JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 27.


__ADS_3

lalu Ki Sanca pun menarik nafas panjang, seusai bermeditasi di atas Batu Wulung tersebut. dan membagikan Pandangannya pada setiap tempat di sana.


"hehehe.. bagaimana sekarang keadaan Ki Sanak?" tanya Ahmad si Bolga, dengan logat Bataknya,


"hehe.. yaa seperti yang anda lihat, saya sudah mulai menuju pemulihan. dan saya sangat mengucapkan amat sangat berterima kasih pada Anda Tuan," jawab Ki Sanca.


"Syukurlah aku sangat senang mendengarnya Ki Sanak, dan jangan terlalu Sungkan juga Ki Sanak. karena saya hanya sekedar membantu saja, karena yang telah menyembuhkan luka Ki Sanak sebetulnya adalah Dzat yang Sang Pengusa Jasad Ki Sanak." kata Ahmad si Bolga menjelaskan,


"hehe.. siapa pun dia tolong sampaikan rasa Terima kasihku padanya Tuan," kata Ki Sanca.


"hem.. tentu Ki Sanak, karena beliau adalah sang Penguasa segalanya." ucapan Ahmad si Bolga membuat Ki Sanca mengerutkan Dahinya,


"memangnya siapa dia Tuan? Orang Sakti kah?" tanya Ki Sanca penasaran,


"hehe.. beliau adalah Alloh SWT, Ki Sanak. sebab semua yang kita rasakan dan kita Pijak, itu semua berkat ke kuatan Beliau yang di pinjamkan pada Anggota badan kita." jelas Ahmad si Bolga,


"waah sungguh hebat dong hehe.. ya sudah yang penting aku harus berterima kasih padanya," kata Ki Sanca. lalu ia turun dari atas Batu Wulungnya,


Ahmad si Bolga hanya memanggut dan tersenyum saja. dan mengajak Ki Sanca untuk masuk kedalam,


sedangkan di malam harinya. di kediaman Ki Rungkup Bumi, yang tinggal di Tengah tengah Perkampungan itu. ia akan mengobati lukanya Singa Maruta, yang saat ini lukanya semakin parah.


"Maruta ternyata racun yang di sebabkan oleh si Sanca itu, membuat Lukamu semakin hari semakin parah Maruta." ucap Ki Rungkup Bumi,


Singa Maruta sambil berbaring di atas Rumput kering, ia pun menjawab. "iya Guru, lukaku semakin hari semakin sakit saja. terus kapan Guru akan mengobati lukaku Guru?" tanya Singa Maruta sambil meringis,

__ADS_1


"huhuhaha.. malam ini juga aku akan mengeluarkan Racun yang ada di dalam Anumu ini, sabar sedikit muridku haha.." jawab Ki Rungkup Bumi,


lalu Ki Rungkup Bumi pun beranjak berdiri, melangkah menuju Api Unggun di luar tenda. atau bisa di sebut tempat tinggalnya Ki Rungkup Bumi, lalu Ki Rungkup Bumi mengambil tungku berisi Jarum yang di rendam pada Air Panas di dalam tungku itu. dan segera masuk lagi kedalam Tendanya, dan mendekati Singa Maruta yang mulai merasa Sakit.


"aduu.. Ki tolong agak pelanan ya Ki," ucap Singa Maruta.


"Huhuhahaha... Dasar anak Cengeng, untuk apa kau berkeinginan menguasai Dunia Persilatan. kalau dengan Rasa sakit juga masih kalah," kata Ki Rungkup Bumi,


"eehhm.. baiklah aku akan menahannya Ki," ucap Singa Maruta.


Ki Rungkup Bumi hanya menganggukkan kepalanya, sambil senyum lalu mengambil tungku yang baru dia angkat dari Api Unggunnya tadi. dan menyuruh Singa Maruta untuk memperlihatkan p****a,,


dan Singa Maruta pun dengan terpaksa membuka celananya, demi ingin cepat sembuh dari Rasa Sakit yang ia Rasakan. Singa Maruta pun memejamkan Matanya, untuk Siap siap menahan Rasa Sakit yang dia akan Rasakan.


lalu Ki Rungkup Bumi pun mulai mengambil satu jarum dari Tungku yang masih panas itu, dan tanpa memberi Aba aba Ki Rungkup Bumi, mulai menancapkan sala satu Jarumnya pada area P*** Singa Maruta. yang terluka akibat terkena Serangan Ki Sanca,


"Diam!! aku bilang jangan belajar menjadi Anak Cengeng, apa kau lupa dengan Cita citamu Maruta?" tanya Ki Rungkup Bumi,


"iya tapi..." jawab Singa Maruta terputus, karena jarum selanjutnya sudah mulai di tancapkan lagi,


hingga waktu malam hari, Singa Maruta baru beres di keluarkan semua Racunnya yang bersarang di area P**** hingga Singa Maruta pun Pingsan.


sedangkan di tempat lain, Marta mendapat kabar dari Bardi. kalau si Petir sedang mengalami Cedera yang lumayan, sehingga kindisinya saat ini masih berbaring lemas. Bardi sebelum berangkat ke Cirebon, ia sengaja menjumpai dulu Marta.


Marta menjadi merasa khawatir dengan keadaan si Petir, lalu ia pun meminta pendapat Ki Langkara.

__ADS_1


"menurut Aki, haruskah aku pergi ke Alas Mengker untuk melihat keadaannya Ki?" tanya Marta pada Ki Langkara, dengan meminta Saran darinya,


"menurutku lebih baik kita berdua untuk melihatnya ke sana Marta, aku juga sama mengkhawatirkannya. Untung saja kita memiliki dua Kuda, jadi Besok kita berangkat Bersama sama ke sana." jawab Ki Langkara, sekaligus memberi keputusan,


di pagi harinya, Bardi Akhirnya sudah sampai di Daerah Kuningan. dan ia pun di antar oleh sala seorang Warga untuk menemui Turunan Raja Kuningan, Prabu Jaya Giri. setelah sampai di Gerbang Kerajaan, tanpa ada yang menghadang mereka berdua. jadi mereka berdua bisa langsung masuk kedalam Istana,


setelah Masuk seorang Patih memberikan Hormat pada Raja turunan Raja Kuningan," Salam Hormat Hamba Gusti Prabu, saya membawa Tamu dari Tatar Sunda. untuk menghadap Gusti Prabu," kata Seorang Patih itu,


dan sala seorang Warga yang mengatarnya pun memberi Hormat pada Raja itu." salam Kapihatur Pangresa Nu Agung,"


"Unjuk Sumangga, Wargaku. tolong jelaskan siapa Seseorang yang anda bawa ini," kata Gusti Prabu.


"ehm, saya bertemu dengannya di Pasir Citengah. ia baru turun dari kapal dan ingin meminta Izin, karena beliau akan pergi ke Cirebon." ucap Warga itu, dengan kedua tangannya masih menyembah Hormat.


"oh begitu, Terima kasih atas penjelasannya Wargaku. kamu boleh pergi, biar aku dan patihku yang akan berbincang dengannya." kata Gusti Prabu,


lalu Wargu itu mohon pamit kepada semuanya, dan pergi melangkah meninggalkan Istana. sedangkan Bardi yang masih Duduk Sopan, sambil menyembah memberi salam penghormatan pada Gusti Prabu Jaya Giri. lalu berkata,


"mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu Panjenengan nu Agung." ucap Kang Bardi,


"hehe tidak Apa apa Ki Sanak, siapakah Nama Ki Sanak ini? dan berasal dari mana?" tanya Gusti Prabu, sangat Bijaksana.


"terima kasih Gusti Prabu, saya Bardi utusan dari Padepokan Girilayang. saya Berasal Kota Raja, yaitu letaknya di daerah Kulon." jawab Bardi.


"oh jadi Andika bernama Bardi, dan saya dulu pernah mendengar Perguruan itu. saat berkelana mencari Buronan saya, Cupung Igel." ucap Patih Sentana.

__ADS_1


"oh iya benar saya baru ingat, dulu juga pernah ada penyusup dari Daerah Tatar Kulon ke Istana saya. yang Bernama Cupung Igel, yang Memiliki Ilmu Panca Sona kalau tidak salah. bukan begitu paman Patih," kata Gusti Prabu sambil melirik Patih Sentana.


"Betul Gusti Prabu, dia adalah Buronan kami hingga sekarang." jawab Patih sentana,


__ADS_2