perjuangan Rakaku. melindungi Masyarakat Alas Waringin, dari gempuran Musuh." kata Ki Langkara antusias,


"izinkan saya iku Paman, karena juga punya Darah Desa Alas Waringin. maka dari itu, tak ada rasa takut dalam duriku." melihat kata dan ke Semangatan si Petir, Membuat Ki Langkara merasa Bangga.


"baiklah Hati hati dan jangan ceroboh ya," saran dari Ki Langkara.


"saya juga ikut Den Ah," ucap Kang Bardi.


"ya sudah mari kita berangkat," kata Ki Langkara sambil berjalan duluan ke luar.


Marta, Kang Bardi dan si Petir. menyusulnya dari belakang,

__ADS_1


tak terasa Ki Langkara dan yang lainnya, Akhirnya sampai di tempat ke jadian. Ki Langkara membagikan pandangannya, ke semua pelosok Kampung Pamidangan. Warga banyak yang jadi korban, akibat tindak laku ke jahatan Karaman Macan Edan. Ki Langkara mendengar Rintihan di dalam sala satu Rumah penduduk setempat, dan dengan rasa penasaran Ki Langkara menyuruh Marta melihatnya.


__ADS_2